My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 30 : Gara-Gara Kamu !



Malam yang cerah, di sebuah kafe out door, dengan banyak pohon yang di hias dengan lampu tumblr berwarna kuning keemasan, Akio memesan meja dengan enam kursi, berada tepat di samping kolam buatan yang di isi dengan ikan koi berwarna-warni. Menjadi tempat yang sangat strategis bagi Bara, karena sambil menunggu pesanan makan malam mereka, dia bisa mengamati pergerakan ikan di dalam kolam.


Alma, Maemunah, Bara, Sean, dan Pak supir ikut di ajak makan malam bersama. Mungkin ini adalah moment yang langka bagi keluarga Alma, karena ini kali pertama mereka makan malam di luar bersama. Sebelumnya jika ada rejeki lebih, membeli sate di tukang sate keliling saja sudah sangat 'wah' bagi mereka.


" Apa kau menyukai ikan?", Akio sengaja mendekat ke Bara, karena Alma masih sibuk ngobrol, dan menjawab pertanyaannya ibunya dan Sean.


" Ya, aku suka. Apa kakak tahu apa yang lebih membuat aku suka melihat kolam?, bukan pada ikannya Kak, melainkan kehidupan mereka yang meski berbeda-beda jenis, tapi bisa hidup dalam kolam yang sama".


Akio terkekeh mendengar alasan Bara menyukai kolam.


" Itu karena tidak ada ikan jenis predator yang ada di kolam ini, jika ada, sudah pasti ikan-ikan kecil itu akan menjadi makanan ikan predator", Bara mendengarkan penjelasan Akio, dan wajahnya tampak bingung.


" Maksud kakak, di kolam ini semuanya adalah ikan kecil dan memakan plankton. Jika dikolam ini diberi satu saja ikan predator, yaitu jenis ikan yang memakan ikan yang lebih kecil. Pasti semua ikan kecil itu akan dimakan oleh ikan predator", Akio berusaha menjelaskan, meski nampaknya Bara masih belum paham dengan penjelasannya.


" Tunggu kau lebih besar sedikit lagi, maka kau akan mengerti dengan penjelasan kakak". Akio kembali ke kursinya karena pelayan sudah menyajikan berbagai makanan pesanan mereka di atas meja.


" Makan dulu de... makanannya sudah siap ini!", Alma memanggil Bara agar kembali ke tempat duduknya.


Bara berjalan dengan langkah seribu, dan kini sudah kembali dikursinya. Merekapun makan malam bersama dengan khidmat, Bara yang biasanya paling rame dan usil, menjadi diam saat menikmati hidangan lezat di hadapannya. Tidak mengeluarkan ocehan anak-anak yang biasa dilakukannya.


Hanya fokus pada piring, sendok dan garpunya.


Alma merasa bahagia dan bersyukur karena wajah Bara dan ibunya terlihat begitu bahagia dan menikmati hidangan-hidangan yang ada di meja.


Usai makan malam, Akio sengaja mengajak Maemunah ngobrol santai, membahas tawarannya tadi sore. Akio tahu jika Maemunah sudah membicarakan rencana itu dengan Alma tadi.


" Setelah ibu pikir-pikir ide nak Akio untuk membuka laundry memang sangat bagus".


" Di daerah kami belum ada tempat laundry, ibu juga bisa menawarkan pada para langganan yang biasa meminta jasa cuci setrika pada ibu untuk mencuci di tempat loundry kita", Maemunah sudah berpikir untuk kedepannya.


Akio tersenyum melihat semangat dan optimisme ibu mertuanya. Sebenarnya Akio merasa kasihan pada Maemunah yang harus datang ke rumah-rumah tetangga dan membersihkan pakaian mereka. Meski itu adalah pekerjaan yang menawarkan jasa, bagi Akio pekerjaan Maemunah sangat kasar dan melelahkan. Itu sama dengan pekerjaan pembantunya di rumah. Sangat melelahkan, dengan upah yang sedikit.


Sebenarnya bisa saja Akio melarang ibu mertuanya untuk bekerja kasar seperti itu, karena biaya hidup mereka sangat sedikit. Akio bisa memberi cuma-cuma biaya hidup mereka sampai tujuh turunan. Tapi Akio tahu, Maemunah dan Alma pasti akan menolaknya.


Hanya dengan menawarkan bantuan modal membuka usaha laundry, setidaknya bisa membuat ibu mertuanya tidak akan terlihat kasihan karena harus bekerja di rumah-rumah tetangga lagi, bahkan Akio akan merekrut beberapa orang untuk membantu Maemunah nanti.


