My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 32 : Kabar Tak Terduga



Alma kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti semula. Akio sudah membuatkan catatan pelajaran sebelumnya yang tidak Alma ikuti, dan memasukkan ke dalam tas Alma.


Entah mengapa Alma masih tetap terlihat pucat meski tubuhnya sudah merasa lebih baik.


Saat pulang sekolah, Akio mengantar Alma hingga di rumah, berboncengan motor.


Nampak di samping rumah suasana terlihat ramai. Karena sedang di bangun tempat yang akan di gunakan sebagai tempat usaha laundry milik maemunah, posisinya di samping rumah Alma agak kedepan.


Saat melihat Alma dan Akio sampai di rumah Maemunah menyambut merek berdua.


Alma masuk dan pamit untuk istirahat, karena setelah berkendara motor dia merasa kembali pusing dan bahkan kini merasa mual.


Maemunah dan Akio merasa cemas melihat keadaan Alma. Akio pun menelepon supirnya agar menjemput dokter untuk memeriksa keadaan Alma.


Alma terus muntah-muntah di kamar mandi hingga wajahnya semakin pucat, bahkan saat berjalan dari kamar mandi menuju kamarnya, pandangan Alma semakin kabur, dan Alma pun pingsan di depan pintu kamarnya, beruntung Akio berada tak jauh dari posisi Alma berada, sehingga Akio menangkap tubuh Alma yang terkulai dan hampir jatuh.


10 menit kemudian Dokter sudah sampai dan langsung memeriksa keadaan Alma. Dokter itu mengerutkan keningnya merasa tidak yakin dengan hasil pemeriksaannya.


" Maaf sebelumnya, jangan tersinggung, tapi sepertinya putri Anda sedang mengandung, tapi saya sendiri masih belum yakin, untuk lebih jelasnya mungkin lebih baik ibu membawanya ke dokter spesialis kandungan".


Maemunah tampak shock mendengar berita kehamilan putrinya.


" Nak Akio, bagaimana ini, Alma masih SMA, begitu juga denganmu, tapi kamu telah menghamilinya".


" Kamu melanggar isi surat perjanjian, saya memberikan syarat agar kamu tidak menghamili Alma sampai dia lulus, apa kalian tidak bisa lebih hati-hati!", Maemunah nampak sangat shock.


Akio berusaha membuat Maemunah tenang.


" Ibu yang tenang, semuanya tetap akan baik-baik saja, Alma pasti akan tetap menyelesaikan sekolahnya, bahkan hingga lulus kuliahnya".


" Saya janji sama ibu, yang penting sekarang ibu tenang, ibu percaya sama saya".


Saat Maemunah sedikit lebih tenang, Akio menghampiri pak dokter. Dokter itu sudah dekat dengan Akio sejak 3 tahun yang lalu, dan sudah menjadi dokter pribadi Akio.


" Saya harap Dokter bisa tutup mulut dengan semua yang Dokter ketahui. Alma istri sah saya, jika dia hamil itu wajar, hanya saja kami masih menjadi pelajar, jadi saya harap berita ini tidak sampai bocor ", Akio memperingatkan sang dokter.


" Saya tahu, cuma yang saya masih tidak mengerti, ini sedikit berbeda dengan kondisi ibu hamil yang lainnya", terang pak Dokter.


" Maksudnya Apa Dok?", Maemunah yang mendengar percakapan Akio dan pak dokter jadi penasaran.


" Entahlah, untuk lebih jelasnya, saya sarankan untuk memeriksa Alma ke dokter spesialis kandungan, karena sejujurnya ada yang sedikit aneh". Pak Dokter masih belum berani menjelaskan.


Saat Alma siuman dan mendengar kabar jika dirinya hamil, Alma langsung menatap Akio lekat.


" Bagaimana ini?, aku belum siap hamil, aku masih terlalu muda, dan terlalu beresiko jika hamil saat usia masih terlalu muda".


" Bagaimana dengan semua rencana yang sudah kita buat, tiga bulan lagi kita harus ke Almaty, Kazakhstan. Kalau aku hamil dan dikeluarkan dari sekolah, hancur semua mimpi-mimpi yang hampir ku raih".


