My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
6



Aldo melihat Yuna yang tertidur dengan lelap nya. Memerhatikan setiap inci wajah Yuna yang menurut nya sangat cantik. Memiliki alis yang sedikit tebal, hidung mancung, mata yang tak besar namun tak kecil, dan bibir yang sedikit tebal. Warna kulit Yuna memang tidak putih, namun Yuna tetap terlihat cantik dengan warna kulit kuning langsat nya.


Aldo beranjak dari tempat dia memerhatikan Yuna dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk berganti baju. Aldo tak mengganti nya di kamar mandi karena melihat Yuna sudah tertidur dengan sangat pulas. Tanpa aba-aba Aldo langsung membuka pakaian atas nya dan menampilkan otot-otot perut dan lengan yang dapat membuat semua orang ingin menyentuh nya.


Tanpa disadari, Yuna terbangun pada saat Aldo melepas pakaian atas nya. Dia tak sengaja melihat sebuah tanda hijau yang sedikit berkilau itu. Yuna bingung, apakah manusia biasa memiliki tanda seperti itu? Ini adalah hal yang aneh menurut nya. Saat Aldo ingin melihat Yuna kembali, Yuna langsung saja berpura-pura tertidur agar tidak ketahaun mengintip nya.


Aldo tersenyum dan ikut meniduri tubuh nya di samping Yuna. Aldo tidak tertidur. Karena dia bukan manusia seutuh nya. Dia tidak tidur ataupun makan seperti manusia biasa. Aldo hanya dapat makan makanan tertentu dan air putih saja.


"Saat tidur saja kamu masih terlihat sangat cantik." Yuna tak tertidur sepenuh nya. Dia masih bisa mendengarkan ucapan Aldo. Yuna menahan-nahan agar tidak tersenyum saat itu. Gimana tidak baper? Yuna di puji oleh pria tampan yang ada di depan nya secara langsung.


**********


"Apa yang kamu lakukan Yuna?" Aldo menuruni tangga sambil mengucek mata nya karena baru bangun tidur.


"Ah... aku sedang ini membuat roti untuk sarapan. kakak mau juga?" Aldo mengernyit heran. Sejak kapan dirumah nya ada roti?


"Aku mengambil dari rumah tadi. Kakak mau juga? Sebentar lagi aku akan berangkat sekolah." Aldo berdehem untuk menjawab Yuna.


"Yasudah kalau begitu, saya mandi dulu. Nanti kita berangkat bareng saja." Yuna mengangguk paham. Yuna memakan roti nya duluan agar tidak memakan waktu. Memakan nya dengan sedikit cepat, Yuna ingin kembali melihat ruangan bawah tanah milik Aldo.


Berjalan dengan santai dan menuruni tangga perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Yuna Mencoba membuka pintunya dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi saat membuka pintunya. Saat membukanya, Yuna merasa senang sekali karena pintunya tidak terkunci sama sekali.


"Lho kok beda saat aku lihat dengan kak Aldo?" Yuna berkeliling ruangan itu. Tempat nya sangat gelap dan lembab, di tempat berbeda terdapat genangan air yang entah datang darimana.


"Bau busuk apa ini? Datang nya berasal dari pintu itu." Yuna mendekati pintu itu dengan berjalan perlahan-lahan, semakin dekat bau busuk dan bau anyir semakin tercium.


klek....


Yuna rasanya ingin muntah, bau busuk dan anyir semakin menyengat tercium oleh hidung nya saat pintu dibuka. Yuna tak melihat apapun di dalam situ. Hanya melihat sebuah bangku tua dan seutas tali tambang yang tergeletak di bawah.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Aldo mengejutkan Yuna. Yuna hanya bisa meneguk ludah nya dengan susah payah. Tangan nya kembali berkeringat dingin. Kejadian kemarin terulang lagi. Yuna membalikkan badan nya menghadap Aldo. Lagi-lagi Yuna menundukkan kepala nya tak berani menatap Aldo.


Tiba-tiba saja Aldo memeluk Yuna dan menenangkan nya. Mendekap Yuna dengan sangat hangat.


