My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 28 : Perjalanan Pulang



Jam 9 pagi waktu setempat, Akio dan Alma sudah sampai di sabana luas tempat dimana helikopter nanti akan mendarat menghampiri mereka.


Hari ini cuaca sangat cerah, ada banyak rusa, dan beberapa hewan liar lainnya yang nampak berlarian dari kejauhan.


Alma tidak mau melewatkan momen itu, dibukanya kaca jendela mobil, diambilnya ponsel dari dalam saku celana, dan memotret gerombolan rusa yang sedang berlarian.



" Kenapa aku baru melihat gerombolan rusa itu, seandainya aku tahu jika di sabana ini masih banyak hewan liar berkeliaran seperti itu, pasti dari kemarin-kemarin aku sudah mengajakmu untuk datang kemari".


Alma memang sangat senang melihat kehidupan hewan di alam bebas, seperti bisa melihat kebahagiaan di mata hewan-hewan itu. Tidak seperti di kebun binatang yang mengurung hewan-hewan itu di dalam kandang, terlihat sorot kesedihan di mata hewan yang berada di dalam kandang.


" Apa aku belum bercerita tentang hewan yang masih banyak berkeliaran di daerah ini?, bukan hanya rusa, tapi ada kuda, sapi, dan juga gajah", Akio menunjuk ke arah lain, dimana ada kerumunan gajah, sapi, juga ada kerumunan kuda di sabana itu.


Alma langsung mengambil foto gerombolan hewan-hewan itu dengan ponselnya.



Alma pun berdecak kagum melihat pemandangan menakjubkan di hadapannya.


Memotret dari satu sisi, kemudian pindah ke sisi yang lain.




" Untung kita datang ke mari lebih awal, lumayan kan waktu satu jam buat melihat kehidupan hewan di alam bebas seperti ini", Alma begitu antusias mengabadikan momen langka dengan mengambil foto dari semua sisi.


Waktu selama satu jam mereka berdua gunakan untuk memotret berbagai macam hewan berkeliaran di sekitar mereka.


Tak terasa waktu satu jam berjalan dengan begitu cepat, nampak helikopter mendarat tak jauh dari mobil mereka, rusa, kuda, sapi dan gajah berlarian menjauh dari lokasi dimana helikopter mendarat.


" Sekarang kita pulang ke rumah dulu, saat liburan semester besok kita bisa datang kemari lagi", Akio dan Alma keluar dari mobil, saat pak supir membukakan pintu untuk mereka.


Dan liburan semester hanya tinggal tiga bulan lagi, bukan waktu yang lama. Mungkin sebelum kepergian mereka ke Almaty, Kazakhstan, untuk mengikuti olimpiade sains internasional. Akan mereka sempatkan berkunjung ke pulau ini terlebih dahulu.


" Sekarang kita pulang, sudah seminggu tidak bertemu dengan ibu, pasti ibumu sangat merindukanmu", Akio naik ke helikopter terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya menggapai Alma, membantunya naik.


Seperti sebelumnya saat keberangkatan mereka, Akio memakaikan headphone dan juga seat belt pada Alma.


" Thanks", ucap Alma dengan senyum merekah, Akio hanya mengangguk sambil memasang headphone dan seat belt pada dirinya sendiri.


Kurang lebih sekitar 4 jam perjalanan yang harus di tempuh dengan menggunakan helikopter, Alma terus menatap daratan yang terlihat sangat kecil dari tempat duduknya. Karena hari ini cerah, pemandangan di bawah terlihat sangat jelas.


Akio terus menjelaskan seperti seorang tour guide, saat mereka melewati bangunan- bangunan yang terlihat kecil di bawah sana.


" Lihatlah, kita berada di atas jembatan Suramadu", Alma menatap ke bawah, benar sekali di bawah mereka ada jembatan panjang yang terbentang dari pulau Madura hingga Surabaya.


" Jembatan Suramadu adalah jembatan yang melintasiĀ selat Madura, menghubungkan pulau Jawa ( di Surabaya) dan pulau Madura ( di Bangkalan, tepatnya di timur Kamal). Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini", Akio menjelaskan dengan sangat fasih.


" Sepertinya kau begitu paham tentang jembatan itu, apa pernah ada momen di sana, sampai kau tahu banyak informasi", tebak Alma.


" Tidak ada momen apapun, bahkan aku juga baru melihatnya dari atas helikopter, belum pernah lewat di atasnya".


" Hanya saja pernah ada orang Turki yang pernah bertanya-tanya tentang jembatan itu kepadaku, saat itu aku sedang berada di Macau, China. Sehingga aku melakukan browsing tentang jembatan Suramadu di HP, dan ternyata sampai sekarang masih teringat ", jawab Akio jujur.


" Waah... si jenius lagi memamerkan kehebatannya", seloroh Alma.