Alma masih berbicara dalam hatinya, dengan terus menatap Akio lekat, meski air mata terus bercucur membasahi pipinya, hanya Akio yang bisa mendengar ucapannya.


" Maaf Bu, bisa ibu tinggalkan kami sebentar, saya mau bicara berdua dengan Alma".


Akio juga berterima kasih pada pak dokter dan meminta supirnya untuk mengantar pak dokter pulang.


" Aku pernah bilang sama kamu jika di planetku, perempuan tidak hamil, karena mereka akan mengeluarkan telur setelah usia janin 3 bulan, telur itu akan keluar, setelah itu telur itu harus di eram selama 9 bulan".


Alma memang pernah mendengar cerita itu sebelumnya. " Benarkah begitu?", Alma masih tidak yakin, karena dirinya manusia, bukan makhluk planet Mesier, meski janin yang ada di dalam rahimnya itu adalah hasil berhubungan dengan makhluk Mesier.


" Aku harap itu juga terjadi padaku, tapi aku manusia A...., apa akan sama seperti itu?", Alma masih belum yakin. Akio sendiri bingung karena belum pernah makhluk sepertinya berhubungan dengan manusia.


" Yang terpenting saat ini adalah kamu harus bisa tenang, jangan stres atau sedih, oke?".


" Kamu percaya saja padaku, semua akan baik-baik saja, aku akan mengurus semuanya".


" Tidak akan ada yang berubah, semua akan berjalan sebagaimana mestinya", Akio mengusap rambut Alma dengan penuh perhatian. Ada seulas senyum terlihat di bibirnya.


\=\=


" Untuk menutupi kehamilan Alma dari para tetangga, bolehkah aku membawanya untuk tinggal dirumahku", Akio meminta ijin pada Maemunah.


Maemunah yang masih merasa kalut, sekaligus takut jika sampai tetangga tahu kehamilan Alma, dan membicarakan kehamilannya pada pihak sekolah, terpaksa menyetujui usul Akio.


" Mungkin ini jalan terbaik, kamu harus tinggal bersama suamimu. Tidak usah memikirkan Ibu dan Bara, kami di sini akan baik-baik saja". Maemunah mengambil koper Alma dan memasukkan beberapa pakaian seragam sekolah Alma. Saat akan memasukkan baju santai, kaos dan lainnya, Alma melarangnya.


" Di rumah Akio ada banyak sekali baju Alma Bu. Jadi yang dimasukkan ke koper seragam sekolahnya saja". Alma berusaha bersikap setenang mungkin, dan berharap siklus kehamilannya seperti makhluk dari planet Mesier itu. Hanya tiga bulan dan telur akan keluar dari tubuhnya.


" Ibu tidak tahu harus bagaimana bersikap, seharusnya ini adalah kabar gembira karena ibu akan memiliki cucu, tapi mungkin ini terlalu cepat, kamu masih sekolah, karena itulah ibu merasa ini tidak benar, dan belum saatnya".


" Tapi mau bagaimana lagi, kalau memang kamu sudah sedang hamil, satu pesan ibu, jangan sampai kau melenyapkannya, dia anakmu, Akio juga mengatakan jika dia akan mengatur semuanya agar berjalan sesuai rencana".


" Ibu percaya pada suamimu, kalian pasti bisa melewatinya".


" Banyak istirahat dan jangan banyak pikiran".


Ucapan maemunah seperti sebuah pesan perpisahan, membuat Alma kembali menangis.


" Ibu akan sesekali berkunjung kerumah kami kan?", pinta Alma.


" Tentu saja, ibu pasti akan datang ke rumah kalian saat ada waktu luang", ujar Maemunah.


Alma dan Akio pun meninggalkan rumah Maemunah. Rumah yang penuh dengan kenangan saat-saat penuh perjuangan dalam hidup Alma.


***


Akio tersenyum bahagia karena kini Alma tinggal serumah dengannya. Hanya dirinyalah yang terus merasa tenang setelah kabar kehamilan Alma diketahui.


