My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 101 : UU Mengenai Alien



Alma mengambil sepotong brownies kukus dan juga susu murni yang sudah dihangatkan terlebih dahulu, kemudian menyuapkan pada Akio dengan telaten, hingga habis.


" Kamu harus makan yang banyak, dan yang bergizi, biar tenagamu cepat pulih", Alma mengulurkan jus buah segar yang sudah dikeluarkannya dari kulkas sekitar satu jam yang lalu, " Minumlah, ini akan menyegarkan, sudah tidak terlalu dingin".


Akio menurut, seperti anak kecil yang sedang di rawat ibunya. " Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan orang tuaku, dulu sekali, mereka yang merawatku setiap kali aku sakit. Terimakasih istriku sayang". Akio menatap Alma dengan hangat.


Kejadian di mol tadi seperti sebuah mimpi buruk yang harus segera dilupakan. Untung saja makhluk Mesier mempunyai keistimewaan yang bisa sembuh dengan cepat jika ada luka di tubuhnya.


" Dokter tadi sepertinya sudah tahu kalau aku bukan manusia. Karena itu sebaiknya saat besok pagi ada visit dokter dan menyatakan aku sudah lebih baik, aku mau kita pulang ke rumah".


Alma mengangguk dan setuju dengan usul Akio, " tentu saja kita akan pulang, sepertinya dokter yang menangani operasi kamu kemarin sudah menyebarkan kabar jika kamu berbeda".


" Aku sudah curiga dengan hal itu, karena pasti mereka melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada tubuhku".


" Sebaiknya sekarang kita istirahat lagi, agar proses penyembuhan tubuhku lebih cepat".


Alma merebahkan diri di sofa panjang yang ada di kamar itu, Akio pun kembali memejamkan matanya untuk istirahat.


Pagi hari Alma terbangun dan langsung menelepon Feni dan meminta tolong padanya untuk menemui supir Akio yang nanti akan mengantarkan surat ijin milik Akio dan juga miliknya.


" Tolong nanti dititipkan pada Marko, dia ketua kelas di kelas kami".


" Oke Al pasti nanti aku sampein, oh iya, makasih banget ya buat makanan yang sudah kamu belikan kemarin, sempet-sempetnya kamu kepikiran hal itu, padahal pikiran kamu lagi kalut banget", suara Feni terdengar nyaring di ponsel Alma.


" Nggak perlu bilang makasih berkali-kali, itu bukan apa-apa, sekedar mengganti makan malam kamu yang tertunda gara-gara nemenin Aku. Ya sudah, ini Akio sudah bangun, Aku mau ke Akio dulu, makasih ya Fen, assalamualaikum". Alma menutup teleponnya saat melihat Akio berusaha bangun dari posisinya.


" Kenapa?, apa mau ke kamar mandi?", Alma berusaha membantu memegangi tiang gantungan botol infus saat Akio mengangguk akan pergi ke toilet.


" Sudah diantar saja, nanti aku panggil saat sudah selesai", Alma meninggalkan Akio di alam kamar mandi sendiri tanpa menutup pintunya.


Alma keluar kamar dan memanggil seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai di lorong rumah sakit.


" Mas, maaf, apa kantin jam segini


sudah buka ?".


" Sudah Mba, kantin mah bukanya pagi banget, kan nyiapin sarapan buat para suster atau dokter yang shift malam"


" Owh begitu ya, bisa tolong belikan sarapan untuk saya?, kalau ada nasi uduk dua, sama sate telor puyuh 10 tusuk".


" Bisa bisa Mba!", jawab mas mas itu dan menyimpan terlebih dahulu peralatan mengepelnya. Alma menyerahkan uang 50 ribu padanya.


10 menit berlalu, Akio sudah keluar dari kamar mandi, Alma kembali keluar dari kamar untuk melihat apa sarapannya sudah ada.


Benar saja mas tukang kebersihan terlihat diujung lorong.