Mereka berdua pun tertawa lepas bersama-sama.


" Kau lihat itu, disana adalah gunung Bromo, apa kau pernah berkunjung ke sana?".


Alma langsung menggeleng, karena memang dia belum pernah berlibur ke gunung manapun, pertama kali dia ke pantai juga semalam bersama Akio.


" Jika ada kesempatan, kita agendakan untuk pergi ke sana", ucap Akio.


Seandainya Akio tahu, jika selama ini Alma tidak pernah ikut acara piknik bersama di sekolah. Dari dirinya SD hingga lulus SMP, Alma tidak pernah mengikuti kegiatan wisata yang diadakan sekolah. Meski dulu Sean pernah hampir membayar biaya perjalanan Alma, namun Maemunah yang menolaknya.


Karena itulah, Alma merasa semenjak dirinya bertemu dengan Akio, kini hidupnya begitu berwarna, begitu banyak tempat baru yang dikunjunginya. Sebuah kenyataan yang seperti mimpi, bahkan jika memang semua ini hanyalah mimpi, Alma berharap tidak akan pernah terbangun, karena mimpinya begitu indah.


Jam 2 siang helikopter mendarat di roof top rumah Akio. Tepat diatas rumahnya.


Alma dan Akio turun dari helikopter, beberapa pelayan yang bekerja di rumah itu menyambut kedatangan mereka berdua, membawakan koper mereka menuju ke kamar.


" Tuan, kami sudah menyiapkan kamar mandi jika tuan dan nona ingin membersihkan diri terlebih dahulu".


" Atau jika tuan dan nona mau makan siang terlebih dahulu, semua sudah kami siapkan", ujar si bibi dengan menunduk.


" Kami mau mandi dulu, setelah itu kami akan ke meja makan".


Akio menggandeng tangan Alma menuju kamar mereka. Perjalanan udara tadi sedikit membuat lelah dan juga ngantuk, mandi sebentar agar tubuh lebih fresh dan ngantuk hilang.


" Kau mandi lah dulu, aku harus menelepon ibu dan memberitahunya kalau kita sudah sampai disini, nanti habis makan kau akan langsung mengantarku pulang kan ?", Alma menatap penuh tanya.


" Tentu saja, tapi kau kabari ibumu nanti saja, aku ingin kita mandi bersama", Akio menatap Alma memberi kode.


" Siang bolong begini, kau mau minta jatah?".


" Cuaca sedang panas-panasnya, apa kau tidak kegerahan nanti?", gumam Alma.


" Tentu tidak, karena kita akan bermain di bawah guyuran air dingin dari shower", Akio langsung membopong tubuh Alma dan masuk kedalam kamar mandi.


Sebenarnya Alma merasa sangat lelah, dan ingin beristirahat sebentar sambil menelepon ibunya, tapi sepertinya saat ini tidak mungkin melakukan hal itu


Alma yang sedari tadi terlihat enggan, akhirnya harus mengikuti kemauan Akio yang sudah tidak bisa di tahan lagi, karena Akio membopongnya hingga di kamar mandi.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Akio langsung melucuti semua pakaian Alma, juga pakaiannya sendiri. Menyalakan shower dan menarik tubuh Alma ke bawah kucuran air dingin dibawah guyuran shower.


Akio menarik tengkuk Alma, mengecup bibirnya perlahan, semakin mendekatkan posisi mereka berdua, dan memeluk tubuh polos Alma, di sela-sela lum*t*nnya, Akio melakukan rem*san lembut di p*y*dar* Alma.


Alma pun meliak-liuk kekanan dan kekiri menahan hasrat yang mulai memuncak.


Akio sudah sangat paham dimana titik kelemahan Alma, membuat Alma merasakan gejolak hasrat yang meluap-luap saat Akio melakukan sentuhan-sentuhan lembut di bagian sensitif tubuh Alma.


Akio mendorong tubuh Alma ke tembok kamar mandi, dan menyatukan miliknya ke dalam tubuh Alma, Akio memejamkan mata sambil terus mendorong tubuhnya.


Tubuh Alma semakin bergetar hebat, saat milik Akio menyatu sepenuhnya kedalam tubuhnya. Dan merasa seperti dibawa terbang bebas saat Akio mulai melakukan gerakan lembut penuh penekanan, dan semakin lama semakin mempercepat ritme permainannya.


" I love you Alma..... ohh.....i love you so much...", Akio terus mempercepat gerakannya membuat Alma tidak kuasa menahan ledakan yang terjadi pada tubuhnya.


Akio bisa merasakan milik Alma yang berkedut, dan semakin mempercepat permainannya, hingga miliknya pun meledak di dalam milik Alma.


" I love you too Akio".


Keduanya tersenyum puas, dan saling berpelukan erat setelah mencapai puncak kenikmatan hampir bersamaan.