" Aku nggak mau putus sekolah A...., tapi bagaimana dengan kehamilan ini?", Alma masih terus saja mengatakan hal yang sama sejak sampai di rumah Akio.


" Sudah ku bilang, jangan khawatir, tidak akan ada satu manusia pun yang akan tahu, kecuali ibu dan dokter yang memeriksa mu kemarin".


" Kita akan merahasiakannya, aku sudah memikirkannya sebelumnya, kamu tenang saja, semua akan tetap berjalan sesuai rencana".


" Yang penting kamu istirahat yang cukup, makan yang banyak, jangan stres, biar bayi kita sehat, dan berkembang dengan baik".


Alma tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Akio, tapi dia berusaha tetap tenang dan berusaha menghilangkan stres yang ada dipikirannya.


Akio jadi semakin memanjakan Alma setelah mengetahui jika Alma hamil. Alma tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apapun, bahkan saat ingin berjalan ke kamar mandi saja, Akio langsung menggendongnya.


" A....!, nggak segitunya juga jagain akunya".


" Orang hamil kan juga butuh olahraga, setidaknya biarkan aku berjalan sendiri", Alma meronta, minta diturunkan dari gendongan Akio.


Akio pun menurunkan Alma sambil cengengesan.


" Justru ibu hamil itu harus banyak gerak, biar lahirannya gampang", Alma memberi tahu Akio hasil browsing di internet tadi.


" Besok juga kamu harus bersikap biasa-biasa saja saat di sekolah, aku nggak mau justru gara-gara sikap kamu yang berlebihan ini, akan membuat teman-teman lain curiga".


Alma menutup pintu kamar mandi setelah mengucapkan kalimat itu.


" Oke tuan putri, aku pasti akan bersikap santai seperti biasanya. Asal kamu jangan terlalu aktif di sekolah. Dan berusahalah untuk tidak membuat aku mengkhawatirkan keadaanmu". Seru Akio dari depan pintu kamar mandi.


Alma bisa mendengar suara langkah kaki Akio menjauh dari depan pintu kamar mandi. Alma mengambil sesuatu yang tadi dibelikan oleh salah satu pembantu yang bekerja di rumah itu.


Testpack.


Alma ingin meyakinkan dirinya jika dia benar-benar sedang hamil, atau Pak dokter salah diagnosa. Alma pun mencelupkan ujung testpack ke dalam air k*nc*ng nya beberapa menit. Lalu melihat hasilnya.


Satu detik....


Dua detik.....


Tiga detik.....


Mulai nampak satu garis merah muncul, dan di detik berikutnya satu garis pink muncul, seperti garis merah, namun masih terlihat samar.


" Jadi benar aku hamil, bodohnya aku !", Alma mengacak-acak rambutnya, merasa marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menolak ajakan Akio selama ini.


" Oke, karena ini sudah terjadi, mau bagaimana lagi, Akio pasti akan menjagaku, dan menjaga anak ini", Alma mengusap-usap perutnya yang masih rata.


" Bisakah kita bekerja sama?, tolong jangan buat ibu mual-mual dan merasa pusing, ibu janji akan memberimu makanan yang enak-enak setiap hari, ayahmu pasti akan melakukannya tanpa ibu minta", ucap Alma masih terus mengusap-usap perutnya sendiri.


Tok...tok...tok....


" Sayang,.... lagi ngapain di dalam?, kok lama, aku buka paksa dari luar nih!", Akio jadi khawatir karena Alma berada di dalam kamar mandi cukup lama.


" Iya A...., aku keluar", Alma membuka pintu dan keluar sambil meringis menatap Akio yang wajahnya nampak khawatir.


" Nih, cuma mau pastiin beneran hamil apa nggak", ucap Alma sambil menyerahkan testpack yang tadi dibawanya.


Akio menatap testpack itu, " terus ini hasilnya apa?", Akio memang baru pernah melihat hasil testpack selama ini.


" Positif ", jawab Alma singkat. Namun jawaban itu membuat mata Akio kembali berbinar, dan Akio pun langsung mencium wajah Alma bertubi-tubi sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.


" Terimakasih sayang....!"


" Terimakasih sayang....!"


" Terimakasih sayang....!".