
Film berakhir dengan sad ending, kisah percintaan dua orang yang saling mencintai semenjak keduanya di bangku SMA, berlanjut hingga keduanya dewasa dan menikah, namun ternyata si pria mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Film berakhir dan masih menyisakan air mata dan wajah sedih para penonton.
" Jika tahu film ini berakhir menyedihkan, aku males buat nonton film ini, sebel banget kalau nonton film berakhir menyedihkan, itu kebawa pikiran terus, jadi bikin badmood kebawa ke dunia nyata". Sean terus ngedumel saat mereka sedang berjalan pelan, keluar dari gedung bioskop.
" Kamu nya saja yang baper, kalau emang ceritanya bikin para penonton larut kebawa emosi, itu berarti cerita yang bagus, dan pemain-pemain yang hebat. Apa kamu tahu kalau mereka para aktris dan aktor yang main film itu dibalik layar juga happy happy saja. Meski saat main mereka sangat menjiwai".
" Itu berarti mereka pemain yang hebat, dan kamu nggak perlu terus murung saat film sudah usai, kalau pas lagi nonton sih boleh-boleh saja, tapi kalau sudah lagi di dunia nyata, kita kembali pada diri kita, jangan menjadikan seolah kita dalam posisi pemain yang ditinggal mati sama pasangannya".
Alma mencoba membuat Sean dan Feni tidak murung terus, karena keduanya tadi nangis sampai sesenggukan pas lagi nonton, saking kebawa emosi dari para pemain film.
" Eh sori sori....", Sean tidak sengaja mendorong cowok berkemeja kotak-kotak yang berjalan didepannya karena dirinya juga di dorong dari belakang. Pintu keluar gedung film yang sempit dan penonton yang keluar bersamaan membuat mereka harus berjubel saat keluar.
Namun cowok itu tidak merespon dan tetap berjalan keluar, Sean pikir mungkin dia pergi bersama ceweknya, sehingga tidak peduli dengan cewek lain.
" Tadi aku bilang apa, kita keluar terakhiran, nunggu yang lain keluar dulu, biar nggak berjubel kayak gini, kamu malah nggak tahan kebelet mau pipis", Feni menggerutu karena sejak tadi dirinya juga didorong-dorong dari belakang. Gara-gara Alma yang kebelet.
Akhirnya mereka sampai diluar, dan selamat dari aksi saling dorong penonton yang keluar dari gedung film.
" Aku ke toilet dulu ya, kalian tunggu disini, nitip tas aku sebentar", Alma langsung menuju ke toilet, menitipkan tasnya pada Feni, sedang kedua sahabatnya menunggunya di depan toilet.
Sean justru terus kepikiran dan jadi sangat penasaran dengan cowok yang didorongnya tadi, dia tidak menengok sama sekali saat Sean meminta maaf kepadanya.
" Eh, itu dia cowok yang tadi nggak sengaja aku dorong", melihat cowok berkemeja kotak-kotak bersama satu teman cowok dan seorang gadis.
" Kakak...Kak....!", teriak Sean memanggil cowok berkemeja kotak-kotak itu, pemuda itu menengok dan menunjuk ke dadanya sendiri.
Sean mengangguk, " Maaf, saya tadi nggak sengaja dorong tubuh kamu, tadi saya sudah minta maaf tapi kayaknya kamu nggak denger". Sean sengaja mengejar tiga orang itu, sampai Feni bingung apa mau sahabatnya itu. Feni menemukan Sean lumayan jauh dari posisi toilet umum.
Feni mengejar Sean dan mengikuti di belakangnya, namun berhenti agak jauh, sekitar 3 meter, dari posisi Sean saat ini.
" Oh itu, iya, nggak papa kok, nggak sakit juga di dorong sama kamu, nggak perlu minta maaf ".
" Kayaknya kita seumuran, jadi jangan panggil kakak, saya nggak setua itu".
Pemuda itu merasa tidak suka dipanggil dengan sebutan kakak oleh Sean.
" Oh iya maaf maaf, soalnya aku nggak tau nama kamu siapa, jadi bingung, mau manggil siapa, lain kali nggak aku panggil kakak lagi", Tatapan Sean terlihat berbinar melihat pemuda itu.
Namun si pemuda justru mendapat bisikan dari gadis yang bersamanya.
" Paling cewek itu cuma modus pengen kenalan sama kamu, mau tau nama kamu, pakai alasan minta maaf karena udah dorong kamu".
Tatapan si pemuda langsung terlihat ilfil pada Sean. " Gadis jaman sekarang memang terlalu gampangan", batin si pemuda.
_
_
Alma yang keluar dari toilet bingung tidak mendapati kedua sahabatnya, Alma memilih berhenti dan duduk di kursi yang ada di pinggiran toko.
Mau menghubungi mereka, tapi tadi tas dititipkan pada Feni, mau nyari mereka tapi melihat begitu luasnya mol itu, belum lagi ada lima lantai, Alma bingung harus mulai mencari dari mana. Yang ada bakal kecapekan.
Sedangkan saat ini Alma tidak ada HP maupun uang sepeserpun. Alma berpikir untuk pergi ke bagian informasi, namun akan sangat memalukan, seperti anak kecil yang terlepas dari orang tuanya saat jalan-jalan.
Alma berusaha melihat-lihat keadaan sekitar, berjalan di sekitaran toilet, siapa tahu bisa melihat kedua sahabatnya itu, dan benar saja Alma bisa melihat dari jauh Sean yang sedang mengobrol dengan seseorang. Bukan seseorang, tepatnya ada dua pemuda dan seorang gadis di depan Sean.
