My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 60 : Lepas Kontrol



Alma bersiap-siap untuk menuju restoran yang ada di lantai 2 hotel, menghadiri acara sarapan bersama pagi ini. Karena usai acara nanti akan ada acara pertemuan dengan pihak pers, akan ada sesi tanya jawab selama 30 menit. Setelah itu dilanjut acara perpisahan untuk team dan peserta olimpiade sains internasional. Semua akan kembali kedaerahan asal mereka masing-masing.


Sudah pukul 06.45 menit, seperempat jam lagi acara sarapan bersama di mulai, Alma harus berhasil membangunkan Akio, selain itu acara sarapan bersama terakhir kali, Alma juga tidak mau keluar kamar sendirian, takut bertemu dengan Banu, pasti akan terasa sangat canggung setelah kejadian tadi.


" Angkatlah Akio....", ucap Alma masih mencoba menelepon Akio berulang kali.


Setelah beberapa kali mencoba menelepon, akhirnya Akio mengangkat juga teleponnya.


" Ya sayang...., aku baru selesai mandi, sebentar lagi aku keluar kamar. Kenapa kau meneleponku berkali-kali, sabar, masih 15 menit lagi acara baru akan dimulai, biarkan aku berpakaian lengkap terlebih dahulu".


Alma tahu Akio me-loadspeaker teleponnya, karena Akio bicara sambil berpakaian.


" Lima menit lagi aku keluar sayangku ",


Alma menutup teleponnya. Memberi waktu Akio untuk bersiap-siap, 5 menit lagi dia akan keluar.


Saat Akio mengambil jam tangan yang diletakkan di atas nakas, Akio melihat surat pemberian Lidia semalam. Namun karena buru-buru dan sudah di tunggu Alma sejak tadi, Akio mengambil surat itu dan memasukkannya kedalam saku celananya.


" Ku baca nanti saja saat ada waktu senggang", pikir Akio.


Akio keluar dari kamar dan tak lama kemudian Alma pun keluar dari kamarnya.


Mereka berdua saling menatap dan tersenyum cerah, namun saat membalikkan badan menuju lift, Lidia dan Banu keluar dari kamarnya.


Akio langsung menatap sinis pada Banu, tentu saja Akio bisa tahu apa yang sedang Banu pikirkan saat ini, di dalam pikiran Banu dipenuhi dengan nama Alma.


Sedangkan Alma berusaha bersikap se-biasa mungkin. Tidak mengetahui jika Akio bisa membaca dan mengetahui semuanya terlebih dahulu, tanpa Alma harus bercerita.


***


Banu POV


Kemarin saat kami masih di Kazakhstan, beberapa kali aku mencoba mendekati Alma, terutama saat di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi, tapi si Akio itu selalu mengikuti kemanapun Alma pergi, entah hubungan apa yang mereka jalin, namun mereka terlihat sangat dekat. Meski belum ada yang mengatakan jika mereka berdua sepasang kekasih.


Aku ingin menyampaikan isi hatiku pada Alma sebelum kami berpisah. Aku tahu aku laki-laki brengsek yang tidak pantas dicinta. Karena aku sudah memiliki pacar, tapi saat melihat Alma aku sangat menginginkannya, aku mengaguminya dan sangat penasaran padanya.


Saat pulang dari istana negara, aku ingin mengajaknya berbicara berdua, tapi tak sekalipun dia menatap ke arahku, aku tidak punya kesempatan, karena Akio terus saja bersamanya, hingga Alma masuk kedalam kamarnya. Dan aku memutuskan masuk ke kamarku juga.


Tapi mungkin dewi fortuna sedang berpihak padaku, usai subuh, saat aku hendak melakukan joging pagi, aku melihat seorang gadis mirip Alma berjalan sendirian melewati lorong hotel, aku pun bergegas mengikutinya, berharap jika itu benar-benar Alma.


Ku perhatikan semakin lama langkahnya semakin cepat, dan saat sampai di depan lift dia membalikkan badan dengan wajah sedikit pias, dia seperti sedang ketakutan. Langsung kusapa dirinya . Dan Alma menatapku, tatapannya sedikit aneh, tapi selang beberapa waktu Alma menjawab sapaan ku juga.


Akan ku gunakan kesempatan emas ini untuk lebih dekat dengannya. Dan kami berjalan-jalan hanya berdua menuju ke pantai.


Hembusan angin di pantai yang cukup besar membuat rambut Alma berterbangan, saat ini Alma benar-benar terlihat cantik. Aku sampai tidak sadar mengatakan dengan lisanku, bahwa dirinya cantik. Dan sepertinya Alma juga mendengar gumaman ku, hingga aku harus ngeles. Mengatakan bahwa ciptaan Tuhan sangat cantik, padahal yang ku maksud adalah dirinya. Dia mengangguk-angguk percaya begitu saja dengan ucapanku. Benar-benar gadis yang sangat lugu.