" Ini Mba", sambil menyerahkan kantong berisi nasi uduk, " lagi jaga pasien sendirian ya, jadi nggak bisa ditinggal nyari sarapan?",


Alma mengangguk, " kembaliannya buat Mas saja, terimakasih banyak". Alma kembali masuk ke dalam kamar.


Sarapan pagi bersama Akio, karena Alma tahu Akio tida suka makanan rumah sakit yang diperuntukkan pada pasien, biasanya nasinya lembek dan Akio tidak suka itu.


Meski Alma tahu Akio baru saja operasi kemarin di perutnya, tapi Alma tadi melihat dan mengecek jika jahitan di perut Akio sudah kering, benar yang dikatakan Dokter jaga semalam.


Karena itu Alma membeli nasi uduk untuk sarapan mereka. Tentu saja tanpa sepengetahuan dokter maupun perawat.


Saat mereka selesai sarapan, jatah sarapan dari rumah sakit untuk Akio baru diberikan. Alma sudah terlebih dahulu merapikan sisa bungkus nasi uduk milik mereka berdua agar tidak diketahui petugas pengantar makanan.


Menunggu Dokter spesialis memeriksa keadaannya, Akio menyalakan ponselnya yang sejak kemarin belum sempat di cek.


Di portal berita online banyak berita yang membahas tentang kerusuhan kemarin. Tapi untung saja pak polisi yang mengenal Akio segera membawanya ke rumah sakit sebelum para wartawan itu tahu dan meliputnya.


" Kemarin yang bawa aku kesini siapa sayang?".


" Polisi yang memberikan kartu namanya pada kita". Alma mencari dompetnya dan mengambil kartu nama milik polisi tersebut.


Alma belum menyimpan nomer teleponnya, untung saja kartu nama itu tidak hilang.


" Apa kamu mau menghubunginya?", Alma menyerahkan kartu nama itu.


" Ya, aku harus berterimakasih padanya, dan memintanya datang kerumah setelah kita pulang nanti. Ada yang harus aku bicarakan dengannya".


Alma teringat dengan janjinya pada Steven kemarin, " Apa kamu bisa mengusahakan agar Steven bebas?, dia yang kemarin datang dan memberikan darahnya untuk menyelamatkan nyawa kamu".


Akio sedikit terkejut dan menatap Alma lekat,


" Aku berjanji akan meminta padamu untuk membebaskan dia dari tahanan saat kamu siuman. Kamu berhutang budi padanya, ada darahnya yang mengalir di tubuhmu saat ini".


Alma dan Akio harus menghentikan obrolan mereka karena ada kunjungan dari dokter.


Seperti yang sudah di duga sebelumnya, keadaan Akio begitu cepat pulih. Bahkan jahitan diperutnya sudah benar-benar mengering seperti jahitan sudah beberapa bulan yang lalu.


" Jadi, apa saya bisa langsung pulang ke rumah hari ini dok?", Akio bertanya langsung setelah dokter muda melakukan pemeriksaan terhadap dirinya.


Dokter senior membaca hasil pemeriksaan Akio, sambil mengangguk-angguk.


" Sebenarnya kalau mengikuti prosedur rumah sakit masih harus menginap 4 atau 5 hari lagi, tapi untuk kondisi fisik Anda memang sudah oke, sama seperti saya dan yang lainnya".


" Kalau ditanya boleh pulang, tentu saja saya tidak bisa melarang ", jawab Dokter senior masih menatap Akio heran.


" Terimakasih Dok, nanti orang suruhan saya akan langsung mengurus ke bagian administrasi".


" Kalau di rumah harus tetap jaga kondisi ya, dan jangan lupa jika tiba saatnya kontrol, harus datang, untuk mengecek apa betul sudah sehat atau masih perlu dilakukan perawatan".


Dokter keluar diikuti beberapa perawat dibelakangnya. Tentu saja dengan bisik-bisik para dokter muda dan perawat seperti kemarin.


