My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 93 : Cita-Cita Bara



Alma keluar dari kamarnya dan mengajak Bara pergi ke ruang tengah, saat itu ibu baru saja menyelesaikan tugas pembukuannya. Dan tengah merapikan buku dan alat tulis ke dalam map plastik kancing, kemudian meletakkannya di dalam lemari bufet.


Bara mengambil beberapa mainan miliknya dari kotak penyimpan mainan. Dan mengeluarkan rubik dan puzzle untuk ditunjukkan pada Alma.


" Lihatlah Kak.... Bara bisa menyelesaikan rubik ini dalam waktu 5 detik". Bara ingin menunjukkan kemampuannya pada kakaknya itu.


" Benarkah? coba sekarang kakak atur waktu di hp kakak, dan bara mulai menyelesaikan rubik itu, beneran 5 detik, atau cuma bohong sama kakak", Alma sengaja menantang Bara, dia tahu adiknya memang sangat terampil dalam melakukan sesuatu.


Jika benar Bara mampu menyelesaikan dalam 5 detik, Alma sudah berniat akan memberi Bara hadiah mainan baru yang bisa terus mengasah keterampilan tangan dan otaknya.


" Kita mulai ya 1...2....3...., mulai !".


Trek...trek....trek....trek....trek....


" Selesai !", ucapan Bara membuat tangan Alma reflek menghentikan stop watch di hp nya.


Alma melihat, bahkan belum 5 detik, baru 4 detik lebih sedikit.


" Wooow kerennya adik kakak yang ganteng....., oke kalau begitu kakak mau tepatin janji kakak tadi".


" Janji apa?, bukankah kakak nggak buat janji apapun?".


" Kakak tadi buat janji dalam hati, kalau bara mampu, akan kakak belikan lagi mainan baru buat Bara, Bara mau kakak belikan mainan apa?".


Ekspresi wajah Bara langsung bersemangat, " Benarkah Bara boleh minta mainan baru?".


" Boleh dong, kan kemarin kakak sudah dapat uang pembinaan lagi karena menang lomba. Jadi bisa beliin Bara mainan baru".


Bara nampak berpikir ingin membeli mainan apa, karena selama ini Alma dan Akio sudah banyak membelikannya mainan. Bahkan sampai mainan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain, sudah Bara miliki.


" Gimana kalau Bara mintanya bukan mainan?. Soalnya mainan dari kakak saja sudah banyak banget".


" Kalau bukan mainan, memangnya Bara mau dibeliin apa?".


Akio yang sejak tadi mengamati mereka sambil berdiri di depan kamar Alma mendekat. Tapi tetap diam dan menyaksikan keakraban dua bersaudara itu.


" Bara mau..... kakak belikan Bara laptop, kemarin Bara melihat Dino punya laptop baru, dan Dino menunjukkan permainan yang sangat keren".


" No !". Alma langsung menolak keinginan Bara, " Kak Alma nggak mau kamu kecanduan game online seperti anak-anak jaman sekarang ". Alma memang tidak mau adiknya jadi malas belajar karena bermain game online, selain itu juga bisa merusak kesehatan matanya.


" Tidak untuk bermain game online Kak, Bara ingin belajar tentang IT, dan menjadi seorang cyber security*".


Alma sampai melongo mendengar jawaban Adiknya yang baru berusia 8 tahun itu. Darimana Bara tahu tentang cyber security, dan bagaimana Bara bisa tertarik pada IT.


" Kamu tahu dari mana tentang itu semua?", mata Alma memancarkan sorot kecurigaan.


Sorot mata Bara menunjuk ke arah Akio.


"Kak Akio, aku pernah melihat Kak Akio mengotak-atik komputer waktu Bara menginap di rumah kakak, saat Bara bertanya, Kak Akio bilang sedang melindungi data pribadinya di komputer dari serangan cyber crime".


" Saat itulah Bara melihat kak Akio sangat keren, dan Bara juga ingin terlihat keren saat besar nanti dengan mengotak-atik komputer dan menjadi ahli IT seperti kak Akio waktu itu".


Alma langsung melirik ke arah Akio dengan pandangan seolah meminta pertanggung jawaban. Sebenarnya Alma lebih suka adiknya bekerja seperti orang-orang pada umumnya, entah mau bekerja di bidang kesehatan, jadi pengajar, jadi aparat penegak hukum, atau pengusaha.


Bara tidak berani merengek, karena meski masih anak-anak, Bara tergolong anak yang penurut. Jika di beri akan di terima, jika tidak juga tidak akan memaksa.


