My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 29 : Ide Cemerlang



Alma dan Akio akhirnya baru bisa makan siang saat jam mengarah ke angka 3, sejak masuk ke kamar, hingga keluar lagi membutuhkan waktu selama satu jam.


Makanan di atas meja yang tadinya hangat, kini sudah dingin. Sampai-sampai para bibi menawarkan jika masakannya perlu di hangatkan lagi. Namun Alma dan Akio tidak masalah dengan makanan yang dingin, karena mereka berdua sudah merasa sangat lapar setelah pergulatan yang mereka berdua lakukan di kamar mandi tadi.


Suasana sepi, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang mengenai piring. Akio dan Alma benar-benar lapar dan baru menghentikan suapan ketika semua makanan di piring mereka tandas.


" Setelah ini langsung antar aku pulang ya?", Alma memang sudah sangat merindukan ibu dan adiknya. " Ada janji yang harus aku tepati".


Alma teringat janjinya pada Bara, akan mentraktirnya makan enak jika menjadi juara.


" Janji apa?" , Akio penasaran janji apa yang di buat Alma.


" Mau ngajak Bara makan ", Alma meletakkan sendok dan garpu nya karena sudah selesai makan.


" Nggak langsung makan sepulang dari sini, kita ke rumah dulu, ngajak bara makan di luarnya nanti malam saja, apa kamu mau ikut?". Akio langsung mengangguk setuju.


" Tentu saja aku mau ikut, kalau begitu aku akan menyuruh pak supir menyiapkan mobilnya dulu". Akio memanggil salah satu pembantunya untuk memanggil pak supir.


" Siapkan mobil ya Pak, kita ke rumah Alma sekarang".


Pak supir mengangguk dan langsung menuju garasi, mengeluarkan mobil, di teras rumah sudah ada Alma dan Akio berdiri di sana. Merekapun langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah si bibi memasukkan koper Alma ke bagasi, mobil pun langsung melaju, melewati pintu gerbang yang sangat tinggi, dua orang satpam memberi hormat.


" Aku juga akan memberi tahu Sean jika aku sudah berada di rumah nanti, aku akan mengajaknya makan malam bersama kita ".


" Sekaligus mau mengembalikan ponselnya yang sudah cukup lama aku pinjam ".


Akio setuju dengan rencana Alma, Sean memang sahabat Alma yang sangat baik, dan dia juga pantas untuk mendapatkan perlakuan yang baik.


Mereka sudah sampai di pinggiran jalan raya, mobil di parkir di sana, Alma dan Akio masih harus berjalan menyusuri gang untuk sampai ke rumah Alma.


Awalnya Pak sopir menawarkan untuk membawakan koper Alma sampai ke rumah, tapi Akio meminta Pak sopir tetap berada di mobil, dan Akio sendiri yang membawakan koper Alma hingga dirumah.


Sepanjangan perjalanan menuju rumah, Alma menghubungi Sean, mengabari jika dirinya sudah berada di rumah. Sean pun mengatakan akan segera meluncur ke rumah Alma.


Saat Alma dan Akio sampai di rumah, suasana rumah sangat sepi sepertinya ibu dan Bara tidak ada di rumah. Karena pintu rumah terkunci, Alma pun mengambil kunci rumah yang biasa disimpan ibunya di dalam pot yang berada di samping pintu. Baru mereka berdua bisa masuk kedalam rumah.


" Sepertinya Ibu masih mencuci baju di rumah tetangga, dan Bara mungkin menemani Ibu atau sedang main di luar, kau bisa duduk dulu sementara aku akan merapikan pakaianku ke dalam lemari".


Alma masuk ke dalam kamar sambil menyeret kopernya, Akio yang disuruh agar duduk di ruang tamu justru mengikuti langkah Alma dan ikut masuk ke dalam kamar. Alma mengambil baju ganti, yaitu sebuah kaos putih tipis yang paling sering digunakan karena rasa nyaman saat memakai kaos itu adem dan menyerap keringat.


" Aku ganti baju dulu, kau tunggu saja di luar", Alma harus menyuruh Akio keluar kamar, karena di dalam kamarnya tidak ada kamar mandi.


Namun justru Akio mendekat dan membantu melepaskan kancing baju Alma.


