My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 38 : Sahabat Jadi Saudara



" Siapa cowok keren itu?, kenapa dia bersama Akio?", batin Sean masih menatap kedatangan dua pria tampan yang menuju ke arah dirinya.


Akio dan Steven sudah tahu dan mendengar apa isi hati Sean yang mengatakan Steven adalah cowok keren.


" Manusia tidak bisa membaca pikiran dan tidak bisa berbicara menggunakan bahasa kalbu, jadi berpura-pura lah seperti tidak mendengar dan mengetahui isi hati mereka", Akio hanya perlu menatap Steven untuk menyampaikan hal itu.


Steven mengangguk tanda mengerti, " Aku kira di bumi dan di planet kita memiliki kehidupan yang mirip, tapi ternyata kehidupan disini begitu berbeda", Steven dan Akio menghentikan obrolan mereka di dalam hati ketika mereka berdua sampai di belakang tenda sate.


Akio duduk di sebelah Alma, sedangkan Sean duduk di samping Akio.


" Kalian beneran sedang berada di sekitar sini?".


" Pesanan makanan kita baru saja disajikan, mari makan", gumam Alma mempersilahkan yang lain untuk makan, karena dirinya sudah merasa begitu lapar.


Akio dan Steven pun terlebih dahulu menyeruput minuman booba, karena merasa haus setelah cukup lama mengobrol di gudang, dan belum sempat minum.


Saat Alma menikmati nasi dan sate pada tusukan pertama, Sean mencubit pinggang Alma pelan, Alma menengok sambil membulatkan matanya, meminta penjelasan.


" Kamu gimana sih kok nggak ngenalin aku sama temennya cowok kamu!".


" Kamu nyebelin banget, dulu aku pernah minta dikenalin sama temen Akio, kamu nggak nanggepin, cuek banget, sudah nggak anggep aku sahabat kamu ya?, aku kan juga pengen ngerasain kencan seperti kamu", bisik Sean di telinga Alma.


Alma menghentikan kunyahan nya, dan balas berbisik ke Sean.


" Kamu bisa sabar sedikit kan?, aku lapar dan lagi makan, nanti juga bakal kenalan, selesaikan makananmu dulu !", Alma begitu kesal karena Sean tidak sabaran.


Satu porsi sate ayam plus nasi, dimsum, salad buah, minuman booba, dalam sekejap telah habis. Alma dan kedua pemuda itu makan dengan lahapnya, hanya Sean seorang yang makan dengan pelan karena tahu gejrot miliknya sangatlah pedas.


" Setelah ini mau kemana lagi?, mau pulang atau jalan-jalan kemana?", Akio yang sudah selesai makan kini mengelap bibirnya dengan tissue yang disediakan si penjual sate.


Sedangkan Steven masih sibuk mengaduk-aduk booba yang ada di gelas cupnya. Kemudian pandangan nya berpindah ke piring kotor bekas tempat sate. " Baru pernah aku minum minuman semacam ini, manusia bumi itu sangat kreatif, bahkan daging pun di potong kecil-kecil dan dibakar, ternyata rasanya sangat nikmat".


Di Mesier memang jarang orang mengolah daging, makhluk Mesier diperbolehkan membunuh binatang jika ada acara-acara besar saja, dan setiap harinya mereka hanya makan sayuran.


Steven kini menatap makanan yang sedang Sean makan. Dan penasaran dengan rasanya, tidak ada tempe atau tahu di planet mesie.


Sean mengetahui jika pemuda yang bersama Akio sedang menatap ke arahnya, salah. Bukan ke arahnya, melainkan menatap ke arah tahu gejrot yang sedang dinikmatinya.


" Apa kamu mau?", Sean menyodorkan piring berisi tahu gejrot ekstra pedas miliknya.


" Bolehkah?", tanya Steven dengan polosnya.


" Sebaiknya kau pesan sendiri saja, milik Sean sangat pedas dan mulutmu akan terbakar jika memakan makanan miliknya", Alma mewanti-wanti.