Akio langsung menyuruh orang kepercayaannya mengurus administrasi rumah sakit. Alma pun menelepon supir Akio agar menjemputnya. Tidak perlu ada yang dibawa karena tidak ada barang bawaan Akio maupun Alma, baju kotor Alma kemarin sudah dibawa oleh ibunya.


Hanya menunggu 20 menit Pak supir sudah sampai di rumah sakit setelah mengantar surat ijin ke sekolahan Alma dan Akio.


Pak supir langsung membawa Akio dan Alma pulang kerumah.


Saat di jalan menuju rumah, Akio menelepon polisi yang kemarin menolongnya, menyampaikan terimakasih, dan juga mengundangnya datang kerumah.


Namun sayangnya polisi itu sedang mengurus banyak kasus, dan baru bisa menemui Akio besok. Akio setuju dan memintanya datang kerumah besok.


Sampai dirumah Akio sudah di siapi kursi roda oleh salah satu pembantunya, namun Akio menolak dan memilih untuk berjalan sendiri menju kamar. Tentu saja pembantu-pembantunya tertegun, karena dari kisah supir Akio, jika keadaan Akio kemarin sangat kritis. Sedangkan hari ini majikannya pulang dari rumah sakit dan terlihat baik-baik saja, meski masih sedikit pucat.


_


_


Esok harinya sesuai perjanjian kemarin, polisi itu datang kerumah sendiri, dan hanya mengenakan kaos dan jaket kulit hitam, tidak memakai seragam polisi seperti biasanya.


" Maaf saya sedang dalam misi menyelidiki sebuah kasus, dan langsung datang kemari".


Akio mengerti dan paham dengan maksud polisi itu.


" Saya mau mengucapkan terimakasih untuk pertolongan yang sudah bapak lakukan kemarin, jika terlambat sebentar saja, mungkin nyawa saya sudah tidak tertolong".


Polisi itu mengangguk, " Kalau yang tertembak bukan anda, mungkin sudah mati di tempat, karena darah yang mengucur itu banyak sekali . Justru saya takjub karena baru dua hari setelah kejadian mengerikan itu anda terlihat baik-baik saja".


Obrolan terjeda saat beberapa pembantu menyajikan minuman dan kudapan.


" Silahkan dicicipi, maaf seadanya", ucap Akio.


Polisi hanya menggeleng tak percaya, " dia bilang seadanya, padahal meja sebesar ini penuh dengan kue dan kudapan ", batin polisi.


Akio tersenyum saat mengetahui apa yang polisi itu pikirkan.


Alma bergabung setelah semua sudah tersaji dimeja, " silahkan dicicipi kudapannya Pak polisi".


" Ini istri saya", terang Akio karena polisi itu menatap heran pada Alma yang sok akrab".


" Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa suami saya ".


" Mereka masih sangat muda, tapi sudah menikah, apa mereka adalah anak-anak orang kaya yang dijodohkan seperti di film-film atau di cerita novel?", batin pak polisi.


Lagi-lagi Akio tersenyum, dan mereka kembali mengobrol membahas tentang insiden di mol kemarin.


" Banyak yang mengatakan mereka komplotan alien yang menyerang bumi, mungkin karena kendaraan mereka yang berbentuk seperti piring terbang, dan juga benar-benar bisa terbang".


" Struktur tubuh mereka juga sedikit berbeda saat mereka sedang marah, kemarin saya melihat secara langsung di tahanan. Mata mereka merah dan telinga memanjang seperti kelinci".


" Kalau benar mereka alien, itu berarti anda yang sepupunya juga sama dong alien?", polisi itu menertawakan ucapannya sendiri.


" Seandainya benar, apa ada hukum yang mengatur jika Alien dilarang tinggal di bumi?", Akio bertanya serius.


Polisi itu menggeleng, " tidak ada hukum semacam itu, sama seperti keberadaan hewan dan tumbuhan, jika mereka bisa hidup damai, saling berdampingan dan tidak saling mengusik tentu tidak jadi masalah".