My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 84 : Pagi yang Penuh Cerita



Esok harinya Alma dan Akio bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena hari ini mereka harus masuk kelas baru, namun mereka berdua terbangun karena suara telepon masuk dari ponsel Akio yang membuat mereka terbangun.


" Sayang.... matikan ponselnya, ganggu tidur saja", gumam Akio masih dengan mata tertutup.


" Itu bukan bunyi dering ponselku, tapi bunyi dering ponselmu, kamu saja yang matikan", Alma justru balik menyuruh Akio mematikan ponselnya.


Akio pun meraba ke atas nakas, mencoba menggapai ponselnya sambil menggerutu.


" Siapa sih pagi-pagi sekali sudah menelepon?", Akio mencoba membuka matanya dan menatap layar ponsel.


" Nomor baru".


Akio pun mematikan panggilan telepon itu, namun lagi-lagi ada panggilan masuk dari nomer yang sama.


Akhirnya Akio bangkit dari posisinya, dan duduk sambil bersandar pada kepala dipan.


" Halo selamat pagi.....", suara serak Akio, khas suara orang bangun tidur pun mengawali percakapan melalui saluran ponsel.


"..….............................".


" Apa maksud ucapan Anda?, saya tidak pernah merasa berbuat kesalahan selama ini". Kini nada bicara Akio menjadi tinggi, membuat Alma membuka mata dan menatap Akio yang terlihat menahan emosi.


"..….............................".


" Oke, dengan senang hati saya akan mengikuti semua proses hukumnya, karena saya tidak bersalah dan tidak pernah merasa melakukannya!. Jadi kapan mau bertemu di kantor polisi?", kali ini ucapan Akio sedikit tegas.


Namun justru dari arah sana memutus sambungan telepon secara tiba-tiba.


" Dasar orang gila kurang kerjaan!", umpat Akio sambil melempar ponselnya di samping bantal.


" Siapa?, kok kamu tadi mengucapkan 'proses hukum', sebenarnya siapa yang telepon?", Alma kini duduk bersila memangku bantal menghadap Akio.


" Bukan siapa-siapa, cuma orang gila yang ingin ganggu tidur kita saja". Akio menatap jam dinding, baru menunjukkan pukul 4 pagi.


" Kalau masih ngantuk tidur lagi saja, aku juga nggak tahu siapa yang telepon, itu nomer baru. Suara laki-laki yang tiba-tiba minta pertanggung jawaban padaku, orang itu mengatakan jika aku tidak mau bertanggung jawab, dia mengancam akan melaporkan aku ke kantor polisi karena sudah merusak anak gadisnya".


Alma mengernyitkan keningnya, seperti sedang berpikir dan mengingat-ingat kembali.


" Apa selain denganku, kamu pernah tidur dengan gadis lain?", tanya Alma dengan hati-hati, berharap Akio menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


" Hahahaha, kamu ini bicara apa sih Al?, semenjak menikah denganmu aku tidak pernah menyentuh gadis lain".


Jawaban Akio tidak menghilangkan kerutan di kening Alma, nampak Alma masih berpikir keras.


" Apa itu artinya sebelum kamu menikah denganku, selama 8 tahun semenjak kamu mendarat di bumi, apa saat itu kamu melampiaskan hawa nafsumu bersama dengan wanita lain?".


Kali ini wajah Akio berubah sedikit serius, meski Akio memang pernah bersama wanita lain sebelum mengenal Alma, tapi Akio tidak pernah meninggalkan jejak mengenai siapa dirinya, karena Akio selalu melakukannya dengan perempuan berbeda tiap kali melakukannya, Akio juga tidak pernah menunjukkan wajahnya secara langsung. Akio selalu berada di dalam kamar yang gelap dan tidak membiarkan lawan mainnya melihat wajahnya.


" Siapa bilang?, kamu saja sudah cukup membuatku sangat puas, jadi tidak ada yang namanya gadis lain", Akio terpaksa berbohong demi kedamaian dan kebaikan bersama.


" Wah... sayang sekali disaat seperti ini aku tidak bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain sepertimu, seandainya aku punya kemampuan seperti itu, aku yakin saat ini aku bisa mendengar apa yang sedang kamu pikirkan di otakmu", Alma tersenyum sinis, sebenarnya tahu Akio berbohong, tapi Alma malas memperpanjang perdebatan. Toh Alma juga tidak punya bukti apa-apa tentang hubungan Akio dengan gadis lain. Jadi Alma memilih berusaha mempercayai kebohongan Akio.


" Sepertinya aku sudah tidak ngantuk lagi", Alma beranjak dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi, untuk buang air kecil dan berwudhu, Alma menunaikan ibadah dua roka'at dan setelah itu merencanakan akan melakukan persiapan untuk berangkat ke sekolah.


Namun usai ibadah justru Akio menatapnya dengan sangat intens, nampak senyumannya mengambang dan Alma paling tahu apa yang akan terjadi setelah itu.


Seketika glenyeran aneh pun merasuk ke dalam diri Alma, rasa ingin disentuh lebih dari itu membuat Alma menengadahkan wajahnya menatap Akio yang saat ini masih terus menatapnya dengan sangat intens.


