
Makan siang bersama yang tidak direncanakan, namun semua menikmati makan siang mereka, mungkin karena perut yang sudah sangat lapar.
" Ternyata nonton film sedih itu bukan hanya menguras air mata saja, tapi menguras energi juga, membuat perut terasa sangat lapar ".
Sean sudah menghabiskan tenderloin steak yang dipesannya, dan hendak melanjutkan untuk menikmati spaghetti bolognese dengan parutan keju melimpah diatasnya.
" Mau coba ini Al?, ini rasanya tuh lezaaatos", gumam Sean di sela menyantap spaghetti miliknya.
" Makasih, tapi aku nggak terlalu suka keju, aku juga sudah kenyang banget ngabisin nasi goreng ini".
Alma kini menikmati salad buah yang sengaja di berikan secara gratis oleh pihak restoran. Entah dalam rangka apa, tapi lumayan juga sebagai pencuci mulut.
Feni juga sejak tadi tengah tersenyum lebar karena salad buah gratis yang tengah dinikmatinya.
" Al, ada yang bikin aku penasaran deh sejak tadi. Kalau kamu nggak suka makanan luar negeri, pas kamu pergi ke Kazakhtan, disana gimana makannya?". Diana yang sejak tadi asyik bermanja-manja dengan sang pacar, kini mulai ikut ngobrol bareng.
Alma mengelap bibirnya karena sudah selesai menghabiskan salad miliknya.
" Nggak gimana-gimana, kan di sana kami dapat fasilitas tinggal dan makan, jadi makanan pun ada yang mengurus. Kami tetap makan makanan Indonesia, meski ada di Kazakhstan. Karena kebanyakan makanan di sana olahan daging, entah daging domba, daging kuda, dan juga daging unta".
" Ini, makasih banyak buat Leo, udah traktir kita semua, tapi habis ini kita mau balik, soalnya sudah agak sore juga", ternyata waktu berlalu dengan cepat, saat Alma melihat jam tangannya sudah pukul 3 sore.
" Kalian ke sini naik apa?, bawa kendaraan atau mau aku antar sampai rumah?". Leo begitu semangat menawarkan tumpangan.
" Kita bawa motor, jadi nggak usah diantar. Nanti malah ngrepotin kamu, sudah makan di bayarin, pulang masa dianterin juga".
" Kalau begitu kita duluan ya Diana, Leo, Harus, sekali lagi makasih banget buat traktirannya".
Alma mengajak Feni dan Sean untuk keluar dari mol. Namun saat mereka hendak turun dari lantai tiga, terjadi hal aneh yang tidak pernah mereka duga.
Listrik padam, dan semua lampu mati. Bahkan genset tidak berfungsi. Keadaan mol yang gelap membuat suasana menjadi gaduh.
Alma dan kedua sahabatnya sengaja ke pinggiran gedung, dari kaca gedung terlihat jika gedung-gedung yang lain di luar juga mengalami hal yang sama.
Saat Alma hendak menghubungi Akio ternyata tidak ada signal sama sekali, mungkin karena tower pemancar yang juga mati.
Suara gaduh diluar sana membuat Alma dan kedua sahabatnya menatap ke langit luar, disana ada beberapa piring terbang yang mendekat dan semakin mendekat.
" Apa yang terjadi?, apa aku sedang mimpi, bisa melihat UFO dari dekat seperti ini?", Sean menepuk-nepuk pipinya, namun terasa sakit. itu berarti ini bukan mimpi.
UFO yang mendarat di bumi dengan jumlah yang cukup banyak, dari dalamnya keluar banyak alien berwujud mirip manusia, dan mereka membuat kekacauan dimana-mana.
Banyak sekali orang yang ketakutan. Karena melihat seorang petugas keamanan yang berusaha menghentikan para alien itu membuat onar justru ditembak dengan pistol.
Alma memicingkan matanya, melihat beberapa dari wajah pembuat kekacauan itu di kenalnya. Mereka adalah teman-teman Steven. Dan Alma kembali dibuat terkejut ketika Sean menunjuk kearah yang berbeda jika dirinya melihat Steven sedang berdiri di belakang para pembuat kekacauan itu.
Terdengar sirine mobil polisi yang berbunyi tiada henti dan dalam jumlah banyak. Pasti sudah ada yang melapor pada pihak kepolisian perihal kekacauan yang sedang terjadi di mol itu.
