My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 91 : Girls Time 1



Alma, Feni, dan Sean bergegas ke parkiran motor, Alma membonceng Sean, sedangkan Feni membawa motor sendiri. Mereka bertiga sengaja melewati jalan terobosan karena Alma tidak memakai helm.


Hanya butuh waktu 10 menit mereka bertiga sampai di taman hijau.


" Ada di tempat ini membuat aku ke inget sama Steven sepupunya Akio. Gimana kabarnya Steven Al?", Sean melepas helmnya setelah menyetandar motor matic miliknya di tempat parkir.


" Dulu aku minta kamu comblangin aku sama dia, tapi kamu jahat banget nggak mau bantuin!", gerutu Sean sambil meletakkan helm miliknya di spion motor.


" Apa sepupu Akio yang bernama Steven itu keren juga kayak Akio?, wah kenalin ke aku juga dong Al", kini Feni ikut-ikutan penasaran.


" Ye.... aku yang sudah kenalan saja sudah lama banget nggak pernah ketemu. Memangnya si Steven tinggal dimana?, bukan asli anak sini y Al?, cara bicaranya juga sedikit berbeda dengan logat di daerah kita".


Alma mengangguk mengiyakan ucapan Sean, " Dia memang bukan asli anak sini, asal daerahnya sama dengan Akio ". Alma menjelaskan sambil mengajak mereka masuk ke dalam taman. Sebelumnya mereka terlebih dahulu membeli cemilan dan minuman di pedagang kaki lima yang jualan di samping pintu masuk taman.


" Memangnya Akio bukan asli anak sini Al?, jadi dia pindahan dari mana?", Feni semakin penasaran.


" Aku lupa nama daerahnya, yang jelas kalau mau kesana menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan". Alma tidak mau berbohong, tapi Alma juga tidak mungkin mengatakan jika Akio dan Steven berasal dari planet lain, dan bahkan dari galaksi yang berbeda dengan mereka.


" Memangnya dari mana?, nggak mungkin Akio asli irian jaya, nggak cocok warna kulitnya. Kalau dia asal Sumatra utara, atau daerah Aceh ada sih kemungkinan. Dan itu adalah dua tempat terjauh di Indonesia, gimana Al?, benar nggak tebakanku?", Sean sok menjadi seorang detektif amatir. Namun jelas tebakannya salah.


Alma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. " Bukan dari sana, kedua daerah itu salah".


" Kita duduk di bawah pohon besar itu yuk..", ajak Alma kepada kedua sahabatnya.


" Terus dari man dong Al?, kita jadi penasaran nih", Feni terus bertanya sambil membuka tutup botol minuman isotonik yang dia genggam.


" Nama daerahnya asing, dan aku sendiri lupa", ujar Alma berusaha untuk ngeles.


" Ya sudah kalau kamu lupa nama daerah asalnya, sekarang ganti pertanyaan, Steven itu kuliah dimana?".


Alma menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Sean yang selanjutnya. " Aku nggak tahu juga".


" Alma.... Alma.... kamu ini kan pacar sepupunya, kok bisa nggak tahu apa-apa tentang sepupu pacar kamu sih, jadi nggak bisa gali informasi tentang dia kalau kamu nggak tahu apa-apa". Sean manyun merasa kesal dengan jawaban Alma.


" Yang aku tahu tentang Steven, dan berita ini sudah pasti adalah....", Alma memotong kalimatnya, masih berpikir harus atau tidak membahas kematian Steven pada kedua sahabatnya.


Sean dan Feni sudah memasang mata dan telinga mereka untuk mendengar kelanjutan kalimat Alma.


" Steven.....".


" Steven sudah....nggak ada", terang Alma dengan kalimat terputus putus.


Feni dan Sean saling berpandangan dengan mengernyitkan kening mereka.


" Bhahaha....hahaha....".


Keduanya tertawa lepas mendengar ucapan Alma, bahkan Sean sampai memegang perutnya karena merasa kaku.


