My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 41 : Bagaimana Baiknya?



Pagi pun berubah menjadi siang, sejak tadi Akio belum juga datang ke rumah sakit, Alma merasa ada sesuatu yang salah. Namun Alma tetap diam karena seharian itu ada Sean menemaninya.


Maemunah juga tetap berada di rumah sakit menemani putrinya. Kios loundry tetap buka, karena hari Minggu biasanya banyak sekali cucian masuk, masih ada tiga karyawannya yang masuk, jadi meski keteter, pekerjaan masih bisa dihandle mereka.


Memang sejak awal dibuka kios loundry, hari libur justru dihari senin, dimana orang lain memulai bekerja setelah liburan, namun kios loundry justru libur.


Namun sudah menjadi kebiasaan sejak awal buka, pekerjaan di hari minggu biasanya seperti puncak dari cucian masuk begitu banyak, namun karena hal tak terduga, Maemunah harus meninggalkan ketiga nya menyelesaikan semua pekerjaan sendiri.


Maemunah sudah berjanji akan membayar karyawannya double, khusus untuk hari ini.


" Kamu makan dulu See.... sejak pagi kamu terus nemenin aku disini, aku nggak lihat kamu makan apapun, aku nggak mau kamu sakit gara-gara nungguin orang sakit".


Alma menyuruh Sean makan siang, dan Sean yang sudah merasa lapar akhirnya pamit ke kantin terlebih dahulu.


Niat hati awalnya ingin joging bersama Alma dan menanyakan tentang Steven, namun ternyata Alma sakit dan sangat tidak etis jika dirinya menanyakan tentang cowok pada sahabatnya yang sedang tidak sehat itu.


" Ya sudah, kalau begitu aku ke kantin dulu ya Al", Sean beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Maemunah.


" Apa bibi mau Sean bawakan makan siang juga?".


Maemunah menggelengkan kepalanya. " Bibi akan habiskan makanan Alma, sayang kalau dibuang, tadi bibi cicipi rendang sama sayur buncisnya enak".


Sean akhirnya keluar dan berjalan melenggang sambil mengikuti penunjuk arah, mencari dimana kantin rumah sakit berada.


Saat melewati lorong, Sean seperti melihat seseorang yang mirip Akio dan Steven berjalan dari arah parkiran. Namun saat Sean mencoba memanggilnya orang-orang itu terus berjalan dan menghilang di ujung lorong.


" Pasti Akio dan Steven mau jenguk Alma", pikir Sean, sambil bergegas berjalan menuju kantin kembali.


_


_


" Bu, mungkinkah Akio marah sama Alma karena Alma keguguran?, Alma tidak bisa menjaga buah cinta kami", Alma langsung mengungkapkan keresahan yang dipendamnya sejak tadi. Mumpung Sean tidak ada, itu berarti kesempatan bagi Alma dan Maemunah membicarakan hal yang privasi.


" Kamu jangan berpikir macam-macam mungkin Akio belum bisa ke sini karena masih banyak urusan yang harus dikerjakan pasti sebentar lagi dia akan datang", Maemunah berusaha membuat Alma merasa tenang.


" Tapi sebelumnya Akio belum pernah membiarkan Alma sendirian seperti ini Bu, dia pasti saat ini sangat kecewa sama Alma", Alma mulai menangis sesenggukan.


" Kau ini sedang sakit, baru saja keguruan, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak, tubuhmu bisa drop kalau kamu terus bersedih seperti ini Alma. Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa".


Maemunah memeluk Alma yang masih menangis sesenggukan.


" Alma tidak mau membahas masalah kontrasepsi seperti yang ibu rencanakan kemarin. Alma akan menanyakan pada Akio terlebih dahulu, kalau memang Alma harus hamil lagi dan putus sekolah, Alma sudah tidak peduli".


" Alma tidak mau membuat Akio kecewa lagi sama Alma, Alma mau menuruti apa saja kemauannya. Bahkan jika dia akan pergi jauh hingga ke ujung dunia. Alma ingin pergi bersamanya Bu".


Alma yang biasa di perlakukan begitu istimewa oleh Akio merasa begitu kehilangan saat dirinya sedang terbaring lemah di rumah sakit, justru Akio tidak kunjung datang.


" Sebegitu besarkah rasa cinta mu terhadapnya?, sampai kau tidak memperdulikan kekhawatiran ibu akan keselamatan mu".


" Ibu meminta dokter memasang alat kontrasepsi bukan demi kebaikan ibu, itu semua demi keselamatan kamu Nak. Karena usia mu masih terlalu muda untuk mengandung".


" Saat ini kamu bisa selamat, ibu sudah sangat bersyukur. Ibu tidak mau terjadi sesuatu yang bisa membahayakan hidupmu".


" Kamu putri ibu satu-satunya, tunggulah hingga usiamu dua puluh tahunan, saat itu rahimmu sudah siap untuk mengandung, dan ibu tidak khawatir lagi akan keselamatan mu".


Kali ini Maemunah sudah tidak tahu harus bagaimana memberi pengertian kepada Alma, karena Alma terlihat begitu takut mengecewakan Akio. Rasa cintanya begitu besar hingga dia tidak bisa berpikir jernih. Tidak peduli dengan keselamatan hidupnya.


Tanpa mereka berdua sadari jika ada dua pria yang mendengarkan percakapan mereka di depan pintu. Akio dan Steven .


