My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 48 : Prioritas



Ternyata alasan Alma di suruh menghadap Pak Bayu adalah untuk menerima beberapa materi tambahan yang harus dipelajari di rumah.


Waktu menuju hari H dilaksanakannya olimpiade sains di Almaty tinggal sebulan lagi. Dan Alma harus lebih intens belajar, agar bisa kembali meraih medali emas seperti sebelumnya.


Akio sudah menghadap Pak Bayu dan memperoleh buku panduan materi astronomi terlebih dahulu. Namun saat Alma ke ruang guru, Akio menemani nya.


" Kita langsung ke kantin ya A..., udah laper banget", Alma berjalan berdampingan dengan Akio menuju ke kantin.


Lagi-lagi di kantin ada beberapa anak yang menatap ke arah mereka dengan intens, Alma tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka, namun tidak dengan Akio yang di dalam telinganya bisa mendengar berbagai macam suara, begitu ramai dan bising dengan suara hati mereka yang tengah menatapnya.


Meski mulut mereka tertutup rapat, dan tidak ada satupun yang membicarakannya. Namun dalam hati mereka saling berkomentar melihat kedekatan dirinya dan Alma.


Akio tetap diam dan berpura-pura seolah tidak mendengar hal apapun, karena Akio yakin jika Alma tahu dan bisa mendengar isi hati orang lain seperti dirinya, Alma pasti akan minta kembali ke kelas dan membatalkan makan di kantin, dan meninggalkan makanan yang sudah di pesannya.


" Makasih ya mba", ucap Alma saat makanan pesanannya disajikan.


Alma mengambil sendok dan garpu untuk memakan gado-gado pesanannya, sedangkan Akio menambahkan saos dan kecap di mie ayam miliknya.


Alma langsung makan dengan cepat dan lahap, karena sudah sangat lapar.


" Pelan-pelan saja, takut tersedak nanti", Akio mengingatkan Alma, namun Alma tetap makan dengan cepat, karena waktu istirahat hampir habis. Dan benar saja, belum selesai mereka makan, bel masuk pun berbunyi.


Alma terpaksa menghentikan suapannya dan minum air putih dengan satu tarikan nafas.


" Yuk balik ke kelas", Alma berdiri dan mengajak Akio kembali ke kelas.


Beberapa siswa lain yang masih di kantin pun sama seperti Alma dan Akio, bergegas menuju kelas, meninggalkan makan siang mereka yang belum habis.


***


Di kelas semua berjalan dengan lancar, Alma bisa mengikuti kelas hingga bel pulang berbunyi. Itu berarti fisiknya sudah semakin sehat dan kuat. Menepis kekhawatiran Akio yang berlebihan sejak tadi.


Saat mereka berdua hendak pulang sekolah, Akio menyuruh pak supir untuk mampir di taman hijau, karena Steven menunggunya disana.


Sedangkan Alma meminta diturunkan di gang yang mau masuk ke rumah ibunya.


" Kalau urusannya lama, aku pulang ke rumah ibu ya A...".


" Nanti kalau urusannya sudah selesai kabari saja".


Alma minta diturunkan di gang, jalan masuk menuju ke rumahnya. Dan berjalan sendiri menuju rumah ibunya. Sedangkan Akio meneruskan perjalanan menuju taman hijau.


" Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"


Akio langsung duduk di kursi depan meja laptop yang ada di pojokan gudang.


" Aku sudah menemukan partikel lain yang bisa digunakan untuk memperbaiki UFO milikmu".


" Setelah ku teliti dan kulakukan uji coba berkali-kali, akhirnya ku coba menerapkannya pada sistem, dan lihatlah!".


Steven menyalakan mesin UFO, dan UFO milik Akio bisa berfungsi.


Akio begitu takjub dengan kehebatan Steven, tak disangka usahanya memperbaiki UFO selama 8 tahun, bisa di lakukan oleh Steven hanya dalam hitungan minggu.


" Bagaimana?, kita bisa mencoba menerbangkan nanti malam. Apa kamu masih ingin kembali ke planet Mesier?".


" Aku hanya khawatir karena penuaan kita yang lamban, akan membuat orang lain mencurigai kita dan mengetahui siapa kita sebenarnya. Bukankah kembali ke tempat kita yang sesungguhnya itu adalah pilihan terbaik?".


Ucapan Steven memang benar, namun kehadiran Alma dalam hidup Akio merubah semua keinginannya. Keinginan awal untuk kembali ke Mesier sudah dikuburnya dalam-dalam. Dan keinginan menghabiskan sisa hidup bersama Alma menjadi prioritas utama dalam hidupnya saat ini.


" Kalau kau ingin kembali ke planet Mesier, kau boleh kembali sesegera mungkin, namun aku akan tetap disini, aku yakin bisa menyembunyikan siapa diriku yang sebenarnya dari manusia-manusia itu".


" Tapi aku tidak bisa meninggalkan Alma, karena aku sudah berjanji padanya".


Akio berdiri dan hendak keluar dari gudang.


Ucapan Steven menyentil hati Akio.


" Aku tidak menyalahkan ucapan mu, jika aku membutuhkan Alma, tapi satu hal yang juga harus diingat, aku tidak mau mati konyol terombang-ambing di luar angkasa hanya demi untuk kembali ke planet Mesier yang sebenarnya tidak lebih bagus dari Bumi".