Kami ngobrol lama di pantai. Ku lihat dia ber selfy beberapa kali, dan mengirim foto itu entah ke siapa, tapi tebakanku pasti pada pacarnya. Tapi sejurus kemudian ekspresinya berubah muram, mungkin pacarnya belum bangun atau tidak membalas pesannya.


Ku gunakan moment ini untuk menguak kebenaran tentang Alma, sengaja aku membahas tentang pacar. Dan dia ternyata gadis yang sangat hati-hati dan cerdas. Tidak semudah itu menggali informasi tentang dirinya.


Justru dia membalik keadaan dengan membahas tentang ku. Aku pun menceritakan tentang diriku padanya, aku yang memang sudah punya pacar, dan bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapnya.


Aku memang masih sangat penasaran dengan Alma, dan aku ungkapkan semua rasa penasaran itu, ku utarakan semua isi hatiku padanya sepanjang perjalanan pulang menuju kamar.


Dia yang awalnya sangat asyik diajak ngobrol langsung berubah sikap menjadi canggung dan tidak biasa, Alma diam dan meninggalkan aku tanpa mengucapkan sepatah kata pun setelah mendengar pengakuanku, aku memang konyol, sudah jelas aku dan dia sama-sama memiliki kekasih, tapi aku masih saja mengatakan menyukainya. Tentu saja Alma akan ilfil padaku, gadis mana yang merasa nyaman jika dirinya jelas-jelas sudah punya kekasih, tapi ada pria lain yang terang-terangan mengatakan suka padanya, padahal pria itu sudah mempunyai kekasih juga.


Entah bagaimana aku harus bersikap saat bertemu dengannya lagi nanti di perjamuan sarapan bersama. Apa aku harus minta maaf, atau aku harus bersikap biasa-biasa saja, pura-pura tidak terjadi apa-apa tadi.


Dan usai aku mandi dan berganti pakaian, aku keluar kamar untuk menuju ke restoran yang ada di hotel ini, bersamaan dengan Lidia yang keluar dari kamarnya. Dan juga Akio dan Alma, mereka semua kenapa bisa keluar bareng-bareng seperti ini?.


Aku jadi bingung harus bagaimana. Mau menjelaskan pada Alma, tapi ada Akio dan Lidia, tentu saja tidak boleh ada yang tahu tentang kejadian tadi. Tapi jika aku bersikap biasa-biasa saja dan tidak menjelaskan pada Alma, aku takut Alma menganggap aku pria yang masih labil, plin-plan, tidak gentle dan pengecut.


Karena aku benar-benar menyukainya, aku ingin meninggalkan kesan baik untuk Alma, meski mungkin dia mulai menilai ku buruk setelah pengakuanku tadi pagi.


***


Author POV


" Selamat pagi Alma", ucap Lidia dan Banu menyapa Alma, namun tidak pada Akio, mereka berdua hanya tersenyum pada Akio, tanpa menyebut namanya.


Akio langsung memasang ekspresi dingin, apalagi saat mendengar Banu menyapa Alma, hanya Alma saja. Akio langsung pasang wajah sangar. Karena Akio telah membaca isi hati dan pikiran Banu, Akio semakin tersulut emosinya, tapi masih Akio tahan, selama Banu tidak mengungkapkan isi hatinya, Akio akan tetap diam, meski batinnya sangat marah.


" Mau ke jamuan sarapan pagi kan?, kita bisa ke sana rame-rame", Alma berjalan dan Akio mengikuti di sampingnya. Men sejajari langkahnya.


Awalnya Alma memang bingung harus bersikap bagaimana, namun sepertinya Banu bersikap wajar dan baik-baik saja, jadi Alma akan mengikuti bagaimana Banu bersikap terhadapnya.


Sedangkan Lidia terus menatap Akio dengan hati berdebar. Ekspresi Akio yang dingin dan sangar, terkesan menahan amarah, dikira adalah untuknya. Lidia kira Akio sudah membaca surat yang diberikan olehnya, sehingga Akio terlihat marah, karena dia tidak menyukai Lidia, padahal Akio bahkan belum sempat membukanya.


Mereka berempat berjalan beriringan menuju restoran di lantai dua. Hanya Alma dan Lidia yang sesekali terdengar mengobrol.


Hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, dan melakukan makan pagi bersama dengan yang lain.


Alma duduk di samping Lidia. Sambil makan Lidia berbisik pada Alma.


