
Di jalan menuju ke rumah Akio, Alma tersenyum-senyum sendiri, entah mengapa Alma merasa dalam hatinya ada sesuatu beban berat yang lepas.
Mungkin karena hatinya sudah terbuka dan bisa memahami keadaan Ibunya. Selama ini Alma hanya fokus pada masa lalunya bersama sang ayah. Alma takut kenangan bahagia bersama ayahnya akan terkubur dan menghilang jika Ibunya menikah lagi. Namun kini pikirannya sudah terbuka setelah mendengar percakapan Bara dan Akio. Alma justru merasa kasihan pada ibunya, ternyata selama ini dirinya begitu egois dan tidak memikirkan kebahagiaan dan kebutuhan ibunya.
" Ada apa?, kenapa kamu tersenyum seperti itu sayang?", ternyata sejak tadi Akio memperhatikan Alma.
Alma hanya menggeleng . " Kamu sudah tahu kan apa yang sedang aku pikirkan?, nggak perlu pura-pura nggak tahu, kamu boleh tanya begitu kalau sama orang lain", singgung Alma.
" Kalau kamu sendiri mengapa seperti tidak bersemangat begitu?, ekspresi wajahmu murung dan terlihat bersedih. Apa yang membuatmu merasa bersedih?", tanya Alma.
Alma dan Akio turun dari mobil sambil terus melanjutkan obrolan mereka.
" Kamu pasti tahu apa yang membuatku tidak bersemangat, alasannya karena aku hanya bisa menatapmu, padahal aku sangat menginginkanmu. Kita selalu bersama-sama, tapi....... ", Akio tidak melanjutkan kalimatnya. Membuka pintu kamar, membiarkan Alma masuk terlebih dahulu, baru dirinya ikut masuk dan menutup pintu kamar.
" Aku merindukan kehangatan tubuhmu Al.....".
Tatapan Akio kali ini sudah seperti elang yang sedang mencari mangsa.
" Wah... saat berada pada keadaan tak menyenangkan seperti ini, mengapa hari-hari berlalu menjadi begitu pelan, waktu 40 hari rasanya lebih lama dari setahun", sambil cengengesan, Alma justru menambah-nambahi rasa kesal Akio.
Dan saat berada di dalam kamar mereka, tiba-tiba Alma memeluk Akio dan mengecup bibirnya kuat. Namun setelah itu melepaskan Akio, karena dirinya hendak berganti pakaian.
" Kau ini bukannya meredam emosi ku, tapi justru menambah-nambahi".
Akio yang selalu saja merasa terpancing dan juniornya begitu mudah bangun jika mendapatkan kontak fisik dengan Alma langsung melucuti pakaiannya sendiri, kemudian menarik tubuh Alma yang sedang melepas pakaian, Akio mendorongnya hingga Alma jatuh terlentang diatas kasur.
" Kau mau apa?, ini tidak benar Akio, kau belum boleh melakukan penyatuan denganku!", Alma berteriak karena takut Akio khilaf.
" Aku hanya akan menyentuhmu, tanpa melakukan penyatuan, meski sedikit menyedihkan dan menjengkelkan, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali". Akio menindih tubuh Alma, melakukan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Alma meliak-liuk diatas kasur.
Dengan membaca pikirannya, Akio tahu, jika Alma sebenarnya juga ingin terus di sentuh olehnya, bahkan menginginkan penyatuan juga, namun Alma masih bisa menahan gejolak yang muncul di pikirannya, dan sebisa mungkin menjaga pertahanan gawang miliknya demi keselamatan dirinya sendiri.
" Emph.... lakukan apapun yang ingin kau lakukan, yang penting yang satu itu jangan sampai di pakai dulu A..." , Alma menarik nafasnya yang sudah mulai tidak teratur, tubuhnya pun mulai bergetar karena sentuhan-sentuhan lembut jemari Akio.
" Baiklah, kita main aman. Aku juga tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang".
Siang ini pun mereka berdua melakukan kegiatan panas di atas ranjang, tapi tanpa penyatuan. Hingga mereka sama-sama merasa lelah dan akhirnya tertidur bersama.
***
Menjalani rutinitas yang cukup padat dengan mengikuti tambahan jam belajar yang diikuti oleh Alma dan Akio sebagai calon peserta olimpiade membuat waktu bersantai mereka semakin sedikit.
Apalagi seminggu lagi mereka harus kembali berangkat ke Jakarta untuk berkumpul dan belajar intens dengan para calon peserta lainnya. Mengikuti masa karantina sebagai persiapan sebelum keberangkatan ke Almaty.
" Hari ini sebaiknya kita ke dokter terlebih dahulu. Agar saat besok ke Jakarta kita sudah tahu bagaimana perkembangan kesehatanmu", Akio dan Alma berjalan keluar dari ruang kepala sekolah, mereka memang disuruh untuk menghadap Pak Kepala sekolah untuk membahas acara pengantaran mereka dari pendopo kabupaten dua hari lagi
Seperti sebelumnya Pak Bupati yang akan melepas kepergian Alma dan Akio dengan dikawal beberapa polisi dan satpol PP menuju Jakarta.
