
" Akio...!", serempak semua mata menatap sosok berwajah dingin dan tampan itu.
Alma dan Akio menatap ke arah pintu dengan begitu terkejut, mendapati teman-teman sekelasnya datang menjenguk.
Akio langsung berdiri dan meletakkan cup berisi bubur kacang hijau yang tinggal setengah itu diatas nakas. Matanya memandang ke arah teman-temannya berdiri.
Akio bisa mendengar kata hati teman-temannya yang beraneka ragam.
~ Tadi langsung kabur pas aku tanyain dimana Alma di rawat, ternyata malah orangnya sudah disini lebih dulu~ Ronal
~ Si dingin Akio yang seperti es batu, ternyata perlakuannya ke Alma so sweat banget. Aku juga mau disuapi bubur itu~ Feni
~ Aku kira si songong itu tidak ikut menjenguk, makanya aku minta ikut, meski beda kelas. Ternyata malah sudah duluan, dasar kampret~ Bagas
" Masuk, mari silahkan masuk", suara Maemunah membuat Akio menghentikan kegiatan membaca pikiran teman-temannya.
" Kamu ternyata sudah lebih dulu berada disini?", pak Bayu yang berdiri di depan pintu berjalan masuk. Menatap Akio yang hanya tersenyum samar. Bayu mengulurkan tangannya menyalami Maemunah dan menyuruh Ronal yang membawa parcel buah untuk di letakkan di meja.
Parcel buah yang sebenarnya berukuran lumayan besar, dibeli dari uang kas kelas, karena kebanyakan teman Alma anak orang kaya. Jadi kas kelas juga lumayan banyak.
Namun sayangnya ada parcel buah di meja itu dengan ukuran yang sangat besar. Tentu saja itu Akio yang memesan, meminta pada pelayan toko buah untuk memasukkan segala jenis macam buah kedalam parcel. Sehingga parcel yang dibawa teman-teman sekelas Alma terkesan kecil.
" Maaf Ibunya Alma, kami tidak membawa apa-apa", Bayu mengatakan permintaan maaf sambil melirik parcel buah yang sangat besar dan komplit itu dengan perasaan tidak enak.
" Ini sudah lebih dari cukup Pak Guru, kedatangan kalian semua untuk menjenguk Alma saja ibu sudah sangat berterima kasih".
" Itu tandanya Alma tidak sendirian, dia punya banyak teman dia sekolahnya. Dulu saya sangat khawatir kalau Alma tidak punya teman di Pelita Jaya, karena Alma kurang pandai bergaul", ucap Maemunah begitu jujur.
Teman-teman Alma yang lain masuk ke dalam kamar, mereka semua bersalaman dengan Alma, baru pada Maemunah, dan kemudian ada yang duduk di sofa, ada yang duduk di ranjang yang disiapkan untuk penunggu, ada yang di tepian ranjang Alma, ada juga yang tetap berdiri sambil mengamati keadaan Alma.
" Kamu sakit apa Al?, liburan bukannya nginep di hotel malah kamu nginep di rumah sakit", gurau Feni, membuat semua langsung tertawa.
" Kata dokter gejala typus", Maemunah yang menjawab. Karena sejak tadi Alma terdiam seperti begitu berat untuk mengatakan kebohongan.
" Oooh....", semua langsung ber ooh panjang.
" Mungkin karena Alma begitu rajin belajar, sampai dia lupa makan ya Bi?", tebak Boy, yang tempat duduknya di depan Alma.
" Nggak... bukan begitu, aku nggak se-rajin yang kalian bayangkan", gumam Alma lirih, masih dengan wajah pucat nya.
" Apa kamu tertekan karena sebulan lagi mewakili Indonesia di olimpiade sains internasional?", pak Bayu penasaran, karena jika diagnosa Alma adalah penyakit typus, berarti mungkin karena pola makan Alma tidak teratur, namun Alma menyangkal itu, berarti penyebab yang lain karena Alma sedang merasa stres memikirkan sesuatu.
" Bisa jadi seperti itu Pak guru". Alma hanya tidak ingin pak guru dan yang lain terus-terusan memikirkan penyebab dirinya di diagnosa typus. Karena bukan itu alasan sesungguhnya dirinya berada di rumah sakit.
Maemunah yang paham jika putrinya merasa tidak nyaman, akhirnya mengeluarkan berbagai macam cemilan, dan minuman yang sudah ada di dalam kulkas besar di kamar itu. Agar mengalihkan perhatian dan merubah topik pembicaraan.
Benar saja, cara itu sangat efisien, karena teman-teman Alma langsung riuh, mereka pun mengambil satu persatu minuman dingin setelah dipersilahkan oleh Maemunah.
