My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 40 : Kasih Ibu Sepanjang Masa



Jam 7 pagi Alma baru tersadar, setelah efek bius berangsur hilang dari tubuhnya. Namun bagian kaki dan pinggulnya masih terasa kebas, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pangkal pahanya.


Alma menatap ruangan dimana dirinya berada saat ini, terlihat pancaran cahaya matahari menerobos melalui jendela kaca yang menghadap ke arah timur. Ada selang infus menancap di tangan kanannya. Ibunya berada di samping kanan ranjang dimana dirinya berada


Ruangan ini seperti dirumah sakit, tapi lebih luas dari kamar yang biasanya Alma lihat jika menjenguk temannya yang sakit. Bahkan tidak ada pasien lain yang sekamar, dia hanya sendirian, dan ada sofa panjang, kulkas, dan beberapa perabot lain yang cukup komplit.


Maemunah yang menyadari jika putrinya terbangun langsung mengusap-usap kepala Alma dengan penuh kelembutan.


" Ibu...", suara Alma terdengar sangat lemah.


Maemunah langsung mengangguk sambil terus mengusap rambut Alma.


" Iya sayang... ibu disini, apa ada yang kamu inginkan?".


" Atau mau sarapan nak?".


" Jatah makan dari rumah sakit sudah dikirimkan lima menit yang lalu". Maemunah beranjak dari duduknya dan mengambil makanan yang disiapkan oleh rumah sakit.


Alma memang merasa lapar, tapi napsu makannya seperti menghilang, tidak seperti kemarin-kemarin yang sebentar-sebentar merasa lapar.


Saat mencoba untuk duduk, rasanya tubuh Alma begitu lemah dan seluruh persendian terasa ngilu.


" Sambil tiduran saja kalau masih lemas. Ibu suapi pelan-pelan ya....".


Saat Maemunah sudah menyendok nasi dan lauk, Alma tiba-tiba menangis mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Membuat Maemunah meletakkan kembali sendok itu di atas tempat makanan yang berada di atas nakas.


Maemunah duduk di tepian ranjang dan memeluk Alma dengan menyandarkan kepala Alma di perutnya.


" Menangis lah selama yang kau mau, sampai air matamu mengering. Tapi setelah itu kamu tidak boleh menangisi kejadian ini lagi".


" Ini cukup menjadi pelajaran untukmu dan suamimu".


" Sebenarnya ibu ingin mengingatkan kalian, tapi apa daya ibu, bahkan hanya sekedar menginap semalam di rumah ibu saja, suamimu tidak mengijinkan. Tentu ibu tahu seberapa besar dia menginginkan kamu melayaninya tiap malam".


" Ibu juga pernah muda dan pernah menjadi pengantin baru seperti kalian, tapi tidak semuda kamu dan Akio, saat dulu ibu menikah, usia ibu sudah 23 tahun, tubuh dan rahim ibu sudah siap untuk menampung janin di dalamnya".


Maemunah menghela nafas sejenak sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


" Kamu masih terlalu muda untuk mengandung Al, ibu sudah khawatir sejak awal".


" Belum lagi pancaran mata Akio yang selalu terlihat begitu menginginkan kamu, dia sangat mencintaimu, dan ibu yakin sejak kau tinggal serumah dengannya, dia tidak memberimu jeda untuk tidak berhubungan badan, meski hanya sehari".


" Jika hal itu terus berlanjut, meski kalian sah suami istri, ibu khawatir tubuhmu yang akan rusak, kamu masih sangat muda".


Maemunah kembali mengusap kepala Alma setelah menghapus air mata di pipinya.


" Bahkan ibu berfikir dengan adanya kejadian ini, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kesehatanmu".


" Kamu akan punya waktu istirahat total, dan tidak melayani suamimu setidaknya sampai kamu benar-benar pulih".


Alma menarik kepalanya dari perut Maemunah saat mendengar kata suami.


" Akio dimana Bu?, apa dia marah sama Alma, karena Alma tidak bisa menjaga bayi kami?", Alma merasa ketakutan jika sampai Akio menjadi marah karena dia keguguran.


" Bahkan kamu justru masih lebih memikirkan keadaan suamimu, dibanding memikirkan dirimu sendiri yang saat ini sedang tidak sehat", Maemunah hanya menggelengkan kepalanya, entah cinta macam apa yang tumbuh diantara putri dan menantunya itu.


" Akio tidak marah, justru dia ketakutan melihat keadaanmu, tadi ibu menyuruhnya pulang, dia meninggalkan ponselnya di rumah saat tadi pagi membawamu kesini dalam keadaan panik".


" Dia pulang untuk mandi dan mengambil ponsel kalian".


" Tadi dia juga sudah ngobrol dengan dokter, jika diagnosamu di rahasiakan, khawatir teman kamu ada yang tiba-tiba saja tahu kamu di rawat dan membaca diagnosamu di papan depan".


Alma mengangguk, Akio memang selalu memikirkan kebaikan Alma hingga hal terkecil.


" Ibu tadi juga menemui Pak dokter saat Akio sudah pergi, ibu meminta agar tubuhmu dipasang alat kontrasepsi terlebih dahulu".


