
Hingga jam 5 sore Alma baru bangun dari tidurnya. Saat Alma bangun, dia baru sadar bahwa tubuhnya masih polos, hanya tertutup kain selimut tebal, dan Akio sudah tidak ada di sampingnya, pasti dia sedang diluar menemani para tamu yang dibawa Steven.
Alma beranjak dari kasur dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi, membersihkan diri setelah pergumulan panas yang dia lakukan dengan Akio beberapa jam yang lalu.
Setelah merasa fresh, Alma memilih blouse panjang dan celana kulot panjang agar terkesan sopan. Sekarang banyak laki-laki asing yang tinggal serumah dengannya, jadi Alma memilih untuk lebih berpakaian sopan, agar tidak menimbulkan dampak negatif.
Alma tidak langsung keluar dari kamar, karena dia memilih mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Alma selalu teringat perkataan Akio yang selalu mengatakan jika dirinya terlihat sangat seksi dan menggoda setiap kali dia habis keramas. Karena itulah Alma memilih mengeringkan rambut nya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar.
Saat Alma selesai mengeringkan rambutnya, pintu kamar terbuka dan terlihat dari kaca tiolet pantulan diri Akio yang masuk ke kamar dan menutup kembali pintu kamar.
" Sudah mandi?, padahal aku mau ngajak satu ronde lagi sebelum mandi", Akio merengek seperti anak kecil.
" Yang benar saja, apa kamu belum mandi sejak tadi?".
" Wah bahkan kamu sudah dari luar dan bertemu dengan Steven dan yang lain, apa tidak malu, dari tubuhmu pasti tercium bau khas usai percintaan".
Alma menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sikap Akio yang terlalu santai.
" Steven dan yang lain sudah tahu jika kamu adalah istriku. Tidak masalah mereka tahu kita habis ngapain, lagian meski aku mandi terlebih dahulu, dan tanpa memberi tahu pun mereka pasti juga sudah tahu dengan melihat mataku dan membaca pikiranku, tentang apa yang habis aku lakukan".
Akio berkata seolah bercinta bukan hal yang rahasia untuk makhluk dari planet Mesier.
" Apa seperti itu jika di planetmu?, tidak ada rahasia sama sekali?", Alma kini mulai merasa aneh dengan cara bersosialisasi makhluk Mesier.
" Mau bagaimana lagi, kami semua bisa membaca pikiran yang lain, bahkan jika ada seorang suami yang menggauli perempuan lain yang bukan istrinya, ataupun sebaliknya, itu bisa diketahui langsung oleh pasangan mereka".
" Karena itulah banyak sekali kasus perceraian di planet Mesier, hanya saja disana tidak ada buku nikah ataupun ijab qobul seperti di bumi. Jika kami sudah saling suka, kami menjadikan pasangan, dan saat rasa suka mulai menghilang, atau salah satu menyukai orang lain, hubungan akan berakhir, kecuali jika si pasangan mau di madu. Baik untuk laki-laki maupun perempuan, sama saja".
" Karena diantara kami tidak ada rahasia".
Alma semakin tidak habis pikir dengan cara hidup makhluk Mesier. Jika sudah bosan berpisah, mungkin di planet Mesier banyak sekali yang bertukar pasangan, itu sangat menjijikan bagi Alma.
" Untung saja planet itu musnah, penghuninya hidup dengan cara yang aneh dan menakutkan", batin Alma.
" Apa katamu?, wah meski kau mengatakan dibatin mu, aku bisa tahu kau mengatakan kami makhluk yang aneh", tentu saja Akio tahu apa yang Alma katakan meski di dalam batin.
Alma hanya menyeringai, " justru aku jadi penasaran, apa dulu kamu sudah punya istri?, secara usiamu yang sebenarnya hampir 500 tahun, itu sudah sangat lama".
Akio tidak menjawab, justru dia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
" Sudah sore aku mandi dulu, kalau kemalaman takut dingin", gumam Akio sambil menutup pintu kamar mandi. Namun sikapnya justru membuat Alma penasaran dengan masa lalu suaminya itu.
Saat Akio sedang mandi, Alma pun keluar dari kamar, dan menemui Steven yang sedang bersama dengan yang lain menonton televisi. Ternyata mereka menonton acara anak-anak tentang belajar membaca, itu membuat Alma tersenyum simpul karena merasa lucu.
" Wah kalian sedang belajar bahasa manusia ya? , semangat ya, aku tahu kalian pasti akan cepat bisa, karena IQ makhluk planet Mesier kan diatas rata-rata IQ manusia".
Semua tersenyum mendengar perkataan Alma, karena mereka sudah mulai tahu banyak tentang bahasa manusia. Namun ekspresi mereka berubah jadi sedikit aneh saat menatap mata Alma, satu persatu dari mereka menutup mulutnya yang tengah tersenyum lebar.