" Al, apa Akio cerita sesuatu sama kamu pagi tadi?", Lidia ingin tahu apa Akio menceritakan tentang suratnya atau tidak. Karena menurut Lidia, Alma cukup dekat dengan Akio, ada kemungkinan Akio bercerita pada Alma.


" Nggak cerita apa-apa, kenapa memangnya?", Alma menatap Akio yang duduk dimeja lain, tapi masih bisa saling menatap.


" Apa yang kamu dan Lidia lakukan berdua?, dia tanya sama aku kalau kamu cerita tentang dia atau tidak", Alma berkata dalam hatinya.


Akio membalas dengan mengirim pesan.


~ Tidak ada yang kami bicarakan, semalam dia memberikan surat, tapi belum aku baca~


Akio membuka surat dari Lidia diatas meja makan dan memfoto nya, mengirimkan foto surat itu pada Alma. Akio sebenarnya sudah tahu Lidia jatuh hati padanya, tanpa membaca surat itu terlebih dahulu, tapi Akio memang tidak tertarik sama sekali pada Lidia.


Alma membaca foto surat dari Lidia sambil makan. Namun belum selesai membaca surat itu, Banu datang dan duduk di sebelah Alma, mengarahkan kursi ke arah Alma.


" Ada apa?", tanya Alma dengan nada khawatir, karena Alma belum menceritakan tentang Banu pada Akio, Akio bisa marah dan emosi jika melihat dirinya didekati laki-laki lain seperti saat ini.


" Kau mengacuhkan ku setelah pengakuan yang aku lakukan pagi tadi, apa tidak bisa kamu bersikap manis selama masih berada disini, toh pacar kamu tidak akan melihat dan tahu bagaimana sikap kamu disini, sama seperti pacarku yang di rumah. Cukup hanya untuk hari ini saja, bersikap manislah, agar aku akan terus mengenang manisnya kisah singkat bersamamu".


Tanpa Banu sadar Akio sudah berjalan cepat menuju ke arahnya dan memberikan bogem mentah pada wajah Banu, hingga darah segar mengalir dari dalam hidungnya.


Lidia sampai menjerit melihat adegan kekerasan dihadapannya. Sedangkan Alma langsung panik.


" Stop Akio, sudah cukup hentikan!", Alma menahan tangan Akio yang masih mengepal dan hampir menghajar Banu lagi.


Akio masih berusaha menghajar Banu, tapi Alma memeluk tubuh Akio dengan sangat erat, Alma tidak mau Akio terkena masalah.


Petugas keamanan datang dan mengamankan mereka berdua, Banu dan Akio dibawa ke ruang keamanan.


" Maaf Pak, ini hanya salah paham, saya tidak papa", ucap Banu, sambil mengelap darah yang mengalir dari hidungnya dengan tisu.


" Kenapa Mas menghajar teman Mas sendiri?, bukankah kalian satu team?", pak satpam mengajukan pertanyaan pada Akio sebagai bahan pertimbangan.


" Dia mendekati kekasih saya Pak, didepan mata saya, bagaimana saya tidak emosi!". Akio yang sejak tadi sudah berusaha menahan emosi akhirnya lepas kontrol.


" Jadi Akio itu pacar kamu Al?", Lidia yang mengikuti hingga di ruang keamanan, menatap Alma nanar. Alma hanya mengangguk tanpa menatap ke arah Lidia, Alma tahu pasti Lidia sangat kecewa dan shock, dengan peristiwa ini.


" Jadi dia pacar kamu?, pantas saja kamu terus acuh, tidak perduli dan enggan menatapku, ternyata pacarmu juga ada disini".


" Hahaha, sungguh situasi yang sangat konyol".


Banu masih bisa tersenyum sinis sambil menatap Akio.


" Ada apa ini?", koordinator team masuk ke ruang keamanan.


" Tidak papa Pak, ini hanya ada sedikit kesalahpahaman".


" Bukankah habis sarapan akan ada sesi wawancara dengan pers, kami siap untuk itu", jawab Banu yang sebenarnya merasa hidungnya sedikit pegal.


" Kalian yakin bisa melakukan konferensi pers setelah ini?", koordinator team menatap mereka bertiga secara bergantian.


" Kalian murid-murid teladan, siswa-siswi berprestasi, tolong jangan sampai ada masalah hanya karena urusan asmara".


Alma, Akio dan Banu mengangguk bersamaan. " Maaf, tadi hanya salah paham saja Pak", ucap Alma sambil berdiri dan menarik tangan Akio agar mengikutinya.


" Maaf ini tidak ada yang serius kan, saya harus bicara berdua terlebih dahulu, permisi", Alma pamit dan keluar dari ruang keamanan.