Awalnya saat mereka baru saja sampai di depan kamar, Akio hendak membuka handel pintu, namun mendengar suara Maemunah yang cukup keras, Akio mengurungkan niatnya dan tetap berdiri di depan pintu.


Dari awal hingga akhir percakapan mereka Akio bisa mendengarnya dengan jelas. Begitu juga dengan Steven, yang justru menjadi kagum pada Alma, yang begitu besar rasa cintanya pada Akio.


Hanya saja UFO miliknya belum berhasil di perbaiki, jika menggunakan UFO milik Steven mungkin saja mereka bisa pergi ke planetnya sekarang juga. Namun begitu besar resiko untuk melakukan perjalanan antariksa lagi, dia sudah mengalaminya 9 tahun lalu, saat UFO miliknya harus terpontang-panting di luar angkasa, hingga akhirnya tertarik grafitasi bumi dan jatuh ke bumi.


Bukan hal mudah, dan menjadi suatu kenangan yang mengerikan saat UFO yang di gunakan nya mengalami kerusakan di luar angkasa, saat itu dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Kemana Sang Maha Pencipta akan mengarahkannya. Bahkan tidak salah jika keluarganya di planet Mesier berpikir dirinya telah mati. Karena memang ada beberapa seniornya yang melakukan perjalanan luar angkasa, dan pulang tinggal nama saja.


Akio sudah mulai merasakan kenyamanan hidup di Bumi. Kemudahan untuk memperoleh uang, dan kemewahan yang membuatnya hidup begitu mewah dan nyaman di bumi, membuat dirinya berpikir dua kali jika harus kembali ke planetnya.


Mungkin kendalanya hanya masalah penuaan, makhluk Mesier sangat lamban masa penuaannya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, dirinya harus mengganti semua pekerja di rumah, dan juga hidup tanpa harus berhubungan dengan banyak manusia.


Sedangkan saat ini dirinya sudah sangat dikenal. Begitu terkenal semenjak menjadi juara olimpiade sains. Dan itu akan membuat dirinya harus mengganti identitasnya dengan nama baru, dan juga tempat yang baru.


Entah dibelahan bumi sebelah mana, yang jelas saat teman seusianya sudah mulai terlihat tua setelah 10 atau 20 tahun, Akio harus mempunyai identitas baru dan tinggal di tempat yang baru juga.


Dengan orang-orang baru yang belum mengenalinya sebagai seorang Akio.


Tok...tok...tok....


Akio sengaja mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar Alma dirawat. Akio memberi jeda waktu beberapa menit hingga ibu mertua dan istrinya menyelesaikan obrolan mereka.


Dalam pikirannya kini sedang mempertimbangkan sikap bagaimana yang harus di lakukannya.


Dan ternyata Sean datang dari arah berlawanan sambil membawa kantong plastik berisi beberapa buah dan cemilan di dalamnya.


" Loh... aku kira kalian sudah di dalam, ternyata masih di luar, padahal aku lihat kalian pas datang tiga puluh menit yang lalu". Sean langsung bicara dengan begitu polosnya, saat Maemunah membukakan pintu kamar Alma.


Akio bisa melihat Alma yang sedang duduk di ranjang pasien, sambil menunduk menyembunyikan matanya yang lebam setelah menangis cukup lama.


" Tadi ketemu dokter dulu", ucap Akio mencari alasan yang masuk akal, dan berbohong pada Sean.


Akio masuk ke dalam kamar sambil menyerahkan masakan yang dibawanya dari rumah. Satu rantang susun, berisi nasi, lauk, sayuran yang masing-masing 2 macam.


" Makan siang dulu Bu, maaf baru bisa sampai disini, padahal sudah siang, tadi dirumah ketiduran karena tadi pagi bangun tidurnya kaget, jadi kepala pusing, coba minum obat dan ngantuk banget".


" Atau kalau ibu mau pulang dan istirahat juga nggak papa, biar Akio gantian jagain Alma".


Akio kini menuju Alma yang sejak tadi terus menatapnya, namun Akio tidak langsung menatapnya, Akio sangat bersedih saat tadi mendengar tangis Alma dari luar.


Akio sangat ingin mendekap Alma dengan erat, namun keberadaan ibu dan Sean membuatnya hanya bisa mengusap-usap rambut Alma saja.


" Apa sudah makan siang?, obatnya sudah diminum?".


Bukannya menjawab pertanyaan Akio, justru Alma memegang tangan Akio yang sedang mengusap kepalanya, dan memeluknya erat.


" Maafkan aku, apa kamu marah, aku tidak tahu akan seperti ini kejadiannya". Alma menatap Akio sambil berbicara dalam hatinya. Hanya Akio dan Steven yang bisa mendengar kata hatinya.


Akio menggelengkan kepalanya, " aku tidak marah, aku senang karena kamu sudah tidak kesakitan lagi seperti tadi pagi", bisik Akio lirih dekat telinga Alma.


" Minum obatnya, dan istirahat ya, kamu butuh banyak istirahat biar cepet pulih", Akio mengambil obat di atas nakas dan membukanya satu persatu.


Alma menerim obat dari tangan Akio dan menelannya sekaligus.


Raut muka Alma sudah lebih baik dari tadi, sejak pagi memang Alma terus murung karena khawatir akio marah padanya.


" Ibu akan tetap disini menjaga Alma, sampai Alma benar-benar sehat, dan bisa kembali ke rumah".


" Mungkin nanti ibu pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju".


Akio hanya menganggukkan kepalanya,


" Terserah ibu, bagaimana baiknya saja ", ujar Akio.