Akio yang melihat kehangatan dua kakak beradik itu berubah jadi sedikit menegang pun akhirnya mendekat dan duduk di samping Bara, " Kalau kak Alma tidak mau membelikan laptop buat Bara, biar kak Akio saja yang akan belikan laptopnya, gimana?".


" Benarkah?", Bara menatap Akio, namun kemudian menatap Alma dengan perasaan takut.


Akio sudah sempat menatap mata Bara yang polos, dan dalam hati dan pikirannya memang benar dia bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang ahli IT, bukan meminta laptop hanya untuk bermain game online seperti kebanyakan anak-anak jaman sekarang.


" Tenang saja, kak Alma juga setuju kalau memang Bara mau belajar ilmu IT dengan sungguh-sungguh".


" Bagaimana kalau besok Bara jalan-jalan berdua dengan kak Akio, karena besok kak Alma ada acara bersama teman-temannya. Kita cari laptop sesuai keinginan Bara".


Bara semakin terlihat bahagia dengan ajakan Akio.


" Bolehkan Bara pergi bersama Akio, Bu ?", kini Akio menatap Maemunah meminta persetujuan.


" Tentu saja boleh".


" Karena besok Bara mau jalan-jalan sama kak Akio, jadi sekarang Bara tidur lebih awal, biar besok bangunnya nggak kesiangan". Maemunah membimbing Bara untuk masuk ke kamarnya.


Setelah menemani bara hingga tidur, Maemunah keluar dan bergabung bersama Alma dan Akio yang terlihat sedang berdebat perihal laptop tadi.


" Bukan ibu membela salah satu dari kalian, hanya saja ibu melihat kalau Bara sungguh-sungguh dengan keinginannya. Ibu rasa menjadi ahli IT itu tidak ada salahnya, dia bisa membantu menjaga data di kantor-kantor pemerintah, di bank, bahkan di perusahaan. dia bisa bekerja dimana saja sekehendak hatinya".


" Dibanding jika menjadi TNI yang bertugas di luar daerah, atau menjadi dokter maupun pegawai negeri yang ditempatkan jauh dari sini, ibu lebih senang kalau Akio menjadi seorang ahli IT, karena bisa bekerja dari rumah, bahkan jika mampi dia bisa mendirikan perusahaannya sendiri"


Akio tersenyum dengan pengetahuan ibunya yang semakin luas. Mungkin Bara pernah menyampaikan cita-citanya pada ibunya, dan Maemunah berusaha mencari tahu tentang apa itu ahli IT dan apa itu cyber security.


" Kalau ibu dan Akio sudah mendukung, mau bagaimana lagi, Alma hanya berharap kehidupan Bara di masa depan bisa berguna bagi orang banyak".


" Jika menjadi seorang ahli IT bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain, tentu saja Alma mendukung 100 %".


Maemunah tersenyum, karena Alma sudah bisa memahami keinginan adik kecilnya.


" Bagaimana dengan sekolahmu sekarang?, sejak kamu kabari ibu kalau kamu dan Akio loncat kelas, ibu sering kepikiran, kamu mampu atau tidak mengimbangi teman-teman yang lain". Maemunah langsung menanyakan hal yang selama ini membuatnya khawatir dengan keadaan Alma.


" Semuanya baik-baik saja Bu, sungguh....".


" Karena Akio banyak membantu Alma, dan loncat kelas memang jadi keinginan kami berdua, biar kami bisa segera mengumumkan pernikahan kami pada semua orang. Alma sudah capek menyembunyikan hubungan kami"


Maemunah mengangguk," Ibu setuju dengan keputusan kalian, sudah setahun lebih kalian menyembunyikan identitas pernikahan kalian. Dan ibu juga harus terus meminta pada beberapa tetangga yang mengetahui pernikahanmu untuk terus tutup mulut, sampai kalian berdua lulus".


" Jika kalian lulus SMA lebih cepat, maka akan lebih cepat pula kalian mempublikasikan hubungan pernikahan kalian".


" Alma dan Akio pamit dulu ya Bu, maaf nggak bisa nginep, tapi besok kami kesini lagi".


Maemunah mengangguk, sebagai ibu Maemunah tidak pernah memaksakan kehendak agar putrinya tetap tinggal di rumahnya. Karena setelah menikah, seorang istri harus mengikuti suaminya dan tanggung jawab orang tua sudah berpindah pada pundak sang suami.


_____________________________


*cyber security adalah: suatu praktik melindungi komputer, server, perangkat mobile, sistem elektronik, jaringan, dan data dari serangan-serangan jahat.