My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 95 : Kegiatan Akhir Pekan



Malam semakin larut dengan rintik hujan yang membuat siapapun merasa malas untuk beraktifitas di luar rumah. Begitu juga dengan Alma dan Akio yang baru menyelesaikan makan malam mereka pukul 9 malam.


Tidak seperti biasanya mereka berdua makan malam usai maghrib, dan lanjut belajar dan bersantai menunggu malam larut.


" Habis ini, kita olahraga lagi ya sayang, aku khawatir perut jadi buncit karena makan terlalu malam", gurau Akio dengan senyuman menggoda.


" Aku capek, mau tidur dulu sebentar, di lanjutnya besok pagi saja usai subuh ya?, aku jamin nggak akan buncit perut kamu, kamu kan rajin berolahraga", Alma selesai makan dan mengambil buah semangka yang ada di meja makan untuk cuci mulut.


Si Bibi membereskan peralatan makan kotor yang ada dimeja saat Alma dan Akio kembali ke kamar mereka.


Benar saja hanya butuh beberapa menit merebahkan tubuhnya di atas kasur, hembusan nafas Alma langsung terdengar teratur, itu pertanda dirinya sudah tidur dengan pulas. Bahkan dalam tidur pulasnya tangan dan kaki Alma reflek memeluk Akio.


Membuat adik kecil Akio jadi bangun, karena Alma memeluk Akio dengan cukup erat, dan gundukan kedua gunung kembar Alma yang menempel di lengan Akio membuatnya tidak bisa lagi mengkondisikan adik kecilnya, meski sudah ditahan-tahan selama beberapa jam, tetap saja si kecil menegang dan membesar sempurna.


Akio pun mencoba melepaskan tangan dan kaki Alma yang menindih tubuhnya. Namun justru Alma semakin mendekat dan wajahnya semakin masuk ke dalam ceruk leher Akio.


Karena sudah tidak tahan lagi Akio melepaskan pelukan Alma dan menyingkap piyama yang Alma pakai. Menelusuri kedua gundukan yang tadi menempel di lengannya dan membuat beberapa tanda kepemilikan di sana, dan di beberapa bagian tubuh lainnya.


Alma hanya menggeliat, namun tetap memejamkan mata dan sesekali meracau dan mendesah dalam tidurnya.


Akio tersenyum melihat sang istri yang hanya menggeliat dan tetap menikmati sentuhannya meski sedang tertidur lelap.


Meski bermain sendiri karena Alma tetap memejamkan mata dan tertidur, namun Akio berhasil melakukan pelepasan dan mencapai klimaksnya.


Setelah melakukan pelepasan yang membuatnya merasa begitu lelah, Akio merebahkan tubuhnya di samping Alma yang masih tertidur nyenyak, meski baru saja di gempur habis-habisan oleh Akio.


***


Alma POV


Aku benar-benar lelah dan mengantuk setelah selesai makan malam. Ajakan Akio untuk kembali bercinta pun aku tolak secara halus. Karena mata sudah sulit untuk dibuka. Setiba dikamar aku seperti orang yang dibius, atau diberi obat tidur. Karena semua suara perlahan menghilang dari pendengaran ku.


Dalam tidurku aku bermimpi Akio melakukannya, padahal tadi baru saja kami bercinta, bagaimana bisa aku masih bermimpi Akio mencumbu ku dan kami melakukan penyatuan lagi. Apa aku sebegitu menikmati hubungan intim bersamanya, sampai-sampai di alam mimpi pun aku sampai merasakan kenikmatan dan kepuasan dari setiap sentuhannya.


Saat kubuka mata, dan hendak mengambil air wudhu, menyingkap selimut yang menutupi tubuhku, ternyata bajuku menyingkap dan celanaku..., dimana celanaku?.


Aku sudah tidak memakai bawahan, dan apa ini?, kulihat di bagian inti tubuhku berlendir, kucoba mencium baunya, ya Tuhan, apa aku bermimpi dan benar-benar orgasme, apa ini yang disebut mimpi basah?.


Ku tatap Akio yang tidur bertelanjang dada, karena penasaran ku singkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ternyata tubuh Akio polos tak mengenakan apa-apa.


Apakah semalam kami benar-benar bercinta?, tapi kenapa aku merasa itu hanya sebuah mimpi. Dari pada bingung aku memutuskan membangunkan Akio dan bertanya langsung padanya.


Dengan berat hati Akio membuka matanya, mungkin dia masih mengantuk.


" Tidur jam berapa sudah pagi masih mengantuk?", tanyaku.


" Mungkin sekitar jam 11", gumamnya, masih dengan mata yang tertutup.


" Terus kemana celanaku dan pakaian kamu?".


" Aku lempar kelantai, coba saja cari dilantai".


" Apa semalam kita melakukannya lagi?".


Jawaban Akio tidak jelas, hanya 'hm' saja, " Apa maksud kamu iya kita semalam melakukannya lagi?", tanyaku kali ini lebih keras dan menggoyang-goyang tubuhnya.