" Bukan ibu tidak ingin punya cucu, ibu hanya mengkhawatirkan keadaanmu Nak.... kamu masih terlalu muda untuk hamil, setidaknya tunggu hingga usiamu cukup untuk mengandung".


" Ibu takut kejadian ini terjadi lagi, ibu tidak mau kamu kesakitan ".


Alma bisa memahami apa yang disampaikan ibunya, karena awalnya bisa dibilang dia sendiri belum siap untuk hamil.


Maemunah menggelengkan kepalanya.


" Dokter bilang, mau bertanya terlebih dahulu pada suamimu, karena saat ini dia yang bertanggung jawab atas keadaanmu".


Alma dan Maemunah sama-sama terdiam. Sebenarnya Alma setuju saja jika harus memasang alat kontrasepsi terlebih dahulu, dia masih sekolah, dan masih banyak hal lain yang ingin dilakukannya saat usianya masih muda seperti saat ini.


Namun Alma tidak tahu apa yang ada di pikiran Akio saat ini, entah apa yang sedang dirasakan Akio atas keguguran yang dialaminya. Entah apa yang diinginkan Akio terhadapnya. Alma belum mengerti.


Tok...tok...tok...


Terdengar suara pintu kamar diketok, Alma dan Maemunah sama-sama melihat ke arah pintu, jika Akio atau perawat yang datang tidak mungkin pakai mengetuk pintu berulang kali, akhirnya Maemunah berjalan menuju pintu untuk membukanya.


" Sean !", Maemunah begitu terkejut Sean sudah berdiri didepan pintu.


" Siapa yang memberitahukan kepadamu tempat ini?". Maemunah bertanya dengan sedikit gemetar. Membuka pintu lebih lebar agar Sean bisa masuk kedalam kamar.


" Bagaimana keadaan Alma, bibi ?, Aku ke rumah bibi untuk mengajak Alma joging, tapi saat di rumah sepi, aku telepon Alma tidak di angkat, hanya bara yang keluar dan mengatakan bibi pergi ke rumah sakit".


" Aku langsung ke sini, saat aku tanya ke resepsionis pasien atas nama bibi Maemunah tidak ada, karena itu aku tanya atas nama Alma, dan ternyata benar, Alma yang sakit".


" Kamu sakit apa Al?", Sean menggenggam tangan Alma yang sebelah kiri dengan ekspresi wajah begitu khawatir.


Alma bingung harus menjawab apa, " dokter menulis diagnosa sakit ku apa di papan yang berada di tembok depan?", batin Alma.


" Aku..." , Alma masih berusaha menebak-nebak sakit apa yang di tulis dokter untuk mengamuflase diagnosa nya.


" Alma gejala tipes", ucap Maemunah karena Alma yang ditanya justru bingung harus menjawab apa.


" Apa gara-gara kemarin kita makan terlalu banyak di taman?", Sean kembali teringat kebersamaan mereka kemarin.


Alma menggelengkan kepalanya, " tidak, bukan karena itu See...".


" Aku hanya kecapekan dan butuh istirahat".


Alma menjawab dengan wajah yang masih pucat dan lemas.


" Wajahmu pucat banget Al, akun suapi kamu makan ya?", ucap Sean.


Maemunah menyerahkan tempat makanan pada Sean agar menyuapi Alma.


" Kamu suapi Alma, bibi mau ke kamar mandi dulu".


Sean mengangguk sambil menerima makanan untuk Alma.


" Sekali-kali menyuapi sahabat tidak ada salahnya", Sean tersenyum kearah Alma.


" Duh bayi gede, pacarnya mana?, apa belum tahu kalau kamu dirawat disini?".


" Bibi sekarang sangat memanjakan kamu setelah menjadi bos loundry".


" Lihatlah kamu ditempatkan di kamar VVIP yang sewa kamar permalamnya saja mencapai jutaan", ucap Sean sengaja sambil menatap isi kamar rawat Alma, menghibur Alma, mengajak Alma ngobrol santai.


" Mungkin sebentar lagi akio sampai", ujar Alma lirih. Dan suapan pertama berhasil masuk mulutnya, Sean begitu telaten menyuapi Alma.


Sesuap, dua suap, hingga suapan ketiga Alma sudah tidak mau makan lagi. Selera makannya langsung hilang.


" Cukup See, aku kenyang, apa kamu sudah sarapan?, kalau kamu mau sarapan nanti aku pesankan ke kantin rumah sakit".


Namun Sean menggelengkan kepalanya, " aku sudah sarapan nasi goreng di rumah, nggak perlu pesen makanan di kantin", ujar Sean, meletakkan tempat makanan di depan, samping pintu masuk, agar bisa dibawa perawat saat lewat.


" Makasih ya See... kamu memang sahabat terbaikku", ucap Alma lirih.


_


_


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Begitu ya guys, biar readers tahu, kalau hamil diusia muda itu mempunyai resiko yang tinggi. Sedikit belajar dari kisah salah seorang kenalan di dunia nyata .....