" Besok siang akan ada orang saya yang datang ke rumah ibu, untuk membahas lebih lanjut tentang rencana pembukaan loundry baju".


" Lebih cepat dibuka akan lebih baik, biar ibu tidak terus kecapekan harus datang ke rumah-rumah tetangga".


Maemunah begitu bersyukur dan terharu karena putrinya mendapatkan seorang pendamping hidup yang sangat baik, pengertian dan tulus.


Sepulang dari restoran Sean langsung pamit pulang ke rumahnya karena malam sudah cukup larut. Begitu juga dengan Akio yang minta ijin untuk pulang ke rumahnya.


" Bu... saya pamit pulang dulu.....",


" .... dan bolehkah saya membawa Alma bersama saya?", batin Akio, ingin meminta ijin membawa Alma, namun tidak mampu di ucapkannya. Hanya wajahnya saja menunjukkan ekspresi memelas pada Maemunah.


" Hati-hati di jalan, istirahat yang nyaman, semoga besok pagi bangun dalam keadaan sehat dan bugar". Maemunah sebenarnya tahu dan mengerti dengan ekspresi memelas yang ditunjukkan Akio, tapi Maemunah pura-pura tidak tahu. Dia juga merindukan Alma setelah tidak bersamanya selama seminggu.


Akiop pun pulang ke rumahnya dengan wajah lesu.


***


Esok harinya Alma berangkat ke sekolah agak kesiangan. Seperti biasa Senin pagi adalah waktunya mengikuti upacara bendera, jadi Alma mengemudikan motornya dengan sedikit ngebut, agar tidak terlambat.


Benar saja, dia sampai di sekolahan bersamaan dengan Akio, itu berarti dia sudah sangat kesiangan.


Ini semua gara-gara Akio yang terus mengajaknya mengobrol, melakukan video call semalaman, hingga jam 2 pagi, Alma baru bisa tidur, setelah Akio tertidur di depan ponselnya yang masih menyala.


Alhasil dia bangun kesiangan, dan harus ngebut agar tidak telat sampai di sekolahan.


Alma memarkirkan motornya dan berlari mengejar Akio yang sedang berjalan dengan langkah panjangnya memasuki area lapangan. Terlihat semua guru dan murid sudah berada di lapangan tengah bersiap-siap mengikuti upacara bendera.


Alma dan Akio meletakkan tas mereka di belakang barisan dan mereka berdua masuk ke dalam barisan kelasnya, saat teman-teman sekelasnya tahu kedatangan mereka berdua, suasana menjadi sedikit gaduh karena saling berebut memberi ucapan selamat.


Namun tidak terlalu lama karena upacara bendera akan dimulai dan suara pembawa acara mulai terdengar dari pengeras suara.


Hari ini semua petugas upacara berasal dari kepengurusan OSIS, tidak seperti minggu-minggu biasanya yang memberi giliran pada tiap kelas untuk menjadi petugas upacara.


Yah benar, hari ini spesial karena di tengah amanat dari kepala sekolah yang menjadi pembina upacara pagi itu, beliau memanggil siswa dan siswi terbaik SMA Pelita Jaya, siapa lagi jika bukan Akio dan Alma yang kemudian namanya dipanggil untuk maju ke tengah lapangan.


Mereka berdua mendapatkan tepuk tangan meriah dari seluruh warga sekolah. Ekspresi Akio yang tetap datar, dan wajah Alma yang justru seperti tidak nyaman membuat pak kepala sekolah heran dengan ekspresi kedua murid kebanggaan nya. Namun tidak diungkapkan, dan justru kembali melanjutkan amanatnya.


" Bapak berharap kalian semua bisa mencontoh kedua teman kalian yang ada di depan ini, mereka turut berpartisipasi dan berjuang untuk mengharumkan nama sekolah....".


Pak Bayu sebagai pembimbing mereka maju dengan membawa nampan berisi dua replika piala yang berhasil di raih oleh Akio dan Alma. Karena piala yang asli di simpan di sekolahan.


Acara serah terima piala dilakukan oleh bapak kepala sekolah, beliau juga menyampaikan pesan dari Pak Bupati yang mengundang secara khusus kedua murid berprestasi ke rumah dinasnya.


Benar-benar suatu kehormatan bagi Akio dan Alma, mereka berdua menjadi trending topik di SMA Pelita Jaya, bahkan sampai di bahas di sekolah-sekolah yang lain.


Usai upacara, Alma dan Akio terlebih dahulu di panggil ke ruang kepala sekolah. Karena kepala sekolah harus menyampaikan pesan bupati secara mendetail.


Tas Alma dan Akio di bawa masuk ke kelas oleh Feni, sahabat Alma di sekolah, meski belum terlalu dekat seperti Sean, tapi Alma sudah menganggap Feni sahabat yang baik.