" Hm.... iya, semalam kamu juga menikmatinya, sh....uh....ah....ehm.... begitu, aku dengar dari mulutmu".


" Aku nggak tahu kita melakukannya, aku kira hanya mimpi, tapi....".


" Tapi apa?, tapi terasa nikmat yang luar biasa kan?, memang semalam kami sedang terasa luar biasa".


" Aku jadi nggak ngantuk lagi nih, gara-gara kamu ajak ngobrol, kamu harus tanggung jawab".


Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Akio. " Tanggung jawab apa?", tanyaku.


" Tanggung jawab menyembuhkan adik kecilku yang terbangun lagi, gara-gara kamu goyang-goyang tubuhku, dan nempelin dada kamu ke lengan aku".


Akio sudah membuka matanya lebar dan menarik ku kembali kedalam pelukannya.


" Sekali lagi ya, kan semalam kamu bilang besok pagi mau lagi, dan ini sudah pagi, biar nanti mandinya sekalian".


Aku pun tidak bisa menolak lagi, karena memang benar aku yang janji semalam mau melakukannya lagi pagi ini. Mending sekarang dan nanti mandi untuk subuh, jadi habis subuh nggak perlu mandi lagi, karena agenda hari ini aku akan jalan-jalan bersama kedua sahabatku Sean dan Feni.


Kami kembali melakukan penyatuan pagi ini, dengan durasi yang lebih lama dari semalam, bahkan aku sampai merasa lelah dan lapar, karena Akio begitu tahan lama dan perkasa.


Akhirnya aku melaksanakan sholat subuh agak kesiangan, karena Akio yang terus on, dan butuh waktu lama untuk membuatnya mencapai pelepasan.


Kami keluar kamar jam setengah 7 pagi, kulihat dari jendela pagi ini matahari bersinar cerah, baguslah jika demikian acara jalan-jalan ku bersama kedua sahabatku akan menyenangkan.


Seperti biasa di meja makan sudah tersaji makanan untuk sarapan kami berdua. Kami pun pergi untuk sarapan terlebih dahulu.


Minggu ini Akio tidak joging, maupun berenang, dia mengatakan sudah lelah dengan berolahraga di atas ranjang bersamaku. Bahkan mungkin keringat yang kami keluarkan pagi tadi melebihi jika kami berjoging pagi hari.


Usai makan kami berdua langsung pergi kerumah Ibu. Suasana jalan di minggu pagi memang ramai dengan orang ber joging, apalagi di sekitar taman hijau yang menjadi pusat kegiatan setiap Minggu pagi, banyak ibu-ibu ber senam di sana, juga para rombongan anak-anak kecil hingga remaja, bahkan lansia ada yang berjalan-jalan disana.


Aku yakin suamiku mendapat banyak pahala karena membebaskan siapa saja masuk ke taman hijau miliknya, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Membuat banyak orang merasa bahagia dan menjadikan banyak orang lebih sehat.


Akio sengaja melajukan mobilnya dengan pelan karena banyak pejalan kaki berlalu lalang di jalan raya, hingga waktu perjalanan yang biasanya hanya 10 menit hingga pertigaan menuju rumah ibu, kini kami tempuh selama 15 menit, molor 5 menit.


Seperti biasa, di kios loundry tiap minggu selalu ramai pelanggan. Sampai disana aku sengaja membantu ibu terlebih dahulu di kios, mencatat pakaian kotor yang masuk, dan memasukkannya ke dalam keranjang cucian yang berbeda-beda setiap pelanggannya.


Akio memilih masuk ke rumah menemui Bara yang sedang berada didepan televisi menonton acara kartun kesukaannya. Dan tak lama kemudian setelah Bara tahu kami sudah datang, kulihat mereka keluar dan bermain-main di teras rumah.


Bara tak menemuiku, mungkin dia masih sedikit takut padaku karena kemarin tidak menyetujui keinginannya untuk membeli laptop. Bahkan sedikit memarahinya karena kekhawatiran ku pada Bara, jika dia menjadi malas belajar gara-gara main game online di laptop yang di inginkan nya.


Dia bahkan sekarang terlihat lebih akrab, dan patuh dengan Akio. Padahal aku lah kakak kandungnya. Mungkin kemarin aku terlalu keras padanya. Semoga saja Bara tidak lantas membenciku.


Saat semua baju kotor yang baru masuk sudah aku catat, dan tinggal lanjut ke bagian pencucian, aku keluar dari loket dan pamit pada ibu akan ke rumah.


Ku dekati mereka yang sedang asyik bercerita berdua, sejak tadi aku penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, begitu nyambung dan terlihat sangat seru.


Ternyata saat aku berada di dekat mereka, ku dengar mereka sedang membahas tentang pengalamanku dan Akio saat di Kazakhstan. Bara sangat ingin mendengar cerita kami saat berada di luar negeri.


Dia terlihat begitu berbinar mendengar cerita Akio. Dan bercita-cita ingin menjadi seperti ku dan Akio yang bertanding di luar negri mewakili Indonesia. Aku senang Bara mempunyai keinginan untuk maju. Semoga saja keinginannya dapat terkabul.