Kali ini Maemunah tidak mendapatkan undangan, karena acara besok hanya dua peserta yang di antar. Dan acara tidak terlalu resmi seperti sebelumnya.
Dokter Agus, adalah dokter kandungan yang menangani Alma saat kuret sebulan yang lalu. Dan Akio memilih untuk terus memeriksakan Alma kepadanya, agar tidak semakin banyak yang tahu keadaan Alma yang sesungguhnya.
" Bagaimana keadaan Alma Dok?", tanya Akio saat Dokter Agus selesai melakukan pemeriksaan.
Hasil dari USG dan juga hasil cek laboratorium menunjukkan kalau Alma sudah baik-baik saja. Keadaan tubuhnya sudah kembali fit dan rahimnya sudah kembali normal", terang Pak Dokter.
" Jadi jika setelah ini kami melakukan perjalanan jauh, sudah diperbolehkan kan Dok?" Akio kembali bertanya.
" Tentu saja boleh, bahkan jika kalian ingin berhubungan badan juga sudah diperbolehkan, saya tahu bagaimana Mas Akio menahannya selama ini".
" Dekat dengan istri tapi tidak bisa menjangkaunya, karena saya juga pernah merasakan hal yang sama, saat istri saya dulu keguguran. Pengantin baru lagi semangat-semangatnya, sangat bahagia saat mengetahui istri hamil, namun kandungan istri yang lemah membuatnya keguguran, dan kehilangan anak pertama kami saat usianya baru 2 bulan di kandungan ", ujar Dokter Agus sambil mengingat kenangan menyedihkan dalam hidupnya.
Alma yang mendengarnya menundukkan kepalanya, turut prihatin dengan kejadian yang sudah dialami dokter Agus dan istrinya dulu.
Percakapan yang dilakukan Akio dan Dokter Agus harus disudahi, mereka berdua memang terlihat nyambung dan cocok setiap membahas tentang Alma. Dan dokter Agus juga ingin tahu lebih dekat tentang Akio dan juga Alma. Namun masih banyak pasien lain yang mengantri diluar.
" Sayang sekali waktu kita tidak banyak, nggak enak dengan pasien yang lain Dok, mereka sudah mengantri cukup lama, kalau begitu saya pamit mohon diri, terimakasih banyak Dok". Akio keluar dari klinik kandungan bersama dengan Alma, mereka berdua sengaja lewat pintu belakang agar tidak ada yang melihat mereka berdua keluar dari klinik itu.
Dokter Agus memaklumi apa yang mereka berdua lakukan, karena ternyata masa lalu mereka dan dirinya hampir sama. Menikah di usia muda. Hanya saja saat dulu istirnya keguguran dan sudah diperbolehkan pulang, ternyata dua bulan kemudian sang istri harus menyusul anak mereka, sungguh masa lalu yang sangat kelam.
Membuat Agus muda yang awalnya ingin menjadi seorang guru, merubah keinginan untuk menjadi seorang dokter kandungan. Dan disinilah sekarang dirinya berada, menjadi seorang dokter spesialis kandungan, sesuai keinginannya. Untuk membantu ibu-ibu yang hendak melahirkan, ataupun habis keguguran.
_
_
" Loh kalian berdua ngapain disini?", Feni menyapa Alma dan Akio.
" Alma harus check up, hari ini jadwalnya kontrol", jawab Akio singkat.
" Dan alhamdulilah keadaanku sudah baik-baik saja".
" Kamu ngapain ke rumah sakit?" , tanya Alma pada Feni.
" Dasar Akio, lengket banget sama Alma, nggak di sekolah, nggak di rumah, nempeeell terus ke Alma kayak perangko", batin Feni, dan Akio bisa mendengarnya, namun pura-pura tidak tahu.
" Aku ke mobil dulu ", Akio meninggalkan Alma memberinya kesempatan untuk ngobrol berdua dengan Feni.
Feni mengajaknya duduk di kursi yang berada tak jauh dari posisi mereka.
" Aku tadi nganter ibuku jengukin tetangga, tapi ketemu sama tetangga yang lain didalam kamar, dan lagi pada asyik ngegosip. Makanya aku keluar dan cari udara segar".
" Kalian sudah mau balik?", tanya Feni.
Alma mengangguk, " kami belum makan siang, jadi aku duluan ya Fen". Alma beranjak dari duduknya melambaikan tangannya dan pergi berjalan menuju mobil Akio
Feni menatap kepergian Alma dengan intens. " Seandainya otakku se-jenius kamu Al, pasti Akio nggak akan dingin padaku, dan akan menganggap keberadaan ku, bahkan untuk mengobrol denganku saja dia malas, dan lebih memilih pergi ke mobilnya", batin Feni.