Semua yang ada di mol berlarian berusaha keluar gedung karena keadaan gedung yang semakin gelap, lampu masih padam, ditambah kini langit telah menumpahkan air hujan yang begitu lebat.
Beberapa orang yang berada di dalam lift mol telah berhasil diselamatkan oleh beberapa petugas pemadam kebakaran yang juga sudah sampai dan masuk ke dalam mol.
Keadaan benar-benar kacau banyak orang berteriak dan ketakutan karena semakin banyak petugas yang mati karena berusaha menghentikan aksi para alien itu.
Alma menatap ponselnya, namun tidak ada signal sama sekali, Alma ingin memberi tahu Akio tentang apa yang sedang terjadi di hadapannya. Namun tidak bisa.
Kini orang-orang yang tadi berlarian berhenti dan berjongkok, karena takut dilenyapkan begitu saja seperti yang lain. Begitu juga dengan teman-teman Alma, kini Leo, Diana, dan Haris sudah bergabung dengan Alma dan dua sahabatnya.
" Kamu nggak papa kan Al?", Leo seolah ingin melindungi Alma dengan merangkulnya dan mengajak Alma dan yang lain ke salah satu kursi kosong yang aman, agar tidak melihat kejahatan yang sedang terjadi di depan mata.
" Sebenarnya apa yang sedang terjadi?, siapa mereka semua?, mereka menaiki piring terbang seperti alien", Diana yang sempat melirik keluar kaca melihat beberapa piring terbang yang ada di luar gedung.
" Apa kita sedang melihat syuting sebuah film?, tapi kenapa ini begitu menegangkan?, aku tidak mau melihat proses syuting yang menyeramkan seperti ini", Feni menangis ketakutan.
Alma menepuk-nepuk pundak Feni agar merasa tenang,
" Ini semua nyata teman-teman, mereka alien yang menyerang bumi. Mungkin terlihat konyol seperti kisah dalam film, tapi memang seperti itu kenyataannya". Alma terus berusaha menenangkan Feni yang ketakutan.
Beberapa alien telah masuk ke dalam gedung dan menyuruh para manusia untuk berjongkok. Lampu tiba-tiba menyala terang.
Membuat wajah para pembuat kekacauan itu tampak jelas, dengan telinga panjang dan mata yang merah menyala, persis seperti saat Alma melihat Akio di dasar kolam.
" Jadi mereka tidak lenyap saat helikopter Akio meledak diatas selat Madura. Pantas saja mayat mereka tidak diketemukan. Ternyata justru mereka membuat alibi untuk kabur dari bumi dengan memberi kesan jika mereka sudah mati", batin Alma.
Alma mengambil ponsel dan menghubungi Akio, karena listrik sudah menyala, dan signal sudah kembali normal.
Akio juga terkejut jika ternyata meledaknya helikopter miliknya beberapa bulan yang lalu hanya sebuah siasat yang sengaja dibuat teman-temannya.
" Sebenarnya apa yang terjadi di planet Mesier, sampai mereka menyerang ke Bumi", pikir Akio. Dengan pelan Akio mengendap-endap mengajak Bara ke lantai 3 bergabung bersama Alma dan yang lain.
Pemandangan pertama yang dilihatnya cukup membuat hatinya panas, ternyata Alma tengah dirangkul oleh seorang pemuda yang dari matanya saja sangat kentara jika dirinya menyukai Alma.
" Sayang... kamu nggak papa kan?", Alma melepas rangkulan Leo dan memeluk Bara yang datang bersama Akio.
Leo dan Diana masih ingat dengan Akio, hanya saja penasaran karena anak kecil yang bersama Akio justru dipanggil dengan sebutan sayang oleh Alma.
Bara menggeleng, " Bara baik-baik saja Kak, Kak Akio selalu menjaga Bara".
" Karena Bara sudah bersama kamu, aku akan turun kebawah mencoba bertanya apa mau mereka sebenarnya". Akio hendak pergi, tapi Alma menahan tangannya.
" Jangan pergi, jangan tinggalkan kami, aku takut terjadi sesuatu padamu!", Alma begitu berat melepas kepergian Akio. Namun Akio merasa harus menyelesaikan masalah yang sudah dibuat oleh kawan-kawan seplanet nya itu.
" Nggak papa, aku akan jaga diri".
Akio melepas tangan Alma dan berjalan seperti biasa ke lantai bawah, dimana para alien itu berkumpul, sementara di tiap lantai berjaga-jaga beberapa alien yang memegang senjata. Namun Akio berbicara dengan bahasa mereka, sehingga para alien mengira jika Akio adalah kawanan mereka.
