
Alma bergabung dengan Akio dan Bara, mereka saling bersenda gurau dan bercerita di teras rumahnya. Ternyata Bara tak sedikitpun membencinya, hanya saja Bara takut jika Alma marah lagi padanya seperti kemarin.
Canda gurau mereka semakin lama semakin asyik, hingga Alma lupa waktu dan tak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat.
Dia sampai lupa dengan janjinya bersama kedua sahabatnya. Untung saja Sean tetap datang ke rumah Maemunah untuk menjemput Alma, meski kemarin dilarang oleh Alma, karena Alma mengira akan berangkat ke bioskop dari rumah Akio. Namun ternyata Akio mengajak kembali kerumah ibunya pagi-pagi sekali. Karena berjanji akan menemani Bara membeli laptop.
" Ya ampun... Alma, untung aku jemput kamu kesini, kalau enggak, acara nonton bareng kita hari ini bakalan gagal!", Sean turun dari motor matic miliknya sambil marah-marah pada Alma.
Alma menatap jam tangan yang dikenakannya, dan menepuk jidatnya karena bercanda dengan Akio dan Bara sampai dirinya lupa waktu.
" Sori sori Se..., aku nggak ngecek jam, aku kira masih pagi, karena matahari belum terlalu terik, eh ternyata cuaca yang sedang mendung. Ayo kita berangkat sekarang". Alma langsung berdiri dan berpamitan dengan Akio dan Bara, mengambil helm di dalam rumah, kemudian pergi ke kios berpamitan pada ibunya.
" Ayo cabut Se...!", Alma langsung naik ke boncengan motor milik Sean. Sudah lengkap menggunakan helm dikepalanya.
Sean sampai melongo melihat sikap sahabatnya yang satu ini, " eh Al, emang nggak papa si Akio ditinggalkan di rumahmu sendirian?, lagian kamu gimana sih, kita kan sudah janjian mau nonton bareng, kenapa si Akio ngapel kesini nggak kamu larang sih?". Setahu Sean, Akio ada di rumah Maemunah karena sedang ngapelin Alma.
" Siapa bilang sendirian..., kan lagi sama Bara, apa kamu nggak lihat Bara juga ada di sana ?", kini Alma yang menertawakan ucapan Sean yang mengatakan dirinya meninggalkan Akio sendirian.
" Bukan begitu maksudku ih...., si Akio ke rumah kamu kan pasti tujuan nya mau ngapelin kamu, bukan mau ketemu sama Bara atau ibumu, kalau kamu tinggal, kan jadi kasihan dia di rumah kamu tapi kamunya pergi!".
" Udah buruan jalan sih, orang Akio ke rumah emang mau pergi sama Bara, mereka sudah janjian kemarin".
Mendengar penjelasan Alma, Sean pun naik ke motornya dan menyalakan motornya, tak lama kemudian melajukan nya menuju salah satu mol terdekat, untuk nonton bersama.
" Sudah se akrab itu Akio sama keluarga kamu?, keren, jangan-jangan lulus SMA kalian langsung married lagi!", canda Sean dengan suara yang sengaja dibuat keras karena mereka berdua sedang berada di atas motor.
" Iya, emang...".
Jawaban singkat Alma menimbulkan banyak pertanyaan di hati Sean.
" Serius lo mau married habis lulusan?, sudah mantep banget lo sama Akio?, cinta mati sama si dingin itu?, nggak pengen coba sama yang lain dulu?, kamu kan baru pernah pacaran, sudah mantep mau nikah saja, nggak takut salah pilih?, dan bla...bla...bla...bla....", begitu banyak pertanyaan yang Sean ajukan, bahkan dia sampai lupa pakai bahasa Lo gue ke Alma.
Alma tetap diam hingga mereka berdua sampai di tempat parkiran mol, membiarkan Sean menyampaikan semua pertanyaan yang ada dipikirannya.
" Lama banget sih kalian untung kita sengaja janjian jam 10 biar bisa jalan-jalan dulu, jadi nggak ketinggalan nonton filmnya, tapi sekarang sudah lebih 20 menit, jam setengah sebelas filmnya sudah mau tayang, mending kita ke loket buat beli karcis sama popcorn".
Feni ternyata sudah sampai lebih dulu, dan menunggu mereka berdua sejak 20 menit yang lalu. Sampai merasa bete sendirian di parkiran mol.
" Iya sori, ini biang keroknya, di bilang janjian jam 10 malah lagi di apelin sama cowoknya. Kan nggak enak akunya ngajak dia pergi pas ada tamu spesial". Sean berjalan masuk bersama Feni dan Alma menuju lantai 5 mol itu, lantai paling atas yang ada gedung filmnya.