" Cuaca sangat panas tadi diluar, jadi cepet haus. Kita sekalian ngadem beberapa jam disini ya Pak guru, kamarnya adem dan nyaman. Nggak bau obat kayak lagi bukan di rumah sakit", celoteh Daniel, salah satu teman sekelas Alma.
" Huuuuu.....", Daniel mendapat sorakan dari teman-teman cewek.
Namun teman yang cowok setuju dengan usul Daniel. Di luar memang lagi panas-panas nya, kalau dikamar Alma selama sejam berarti mereka keluar sekitar jam 3, dan matahari sudah mulai turun. Tidak terlalu panas.
" Kalian naik apa kesini?, makasih ya sudah jengukin aku".
" Makasih pak guru, sudah jenguk Alma", ucap Alma menatap Pak Bayu yang duduk di sofa bersama beberapa murid laki-laki.
Pak Bayu hanya mengangguk, " semoga lekas sembuh ya Al, kamu itu kebanggaan kita semua, sebulan lagi kamu akan terbang ke Almaty, Kazakhstan. Jadi jaga kesehatan kamu. Jangan stres, biar nggak ngedrop. Nama baik Indonesia ada di pundak mu".
Alma mengangguk mengerti, memang benar dirinya harus segera sembuh, karena harus kembali berjuang mengharumkan nama bangsa.
" Betul kata Pak Bayu... kamu harus segera sembuh Al, tadi Bu guru sudah kasih pengumuman kalau senin depan akan ada ulangan matematika".
" Jadi kamu harus segera sembuh dan berangkat sekolah Al, biar ada yang bisa aku tanyai", Boy yang saat ini duduk disebelah pak Bayu langsung mendapatkan jeweran di telinganya.
" Ampun Pak, bukan maksud saya mau nyontek, saya kan bilang biar ada yang bisa aku tanyai sebelum ulangan, jika ada yang saya rasa belum jelas, begitu pak", Boy menyeringai, dan memegang telinganya yang merasa panas setelah dijewer Pak Bayu, dan kini dirinya menjadi bahan tertawaan bagi teman-temannya yang lain.
Selama satu jam mereka benar-benar berada di kamar Alma, saling bercerita dan bercanda, membuat suasana menjadi lebih hangat dan ramai. Bahkan tak terasa, waktu satu jam berjalan begitu cepat.
Pak Bayu dan teman-teman Alma berpamitan setelah menghabiskan minuman dan cukup banyak buah, jajan dan cemilan yang di sediakan Akio, Akio sengaja membelinya untuk stok jika sewaktu-waktu Alma ingin ngemil. Dan ternyata semua cemilan habis di makan teman-temannya.
" Semoga Alma lekas sembuh"
Pak Bayu dan Maemunah memang ngobrol cukup banyak tadi, awalnya Bayu penasaran mengapa Alma bisa sangat cerdas meski terlahir di keluarga yang tidak mampu.
Dan jawaban langsung di temukan, saat Maemunah memberi tahu siapa nama ayah Alma. Beliau adalah Pak Sobari, yang jaman Bayu masih kuliah, Pak Sobari pernah menjadi salah satu pembicara di seminar tentang ilmu astronomi, yang pernah diikuti nya.
Bayu pun mengatakan pernah beberapa kali bertemu dengan pak Sobari, dan sempat mendengar juga berita kematiannya. Namun Bayu saat itu sedang KKN di Kalimantan, membuatnya tidak hadir di pemakaman Pak Sobari.
Dan Bayu jadi merasa sangat prihatin pada Alma yang pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya, untung saja kecerdasan ayahnya menurun kepadanya. Dan Bayu yakin, jika Alma mampu untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya menjadi lebih baik, lebih makmur dan sejahtera.
Bahkan bisa dilihat dari sekarang, dia mampu sekolah di Pelita Jaya dengan bantuan dari beasiswa. Bahkan sudah dipastikan dia memperoleh beasiswa hingga sarjana, setelah memperoleh juara 1 olimpiade sains tingkat nasional kemarin.
Dan jika Alma bisa menang lagi di tingkat internasional bulan depan, maka Alma bisa memilih universitas mana yang ingin di jadikan tempat kuliahnya, dan itu gratis hingga S2. Baik di dalam maupun di luar negeri, karena memang Alma adalah aset yang sangat besar bagi sekolah ataupun universitas manapun yang dipilihnya.
_
_
" Sudah sore, kalau nanti ibu mau istirahat dan pulang bilang saja sama Akio, biar Akio nanti nyuruh Pak supir mengantar ibu".
Akio duduk di sofa ikut membantu ibu mertuanya membereskan sampah plastik dan botol minuman bekas teman-temannya tadi.
Alma memejamkan mata karena tadi belum tidur siang, rencana tidur siang setelah makan bubur menjadi gagal karena kedatangan teman-temannya.