Alma juga melihat Feni berada tak jauh dari posisi Sean, Feni berdiri di belakang Sean sambil membawa tasnya, mata Alma langsung tertuju pada Feni, dan kurang memperhatikan orang-orang yang sedang bicara dengan Sean.
" Kalian gimana sih kok malahan ninggalin aku sendirian di toilet, mana tas kamu bawa, aku mau chat nanya kalian dimana, HP ada di dalam tas". Alma menarik tas selempang mini miliknya dari pundak Feni.
" Eh iya sorry Al, aku ngejar Sean tuh, dia tiba-tiba lari ngejar tuh cowok".
Alma sekilas menatap tiga orang yang ngobrol dengan Sean. " Teman di sekolahnya yang dulu kali Fen", Alma nggak mau ambil pusing, tapi saat ini dirinya sudah merasa lapar, dan perutnya protes ingin makan siang, sedangkan Sean kelihatan masih mengobrol dengan tiga orang itu.
" Aku lapar nih Fen, apa kita nyari makan duluan?, nanti kita kasih tahu Sean kalau dia dah selesai ngobrol, Sean sekalian kita pesenin makanan, gimana?".
Dengan langkah cepat Feni menghampiri Sean, " Aku sama Alma mau makan siang, kamu mau bareng apa kita tinggal?".
Mendengar nama Alma disebut, pemuda di depannya yang tadi merasa ilfil pada Sean kini melongok ke belakang, melihat Feni sebentar, kemudian melihat kebelakang lagi menatap Alma, dan menyunggingkan senyumnya.
Si pemuda berjalan melewati Sean dan menghampiri Alma yang masih berdiri agak jauh.
" Gimana kabar kamu Al ?", pemuda dan gadis yang bersama cowok berkemeja kotak-kotak itu ikut menghampiri Alma.
" Loh, ternyata Leo, Diana, dan ini...", Alma melihat satu pemuda lagi yang belum dikenalnya.
" Ini cowoknya Diana, Haris namanya , temen sekelas ku ", ucap Leo.
" Lama banget nggak ketemu Al, gimana kabar kamu, aku terus nyari informasi tentang kamu dan Akio, kalian hebat banget, bisa menang di tingkat internasional, aku bangga banget punya teman kayak kalian". Diana memeluk Alma yang juga membalas pelukannya.
" Leo juga cerita beberapa bulan yang lalu ketemu sama kamu di sekolahannya". Diana melepas pelukannya dan menggandeng tangan Alma.
" Aku baik, kalau kalian gimana, sehat kan?, bisa sampe jalan-jalan ke sini".
" Ternyata kalian kenal Sean juga?, bukankah sekolah kalian nggak sama ya, kenal dimana?".
" Sean siapa?", Leo justru bingung dengan pertanyaan Alma.
" Itu, Sean sahabat aku, aku kesini sama Sean, dan ini Feni, mereka sahabat aku".
" Owh... jadi dia sahabat kamu, aku baru ketemu tadi, dia nyamperin ngucapin permohonan maaf, katanya tadi nggak sengaja dorong aku pas keluar habis nonton".
Alma tersenyum simpul, " Jadi kalian nggak saling kenal. Aku sama sahabat-sahabat aku cabut dulu ya, maaf ngga bisa ngobrol lama". Alma memotong obrolan mereka.
" Loh, udah mau balik?, emang nggak jalan-jalan dulu?", Leo seolah tidak ikhlas dengan perpisahan mereka.
" Belum sih, kita mau makan siang dulu, aku udah laper banget, paling cari makan disini".
" Kita boleh gabung nggak?, tadi kita juga rencana mau makan siang, ada tempat yang rekomended di sini, nanti aku yang traktir kalian deh".
Mendengar traktiran tentu saja Feni dan Sean langsung setuju.
Merekapun sampai di lantai tiga dan masuk kesebuah restoran yang cukup luas dengan interior yang terlihat mewah.
" Kelihatannya Leo anak orang kaya,dia tidak berpikir dua kali buat traktir kami semua di tempat makan yang aku tahu makanannya enak dan harganya tergolong mahal", batin Alma, karena Akio pernah mengajaknya makan ditempat ini.
" Ini beneran kita di traktir kan?", Feni langsung berbisik pada Alma saat mereka masuk ke restoran itu. Feni khawatir tidak mampu membayar tagihan makannya jika ternyata dirinya harus bayar sendiri makanan yang sudah dipesannya.
" Semoga saja beneran", ucap Alma singkat.
Merekapun memilih makanan di buku menu yang diberikan oleh pelayan restoran.
Feni sengaja memilih makanan dengan harga murah, karena khawatir uang yang dibawanya tidak cukup untuk membayar, jika tiba-tiba harus bayar sendiri.
Beda dengan Sean yang justru memesan beberapa makanan yang mahal dan paling enak di restoran ini.
Alma memesan nasi goreng kambing, karena dia merasa sangat lapar, butuh nasi dan juga butuh asupan makanan untuk meningkatkan tensi darahnya yang sepertinya turun karena kecapekan dan kurang istirahat.
" Perut aku kalo laper harus diisi nasi, maklum perut orang kampung", ucap Alma tanpa jaim.
" Sama, aku juga kalau belum makan nasi serasa ada yang kurang, makanya aku pesen kimbab".
Alma hanya meringis mendengar ucapan Leo, mana bisa dirinya kenyang lama kalau makan kimbab, ibarat makan lontong atau arem-arem sama tahu isi, kenyangnya hanya sementara, nggak tahan lama seperti jika memakan nasi biasa.
__________________________
* Arem-arem adalah : penganan serupa lemper, yaitu nasi berisi sayuran atau sambal goreng yang dibungkus dengan daun pisang. Arem-arem populer sebagai penganan pengganti sarapan. Biasanya ukurannya dibuat lebih besar daripada lemper.