" Coba saja dulu, nggak papa, nanti kalau kamu suka, aku pesenin yang nggak pedes", Sean menyodorkan piringnya dan diterima Steven.


Steven menyuap satu sendok penuh tahu gejrot. Bukannya kepedasan, justru Steven sangat menikmati tahu gejrot milik Sean, dan kembali memasukkan tahu gejrot itu sesuap demi sesuap kedalam mulutnya.


" Wah, bahkan kalian berdua belum berkenalan, tapi sudah makan makanan sepiring berdua", Alma terkekeh melihat Steven yang ternyata doyan makan tahu gejrot ekstra pedas milik Sean.


" Benar juga yang kamu katakan Al", Sean langsung menyodorkan tangannya, " Namaku Anindia Misean, panggil saja Sean, siapa nama kakak?".


Steven yang baru pernah berkenalan dengan manusia merasa bingung, namun saat menatap Akio, Akio memberi tahu melalui bahasa kalbunya, cara manusia berkenalan.


" Ulurkan tanganmu sama seperti gadis itu, bersalaman dan beritahu siapa namamu".


Steven menurut dengan mengulurkan tangannya, " Namaku Steven Toyoda, sepupunya Akio, panggil saja aku Steven".


Mata Sean langsung bersinar cerah, seolah mengeluarkan jutaan bintang yang begitu terang.


" jadi kalian saudara, wah mungkinkah persahabatan kita akan berubah menjadi persaudaraan Al?".


Alma langsung tertawa lepas mendengarkan ucapan Sean, " kamu itu polos banget See, percaya begitu saja mereka adalah saudara, tapi mungkin juga sih, saudara se-planet", batin Alma.


_


_


Kini Alma, Akio, Sean dan Steven sudah berada di gedung bioskop. Setelah tadi mereka ngobrol santai sambil lesehan di belakang tenda penjual sate. Akhirnya mereka membuat keputusan untuk nonton film bersama.


Awalnya Sean mengajak ke tempat wisata dengan berbagai macam permainan yang seru, seperti di dunia fantasi, ada roller coaster, ada arung jeram, dan berbagai permainan yang memacu adrenalin.


Namun Akio langsung menolak, dengan alasan baru saja makan, takutnya akan muntah, padahal alasan Akio sesungguhnya karena mengingat Alma yang sedang hamil muda dan belum boleh melakukan kegiatan yang ekstrim, tidak boleh kelelahan dan harus banyak istirahat.


Kebetulan film yang akan diputar saat itu bergenre komedi romantis, sehingga Alma dan Sean dibuat tertawa dari awal hingga akhir film itu diputar. Steven juga sesekali ikut tertawa, hanya Akio yang masih dengan ekspresi wajah yang tetap dingin.


Posisi duduk mereka sama seperti saat di tempat makan tadi, Steven paling ujung, kemudian Akio, Alma dan Sean di samping Alma.


Steven mungkin mengingat pesan Akio agar tidak terlalu dekat dengan manusia, karena hanya akan menambah masalah. Karena itu Steven seperti membuat jarak dengan Sean, meski Sean sudah mencoba untuk lebih dekat dengannya.


" Sepertinya sepupu pacar kamu sudah punya cewek ya Al?, aku deketin kok kesannya dia kaya menghindar begitu", bisik Sean saat film baru saja di mulai.


" Mungkin saja begitu, aku juga tidak tahu dan tidak pernah tanya-tanya urusan orang lain".


Akio memang tidak pernah membahas tentang Steven ataupun hal lain, karena Akio selalu fokus pada Alma. Dan Alma bukan tipe pacar yang kepo dan posesif pada pasangan.


_


_


Dua jam duduk di bangku penonton, sambil tertawa lepas ternyata membuat Alma kembali lapar, tapi mau minta makan lagi mungkin akan membuat Sean mencurigainya.


" See, aku capek banget mau istirahat, habis dari sini kita berpisah ya, aku langsung pulang, kamu juga, takut ibu marah-marah kelamaan main".


" Kamu lihat sendiri kan kalau di kios tadi banyak banget kerjaan".


