
Akio POV
Hari ini beberapa kejadian mengejutkan terjadi. Yang pertama di sekolah ada beberapa murid wanita yang mendekatiku karena mereka tahu jika Alma pacarku sedang tidak ada disekolah.
Alma sedang mengikuti lomba cerdas cermat bersama empat temannya yang lain, dan kali ini aku tidak diikut sertakan dalam perlombaan itu. It's ok, tidak masalah jika Alma harus pergi tanpaku, aku sudah sangat percaya kepadanya. Cintanya, jiwa raganya hanyalah untukku.
Beberapa gadis yang diam-diam mengagumiku itu ada yang sengaja memberikan coklat, ada juga yang memberi minuman isotonik, cemilan, juga ada yang memberikan parfum. Sebenarnya semua tidak ada yang aku terima, namun mereka memaksa, akhirnya hanya ku taruh di dalam laci mejaku.
Saat ini laci mejaku penuh dengan makanan dan minuman, mirip seperti kulkas mini. Dan saat gadis-gadis itu pergi dari mejaku, aku berikan semua jajan dan minuman yang ada di laci pada Riki, si gembul yang duduk di depan mejaku. Riki nampak begitu bahagia mendapatkan makanan dan minuman gratis, bahkan parfum gratis.
Kejutan yang kedua aku mendapatkan telepon dari Steven saat jam istirahat pertama, dia mengabariku jika dia dan kawan-kawannya kabur dari sel tahanan. Aku sangat terkejut saat mendengar kabar itu. Namun mau bagaimana lagi, Steven sudah pergi dan sekarang menuju vila milikku.
Awalnya Steven dan yang lain hendak ke rumahku, namun tentu saja pihak polisi pasti akan mencari mereka ke rumahku. Karena akulah yang menjamin mereka. Sehingga Steven merubah rencana dan pergi ke vila di pulau pribadiku. Tentu saja aku harus menyuruh orang suruhan ku untuk mengantarkan mereka semua.
Aku tahu yang kulakukan salah, hanya saja aku merasa mereka memang perlu diasingkan di pulau itu. Bukan hukuman di penjara yang sempit dan gelap. Ku sampaikan pesan pada Steven dan yang lain agar tidak pergi kemana-mana setidaknya dalam batas waktu setahun ini.
Mereka setuju dan langsung melakukan perjalanan ke pulau pribadiku. Selanjutnya aku hanya perlu bersikap tenang dan biasa-biasa saja, agar tidak membuat curiga siapapun.
Aku tidak menduga jika itu adalah obrolan terakhir kami. Seandainya saja aku tahu apa yang akan terjadi, mungkin aku tidak akan menyuruh mereka menaiki helikopter dan pergi ke pulau pribadiku.
_
_
Saat aku hendak pulang sekolah kulihat Alma tengah mengobrol dengan Pak Bayu. Ku lambaikan tangan agar dia melihatku. Benar saja Alma langsung menghampiri ku, kami pulang bersama.
Sampai di rumah sudah ada polisi yang berdiri didepan rumah kami. Sesuai dugaan ku, mereka pasti akan datang ke rumahku. Aku melihat ekspresi Alma yang terkejut melihat kehadiran polisi-polisi itu.
Setelah ngobrol beberapa saat, para polisi pamit untuk kembali ke kantor mereka. Aku dan Alma pun masuk ke dalam rumah.
" Tuan, Nona, kami sudah siapkan makan siang di meja makan", si Bibi langsung menyambut kedatangan kami.
Aku dan Alma hanya mengangguk, namun langkah kami masih berjalan menuju kamar. Setelah berganti pakaian, baru kami berdua keluar untuk makan siang. Aku melihat Alma yang hanya mengambil sedikit sekali makanan. Mungkin dia sudah makan siang di luar bersama teman-temannya tadi.
Usai makan aku sengaja mengajak Alma bersantai di taman samping, sambil menatap kolam renang yang penuh air dingin yang membuat pikiran juga merasa adem dan tenang.
" Teman-teman kamu, kok bisa sih malah kabur dari penjara begitu?, justru itu kan akan mempersulit mereka kedepannya". Alma mulai membahas tentang Steven dan yang lain.
" Tidak perlu dipikirkan, mereka belum ada yang mempunyai kartu tanda penduduk, dan mungkin mereka belum mempunyai foto juga", jawabku santai.
" Tapi jika polisi melakukan pencarian pasti akan membuat sketsa wajah mereka, dan itu akan membuat wajah mereka diketahui publik, mereka akan mudah ditemukan", ucapan Alma ada benarnya, namun aku tidak panik sedikitpun. Siapa yang akan menemukan mereka jika mereka berada di pulau pribadiku.
Namun berita mengejutkan datang tiba-tiba, salah satu orang kepercayaanku menghubungiku dan mengatakan jika Steven dan yang lain belum juga sampai di vila. Dia juga mengatakan terjadi letusan helikopter di sekitar selat Madura. Dan benar saja ada kemungkinan itu helikopter milikku.
Aku mencoba menghubungi pilot yang membawa helikopter itu, dan hasilnya memang masih berada diluar jangkauan.
Aku pun bergegas berjalan menuju ruang tengah dan ku nyalakan televisi nasional yang paling update berita terkini. Benar saja ada helikopter yang meledak di atas selat Madura, tim SAR masih melakukan pencarian, namun baru ditemukan beberapa potongan badan helikopter saja.
