My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 46 : Back to Home



Alma yang sudah tidur selama dua jam tadi sore, membuat matanya susah untuk tidur. Hingga pukul 12 malam Alma belum juga bisa tidur. Sedangkan Akio sudah terlelap sejak dua jam yang lalu di ranjang satunya.


Memang Akio sengaja tidur di ranjang satunya lagi, karena jika tidur seranjang dengan Alma, karena ranjang yang sempit akan membuat tidurnharus berdekatan, dan itu pasti akan membuat juniornya bisa terbangun.


Sedikit saja bersinggungan dengan Alma, bisa membuat juniornya turn on. Dan keadaan itu akan sangat merepotkan, karena itu berarti Akio harus bermain sendiri di kamar mandi.


" Sudah jam 12, tapi aku masih belum mengantuk", Alma berdiri dan membawa tiang selang infusnya berpindah ke sofa. Alma memilih untuk ngemil buah, karena perutnya terasa lapar.


Alma melihat tas sekolah Akio dan melihat isi di dalamnya. Ada beberapa buku pelajaran dan juga alat tulis. Alma pun mengambil buku pelajaran Matematika, pelajaran favoritnya. Sudah dua hari Alma tidak masuk sekolah. Rasanya sudah rindu ingin belajar di kelas.


" Apa ini?", Alma menemukan catatan kecil yang ada di tas Akio. Tulisan yang ada di kertas itu seperti menunjukkan sebuah alamat.


" Jl. Raflesia no 6 . Bukankah ini seperti sebuah alamat ?", Alma penasaran dengan tulisan itu, dan berniat kan menanyakannya pada Akio saat Akio sudah terbangun besok.


Akhirnya Alma memilih kembali ke ranjangnya dan membaca novel online di ponselnya. Berharap akan merasa ngantuk jika membaca novel.


Benar saja, Alma pun tertidur masih dengan ponselnya yang menyala.


Jam 9 pagi hari Alma terbangun karena mendengar suara keran air kamar mandi yang menyala, karena Akio yang sedang mandi di dalamnya.


Akio keluar setelah 30 menit berada di dalam kamar mandi. Waktu yang cukup lama untuk seorang laki-laki berada di kamar mandi, namun bagaimana lagi, dirinya yang sudah beberapa hari ini, tiap paginya harus bermain sendiri di kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya, karena sang istri belum bisa di ajak bersenang-senang.


Masih dengan rambut basah dan handuk di pinggang, Akio berjalan menuju samping kulkas, Ada baju dan celana bersih milik Akio yang di antarkan oleh pak supir semalam.


" Sudah mandi?", Alma bangkit dari tidurnya.


" Sudah, apa kamu mau mandi juga?, kalau mau dengan senang hati akan aku mandikan", Akio tersenyum jahil.


" Nggak usah, aku juga bisa mandi sendiri, nanti kasihan kamu nya kalau lagi-lagi harus menangani junior mu sendiri".


" A.... apa aku boleh tanya sesuatu?".


Akio menatap Alma, " tanya Apa?".


" Jl. Raflesia no 6, itu alamat apa?, maaf semalam aku nggak bisa tidur, jadi kubuka tas kamu, buat baca-baca buku, tapi aku Nemu kertas yang ada tulisan seperti alamat itu".


Akio terlihat sedikit berpikir, seperti mencari jawaban yang tepat, untuk pertanyaan Alma barusan.


Namun saat Akio belum memberikan jawaban obrolan mereka harus terhenti, karena Pak dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam kamar.


" Bagaimana keadaan mba Alma hari ini?, apa belum sarapan mba Alma?", tanya dokter saat melihat jatah sarapan Alma yang masih utuh.


" Baru bangun Dok, semalam nggak bisa tidur sampai jam 12, dan hari ini bangun kesiangan", Alma tersenyum simpul, karena malu.


" Baiklah kita lakukan pemeriksaan hari ini, sepertinya keadaan mba Alma sudah lebih baik dari kemarin".


