
" Apa kabar Bi?".
" Bibi udah jadi bos nih sekarang... jadi makin sibuk. Sean datang ke sini mau bantuin Bibi nih, ada yang bisa Sean kerjain nggak?".
Sean menyapa sambil mencium punggung tangan Maemunah.
" Kabar kami semua baik, kabar kamu gimana See?, iya sekarang jarang main kesini, sejak kalian tidak sekolah di SMA yang sama, jadi jarang main".
Maemunah memang sudah menganggap Sean seperti putrinya sendiri, apalagi saat masih SMP, Sean sering sekali main ke rumah sepulang sekolah, dan sering nginep di rumah saat weekend.
" Sean sehat Bi, iya akhir-akhir ini Sean sibuk karena kelas 10 diwajibkan ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, dan Sean ikut pecinta alam, dan ternyata sering banget kumpul dan banyak kegiatannya".
" Seandainya dulu Sean tahu kalau Alma mau melanjutkan di Pelita Jaya, pasti Sean milih sekolah yang sama".
" Nggak papa sih di sekolah baru juga ternyata dapat banyak teman juga, meski nggak sedekat hubungan persahabatan Sean sama Alma".
Maemunah mengangguk paham. " Kalian masuk ke dalam rumah saja disini kalian tidak bisa ngobrol santai, banyak sekali pakaian menumpuk, dan tidak nyaman juga ngobrol disini, panas", Maemunah menatap ke arah pekerjaannya yang sedang menggunakan setrika uap.
" Kalau begitu kita ke rumah ya Bi", Sean berjalan menarik tangan Alma agar ngobrol di rumah saja.
Maemunah tahu jika Sean menawarkan bantuan hanyalah basa-basi, karena sudah paham dengan karakter Sean yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci apalagi nyetrika. Hidupnya di rumah layaknya seorang ratu, yang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Karena semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh pembantunya.
" Al, cuma perasaan ku atau memang kamu kelihatan lebih berisi sekarang ya?", Sean menatap Alma yang masih berdiri sambil membuka jendela kamarnya yang tadi masih tertutup.
Sean mengamati dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
" Tapi masih standard sih, belum tergolong gemuk, malah kamu jadi kelihatan lebih cantik , mungkin tubuhmu yang dulu yang terlalu kecil".
" Kamu memang benar See.... aku jadi gemukkan, sejak ke sekolah tidak lagi naik sepeda, dan apa lagi Akio sering banget ngajakin aku makan, beginilah hasilnya".
" Syukur deh kalau nambah cantik, biar Akio nggak ngelirik ke cewek lain", gurau Alma sambil merebahkan dirinya di samping Sean yang sudah lebih dulu tiduran di atas kasurnya.
" Akio manjain kamu banget ya Al?", Sean melihat ponsel Alma yang diletakkan diatas kasur.
Sean tahu jika ponsel itu Asti dibelikan Akio, tidak mungkin seorang Alma menghamburkan banyak duit untuk membeli ponsel semahal itu.
Alma mengangguk, " Dia baik banget sama aku, sampai aku kadang merasa beruntung banget ada cowok yang bener-bener tulus dan sayang sama aku".
" Sampai hal terkecil yang kadang bagiku itu hal remeh, dia juga melakukannya".
" Yang selalu nyuruh aku istirahat dan jangan kecapekan".
" Dan kemarin disekolah dia melakukan sesuatu yang bikin aku melting banget".
Sean menatap Alma lekat sambil menyandarkan kepalanya di bantal.
" Dia ngapain Al?, ngasih bunga?, ngasih coklat, atau boneka?, aduuuh jadi penasaran". Sean merasa gemes sendiri.
" Bukan itu, yang kamu sebutin tadi itu biasa dilakukan cowok ke ceweknya, sudah nggak keren", ujar Alma.
" Terus-terus, apa dong yang dia lakuin?", tanya Sean penasaran.
" Dia nolak jadi peserta olimpiade olahraga cabang renang, padahal dia yang diminta jadi peserta utama, namun dia menolaknya See".
" Dia sih bilang sama pak guru kalau mau fokus belajar buat persiapan olimpiade sains internasional di Almaty Kazakhstan bulan Januari besok".
" Tapi pas aku suruh dia nerima tawaran itu, dia jujur dan bilang sama aku kalau alasan utama dia menolak itu karena nggak mau lama berada jauh dariku".
" Katanya nggak bisa lama-lama nggak ketemu sama aku".
Sean langsung ikut meleleh mendengarkan cerita Alma.
" Kalau kamu gimana?, apa sudah ada cowok yang kamu taksir?"
" Dari tadi aku terus yang cerita, padahal aku juga pengen denger kisah cintamu". Alma sengaja menanyakan kisah kasih sahabatnya itu.
Sean langsung berbinar, " Ada seorang cowok yang aku taksir, wajahnya itu dingin banget, seperti cowokmu si Akio, tapi sepertinya dia anak kuliahan deh".
" Namanya siapa See?", Alma kini merubah posisinya miring menghadap Sean.
