
Sabtu pagi usai sarapan, Alma dan Akio langsung bergegas menuju rumah ibu. Entah mengapa semenjak tinggal bersama Akio dan tidur bersamanya, rasa pusing, lemas, mual dan muntah yang dulu dirasakan Alma sembuh dengan sendirinya.
Mungkin karena si kecil dalam perut Alma yang selalu ingin berdekatan dengan ayahnya. Jadi saat kemauan itu dikabulkan, si kecil tidak lagi protes dengan membuat ibunya lelah dan pusing.
Sebelumnya Alma sudah meminta pada si bibi untuk masak makanan yang banyak dan membungkus sebagian masakan itu, untuk dibawanya ke rumah ibunya.
10 menit perjalanan, Alma sengaja meminta Akio mengendarai sepeda motor, agar langsung sampai rumah, dan tidak perlu berjalan menyusuri gang.
Akio pun mengendarai motor Kawasaki ninja miliknya, karena motor matic ditinggal di kediaman Maemunah.
Alma sangat senang harus membonceng motor itu, sepanjang jalan dirinya terus nemplok di punggung Akio seperti tas ransel.
Bara yang pagi-pagi sedang bermain bersama teman-temannya di lahan kosong dekat rumah berlarian menuju rumah ketika melihat Alma dan Akio datang.
" Kak Alma !", teriak Bara dan langsung menghambur ke pelukan Alma. Alma pun merentangkan tangan dan menyambut pelukan Bara. Membalas dengan balik memeluknya.
" Bara kangeeen banget sama kak Alma, kak Alma jarang pulang, Bara jadi kesepian, hu...hu...hu...", Bara tersedu sambil mengusap titik air di ujung matanya dengan punggung tangannya.
Sejak kecil memang Alma lah yang lebih banyak mengurus bayi, karena itulah Bayu merasa sangat kehilangan saat Alma harus pergi dari rumah dan tinggal bersama Akio.
Awal Alma pindah, Bara selalu menanyakan kapan kakak perempuannya itu akan kembali, karena Alma tak kunjung pulang, dan Maemunah harus memberi pengertian perlahan pada Bara.
Bahwa kakaknya sudah jadi seorang istri dan harus mengikuti dimana suaminya tinggal.
Sejak saat itu Bara pun belajar untuk tidak merindukan kakaknya, karena sudah sebulan Alma tidak ke rumah.
Bukan karena Alma tidak merindukan ibu dan Bara, namun kegiatan Alma sekolah, dan pulang disibukkan oleh Akio yang sepanjang hari terus minta untuk dilayani. Alma akan merasa lelah dan akhirnya tidur hingga pagi.
" Kak Alma juga kengeeeen banget sama Bara, tapi maaf baru sempat kesini, kakak sibuk karena banyak yang harus di urus dan nggak sempet main kesini", ucap Alma sambil melirik ke arah Akio dan Akio pun langsung menutup mulutnya yang tersenyum jahil.
" Maaf karena selama ini membuatmu sibuk", bisik Akio saat mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
" Ibu, kak Alma datang !", teriak Bara berlari ke dalam rumah, Maemunah yang ada di ruang tengah langsung keluar dan memeluk putrinya itu.
" Bagaimana kabar mu nak?, apa kamu sehat?".
" Ibu kangeeen banget sama kamu, apa dia juga sehat?", tanya Maemunah sambil mengelus perut Alma yang masih rata, namun sudah mulai terasa keras.
Alma mengangguk sambil mengusap air matanya. " Kami semua sehat Bu, bahkan Alma jadi gemukan tinggal di rumah Akio, tiap hari disuruh makan makanan banyak banget".
" Tapi nggak tau kenapa Alma juga cepet banget laper, bentar-bentar makan, dan dalam porsi besar", Alma tersenyum sambil menutup mulutnya.
Maemunah hanya mengusap rambut Alma sambil tersenyum, kemudian tangannya berpindah menggenggam tangan Alma. Membimbing Alma duduk di kursi ruang tengah.
Akio yang membawa beberapa bungkus makanan di bawa ke dapur bersama Bara yang begitu semangat ingin sarapan lagi, padahal baru sarapan satu jam yang lalu.
" Memang begitu kalau lagi hamil, ***** makannya meningkat, dan sebentar-sebentar pengen makan".
" Dulu waktu ibu hamil kamu dan Bara, ibu juga langsung meningkat ***** makannya, terus ibu jadi gendut, badan ibu melar".
" Sampai ibu merasa tidak pede, tapi ayah kamu bilang ibu bahkan terlihat semakin cantik, karena itu ibu nggak peduli lagi dengan tubuh gendut ibu, terus semangat makan dan semakin gendut ".
" Tapi setelah melahirkan dan menyusui kalian, secara berangsur tubuh ibu kembali seperti semula", Maemunah bercerita masa hamilnya dulu.