Saat mata bertemu dengan mata, Akio langsung menyambar bibir manis Alma dengan bibir ranum miliknya. Akio menggigit bibir bawah Alma, membuat Alma reflek membuka mulutnya, dan Akio langsung menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Alma.


Pergumulan pun tak terelakan, Akio semakin semangat ketika akhirnya bibir Alma membalas ciuman panas darinya. Itu berarti Alma memberi lampu hijau untuk Akio melanjutkan permainan panas pagi ini.


Tubuh Alma yang tadi terasa sangat dingin saat terkena air wudhu, langsung berubah menjadi panas dan berkeringat saat Akio terus melakukan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh nya.


Entah bagaimana mulainya, kini tubuh Alma sudah polos tanpa sehelai benangpun. Begitu juga Akio yang sudah melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya.


Semua pakaian mereka tercecer di lantai kamar. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka yang kini menyatu di atas ranjang.


Deru nafas keduanya semakin cepat, guncangan tubuh mereka berdua semakin lama semakin dahsyat, dan baru terhenti ketika Akio mengerang hebat karena telah mencapai puncak kenikmatan.


Sedangkan Alma bahkan sudah lebih dulu mencapai puncak kenikmatannya saat tadi Akio masih mengguncang tubuhnya. Alma pun kembali memejamkan mata untuk istirahat sejenak, karena merasa sangat lelah, begitu juga dengan Akio yang merebahkan diri disebelah Alma sambil tangannya masih memeluk erat di bagian perut Alma.


Pagi yang begitu panas dan indah, meski pada awalnya mereka berdua harus dibuat emosi karena terbangun lebih awal dan mendapatkan telepon iseng dari orang tak dikenal. Alma berharap itu memang hanya telepon iseng dan tidak akan terjadi masalah lagi dalam rumah tangganya bersama Akio.


***


5 menit sebelum bel masuk berbunyi, Alma dan Akio sudah sampai di sekolah. Mereka berdua langsung menuju ruang kelas baru, yaitu kelas 12 IPA 1.


Dan saat bel berbunyi, Alma dan Akio ikut masuk ke dalam kelas bersama dengan wali kelas baru mereka yaitu Bu Henny, Bu Henny mengajar mapel biologi. Dan pagi ini, Bu Henny masuk ke kelas untuk perwalian, sekaligus memperkenalkan Alma dan Akio sebagai murid baru di kelas 12 IPA 1.


" Selamat pagi anak-anak !".


" Pagi Bu..u...u...!", jawab murid-murid dengan kompak.


" Oke, pagi ini ibu akan memperkenalkan dua teman baru di kelas kita. Mereka bukan pindahan dari sekolah lain, tapi mereka berdua pindahan dari kelas lain, mereka adalah adik kelas kalian yang sekarang menjadi teman sekelas kalian semua".


" Pasti sudah pada dengar dengan program akselerasi kelas kan?, dan mereka berdua lulus program tersebut, dan langsung di naikan ke kelas 12".


" Marko!, nanti kamu masukkan mereka berdua di daftar piket harian ya!", Bu Henny memberi tugas pada ketua kelas.


" Siap Bu!", jawab Marko tegas, dan saat Alma menatap Marko dengan seksama, Alma merasa pernah bertemu dengannya, tapi entah dimana. Alma belum berhasil mengingatnya.


Alma juga menatap teman-teman baru di kelas 12, semua terlihat lebih dewasa dari Akio dan Alma, karena memang mereka sebenarnya senior Alma dan Akio, meski kini mereka menjadi teman sekelas dan mempunyai kedudukan yang sama.


Alma dan Akio dipersilahkan untuk menempati bangku yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Ada di barisan paling belakang dan bersebelahan.


Wali kelas mengakhiri sesi perwalian, dan berpamitan karena harus mengisi pelajaran di jam pertama di kelas lain.


Sepeninggal Bu Henny, semua mata tertuju pada Alma dan Akio. Dan seorang yang tadi disebut bernama Marko si ketua kelas mendekat ke meja Alma dan Akio.


" Kalian berdua mendapat jatah piket di hari Senin,jadi kalau hari Senin berangkatlah lebih awal".


" Ternyata kalian benar-benar jenius, bukan hanya gosip saja, bahkan bisa naik kelas dalam waktu yang sangat singkat".


" Semoga kalian berdua nyaman berada di kelas ini".


" Kami murid-murid kelas 12 sudah tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, karena ada jam les tambahan setiap hari Senin sampai Rabu. Kalian juga harus ikut les tambahan itu, karena itu adalah kegiatan wajib bagi siswa kelas 12. Ujian tengah semester tinggal tiga bulan lagi, sudah semakin dekat. Berjuanglah terus menjadi yang terbaik seperti sebelumnya". Marko kembali ke kursinya setelah Alma dan Akio mengangguk tanda mengerti.


" Memang tidak perlu panjang lebar menjelaskan sesuatu pada anak-anak yang jenius" , batin Marko sambil mengingat pertemuan mereka di kios gado-gado milik ibunya beberapa waktu lalu.