Sean yang sebenarnya masih ingin bersama-sama dengan Steven, akhirnya mengangguk dengan lesu.


" Jika kamu mau pulang berarti Akio dan Steven juga pulang. Ya sudah aku pulang juga", ujar Sean nampak kecewa.


" Maaf ya" Alma mengusap tangan Sean, " besok-besok kita bisa main bareng lagi".


Sean mengendarai motornya menuju ke arah rumahnya, sedangkan Alma dan Akio menggunakan taksi online.


Motor Akio dibawa Steven, karena malam ini Steven akan pulang ke rumah Akio dan tidur disana.


" A... apa boleh aku nginep di rumah ibu malam ini?", Alma yang sedang di genggaman tangan nya menggoyang-goyangkan pelan.


" Pulang saja ya, bukannya nggak boleh, tapi aku sudah terbiasa tidur ditemani kamu, kalau nanti malam tidur sendirian aku nggak bisa....", Akio menghentikan ucapannya karena Alma meremas tangan Akio dengan kuat.


Alma menatap Akio agar Akio mendengar suara hatinya.


" Kamu lupa ya lagi naik taksi online, dari tadi pak supirnya ngeliatin kita terus dari kaca spion, pasti Pak supir mengira kita anak SMA yang kumpul kebo, hentikan kebiasaan kamu ngomong tanpa filter!", Alma melotot pada Akio.


Namun bukannya minta maaf Akio malah tertawa lepas dan mengecup kening Alma dengan lembut.


" Baiklah... kita ke rumah ibumu terlebih dahulu, tapi nanti tetep pulang ke rumah kita, aku nggak ijinin kamu nginep di rumah ibumu titik, no debat". Akio membuat gerakan mengunci mulut, dan terdiam hingga taksi sampai di pinggiran jalan, dimana rumah Maemunah masih harus berjalan menyusuri gang kecil.


" Makasih pak", Alma membayar tagihan taksi dan berjalan beriringan dengan Akio. Akio yang berniat ingin menggandeng tangan Alma, ditepis Alma langsung karena jari Alma menunjuk toko kelontong.


" A... mampir disitu sebentar, aku laper banget, mau beli roti sama air mineral.


Akhirnya Akio menurut saja berjalan mengikuti Alma membeli roti, air mineral, dan beberapa makanan ringan untuk Bara.


Sambil berjalan menyusuri gang menuju rumah ibunya, Alma mengunyah roti dengan ekspresi yang sangat menikmati.


" Mending kita duduk dulu disana, aku khawatir kamu tersedak makan sambil jalan", Akio menarik tangan Alma untuk duduk di balok cor yang ada di pinggiran jalan.


" Langsung pulang saja A...., aku berhenti makan rotinya, buat nanti lagi, sudah lumayan kenyang, malu tau duduk-duduk di sini, kalau ada yang lewat ngelihatin kita gimana?", lagi-lagi Akio hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap Alma yang hobinya melawan perintahnya.


Selama di bumi, hanya Alma seorang yang berani menolak perintah ataupun keinginannya selama ini. Namun Akio bisa apa, dia begitu mencintai Alma dan kebahagiaan Alma adalah yang paling utama, jadi terkadang Akio juga harus mengalah dan mengikuti keinginan pujaan hatinya itu .


Mereka berdua sampai di rumah, dan kios ibunya masih saja ramai pengunjung.


Alma merasa bersyukur karena usaha laundry milik ibunya terus mengalami kemajuan, semakin berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas.


" Mungkin kiosnya perlu di perlebar ke belakang, masih ada lahan kosong, biar lebih luas dan tidak terlihat sempit banget".


Akio membayangkan gambaran perluasan kios.


" Yang bantu ibu juga sepertinya harus di tambah A...., lihat mereka seperti tidak ada hentinya bekerja dari buka sampai mau tutup".


Akio mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan perkataan Alma.


" Nanti kita bicarakan ini sama ibu, sebelum kita pulang ke rumah", ucap Akio masih kekeh harus pulang kerumah.