" Oh iya Bu, nanti Sean mau kemari, Alma menyuruhnya datang sekitar jam 10. Nanti ibu nggak usah cerita kalau Alma tinggal sama Akio ya Bu?".
" Sean belum aku kasih tahu tentang pernikahan ku dan Akio, dan Alma mau merahasiakan sampai kami lulus SMA nanti".
" Ibu bisa bantu Alma kan tetap diam dan nggak kasih tahu Sean semuanya?".
Maemunah mengangguk, tentu saja sangat paham dengan sikap putrinya itu. Mungkin memang itu yang terbaik. Alma tidak menyuruhnya berbohong, hanya menyuruh untuk tetap diam dan jangan bercerita apapun.
Selama 2 jam Akio dan Alma berada di rumah Maemunah, mereka justru membantu Maemunah di kios tempat loundry.
Mungkin karena akhir pekan, jadi lumayan banyak orang yang meloundry baju di sana. Karena kios maemunah juga menerima jasa antar jemput, membuat kios loundry itu banyak peminat.
Masyarakat di masa modern seperti sekarang ini lebih suka dengan sesuatu hal yang instan dan mudah. Untuk mereka yang sibuk bekerja, jasa loundry yang menyediakan layanan antar jemput sangatlah membantu keterbatasan waktu mereka, dan bagi mereka yang merasa malas untuk pergi ke loundry, tentu saja akan memilih layanan antar jemput yang kios maemunah tawarkan.
Baru sekitar satu bulan beroperasi, kios loundry maemunah sudah bisa meraup pendapatan bulan pertama hingga 25 juta, itu sungguh jumlah yang sangat fantastis bagi Maemunah. Karena dia tidak terlalu lelah bekerja seperti saat mendatangi rumah tetangga perpintu. Itu sangat melelahkan dan per rumahnya hanya mendapat 50 ribu rupiah.
Maemunah sebenarnya juga pandai dan cermat dalam menghitung dan mengatur keuangan, belajar dari pengalaman hidupnya yang penuh perjuangan Maemunah jadi semakin cermat dalam berhitung.
Tiap bulan untuk menggaji ketiga karyawan 6 juta, untuk membayar air dan listrik, membeli sabun dan pewangi sekitar 4 juta, dan Maemunah bisa menyimpan pendapatan bersih sekitar 7 juta, karena yang 3 juta digunakannya untuknya belanja kebutuhan sehari-hari.
Bulan pertama dibukanya kios loundry sudah bisa menyimpan pendapatan bersih sebesar 7 juta, itu seperti mimpi bagi Maemunah. Tentu saja semua diceritakan secara mendetail pada Alma.
Alma mendengarkan sambil membantu memasukkan pakaian yang sudah selesai di setrika ke dalam plastik pembungkus.
" Al, aku mau pergi dulu, ada hal yang harus ku urus, kamu tetap disini bersama ibu ya, nanti kalau urusanku sudah selesai aku langsung kembali kesini".
" Bu, Akio titip Alma ya, ada yang harus Akio urus".
Akio berbicara pada Alma dan juga ibu mertuanya.
" Pergilah, sebentar lagi pasti Sean datang, jadi Alma bisa istirahat di rumah ditemani Sean", Maemunah menjawab tanpa menatap ke arah Akio karena tengah menimbang baju kotor yang baru saja sampai.
" Hati-hati ya, nggak usah ngebut-ngebut bawa motornya". Akio memang memakai motor Kawasaki ninja yang sudah lama tidak dipakainya.
Motor matic yang di berikan pada Alma di tinggal di rumah maemunah agar bisa digunakan untuk mengambil dan mengantar pakaian di loundry.
Akio pun pergi mengendarai motornya menuju taman hijau.
" Apa saat dirumah dia juga sering ninggalin kamu sendirian begini?".
" Kalau iya, nanti ibu bilang supaya kamu tinggal sama ibu saja disini".
Maemunah kini membawa pakaian kotor yang baru sampai ke ruang dimana mesin cuci berada.
Kios loundry memang dibuat menjadi dua ruang, yang di depan untuk menerima baju kotor dan menyimpan baju yang sudah bersih sebelum di ambil pemiliknya.
Dan ruang yang di belakang lebih luas, karena ada tiga mesin cuci dan pengering, juga tempat menyetrika di sebelahnya.
Tiiin....tiiiin.....
Terdengar suara klakson yang sengaja dibunyikan. Sean sudah datang.
" Ibu jangan bahas lagi tentang tinggal di rumah Akio. Yang ibu cemaskan itu nggak pernah terjadi, Alma nggak pernah sekalipun di tinggalkan sama Akio, dia selalu bersama Alma di rumah, kalau pergi juga kami pergi bersama, mungkin sekarang Akio sengaja pergi biar Alma leluasa ngobrol dan bercerita dengan Sean".