" Gantilah bajumu di sini, dan aku juga tetap berada disini. Kenapa kau masih tetap saja merasa malu. Bukankah aku sudah melihat semuanya ?".


Memang benar, Akio sudah melihat semuanya, sampai bagian yang paling intim. Namun Alma tahu, Akio akan sangat mudah turn on jika melihat dirinya melepas pakaian. Dan Alma tidak mau melakukan hubungan intim lagi saat ini, karena yang tadi siang saja efeknya masih terasa sampai saat ini. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pangkal paha Alma. Hanya saja Alma memilih diam dan tidak mengatakannya.


" Bukan begitu A...., cuman sebentar lagi Sean pasti sampai, kalau kita di kamar berdua begini, pasti Sean akan curiga".


" Dia tahunya kita pacaran. Dan pasti dia akan berpikir macam-macam jika kita pacaran dan berada di kamar berdua begini".


" Apalagi ibu dan Bara sedang tidak berada di rumah".


Alma mendorong tubuh Akio untuk keluar dari kamarnya, meski Akio nampak ogah-ogahan.


" Kasih kiss dulu, mumpung Sean belum nyampe", ekspresi Akio seperti anak kecil yang merajuk minta es krim pada ibunya.


Terpaksa Alma mengecup bibir Akio sebentar, namun Akio menahannya dengan mencengkeram tengkuk Alma, ******* bibir Alma dengan begitu rakus.


Alma sudah menduganya, akan seperti ini, apalagi saat ini br* nya sudah nampak dari luar, setelah Akio tadi sempat membuka tiga kancing baju Alma bagian atas. Dan Alma tahu Akio bisa melihat isi br* dengan jelas, dan tentu saja itu akan membangunkan juniornya.


Kini tangan Akio mulai membuka sisa dua kancing baju Alma, dan menanggalkan baju itu dari tubuh Alma. Tangan Akio mulai melakukan sentuhan lembut di punggung Alma, dan melepaskan pengait br* dengan kedua tangannya.


Alma mencoba menghentikan Akio karena sebentar lagi pasti Sean sampai, belum lagi jika tiba-tiba ibu dan Bara pulang, saat ini sudah sore.


" A.... Sean pasti akan segera sampai, apa yang di kamar mandi tadi belum cukup?", Alma menangkupkan kedua tangannya di rahang Akio.


Dan benar saja, terdengar teriakan Sean dari depan rumah memanggil-manggil Alma, seperti anak kecil yang mengajak main temannya.


" Alma, apa kau di dalam ?!", teriakan Sean terdengar begitu keras.


Alma langsung mengaitkan tali br* nya kembali, dan mengenakan kaos putih kesukaannya.


" Kita bisa melakukannya lagi, tapi nanti, jangan sekarang, Sean sudah di depan", gerutu Alma.


Akio mencengangkan lengan Alma saat Alma hendak keluar kamar. " Kau janji kita akan melakukannya lagi nanti?", saat ini Akio sudah turn on, dan mengatur hasrat untuk meredakannya membuat Akio sedikit emosi..


" Iya aku janji", Alma berusaha meredam emosi Akio dengan memberinya harapan.


Alma pun membuka pintu rumah dan langsung mendapatkan pelukan dan ucapan selamat dari Sean .


" Selamat Alma, aku bangga sekali menjadi sahabatmu, lihatlah kau sudah mengalahkan berapa ribu peserta dari seluruh negeri, dan you are the champion !", seru Sean begitu bahagia dan antusias.


" Kau..!".


" Bagaimanapun bisa kau keluar dari kamar Alma ?", pertanyaan Sean membuat Alma merasa panik dan bingung harus menjawab apa, tak disangka jika Akio keluar di saat Sean sedang melihat ke arah kamarnya.


" Aku....", Akio bingung mau mencari alasan apa.


" Dia tadi bantu benerin lampu kamarku yang mati", jawab Alma asal.


" Ya, lampunya mati, mungkin saat kemarin aku tinggal, jadi tadi saat Akio mengantarku pulang, aku suruh dia menggantikan lampu kamarku yang mati". Akhirnya Alma berbohong juga.


Saat Sean masih terus berpikir, ternyata Maemunah dan Bara pulang usai mencuci baju si rumah tetangga. Bara langsung terlihat begitu sumringah saat kakaknya sudah sampai di rumah.