Dokter memeriksa detak jantung, kemudian memeriksa kelopak mata dan juga tekanan darah.


" Benar sekali, semuanya sudah normal, sebenarnya hari ini mba Alma sudah boleh pulang kerumah, hanya saja masih butuh istirahat yang cukup, dan jangan terlalu banyak beraktifitas yang berat".


" Jangan lupa, jatah sarapannya juga dimakan".


Kalimat Dokter barusan langsung membuat mata Akio berbinar.


" Jadi Alma boleh pulang hari ini Dok?", tanya Akio berusaha memperjelas.


" Iya boleh, tapi nanti akan saya bawakan surat kontrol, karena masih harus di cek bagaimana perkembangan kesehatannya".


" Nanti perawat yang akan melepas selang infus dan menyerahkan surat kontrol".


" Kalau boleh saya tanya, apa Mas Akio dan Mba Alma ini murid di Pelita Jaya?, kemarin saya lihat yang jenguk kalian itu pakai seragam Pelita Jaya".


Akio mengangguk, " Kami menikah diam-diam Dok, teman-teman hanya tahu kalau kami pacaran, tapi saya sangat mencintai Alma Dok, dan tidak mau Alma akan menjadi milik laki-laki lain, jadi saya meminta pada ibunya agar kami di ijinkan menikah".


Dokter mengernyitkan dahi, " Dengan usia semuda kalian?, ibunya Alma mengijinkan?, kapan kalian menikah?".


Akio tahu dalam pikiran Pak Dokter mengira jika Alma hamil terlebih dahulu, baru mereka menikah, namun bukan itu kenyataannya.


" Kami menikah sekitar tiga bulan yang lalu, Dokter jangan berfikir saya menghamili anak gadis orang. Karena kami melakukannya setelah kami menikah".


" Ibu mertua saya seorang janda, dan beliau menerima saya yang sudah tidak mempunyai orang tua sebagai putranya".


Sebenarnya Pak Dokter sangat penasaran dengan cerita hidup dari kedua muda-mudi di depannya, namun daftar pasien yang harus di kunjungi masih sangat banyak. Sehingga Pak Dokter undur diri, untuk melanjutkan pekerjaannya.


" Saya senang bisa ngobrol dengan Mas Akio, dan sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran saya".


" Kalau ada lain kesempatan dan kita bertemu lagi di waktu senggang, mungkin bisa kita lanjutkan obrolan saat ini yang terpaksa harus kita akhiri".


Akio hanya tersenyum. " Mungkin lain kali nya butuh waktu lama, Pak Dokter sangat sibuk, sedangkan sebulan lagi kami akan pergi ke Almaty, Kazakhstan".


Pak Dokter kembali mengerutkan keningnya. " Waduh, saya semakin penasaran dengan kehidupan kalian, apa kalian mau pindah ke luar negeri?".


Namun Dokter tidak mengerti maksud Alma dan hanya mengatakan ' sama-sama ', karena semua pasien juga mengatakan terimakasih saat mereka sudah sembuh.


_


_


Sepeninggal Dokter, Akio menelepon supirnya menyuruh agar datang ke rumah sakit bersama seorang bibi di rumahnya, agar membantu berkemas di kamar rumah sakit.


Dan Akio juga menelepon orang kepercayaannya untuk mengurus administrasi rumah sakit. 15 menit kemudian Alma dan Akio pun bisa pulang saat si bibi selesai mengemas barang-barang Alma yang harus di bawa. Pak supir membantu membawakan beberapa barang ke dalam mobil.


" Mampir kerumah ibu dulu, takutnya ibu nanti siang beneran datang ke mari, kan kasihan kitanya sudah di rumah", pinta Alma saat mobil mulai melaju.


" Sepertinya kita perlu membelikan ibumu ponsel, biar semua urusan menjadi lebih mudah, tidak seperti ini, harus mampir padahal hanya ingin mengabari kalau kamu sudah pulang".


Akio kembali menelepon orang kepercayaannya.


