
Usai perayaan kecil-kecilan di kantin sekolah, Alma dan Akio kembali melakukan perayaan yang sengaja di adakan oleh bapak kepala sekolah di salah satu kafe yang sengaja di booking oleh beliau. Para guru, staff, tenaga kebersihan, dan semua yang bekerja di SMA Pelita Jaya mengikuti acara syukuran sekaligus perayaan untuk kemenangan Akio dan Alma.
Dan seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, mereka berdua bersama bapak kepala sekolah terlebih dahulu bertemu dengan bapak bupati di rumah dinas beliau.
Pak Bupati memberi hadiah kepada mereka berdua. Ada titipan hadiah juga dari wakil bupati. Jika dipikir-pikir, Alma dan Akio mendapatkan banyak hadiah hari ini. Dan ternyata saat di kafe menghadiri acara syukuran yang direncanakan oleh pak kepala sekolah, para guru dan staff juga memberi mereka berdua hadiah.
Alma dan Akio sampai bingung bagaimana cara membawa semua hadiah yang diberikan pada mereka berdua. Mungkin dua kali bolak-balik mobil agar bisa diangkut semua, karena hadiah yang didapatkan mereka berdua banyak yang berukuran besar. Terutama hadiah untuk Alma, banyak yang berukuran besar.
Saat acara usai Akio dan Alma pun pulang kerumahnya karena merasa sangat lelah seharian begitu banyak acara. Dan semua adalah acara perayaan atas kemenangan mereka.
" Bahkan aku sampai tidak sempat pergi kerumah ibu. Aku sudah sangat merindukan ibu dan juga Bara. Tapi sudah malam, dan aku sangat lelah hari ini".
" Sudah jam 8, dan besok kita harus tetap berangkat ke sekolah. Belum lagi kita punya PR untuk membuka hadiah dari para guru yang saat ini tersusun rapi di ruang tengah".
Alma langsung bersandar di sofa yang berada di ruang tengah saat sampai ke dalam rumah.
Akio memilih untuk masuk kamar dan berganti pakaian terlebih dahulu, saat ini dirinya masih memakai seragam sekolah yang dipakainya sejak pagi. Lain hal dengan Alma yang sengaja membawa baju ganti dan dipakainya saat di kamar mandi kafe sore tadi.
Alma duduk sendiri sambil memejamkan mata menghadap langit-langit ruang tengah. Tentu dirinya lelah seharian harus memasang wajah tersenyum didepan semua orang. Padahal kegundahan hatinya belum sembuh total. Tapi lumayan mengalihkan perhatian dan pikirannya dari hal menyebalkan tentang Akio dan Lidia di hotel Jakarta beberapa hari yang lalu.
" Kak Alma...!", Alma mendengar teriakan Bara memanggil namanya sambil berlari dari pintu depan. Alma langsung membuka mata dan menatap ke arah suara. Ternyata benar Bara datang sambil berlarian menuju ke arahnya.
" Bara !".
" Aaah.... kakak kangen sama Bara!", kakak adik itu saling berpelukan dengan sangat erat. Tak lama kemudian terlihat maemunah menghampiri mereka berdua. Nampak ditangannya membawa kantong plastik berisi martabak telor dan manis.
" Ibu, Alma kangen", Alma melepas Bara dan pindah memeluk ibunya. Maemunah juga memeluk Alma dengan erat.
" Selamat ya Nak, kamu benar-benar membuktikan pada ibu bahwa kamu bisa dibanggakan. Kamu menunjukkan bahwa kamu serius belajar, meski kalian berdua sudah menikah di usia kalian yang sangat muda, kalian tidak terpengaruh dengan hal itu".
Alma melepas pelukan ibunya saat melihat Akio berjalan menuju arah mereka.
" Ibu bangga pada kalian berdua", ibu menepuk bahu Akio saat Akio menyalaminya.
" Alma baru saja bahas pengen banget ke rumah ibu, tapi sudah capek banget seharian acara full, ini baru nyampe rumah".
" Pasti ikatan batin ibu an anak sangat kuat, sampai ibu tiba-tiba sudah ada disini".
" Duduk dulu Bu", Akio duduk di sofa ruang tengah, begitu juga dengan yang lain.
Bara sengaja duduk di samping Alma dan menyenderkan kepalanya di lengan Alma.
" Ini ibu bawa martabak beli tadi dijalan, ayo dimakan mumpung masih anget", ibu mengeluarkan empat box dari kantong plastik dan membuka tutup bok, aroma martabak langsung menyeruak memenuhi ruangan.
Dua orang bibi membawakan teh manis hangat dengan piring kosong untuk tempat martabak.
" Ini yang dua dibawa kebelakang saja, buat mbak-mbak, sama mas supir", ucap maemunah yang sengaja membeli 4 box agar para pembantu dirumah Akio juga bisa ikut mencicipi martabak bawaannya.
" Terimakasih ibu", seorang pembantu mengambil satu box martabak manis dan satu box martabak telor, kemudian membawanya ke belakang.
Maemunah tersenyum simpul, " martabak cuma seratus ribu dapat empat box, dan pendapatan ibu sekarang jauh dari itu sayang, jadi bukan makanan mahal lagi sekarang".