" Loh sudah sampai rumah toh Al!", Maemunah langsung memeluk putrinya, sambil mengusap-usap kepala nya.


" Selamat nak...kamu sudah membuktikan kalau kamu layak memperoleh beasiswa itu".


" Ibu sudah bosan mendengar kamu di bicarakan yang tidak-tidak sama tetangga".


" Tapi kamu menunjukkan kalau kamu itu tidak seburuk dugaan mereka".


Maemunah menatap Akio dan Sean.


" Kalian disini juga, ayo masuk, ibu buatkan teh manis", Maemunah merangkul Alma dan mengajak yang lain masuk.


Setelah mengobrol beberapa saat, Maemunah masuk ke dalam untuk membuat minuman.


Bara langsung memeluk Alma dan memberikannya selamat. " Kakak masih ingat dengan janji kakak kan?", sudah Alma duga, Bara langsung menagih janjinya.


Alma mengangguk, " tapi nanti malam ya, sekalian nanti ibu, kak Akio dan kak Sean kita ajak", ucap Alma.


Bara langsung berlari masuk memberi tahu ibunya jika nanti malam akan diajak makan di luar oleh kakaknya.


Maemunah hanya tersenyum sambil membawa nampan berisi tiga gelas teh manis.


" Ini See, aku sudah punya yang baru, makasih ya selama ini sudah minjemin aku HP kamu".


Alma menyerahkan Hp beserta seperangkat nya, ada headset, charger, dus box dan lain-lain.


Sean menerima uluran paper bag dari Alma, dan meletakkannya lagi di atas meja.


" Jadi ini HP baru kamu?", Sean mengambil ponsel baru Alma dan melihat-lihat isinya.


" Wah.... ini mahal Al, apa uang pembinaan yang kamu terima sangat banyak?", Sean tahu berapa harga ponsel baru Alma, diatas 30 juta, dan sepengetahuan Sean jika Alma membeli ponsel dari hasil jerih payahnya mengajar les, ditambah hadiah uang yang diterimanya setelah menang kemarin.


" Ya lumayan, bisa buat beli hp baru". Belum waktunya Alma memberi tahu Sean jika HP. barunya dibelikan oleh Akio.


" Oh iya, nanti kamu ikut kita ya, buat makan malam di luar, sekali-kali aku traktir".


" Itung-itung perayaan setelah kemenangan kami", ujar Alma.


" Kami?", Sean menatap Akio, otaknya kembali berpikir.


" Oh iya, yang dari SMA kamu ada dua kandidat dan keduanya jadi juara, apa pemenang yang satunya itu pacar kamu?".


Alma langsung mengangguk mengiyakan.


" Wah, pasti akan banyak yang sangat iri dengan hubungan kalian".


" Dua anak jenius yang berkencan". Sean berdecak kagum.


" Ayo diminum tehnya selagi hangat", Maemunah mempersilahkan mereka untuk minum teh, dan menghidangkan pisang kukus yang masih hangat, baru mateng dari kukusan.


" Terimakasih bibi", ujar Sean.


" Oh iya apa bibi masih bekerja mencuci baju di rumah tetangga?", Sean terlihat prihatin pada Maemunah.


" Ya buat nyambung hidup, jadi harus bekerja, bibi bisanya cuma itu, nyuci sama nyetrika".


Tiba-tiba saja Akio terlintas ide cemerlang.


" Bagaimana jika besok aku belikan mesin cuci, pengering, setrika uap dan juga keperluan lain.untuk membuka laundry baju?".


" Biar ibu tidak kecapean dengan pekerjaannya, dan bahkan bisa merekrut karyawan".


" Aku tidak masalah memberikan modal".


Akio memang pemuda yang sangat baik, tampan, kaya raya dan yang paling penting tatapannya hanya menuju pda Alma. Tipe laki-laki idaman para gadis di manapun berada.


" Ibu belum kepikiran ke arah sana nak Akio".


" Tapi akan bibi pikirkan terlebih dahulu, beri ibu waktu untuk mempertimbangkannya".


Akio tersenyum sambil mengangguk. Ternyata ibu mertuanya akan memikirkan idenya. Semoga saja mau.