Setelah sampai di lantai 1, Alma bisa melihat Akio berdiri menghadap Steven dan beberapa kawannya yang lain. Mereka pun saling menatap dan berbincang dalam hati.
" Kenapa kalian membuat kekacauan disini?, manusia tidak punya salah dengan kita makhluk Mesier. Jika memang kalian ingin tinggal dan menetap di Bumi, kita tidak perlu mengusik mereka, kita bisa hidup berdampingan dengan manusia", ucap Akio dalam hatinya.
" Tidak perlu mengatakan yang baik-baik tentang manusia, apa kamu tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap kami, saat kami berada dalam tahanan?, sungguh kejam dan penuh penyiksaan. Karena itulah kami ingin membalas dendam kepada mereka yang sudah menyiksa kami!", jawab salah seorang dari teman Steven yang kemarin juga masuk sel.
" Hanya segelintir orang yang bersalah, kenapa kalian menyerbu manusia-manusia lainnya yang tidak tahu apa-apa?".
" Berbaik hatilah pada manusia yang tak berdosa, jika kalian mau menyerang orang-orang yang menyiksa kalian di tahanan kemarin, maka datanglah kesana, jangan kemari". Akio mencoba bernegosiasi agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.
" Kamu tidak merasakan bagaimana disiksa dengan kejam, karena itulah kamu membela mereka!", lagi-lagi Akio di bantah oleh alien yang lainnya.
Akio yang berusaha bernegosiasi tapi tidak berhasil hanya bisa terus berusaha mengulur waktu dan membiarkan para polisi melakukan strategi penangkapan.
Saat mereka para alien lengah karena berunding dengan Akio, para polisi sudah mengamankan para manusia untuk berlindung di tempat yang aman, dan polisi bersama gabungan TNI berhasil mengepung tempat itu, ternyata senjata yang para alien itu gunakan adalah hasil mencuri di markas kepolisian.
Setelah pengepungan, terjadilah adu senjata antara alien dan para polisi dan TNI, akhirnya polisi bisa melumpuhkan para alien itu satu persatu dan memborgolnya. Membawanya ke rumah tahanan.
UFO yang mereka kendarai langsung di angkut menggunakan derek dan diamankan di markas kepolisian.
Namun sayangnya saat insiden itu ada sebuah peluru yang mendarat di perut Akio. Hingga darah segar mengucur dari perutnya. Akio pingsan karena kehabisan banyak darah.
Salah satu anggota kepolisian yang pernah mendatangi rumah Akio masih mengenal Akio, dan berusaha memberikan pertolongan pertama. Akio langsung dilarikan kerumah sakit.
Alma begitu panik ketika nomornya dihubungi dengan ponsel Akio oleh anggota kepolisian, dan diberi kabar jika Akio terkena tembakan di perutnya, dan saat ini sedang dibawa ambulance menuju rumah sakit terdekat.
Alma langsung menitipkan Bara pada Sean agar diantara ke rumahnya. Dan Alma sendiri meminta tolong pada Feni untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Leo sempat menawarkan tumpangan menggunakan mobilnya, namun Alma menolak, dengan alasan akan terkena macet jika menggunakan mobil, lebih cepat dan lebih efisien menggunakan motor.
Sepanjang jalan Alma terus menangis membayangkan Akio yang tergeletak lemah dengan bersimbah darah.
Sesampainya di rumah sakit, Alma langsung berlari menuju IGD, sedangkan Feni menuju tempat parkir terlebih dahulu.
Alma berusaha tetap kuat, meski kakinya saat ini terasa gemetar dan lemas, seolah hampir tak kuat untuk menopang tubuhnya.
" Maaf mba, apa anda keluarga pasien?", tanya seorang suster.
" Benar saya istrinya".
" Silahkan mba ikut saya untuk menandatangani surat persetujuan tindakan operasi".
Alma langsung mengikuti suster itu, dan menyuruh Feni yang baru sampai, untuk menunggunya di depan IGD.
______________________
Sudah mendekati end ya readers tersayang, apa yang akan terjadi dengan Akio?, selamat dari maut, atau......
Bagaimana akhir kisah Akio dan Alma?, happy ending atau sad ending?
Tunggu jawabannya di episode selanjutnya 😁😁
Terimakasih untuk yang masih setia mengikuti kelanjutan kisah Alma dan Akio, semoga senantiasa dilimpahi kebahagiaan dalam hidup 🙏