"Tidak apa-apa, saya paham kamu penasaran." Yuna membalas pelukan Aldo dengan tak kalah erat nya. Yuna semakin yakin kalau dirinya menyukai Aldo.


"Maaf kak," Aldo mengangguk dan melepas pelukan nya.


"Ayo berangkat, nanti telat."


**********


Yuna tersenyum-senyum seorang diri. Menyapa setiap orang yang lewat di hadapan nya walau tidak kenal. Yuna merasa bahagia sekali hari ini.


"Heh! Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" Tanya Amelia,


"Hah? Tidak ada apa-apa kok." Amelia merasa curiga akan teman dekat nya ini.


"Kata siapa? Yuna tidak punya pacar. But, I have a crush." Amelia memutarkan bola mata nya malas.


"Sama aja, cuma belum resmi." Yuna memilih diam dan membaca buku pelajaran yang akan di pelajari nanti. Karena dirinya tahun depan akan ke kelas 12, dia harus rajin belajar. Agar dia dapat memasuki universitas yang diinginkan nya untuk belajar bisnis, meneruskan perusahaan orang tua nya.


Kepada ananda Kim Yuna Perita kelas *AK-1 di persilahkan untuk mendatangi ruang guru sekarang.


Diulangi, kepada ananda Kim Yuna Perita kelas AK-1 di persilahkan untuk mendatangi ruan guru sekarang*.


"Hayo ada apa tuh di panggil keruang guru?" Yuna hanya menjawab pertanyaan Amelia dengan mengangkat bahu tanda tidak tahu apapun.


"Yasudah, Yuna keruang guru dulu." Yuna berjalan di koridor sambil memikirkan apa salah nya hingga dipanggil keruang guru. Atau ada hal lain?


Tok...tok...tok


Yuna membuka pintu setelah mengetuk pintu dan masuk kedalam.


"Pagi bapak, ibu, maaf ada apa memanggil saya?" Semua guru menoleh, kepala sekolah berjalan menghampiri Yuna dan berdiri di hadapan nya.


"Sekolah kita mendapat kesempatan dalam pertukaran pelajar tahun ini. Jika kamu berkenan, saya dan guru di sekolah ini memilih kamu untuk melakukan oertukaran pelajar itu. Soal bahasa asing, kamu bisa belajar di negara itu."


"Pertukaran pelajar nya dimana ya pak?" Tanya Yuna,


"Di Korea Selatan. Kamu berkenan? Kamu bisa bahasa Inggris?" Yuna mengangguk.


"Saya bisa, dan saya juga bisa berbahasa korea. Kebetulan sekali ibu saya berasal dari sana." Kepala sekolah mengangguk dan kagum. Usia belum genap 17 tahun sudah menguasai 3 bahasa.


"Baik kalau begitu, kamu bisa kembali ke kelas." Yuna kembali ke kelas dan sebelum berbalik, dia sempat melihat Aldo yang melihat nya juga dengan tersenyum.


Classroom


"Yuna ada apa?" Amelia langsung bertanya begitu melihat Yuna memasuki kelas. Semua mata kini tertuju pada Yuna.


"Aku disuruh mengikuti pertukaran pelajar se Asia. Kebetulan mendapatkan di Korea Selatan. " Semua bertepuk tangan dan memberikan selamat pada Yuna.


"Sebelum berangkat bisa kali traktir makan satu kelas." Ucap Darren asal, semua menyetujui ide Darren.


"Iya boleh, kalian pilih aja dimana." Semua bersorak gembira, tak menyangka candaan mereka di tanggapi dengan serius oleh Yuna.


"Lomba sekolah nya gimana? Lomba nya diundur jadi bulan depan. " Semua mulai angkat tangan karena tak bisa melakukan nya.


"Diganti saja ya, kemungkinan aku sudah berangkat." Darren mengangkat jempol nya sebagai tanda setuju.


Tak lama bel masuk berbunyi, guru pun masuk untuk memulai pembelajaran dan semua menyimak penjelasan guru di depan.