" Aku nggak tahu namanya, sebenarnya aku juga baru melihat dia sekali, dan nggak sempet kenalan".
Sean mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya memilih untuk berjoging ke taman hijau. Sean melihat seorang pemuda yang menarik perhatiannya, karena wajah pemuda itu terlihat manly banget, memakai pakaian serba hitam dan wajahnya sangat dingin, namun sangat mempesona, bahkan bukan hanya Sean yang dibuat terpukau dengan ketampanannya. Banyak gadis lain yang sedang berjoging juga terpesona.
" Kalau boleh aku kasih saran nih See.... naksir itu boleh saja, tapi sama yang sudah kenal, dan tahu cowok itu sudah ada yang punya apa belum. Coba bayangin, kalau ternyata cowok yang kamu lihat tadi sudah punya pacar, kan bisa bikin kamu jadi patah hati".
Alma menggelengkan kepalanya sambil bangkit dari rebahannya.
" Aku bikinin kamu minum dulu ya See".
" Nggak usah Al, santai saja, kita keluar saja yuk... aku tiba-tiba pengen minum yang seger dan dingin".
" Sekalian kita makan siang di luar, aku lagi pengen makan yang pedes-pedes".
Alma langsung mengangguk.
" Oke, jadi kita mau kemana?".
Alma langsung mengirim pesan pada Akio jika dirinya diajak Sean makan siang diluar.
~ A.... aku keluar sama Sean ya ?, Sean ajak makan siang di luar ~
Tak berselang lama Alma langsung mendapatkan balasannya.
~ Makan siang deket taman hijau saja sayang, aku ada di sekitar situ, jadi kita bisa makan siang bareng ~
" Ternyata Akio lagi berada di sekitar taman, terus dia ngajak kita nyari makan siang di sekitar sana, gimana ?, disana kan banyak yang jualan, jadi nanti kamu bisa pilih mau makan apa". Alma meminta persetujuan Sean.
" Yah, nanti aku di cuekin kalau kalian ketemuan, alamat bakalan jadi nyamuk ", sindir Sean, karena setiap Alma bersama Akio, seolah dunia hanya milik mereka berdua, dan yang lain hanya figuran.
" Nggak bakalan di cuekin, lagian Akio disana juga lagi ada urusan sama seseorang, jadi kemungkinan kita akan makan rame-rame", Alma menjelaskan.
Sean terlihat berpikir beberapa saat, " Oke deh kalau begitu, lagian bener juga yang kamu bilang, di deket taman hijau banyak yang jualan makanan, jadi bisa milih mau makan apa disana".
Sean dan Alma pun berpamitan pada Maemunah dan pergi berboncengan menggunakan motor Sean.
_
_
15 menit kemudian Sean dan Alma sampai di tenda-tenda pedagang makanan yang berada di sekitar taman hijau.
" Jadi mau makan apa nih See ?", Alma turun dari motor dan melihat-lihat jajaran tenda dan gerobak dorong dari para pedagang.
" Kita makan tahu gejrot Al, itu yang sebelah kirinya penjual sate ", ujar Sean.
Alma mengangguk, " oke, aku pesen sate sama nasi saja yang di sebelahnya, sudah laper banget".
Sambil berjalan menuju tenda penjual tahu gejrot, Alma mengirim pesan lagi pada Akio.
~ Aku dibelakang tenda penjual sate sebelah penjual tahu gejrot. Sean pingin itu, kalau mau nyusul kesini, aku pesen sate, kamu mau makan apa?~
Alma pun memesan sate, saat Sean memesan tahu gejrot ekstra pedas.
~ Satenya pesen dua porsi lagi, untukku dan temanku ~
Alma membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Akio.
" Lihat See... benar kan kalau Akio sedang bersama temannya, dia memintaku pesen dua porsi lagi". Sean menunjukkan chat terakhirnya dengan Akio.
" Sukur deh kalau begitu, setidaknya akan ada teman untuk menjadi nyamuk", sindir Sean sambil cekikikan sendiri.
Setelah memesan beberapa makanan untuk makan siang mereka, Alma dan Sean memilih duduk di atas lantai beralaskan tikar yang berada di belakang tenda pedagang sate.
Pesanan pun datang, ada tahu gejrot, sate ayam, dimsum, cumi bakar, kerang hijau, salad buah dan 4 cup minuman booba.
Alma dan Sean masih mengobrol ambil menunggu Akio dan temannya datang. Tak lama kemudian terlihat Akio berjalan menuju tempat dimana Alma berada diikuti seorang pemuda yang terlihat lebih dewasa di banding Akio memakai pakaian serba hitam.
Mata Sean langsung membelalak dan buru-buru berbisik pada Alma.
" Itu cowok yang tadi aku ceritain ke kamu Al, waaah...apa dewi fortuna sedang berpihak kepadaku?".
Alma tidak percaya jika yang Sean taksir adalah teman Akio yang berasal dari planet Mesier.
" Siapa namanya?". Batin Sean yang kini justru menjadi salah tingkah.