
Esok harinya Alma dan Akio berpamitan kepada Steven dan kawan-kawan, Alma dan Akio terpaksa merubah rencana liburan panjang mereka dan memilih untuk pulang ke rumah.
Bayangan liburan yang nyaman dan tentram di vila mendadak kacau karena kedatangan tamu tak terduga. Mungkin jika mereka hanya tinggal saja seperti manusia pada umumnya, Alma bisa tetap tinggal dan melanjutkan rencana liburan yang sudah disusunnya sedemikian rupa.
Sayangnya mereka yang tinggal bersama di vila adalah makhluk-makhluk spesial, yang mempunyai kemampuan sama seperti Akio. Satu Akio saja bagi Alma sudah cukup membuatnya merasa tidak punya privasi. Apalagi ditambah enam makhluk yang sama seperti Akio, semakin membuat Alma tidak nyaman.
" Kami pergi dulu, jika butuh apa-apa bilang saja pada bibi, mereka bisa membantu kalian".
" Tapi jangan semaunya juga, karena manusia tidak sekuat makhluk Mesier".
" Jika ada yang perlu disampaikan hubungi saja aku, di daftar telepon ada nomorku, ada di urutan pertama".
Akio berpamitan pada Steven dan lima makhluk Mesier lainnya. Semalam mereka mengobrol dan saling bercerita tentang keadaan di planet Mesier saat terjadi hujan meteor.
Tentu saja Akio yang sangat penasaran sampai pagi bersedia mendengarkan cerita mereka secara bergantian. Yang jelas gambaran kejadian itu sangat mengerikan. Dan bisa dibayangkan begitu banyak yang mati dan hangus terbakar.
Saat naik ke mobil Akio sudah terlihat mengantuk, namun masih bisa di tahannya, hingga mereka naik helikopter, Akio sudah tidak tahan lagi ingin memejamkan matanya, suasana saat itu begitu mendukung, selain semalam belum tidur, semilir angin saat berada di ketinggian membuat mata seolah seperti sedang ditiup-tiup angin, memaksa mata untuk terpejam, dan akhirnya Akio tidur sepanjang perjalanan udara.
Alma yang semalam memilih tetap berada di kamar kini dalam keadaan yang sebaliknya dengan Akio, matanya terbuka lebar, sama sekali tidak merasa mengantuk, karena semalam begitu nyenyak tidur, tanpa gangguan dari Akio, Alma memilih menikmati pemandangan daratan dari ketinggian saat ini. Semua terlihat kecil dan samar.
Selama dua jam lebih mereka menaiki helikopter, hingga mereka sampai di rumah Akio. Para pembantu yang tidak tahu bahwa majikan mereka akan kembali lebih awal merasa panik karena belum menyiapkan makanan, ataupun merapikan rumah.
Para pembantu memang merasa merdeka dan sangat santai saat Alma dan Akio tidak berada di umah, mereka bisa bersantai sejenak. Namun siapa sangka justru mereka pulang liburan lebih awal. Rencana menghabiskan dua minggu di vila, hanya terealisasi dua hari saja.
Semua menjadi panik dan berlarian melakukan pekerjaan masing-masing, ketika helikopter yang Akio dan Alma tumpangi mendarat di roof top rumah Akio.
Akio terbangun karena Alma menggoyang-goyang tubuhnya.
" Sudah sampai di rumah, kita turun ayo".
Akio perlahan membuka mata dan menatap ke sekitar, dan ternyata benar, helikopter sudah mendarat di atap rumahnya. Itu berarti dirinya tidur selama dua jam begitu nyenyak, sampai tidak sadar saat ini mereka sudah sampai.
Alma dan Akio turun dari helikopter, dan berjalan memasuki lift rumah, Alma memencet tombol panah bawah, dan lift pun turun menuju lantai dasar.
Akio dan Alma keluar dari lift rumah, di sambut beberapa pembantu, yang sudah selesai merapikan kamar mereka.
Alma bisa melihat raut penasaran para pembantu melihat kepulangan mereka yang lebih awal, bahkan sangat awal. Namun tidak mungkin juga Alma menceritakan bahwa di vila ada tamu dari planet Mesier. Tentu itu bukan hal yang harus diceritakan oleh Alma kepada siapapun.
" Langsung ke kamar saja, aku ingin rebahan di kamar, rasanya capek duduk di helikopter selama 2 jam", ucap Alma sambil berjalan ke kamarnya.
Sebenarnya Akio sudah tidak lagi merasa ngantuk, tapi memang dia juga merasa lelah dan ingin merebahkan diri di kasur. Duduk di helikopter dengan durasi cukup lama memang membuat tulang punggung merasa tidak nyaman.
Bara juga sempat menginap di rumah Akio semalam, namun esoknya minta pulang karena merasa tidak nyaman tidur sendiri tanpa ibunya. Maemunah tengah sibuk dengan bisnis barunya, ternyata selain kios loundry, Maemunah juga sedang merintis kios isi ulang galon air minum.