" Kenapa?", aku tahu sejak tadi Alma menatap ku dengan curiga.
" Apa kamu membantu Steven dan yang lain untuk kabur ke pulau pribadimu?, tapi mereka mengalami kecelakaan karena helikopter mu meledak saat terbang?", sudah kuduga, Alma yang jenius sedang menunjukkan kemampuan analisisnya.
" Bahkan aku mengantar kawan-kawan ku menuju kematiannya, bukan membantu mereka kabur dari penjara", gumamku.
Aku tahu Alma kecewa, tapi aku juga sedang bersedih, dan tidak ada yang perlu di jelaskan atas peristiwa ini, saat ini berarti hanya aku yang tahu tentang mereka yang ada di helikopternya. Mungkin sebentar lagi polisi akan melakukan interogasi ke yayasan, karena helikopter itu diketahui milik yayasanku.
Segera ku hubungi orang kepercayaanku agar dia menjawab sesuai keinginanku.
" Jika ada polisi datang, katakan saja jika pilot sedang melakukan perjalanan menuju Bali seorang diri, karena sedang melakukan tugas". Hanya itu yang bisa aku sampaikan pada orang kepercayaanku. Setidaknya jangan sampai ada yang tahu tentang pulau pribadi milikku.
Sejak dulu aku selalu menaruh kepercayaan penuh padanya, karena dia sangat bisa diandalkan untuk mengurus semuanya. Kali inipun aku yakin dia bisa menyelesaikan urusan tentang insiden meledaknya helikopter milikku.
Jika benar helikopter meledak, aku yakin tubuh Steven dan yang lain sudah hancur berkeping-keping dan bertebaran di selat Madura. Mungkin sudah terbawa arus dan tidak akan menjadi masalah besar jika aku mengatakan penumpang helikopter hanya seorang pilot saja. Toh tidak akan ada yang merasa kehilangan anggota keluarganya. Hanya aku keluarga mereka. Dan aku yang mengantar mereka menuju ke kematian.
***
Author POV
Sebulan sejak insiden meledaknya helikopter milik Akio yang membawa teman-temannya. Proses evakuasi sudah dihentikan sejak 10 hari yang lalu. Memang tidak ada mayat yang ditemukan, ada kemungkinan semua yang ada di helikopter hancur berkeping-keping.
Akio dan Alma sudah saling berkomunikasi lagi setelah beberapa minggu mereka saling diam. Hari ini mereka berdua mulai mengikuti try out ujian tengah semester. Karena ujian yang sesungguhnya akan diadakan dua minggu lagi.
Meski Alma dan Akio baru sekitar dua bulan lebih berada di kelas 12, namun mereka berdua bisa mengimbangi kemampuan teman-teman sekelasnya.
" Studi tour untuk kelas 12 akan dilaksanakan usai ujian tengah semester, dan tempat tujuannya ke Bali".
" Ibu harap kalian semua mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian tengah semester, agar semuanya bisa lulus dengan nilai raport yang memuaskan".
" Karena untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di universitas ternama seperti yang kalian impikan, kalian harus mendapatkan nilai ujian yang tinggi".
" Kecuali untuk Akio dan Alma yang sudah jelas-jelas memperoleh beasiswa kuliah gratis di universitas manapun sesuai keinginan mereka".
Bu Henny hanya sebentar mengisi kelas perwalian, karena dirinya harus mengisi di kelas 11, jam pertama.
Beberapa anak perempuan langsung gaduh membahas persiapan mereka untuk studi tour. Sedangkan beberapa anak laki-laki justru merasa teman-teman perempuan di kelasnya terlalu berisik dan mengganggu konsentrasi belajar mereka yang tengah bersiap-siap untuk mengikuti try out ujian.
" Dasar kaum wanita yang selalu heboh jika membahas persiapan jalan-jalan, apa mereka lupa kalau hari ini masih harus mengikuti try out ujian?", Marko bersungut karena kegiatan belajarnya merasa terganggu.
Tak lama kemudian bel masuk, untuk memulai kegiatan try out di hari terakhir pun berbunyi. Hari ini memang hari terakhir dari kegiatan try out yang harus mereka ikuti selama 5 hari, dan besok hari sabtu, adalah saatnya untuk mengistirahatkan otak dan juga tubuh yang sudah bekerja keras selama 5 hari untuk mengikuti try out ini.
Semua murid duduk dengan rapi dan teratur di tempat masing-masing, karena hanya try out, jadi mereka masih menempati kelas masing-masing. Jika ujian yang sesungguhnya biasanya mereka akan menempati ruang ujian yang dipersiapkan oleh pihak sekolah.
Bel pulang berbunyi. Dua mapel yang harus di ujikan hari ini, semua soalnya terasa mudah bagi Alma dan Akio.
Saat Akio hendak mengajak Alma pulang bersama, Feni dan Sean menghadang mereka dan menarik Alma agar Alma ikut bersama mereka berdua.
" Kalian ini baru pacaran, belum menikah, jadi jangan kemana-mana selalu berdua, beri waktu kami sahabatnya untuk melakukan our time . Jadi biarkan kami meminjam pacarmu hari ini, bye Akio". Sean menarik tangan Alma agar bergabung dengan dirinya dan Feni untuk jalan-jalan ke taman.
Alma ngikut saja, toh try out ujiannya sudah selesai, dia butuh refreshing bersama teman-temannya. Dan Akio tidak bisa melarang kedua sahabat Alma membawa paksa Alma bersama mereka.