" Belikan smartphone sekarang, dan langsung antar ke rumah ibunya Alma".


Alma menatap Akio dan hanya bisa pasrah, dia selalu melakukan apapun tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu, mau protes pun tidak akan berhasil.


20 menit perjalanan dari rumah sakit. Alma turun dari mobil berniat untuk berjalan masuk melewati gang, namun Akio memanggil seorang tukang ojek, dan mengantar Alma dan dirinya sampai depan kios loundry Ibunya.


Pak Supir dan si bibi di suruh Akio menunggu di mobil saja.


" Loh, mba Alma sudah sehat?, alhamdulilah".


kata salah satu pegawai Maemunah saat melihat kehadiran Alma.


" Ibu lagi pulang kerumah, katanya siap-siap mau pergi ke rumah sakit".


Alma mengangguk mengerti, dan meninggalkan kios loundry, berjalan menuju ke dalam rumah.


Sedangkan Akio mengurungkan niat memasuki rumah Maemunah, karena melihat seorang kurir yang mengantar paket.


" Mas Akio?", tanya si kurir. Akio pun mengangguk.


_


_


" Ibu...!, Alma pulang Bu",


Maemunah yang baru selesai masak dan hendak mengemas makanan untuk dibawa ke rumah sakit, langsung meninggalkan dapur, dan memeluk Alma yang sedang berjalan mencari keberadaannya.


" Alhamdulillah kamu pulang hari ini, ayo istirahat dulu, ibu sudah bereskan kamarmu". Maemunah membimbing Alma untuk masuk ke kamarnya.


Alma hanya menurut saja, masuk ke kamar yang sudah lama tidak di tempatinya. Semua masih sama, tidak ada sedikitpun barang-barang nya yang berubah, masih pada tempatnya masing-masing.


" Bu, Akio di depan, pak supir dan bibi juga menunggu di mobil".


Maemunah yang tadi begitu sumringah, langsung terlihat murung. " Apa kamu akan kembali ke rumah Akio?".


Alma mengangguk. " Sekarang Alma adalah istrinya, jadi Alma harus mengikutinya, Alma kesini hanya mau mengabari ibu kalau Alma sudah boleh pulang, takutnya nanti ibu ke sana, dan Alma sudah tidak ada di rumah sakit".


Maemunah mengangguk paham, meski hatinya merasa kecewa, namun tindakan Alma memang benar.


" Alma pamit ya Bu, maafkan Alma nggak bisa lama-lama di sini".


Mereka berdua berjalan ke luar rumah, sedangkan Akio sedang berjalan masuk sambil membawa paketan.


" Ini buat ibu", Akio menyerahkan paketan itu.


" Apa ini?", Maemunah mengambil gunting dan membuka paket, yang ternyata isinya adalah ponsel baru.


" Terimakasih, tapi ibu tidak mau menerima ini, pasti ini mahal".


" Itu untuk ibu, jika sewaktu-waktu ingin ngobrol sama Alma", Akio menyalakan ponsel itu, mengajari cara mengirim pesan, melakukan panggilan telepon, dan juga panggilan video.


" Ibu paham, tapi ibu bisa ke rumahmu jika ibu kangen", ucap Maemunah.


" Terima saja Bu, sebulan lagi Alma akan ke luar negeri, ibu ingat kan Alma kemarin menang lagi lombanya, dan kami harus mewakili Indonesia di kancah internasional", ucap Akio, mencari alasan yang tepat agar Maemunah mau menerima ponsel baru darinya.


Maemunah terlihat masih berpikir dan menimbang-nimbang.


" Baiklah kalau begitu, ibu terima ini, terimakasih banyak nak Akio".


Akio mengangguk, " di dalam kontak sudah ada nomer Alma, jika sewaktu-waktu ibu mau meneleponnya. Kalau begitu kami pulang dulu ya Bu, Alma masih butuh banyak istirahat".


Akio berpamitan pada Maemunah, begitu juga dengan Alma.