Maemunah yang selesai memasukkan botol bekas ke dalam kantong plastik mengangguk dan berdiri, untuk meletakkan kantong sampah di tempat sampah besar yang ada di depan kamar. Namun Akio memintanya dan membuang kan sampah itu ke depan.
Akio kembali ke sofa untuk duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dan tiba-tiba Maemunah mengulurkan tangannya sambil memegang amplop yang tadi diberikan oleh Pak Bayu kepadanya.
" Ini tadi dari Pak Bayu, katanya buat bantu-bantu biaya rumah sakit, dan ini kartu BPJS Alma, kalau pakai kartu ini siapa tahu diberi keringanan biaya rumah sakit".
Alma yang tadinya memejamkan mata berniat untuk tidur, tapi belum benar-benar tidur akhirnya pura-pura tidur, namun dia pasang telinga untuk mendengarkan obrolan ibu dan Akio.
Sebenarnya Alma sudah menduga Ibunya akan melakukan hal itu, dia pun tetap diam dengan mata terpejam dan tubuh miring menghadap ke sofa, keadaan ekonomi keluarganya yang dulu sangat memperihatinkan membuat ibunya terbiasa untuk hidup hemat dan perhitungan. Dan itu masih berlaku sampai saat ini.
" Ibu simpan saja amplop itu untuk dipakai ibu, ibu tadi kesini dan juga kemarin bersama Bara datang kesini kan naik ojek, jadi itu bisa untuk transportasi dan kebutuhan lainnya".
" Biaya rumah sakit, biaya menebus obat, tindakan kuret, dan tindakan KB besok, semuanya sudah di urus oleh orang kepercayaan Akio Bu, dan dikamar ini tidak mungkin juga memakai BPJS, karena ini kamar VVIP".
Maemunah sebenarnya juga tahu, jika ini kamar VVIP, tapi dia hanya merasa tidak enak pada Akio yang menanggung semua keperluan Alma, meski memang mereka sudah menikah. Kadang Maemunah merasa keberadaannya di samping Alma sudah tidak ada gunanya, semenjak Alma menikah dengan Akio. Karena semua masalah pasti diselesaikan oleh Akio dengan begitu cepat dan mudahnya. Entah itu masalah kecil ataupun masalah yang besar. Semuanya selesai dengan begitu mudah.
" Maafkan ibu ya nak..., karena ibu tidak bisa bantu apa-apa", Maemunah merasa sangat sedih dan tidak berguna.
" Ibu..., keberadaan ibu disini itu sudah lebih dari cukup, ibu menemaninya dan menjaganya seharian ini, itu membantu Alma menjadi cepat pulih. Dan doa ibu adalah yang paling utama, karena doa ibu akan segera di dengar dan dikabulkan Yang Maha Kuasa".
Dalam hatinya Alma lagi-lagi merasa begitu beruntung memiliki Akio sebagai suaminya. Dia sangat sopan dan pandai mengatur kata.
Meski pada teman yang terlihat sepantaran dia sangat dingin, pendiam, kaku dan ketus, ditambah suka mengatur. Namun perlakuannya pada Alma dan ibunya berbeda, dia begitu sopan, senantiasa menjaga, selalu mencurahkan perhatian dan juga sangat romantis.
Pemikiran Alma tentang Akio langsung buyar ketika momen mengharukan di kamar itu seketika menghilang, karena tiba-tiba Sean datang dan masuk ke dalam kamar begitu saja tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu.
" Selamat sore semuanya....!".
" Waduh, si ganteng sudah disini, pasti pulang sekolah langsung kesini ya?", tebak Sean karena melihat Akio masih pakai seragam sekolah.
" Wah...wah...wah... ini banyak bingkisan dari mana saja bi?", Sean memilih duduk di samping Maemunah yang terlihat memasukkan amplop putih dan sebuah kartu ke dalam tasnya.
" Tadi teman-teman sekelas Alma dan Akio pada jenguk kesini".
" Kamu kesini dari sekolah atau sudah pulang dulu?, sudah pamit kan sama ibu dan ayahmu?".
Sean mengangguk. " Pamitnya sudah borongan kemarin, lagian nggak setiap hari Sean telponan sama ayah dan ibu, jadi pamitnya sekali saja cukup".
Maemunah baru ingat kalau orang tua Sean masih di Swiss. " Kalau begitu duduklah yang tenang, kalau mau makan, makanlah sesuatu, tinggal pilih mau yang mana, sementara Alma tidur siang, dia baru saja tidur karena teman-temannya baru pada pulang".
Sean menganggukkan kepalanya. " Sayang banget aku kesininya telat, jadi nggak ketemu sama teman-teman Alma, pasti teman cowoknya keren-keren, kan lumayan cuci mata", batin Sean.
Akio yang bisa tahu apa yang sedang dipikirkan Sean hanya menggeleng kepala sambil mengambil apel, mencucinya di wastafel dan memakannya.