Dari sekian peristiwa yang terjadi, yang paling mengejutkan adalah saat para makhluk Mesier tiba-tiba datang ke rumah Akio, tentu saja Steven yang membawa mereka semua ke sana. Selain Alma, ternyata Akio juga mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan sesama makhluk Mesier yang cukup banyak dalam lingkungannya.
Akio khawatir jika kehadiran mereka justru akan memperumit keadaan. Karena bisa saja sewaktu-waktu mereka akan lepas kontrol, dan menampakkan wujud asli mereka di depan umum.
Dengan sangat hati-hati Akio mencoba memperingati mereka agar tidak berkeliaran terlalu bebas, namun seperti dugaannya, ada salah satu dari mereka berlima yang tidak bisa di beri peringatan.
Dan mereka berkeliaran sesuka hati. Seandainya mereka tidak bertemu sejak awal, mungkin Akio tidak akan merasa resah seperti saat ini, namun sayangnya mereka sudah saling mengenal, dan tahu jika Akio sama seperti mereka, mungkin kedepannya Akio bisa mendapatkan masalah yang di timbulkan oleh mereka.
Hingga masa liburan usai, Akio dan Alma kembali berangkat ke sekolah. Mereka tidak jadi liburan kemanapun, selama dua Minggu berada di rumah saja.
Dan saat berangkat sekolah, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, ternyata Sean benar-benar pindah sekolah ke Pelita Jaya. Itu membuat Akio semakin tidak nyaman. Masih sedikit beruntung karena Sean menempati kelas yang berbeda.
***
Akio POV
Entah apa yang sedang terjadi di sekitarku, semuanya berjalan tidak sesuai dengan keinginan. Kawan-kawan dari planet Mesier yang tiba-tiba muncul, membuat liburan panjang yang sudah aku bayangkan begitu membahagiakan seketika rusak dan kacau karena Alma merasa tidak nyaman tinggal bersama dengan mereka.
Bahkan setelah aku kembai ke rumah, beberapa hari kemudian mereka bisa menyusul ke rumahku, dan saat aku memberi tahu pada mereka untuk waspada dan berhati-hati, salah satu dari mereka justru mengatakan bahwa aku menyebalkan.
Mereka mengatakan jika aku tidak fair, mereka juga ingin menikah seperti halnya aku menikahi Alma manusia dari bumi. Tapi justru aku melarang mereka untuk berkeliaran, karena itu bisa membahayakan keselamatan mereka sendiri, jika sampai ada yang curiga dan mengetahui bahwa kami bukan manusia, mungkin akan ada yang melaporkan kami ke pihak berwajib, entah itu polisi luar angkasa, atau mungkin FBI dan sejenisnya.
Aku tidak mau mereka merusak rahasia yang selama ini sudah aku tutup dengan sangat hati-hati, aku tidak ingin mereka menjadi penyebab aku terkena masalah kedepannya. Itu saja, namun mereka semua salah mengerti dengan maksud ucapanku.
Dan satu hal lagi yang membuat aku tidak nyaman, sahabat Alma yang bernama Sean, dia benar-benar pindah ke sekolah yang sama dengan kami. Aku melihatnya di depan pintu gerbang sekolah saat mobil yang membawaku dan Alma sampai di depan gerbang.
Dia melambaikan tangan dan memeluk Alma, tentu saja, mereka berdua kan bersahabat. Dan itu membuat Sean seketika langsung dikenal oleh banyak siswa-siswi Pelita Jaya. Terutama kami yang kelas 11.
Ya... sekarang kami kelas 11, ada banyak murid baru dan wajah baru yang tidak aku kenal. Bahkan yang seangkatan denganku saja banyak yang tidak aku kenal, ditambah lagi hari ini murid baru adik kelasku mulai berangkat sekolah.
Tidak ada minat untuk mengenal mereka lebih jauh, meski banyak dari adik kelas perempuan yang meminta berkenalan denganku.
Aku terpaksa harus berjalan cepat, agar mereka para adik kelas baru yang cukup pemberani dan tidak tahu malu itu tidak terus menerus mengikuti ku.
Ini semua terjadi gara-gara Alma jalan lebih dulu bersama Sean, dan meninggalkan aku yang berjalan sendirian menuju kelas. Entah permainan apa yang sedang dilakukan oleh para anggota OSIS yang menyuruh para murid baru meminta tanda tangan kakak kelasnya. Itu sungguh membuat aku terpaksa berlari sampai di kelas. Untung saja kelas 11 berada di lantai dasar, tidak seperti saat kelas 10 berada di lantai dua, jadi tidak perlu berlari sambil menaiki tangga, hanya perlu berlari saja, dan masuk ke dalam kelas.
Dan satu hal yang membuat aku semakin merasa kesal. Siswa yang bernama Bagas, yang dulu sempat mendekati Alma, ternyata tahun ini dia sekelas dengan kami. Sungguh Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padaku.