" Bu... Akio sangat perhatian dan pengertian pada Alma. Jadi ibu jangan pernah meragukan dia".
" Alma ke Sean dulu, Ibu jangan kecapekan ya", Alma beranjak dari duduknya dan menghampiri Sean yang berdiri di samping motor sambil membuka jaketnya.
" Tepat waktu banget, disuruh kesini jam 10, beneran jam 10 tepat nyampe sini". Alma mengejutkan Sean karena bicara dari arah belakang.
" Kami bikin kaget saja, eh.... dari kios loundry ya?, sebenarnya aku juga pengen si ikut nge-loundry, cuman sudah di setrika semu sama bibi di rumah".
" Hahaha.....hahahaha...."
Alma tertawa lepas mendengar perkataan Sean.
" Kamu tinggal sendiri hanya bertiga dengan bibi dan supir, tentu saja bibi kamu santai dan punya banyak waktu buat nyetrika baju kamu. Memang itu pekerjaannya di rumah kamu, kamu ini ada-ada saja ".
" Bukan karena kamu sahabat aku, terus kamu harus nyuci atau nyetrika baju disini !".
" Tapi kalau buat penglaris boleh juga sih, nggak ada salahnya, hahaha.... becanda See...".
Alma merangkul Sean mengajaknya ke kios loundry untuk bertemu dengan ibu terlebih dahulu.
***
" Bagaimana, apa sudah selesai melakukan pengecekannya?", Akio langsung menuju gudang dan menemui Steven yang masih sibuk mengecek mesin UFO.
" Benar katamu, pesawatmu lebih parah kerusakannya dibanding pesawatku".
" Atau sebaiknya kamu kembali ke Mesier menggunakan pesawatku saja, kita bisa berada dalam satu pesawat yang sama".
Steven mencoba membujuk Akio untuk ikut pulang bersama menggunakan pesawatnya.
Akio mendudukkan dirinya di kursi yang ada di pojokan gudang, menghadap laptopnya.
" Aku menghamili manusia Stev, dan dia gadis yang kau lihat sedang bersamaku kemarin".
" Aku tidak mengira, makhluk dari lain planet saat berhubungan bisa membuahkan benih"
" Aku tidak akan kembali ke Mesier selama gadis yang kucintai masih hidup. aku berjanji akan selalu bersamanya dan tidak akan meninggalkannya".
" Belum lagi kita harus mencari perhitungan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh ini".
" Tunggulah saat gerhana matahari total, itu akan melancarkan perjalanan kita karena sengatan panas matahari sedang melemah, karena terhalang bulan".
" Dan saat itu tiba masih beberapa puluh tahun lagi".
Steven menggelengkan kepalanya, " jadi berapa ratus tahun lagi kau akan tinggal di bumi?, apa kau yakin masih hidup dan bisa kembali ke planet Mesier saat itu?".
Akio meringis, karena lupa tidak memberi tahu Steven tentang satu hal penting.
" Manusia di bumi kebanyakan hanya sampai 70-80 tahun usianya, berbeda dengan kita yang sampai ratusan tahun".
" Proses penuaan di bumi juga lebih cepat, jadi di wajah sepertimu sekarang, kau seperti pemuda berusia 21 tahun".
" Usia untuk pemuda yang masih kuliah".
Steven begitu terkejut dan membulatkan matanya, " benarkah yang kau katakan ?", jadi berapa usia gadis yang kau hakiki?", tanya Steven penasaran.
" 16 tahun ", jawab Akio singkat. Steven langsung melotot lagi.
" Serius ?",Steven masih tidak percaya.
" Satpam yang kemarin menahanmu di depan Pos, mereka berusia sekitar 40 tahunan ", terang Akio kemudian.
" Jadi kau sudah lama melakukan penelitian disini?, apa udara, air dan tanah disini mengandung sesuatu yang membuat makhluk hidup yang tinggal menjadi cepat tua?", tanya Steven semakin penasaran.
" Bukan karena itu, manusia dan makhluk Mesier memang berbeda, saat aku baru jatuh di bumi, aku pun merasa aneh dengan penuaan manusia yang sangat cepat, namun memang seperti itu siklusnya".
" Dan ingat Steven, mulai sekarang simpanlah ini ". Akio menyerahkan dompet beserta isinya, ada uang, kartu identitas, SIM dan juga ATM.
" kartu identitasmu ada di dalam, ingat baik-baik, kau baru berusia 21 tahun, dan jangan terlalu dekat dengan manusia, karena itu hanya akan membuatmu kerepotan, mengerti?".
Steven tentu saja bisa mengerti, dia termasuk makhluk yang jenius seperti Akio. Di usianya yang sudah 500 tahun, dia kembali menjadi 21 tahun, menyesuaikan manusia di bumi.