" Aku kan sudah bilang, Akio itu udah janjian sama Bara mau jalan berdua, bukan pergi sama aku, aku juga kemarin sudah bilang mau pergi sama kalian sama Akio", ucap Alma mengulang penjelasannya.
" Sekarang Lo pesen softdrink sama popcorn, gue sama Feni yang antri di tiket".
" Fen, Lo tau nggak si Alma sudah cinta mati sama si Akio, gue penasaran si Akio kasih pelet apa sama si Alma, masa dia bilang habis lulus SMA mau married sama Akio. Itu kan berarti tahun depan, dan saat itu berarti Alma baru 18 tahun".
" Padahal kan dia sudah dapat beasiswa penuh, kuliah sampai jadi master, coba Lo pikir jalan pikiran tu anak gimana?".
Sean masih saja ngedumel sambil menyampaikan unek-uneknya pada Feni.
" Tapi kalau aku jadi Alma juga aku akan melakukan hal yang sama Se.... Siapa sih yang nggak mau jadi istri Akio, cowok jenius, ganteng pake banget, tinggi, putih bersih, berotot kekar, anak orang kaya raya. Kurang apa coba?, dia paket komplit dan mendekati sempurna. Cuma sayang agak pendiam saja, tapi aku lihat dia ke Alma juga cinta banget, nggak dingin sama sekali kayak ke kita kita".
Sean sampai di depan loket dan membeli karcis untuk mereka bertiga.
" Lo satu frekuensi sama si Alma ya?, jangan-jangan Lo diam-diam suka sama pacar sahabat Lo sendiri!", tebak Sean sedikit menuduh.
" Bukan cuma aku Se.... banyak yang lain juga naksir sama Akio, ada yang ngefans berat malahan, bukan cuma cewek-cewek Pelita Jaya, dari SMA lain juga banyak, tapi nggak pernah tuh si Akio ngelirik cewek lain selain Alma. Karena itulah Alma nggak pernah ambil pusing, Akio tipe cowok setia".
Feni dan Sean bergabung dengan Alma yang kini tengah kesulitan membawa 3 softdrink dan 3 popcorn di tangannya.
" Sini aku bantuin bawa" Feni yang nggak bawa apa-apa mengambil dua popcorn dari tangan Alma.
Sean juga mengambil dua softdrink dari tangan Alma, mereka bertiga langsung masuk gedung bioskop untuk mencari tempat paling nyaman untuk nonton.
" Al, apa kamu tahu si Feni yang ngaku-ngaku sebagai sahabat kamu ini ternyata suka sama cowok kamu?", Sean kembali menggunakan aku kamu, namun meski kalimatnya sopan, sontak membuat Feni melotot kearahnya. Feni khawatir Alma akan marah.
Sungguh Sean tidak bisa menjaga mulutnya, kalau sampai Alma marah, acara jalan-jalan hari ini yang sudah di rencanakan untuk happy happy bisa kacau gara-gara mulut lemes Sean.
Alma yang duduk di antara Sean dan Feni mengangguk sambil membuka kaleng softdrink nya.
" Tahu, kan di kelas 10 kita sekelas, siapa saja yang naksir sama Akio aku tahu, mungkin nggak bisa ku sebut satu persatu, karena memang sampai sekarang semakin banyak saja, kenapa memangnya Se...?".
Sean menepuk jidat saat Alma menanyakan kenapa, " Kamu nggak takut ke tikung sama sahabat sendiri?, atau tiba-tiba Akio selingkuh dibelakang kamu?". tanya Sean dengan begitu menggebu.
" Nggak lah, Aku kenal Akio luar dalam, jadi nggak mungkin Akio selingkuh, atau tertarik dengan gadis lain".
Jawaban Alma membuat Sean membulatkan matanya. " Sebegitu percayanya kamu sama Akio, nggak khawatir sama sekali, cowok itu kadang pinter menyimpan rahasia Al, sepertinya diluar nya baik banget, setia banget, tapi kenyataannya, kadang banyak rahasia yang disimpannya. Atau.... jangan-jangan dia juga sudah cinta mati sama kamu?".
Alma tersenyum, " mungkin, tapi aku hanya harus selalu percaya padanya, karena kepercayaan pada pasangan itu yang membuat sebuah hubungan menjadi sehat, tidak terus bertengkar karena saling curiga".
" Sudah, kita nonton dulu, lanjut ngobrol nanti, habis film selesai, kita bisa ngobrol lama, udah mau mulai ni filmnya".
Feni merasa lega, karena Alma tidak marah padanya, justru tangan kiri Alma menepuk lengan Feni agar tetap santai, karena Alma tidak pernah membenci sahabatnya itu sedetikpun.