" Dulu ibu harus mencukupi kebutuhan kita sehari-hari, membayar biaya sekolah kamu dan juga uang jajan buat Bara, sedangkan penghasilan dulu paling satu hari cuma 50 ribu, itu juga kalau ada yang nyuruh ibu cuci setrika baju. Beruntung kita sekarang sudah hidup lebih baik".
Maemunah sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang. Uang sudah tidak menjadi masalah lagi baginya. Setiap hari bisa makan enak dengan lauk sesuai keinginan Bara, karena hanya Bara saja yang kini menjadi tanggungannya. Alma memang masih sekolah, tapi dia sekolah gratis, bahkan sudah terjamin sampai kuliah S3, dia bisa memilih di universitas mana dia ingin melanjutkan pendidikannya kelak.
Bahkan meski masih sekolah, Alma tidak pernah meminta uang jajan pada ibunya, selain dia kini sudah menikah dengan Akio yang kaya raya, Alma juga mendapat banyak uang dari hadiah mengikuti lomba-lomba selama ini. Dia tidak perlu lagi me-ngeles anak-anak kecil disekitar rumah ibunya, karena mereka sudah dihandle oleh orang lain.
" Sekarang bukan ibu yang mengejar-ngejar uang, tapi uang datang sendiri ke rumah kita. Jadi malah seharusnya ibu bawa lebih banyak makanan untuk kalian".
" Tapi tadi ibu dan Bara kesininya juga keputusan mendadak, soalnya tadi Bara merengek minta kesini terus, katanya kangen kak Alma, dan ibu baru selesai merekap pembukuan hari ini, tadi habis Isa".
" Waa..ah, ibu sekarang sudah hebat, Alma sekarang jarang bisa ke rumah, jadi kalau ibu punya niatan untuk mencari pendamping hidup lagi, Alma setuju Bu, yang penting orang itu benar-benar menyayangi ibu dan Bara, itu sudah cukup".
Maemunah berkaca-kaca mendengar ucapan Alma yang sudah mengikhlaskan dirinya untuk menikah lagi.
" Justru saat ini ibu sepertinya belum kepikiran ke arah situ, ibu sudah bisa berpenghasilan sendiri dan mampu membesarkan Bara dan membiayainya sampai Bara besar nanti".
" Dulu ibu ingin menikah karena sebenarnya ibu butuh bantuan finansial dari orang lain untuk biaya hidup kita, dan sekarang itu sudah tidak perlu lagi".
Maemunah menjelaskan alasan sebenarnya kenapa dulu ingin kembali menikah. Dan alasan itu sekarang tidak lagi menjadi masalah.
Alma dan Bara langsung memeluk ibunya bersamaan. Maemunah kembali berkaca-kaca, merasa sangat bersyukur karena kedua anaknya sangat menyayanginya.
" Oh iya, Bara mau bantu kakak buka hadiah nggak?, kak Alma dan kak Akio dapat banyak banget hadiah nih, sampai bingung tadi bagaimana mau bawa pulangnya". Akio sengaja mengalihkan perhatian, agar suasana tidak terus haru.
Bara langsung melepas pelukan pada ibunya dan meraih uluran tangan Akio yang mengajaknya membuka hadiah.
" Wah banyak sekali hadiahnya, apa kak Akio berulang tahun?", tanya Bara dengan polosnya.
Akio langsung terkekeh mendengar pertanyaan Bara, begitu juga dengan Alma dan maemunah yang berjalan mengikuti mereka.
" Ini hadiah dari para guru dan orang tua karena Kak Alma dan kak Akio menjadi juara lomba sayang". Akio mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana.
" Ooh... Bara juga mau ikut lomba dan dapat banyak sekali hadiah seperti kalian!", seru Bara dengan begitu antusias.
" Tentu saja bisa, yang penting Bara rajin belajar agar bisa jadi anak yang pinter dan bisa menang lomba seperti kak Akio dan kak Alma", ujar Maemunah.
" Tentu saja Bu, Bara akan sangat rajin belajar biar bisa mendapatkan banyak hadiah seperti ini, ayo kita buka semua hadiah ini", ucap Bara sangat bersemangat.
Mereka berempat pun membuka satu persatu hadiah, dan membaca memo atau surat kecil yang ada di tiap hadiah. Kebanyakan adalah tulisan ucapan selamat dan nama pemberi.
" Nanti ibu dan Bara nginap disini saja, besok pagi kalian bisa kami antar sekalian kami berdua berangkat sekolah, Alma pasti masih rindu pada Ibu dan Bara", pinta Akio.
Maemunah mengangguk. " Baiklah ibu menginap, apa kamu tidak masalah kalau Alma tidur bersama kami malam ini?", tanya Maemunah.
" Tentu saja tidak papa ibu, masih banyak malam lainnya, jadi malam ini Akio ijinkan Alma tidur bersama ibu dan Bara". Bara pun bersorak kegirangan, mungkin mereka akan tidur hingga larut malam, karena pasti banyak yang ingin Alma dan ibunya ceritakan. Mereka sudah lama tidak bertemu, dan begitu banyak kisah yang terjadi selama mereka tidak bertemu, pasti butuh sepanjang malam untuk saling bercerita.