" Aku memang membenci manusia karena mereka begitu sering berbohong dan mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan kata hatinya"


" Namun saat ini aku sudah tidak perduli dengan hal itu, mungkin jika kemampuan makhluk di planet kita sama dengan manusia di bumi yang tidak bisa mendengar kata hati dan pikiran orang lain, aku yakin 100 persen, pasti akan sama saja makhluk Mesier dengan manusia di bumi, yang menyimpan begitu banyak rahasia, mengatakan banyak kebohongan dan kepalsuan ".


" Aku bahkan sudah berniat ingin menyerahkan UFO ini pada museum, namun ku urungkan, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari".


" Mungkin tempat ini adalah yang paling tepat untuk menyimpannya, siapa tahu suatu saat nanti timbul lagi keinginan untuk kembali ke planet Mesier ".


Akio keluar dari gedung begitu saja. Entah mengapa dirinya merasa seperti berkhianat pada tempat kelahirannya. Namun Akio memang harus membuat keputusan dan memilih mana yang menjadi prioritas dalam hidupnya saat ini.


***


" Kau kesini sendirian?, dimana Akio?, kalian baik-baik saja kan?, kenapa tidak telepon ibu dulu, biar ibu bisa jemput kamu ke jalan raya, jadi kamu nggak perlu capek jalan jauh kesini".


Alma duduk di kursi ruang tamu, setelah mencium tangan ibunya.


" Wah ibu beli kursi baru, bagus Bu".


Alma justru membahas kursi baru yang sedang di dudukinya.


" Akio lagi ada urusan sebentar di taman hijau, jadi tadi aku minta di turunkan di sini, males juga ikut ke sana, ibu masak apa?, Alma laper".


Alma melepas sepatu dan berjalan masuk kedalam ruang tengah.


" Ayo makan bareng, ibu baru saja masak sup ayam. Bara tadi baru pulang sekolah minta dibuatkan sup. Tadi pagi ibu cuma goreng tempe buat sarapan, makanya ibu buatkan sup ayam, sesuai permintaan Bara, ada sambel terasi nya juga".


Bara yang sedang menonton televisi langsung berlari dan menghambur memeluk Alma saat melihat Alma masuk ke ruang tengah.


" Ayo kak, kita makan bersama, sudah lama Bara nggak makan sama kak Alma", Bara menarik tangan Alma menuju meja makan.


Alma pun mengikutinya menuju meja makan dan mengambil nasi yang kemudian disiram sup ayam yang masih panas.


" Wah nikmat sekali", gumam Alma setelah memasukkan suapan pertama ke mulutnya.


" Pasti nikmat masakan bibi tukang masak yang bekerja di rumah Akio, selain itu tiap hari pasti kamu makan enak disana". Maemunah juga mengambil piring untuk dirinya dan Bara.


" Iya, pasti kak Alma tiap hari makan enak di rumah Kak Akio". Bara ikut-ikutan berbicara saat Maemunah menyerahkan piring berisi nasi dan sup ayam untuknya.


" Bisa di bilang begitu, mereka setiap hari masak beberapa macam menu yang berbeda, dan itu memang sudah terjadi jauh sebelum aku tinggal disana, aku hanya mengikuti kebiasaan disana saja. Toh tiap hari aku hanya tinggal makan, dan tidak perlu belanja ataupun masak".


" Sebenarnya terasa sangat aneh ketika awal tinggal disana dan tidak boleh melakukan apa-apa. Karena dari dulu ibu selalu mengajarkanku untuk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dan juga bisa masak, agar bisa membahagiakan dan membuat betah suami di rumah".


" Tapi setelah menikah, justru semua yang sudah ku pelajari sebelumnya, ternyata nggak satupun yang aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari".


" Suamiku hanya butuh untuk aku temani, dia melarang ku melakukan semua pekerjaan itu Bu".


" Karena itulah aku merasa jadi semakin gendut, jarang kerja, dan kerjaannya hanya makan, main dan tidur saja setiap hari".


Maemunah tersenyum simpul, dia sudah menduga, jika Alma akan diperlakukan sebagaimana seorang ratu di rumah suaminya, karena Maemunah bisa merasakan dan melihat dari sikap dan perilaku Akio, juga dari pandangan matanya, jika rasa sayang Akio pada Alma begitu besar dan dalam.


Tidak akan mungkin Akio mengijinkan Alma capek karena mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau capek karena masak. Apalagi di rumah Akio ada begitu banyak pembantu. Pasti itu dilakukan Akio agar Alma tetap santai, dan nggak perlu capek bersih-bersih rumah.


" Ibu mengajarimu semua hal itu karena seperti itulah yang biasanya dikerjakan seorang istri".


" Dan kamu beruntung menjadi istri Akio, yang begitu memanjakanmu, memperlakukan kamu dengan sangat baik".


" Meski kadang-kadang ibu jadi merasa kehilangan kamu, karena Akio begitu posesif terhadap mu. Tapi ibu turut bahagia jika kamu bahagia Nak...".


" Tentu ibu, Alma sangat bahagia", ucap Alma sambil meremas tangan Ibunya.