" Kenapa?, apa ada yang lucu?".
Karena mata Alma yang menatap mereka satu persatu justru membuat mereka semua bisa tahu apa yang sedang dipikirkan Alma, tentang pertanyaan yang ingin Alma ajukan mengenai masa lalu Akio di planet Mesier.
Steven yang sudah lebih dekat dengan Alma pun menyuruh Alma duduk disampingnya.
" Kemarilah dan bergabung bersama kami".
" Bayangkan saja seperti disini dan di luar negeri, kami jarang bertemu dan tidak tahu banyak tentang kehidupannya".
Alma menutup mulutnya yang terbuka karena merasa takjub namun juga tidak nyaman, benar juga.... mereka semua bisa membaca pikiran Alma, seperti itu lah kehidupan mereka sehari-hari, tidak ada rahasia.
Awalnya Alma berpikir pasti akan sangat senang dan mudah hidup dengan bisa membaca pikiran orang lain seperti mereka para makhluk dari planet Mesier. Namun kali ini pikirannya sedikit berubah. Alma merasa tidak nyaman dengan keadaannya.
Semua bisa membaca isi hati dan pikirannya. Dan baginya itu seperti seseorang yang bertelanjang didepan umum, tidak ada privasi maupun rahasia dalam dirinya. Alma semakin merasa tidak nyaman dengan ucapan Steven yang selanjutnya.
" Di planet kami memang sering terjadi saling bertukar pasangan, karena usia kami itu sangat panjang, rasa bosan bisa saja terjadi di setiap hubungan. Tapi jika kami sudah benar-benar mencintai, tidak akan pernah kami mengkhianati pasangan kami".
" Jika salah satu dari kami ada yang merasa jenuh, biasanya sebelum menjalin hubungan dengan yang lain, kami lebih dulu mengetahui, dan akan ambil langkah, mau lanjutkan hubungan atau sudahi hubungan".
Alma menghembuskan nafas panjang,
" Usia manusia tidak sepanjang makhluk Mesier, tapi menurutku rasa jenuh pada sebuah hubungan bukan terjadi karena lamanya mereka bersama, itu tergantung pada pribadi masing-masing".
" Bahkan di bumi ada yang menikah baru beberapa bulan, atau bahkan beberapa minggu, tapi sudah berpisah".
" Hanya saja proses perpisahan pada pernikahan resmi di sini sedikit panjang dan rumit, karena itu kami manusia sebelum menikah harus lebih dulu mempertimbangkan keputusan kami matang-matang, untuk menikah atau tidak".
Alma pun memilih untuk kembali ke kamar, karena semakin merasa tidak nyaman.
" Silahkan diteruskan, aku mau ke kamar dulu"
Alma pun berjalan menuju ke kamar, saat Alma sampai dikamar, Akio sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
" Bisakah kita akhiri liburan kita disini?, aku tidak nyaman dengan keberadaan mereka semua".
" Aku tidak keberatan mereka tinggal disini, tapi aku risih karena mereka semua bisa tahu apa yang aku pikirkan, itu sangat menggangguku".
Alma menyampaikan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Akio bisa paham dengan sikap Alma.
" Mungkin karena kamu tidak terbiasa dengan kehidupan pribadi yang bisa diketahui oleh orang lain, makanya kamu tidak nyaman".
" Sama seperti aku yang dulu, awal tinggal di bumi, aku tidak menyukai manusia yang penuh dengan kebohongan dan kemunafikan".
" Namun setelah lama berada disini, sesekali aku jadi ingin menjadi seperti manusia yang hidup dengan rahasia dan privasi, namun beginilah kami dilahirkan, dengan kelebihan dan kekurangan kami".
Akio menghampiri Alma, duduk di sampingnya.
" Baiklah, besok kita kembali ke rumah, kita bisa liburan di tempat lain, dan membiarkan mereka tinggal disini untuk sementara waktu".
Akio mengusap tangan Alma yang duduk di tepian ranjang.
" Makasih ya A, aku hanya tidak nyaman saja, karena mereka semua laki-laki, rasanya seperti aku berjalan didepan mereka dengan bertelanjang. Tidak ada privasi sama sekali".
Akio mengangguk paham. " Sebenarnya tidak seperti itu, hanya karena kamu belum terbiasa, kalau kamu merasa seperti itu, alangkah baiknya jika kamu tetap berada di kamar sampai besok kita kembali ke rumah".
Alma mengangguk setuju, memang saat tadi hendak masuk ke kamar, Alma sudah berniat untuk tidak keluar-keluar kamar lagi. Dia sangat tidak nyaman dengan keberadaan Steven dan kawan-kawannya di vila ini.