Di ruang kepala sekolah.


" Apa kamu sakit Al?, bapak perhatikan di lapangan tadi, kamu seperti sedang tidak fit?", tanya kepsek.


" Saya baik-baik saja Pak, bapak memanggil apa adan yang mau di sampaikan?", Alma sebenarnya masih merasa kurang nyaman, tapi berusaha di tutupinya.


" Nanti pulang sekolah, kalian berdua langsung ke ruang ini lagi, kita berangkat ke rumah dinas Bupati bersama pak Bayu, karena beliau pembina kalian sebelumnya....".


Setelah mendengarkan penjelasan pak kepsek yang lumayan panjang dan cukup lama, Akio dan Alma pun menuju kelas mereka.


" Kau bangun kesiangan, sampai di sekolah bareng denganku?, memang benar kata pak kepsek, kamu seperti tidak sehat".


" Atau kamu mulai menerapkan caraku datang pas bel masuk, biar nggak ribet urusin PR anak-anak lain?". Akio teringat sarannya pada Alma beberapa minggu yang lalu saat Alma memberi contekan pada teman-temannya.


" Kau ini, bisa-bisanya tidak merasa bersalah".


" Ini semua gara-gara kamu !, karena kamu ngajak ngobrol sampai pagi, semalam aku hanya tidur 4 jam".


" Aku bangun jam 6 lewat, dan ibu mengira aku sudah terbangun sejak pagi, karena aku memutar lagu di ponselku".


Alma mendekat ke telinga Akio dan berbisik.


" Asal kamu tahu, aku bahkan tidak sempat mandi, karena takut terlambat".


" Dan aku sangat tidak percaya diri tadi dipanggil ke tengah lapangan, tadi pagi aku hanya cuci muka dan gosok gigi, aku juga belum sempat sarapan".


" Karena itulah aku merasa kurang nyaman", Alma berjalan dengan lesu.


" Jadi itu alasannya, tapi nggak kelihatan kalau kamu belum mandi kok, kamu masih tetap cantik, wangi, dan menggemaskan", Alma hanya menyun, karena masih pagi, tapi Akio sudah memberi gombalan garing padanya.


Saat masuk ke dalam kelas, Alma yang berjalan berdampingan dengan Akio langsung terkejut saat mendapat sambutan dari teman-teman sekelasnya. Alma dan Akio mendapatkan kejutan yang tidak pernah Alma bayangkan. Dan yang membuat Alma berbinar ketika Feni membawa satu box brownis kukus yang sengaja di berikan oleh pak Bayu untuk anak-anak satu kelas, sebagai perwujudan rasa syukur dan bahagianya.


Alma yang belum sempat sarapan langsung mencomot sepotong brownies kukus yang sangat lembut. " Pak Bayu is the best", gumam Alma sambil terkekeh.


" Makasih buat kalian berdua, yang sudah membuat kelas ini jadi kelas terbaik ", Ronal sebagai ketua kelas memang merasa beruntung karena dua anak jenius berada dikelas yang sama dengannya.


Bahkan sudah beberapa kali Ronal meminjam PR Alma untuk di contek. Namun setiap kali Ronal ingin membalas budi dengan mengajak Alma makan bareng, selalu Alma tolak.


" Jika kalian butuh sesuatu, kalian bisa ngomong sama aku...", Ronal masih terus bicara, namun Akio sangat malas mendengarkan ocehannya, dan berlalu menuju tempat duduknya.


Ronal tidak kaget, karena begitulah sikap Akio selama ini. Tidak sopan, arogan, sombong dan dingin. Awalnya semua anak dikelas itu merasa tidak nyaman dengan kepribadian Akio. Namun setelah Akio menjadi juara, ada beberapa anak yang memaklumi kesombongannya, Akio tampan, kaya, jenius, dan dia tidak butuh siapapun untuk menjadi temannya. Ibaratnya dia mampu untuk hidup sendirian.


Namun kini Akio terlihat sering bersama Alma, tidak ada yang menaruh curiga jika mereka berdua ternyata sudah menikah, karena dari penilaian anak-anak yang mengetahui jika mereka berdua sering bersama, itu semua karena tuntutan keadaan yang menjadikan mereka berdua peserta olimpiade sains.


Bukan hal yang aneh jika mereka menjadi dekat, karena sering mengikuti kegiatan bersama-sama. Jadi tidak pernah ada kecurigaan dipikiran semua orang.


_


_


_


Apa ada yang seperti Alma?, bangun kesiangan, langsung berangkat sekolah dan nggak sempet mandi ?


😅😅😅