" Kamu kalau mau ngeprank jangan begitu caranya dong Al, kasihan anak orang dibilang sudah mati".


" Aku nggak bohong, Steven sudah nggak ada, sekitar sebulan yang lalu dia kecelakaan", jawab Alma dengan wajah serius.


Feni pun menepuk lengan Sean yang kini masih terpingkal-pingkal mengira Alma melakukan prank.


Kini Sean yang awalnya mengira Alma hanya bercanda dan ngeprank dirinya karena tidak mau menyomblangi dia dengan Steven sejak awal, ekspresi wajahnya mulai terlihat serius.


" Jadi kamu nggak bercanda Al?".


" Aku ngomong fakta ya, bukan lagi bercanda, emangnya aku pernah bercandain kematian seseorang dengan kalian, nggak pernah kan?".


Sean langsung berubah sedih dan air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Air mata yang keluar tanpa permisi pada sang pemilik wajah, bukankah itu adalah air mata yang tidak sopan?.


" Aku dengar kabar dari Akio, kecelakaan di daerah Madura, waktu itu Steven sedang melakukan perjalanan, dan aku dengar mayatnya tidak ditemukan karena hanyut di selat madura".


Cerita Alma membuat Sean dan Feni jadi merasa sedih.


" Sudah sudah.... itu sudah terjadi sebulan yang lalu, dan keluarga pun sudah menerima kepergiannya dan tidak lagi berlarut dalam kesedihan". Alma menepuk-nepuk punggung Sean.


" Bukankah apa yang aku lakukan menjadi benar untukmu Se?. Bayangkan jika waktu itu aku comblangin kamu sama Steven, aku yakin saat ini kamu masih dalam masa berkabung karena ditinggal untuk selama-lamanya". Alma menunduk menatap rerumputan hijau yang ada di sekitar tempat duduknya.


Sebenarnya Alma merasa sangat jahat mengatakan hal itu pada Sean, namun Alma juga tidak setuju Sean sahabat baiknya menyukai Steven seorang narapidana yang mati saat kabur dari ruang tahanan.


" Itu berarti Steven bukan jodohmu Se... benar kata Alma karena baru naksir jadi bisa move on lebih cepat".


" Masih banyak di sekolah kita cowok yang lumayan keren, pinter, juga tajir seperti Steven".


Feni berusaha menghibur Sean dengan memberi harapan baru.


" Iya, aku nggak sedih-sedih banget kok, kalian santai saja, hanya masih sedikit shock mendengar kabar kematian Steven yang begitu mendadak".


" Sudah cukup lama kita nggak jalan bertiga begini sejak Alma naik kelas 3 secara kilat. Alma sibuk pergi les, terus Alma ikut lomba cerdas cermat, dan juga sibuk bersama Akio. Benar saja aku baru mendengar kabar Steven, ternyata sudah lama juga kita nggak jalan bareng seperti ini".


Alma dan Feni mengangguk bersamaan.


" Apa besok kita pergi jalan lagi?, gimana kalau nonton film bareng?", usul Feni pada kedua sahabatnya.


Sean langsung setuju, sedangkan Alma belum memberikan jawaban. Sudah hampir sebulan Akio dan Alma saling diam, semenjak insiden meledaknya helikopter yang membawa Steven, karena rasa kecewa Alma pada Akio yang masih menyimpan rahasia darinya.


Baru beberapa hari Alma dan Akio baikan dan berdamai, namun Alma harus datang bulan, dan baru mau keramas sore ini. Itu berarti sudah sebulan penuh mereka berdua tidak berhubungan badan.


Alma tahu Akio pasti sudah sangat merindukan kehangatannya. Jika besok Alma harus pergi dengan teman-temannya, itu berarti waktunya dengan Akio nanti malam harus di pergunakan sebaik mungkin.


" Gimana Al?, kamu bisa gabung sama kita kan?", suara Sean menyadarkan Alma dari renungannya.


" Aku kabari nanti ya, aku tanya ibu dulu, dia butuh bantuan atau tidak", Alma hanya beralasan, karena setahu Feni dan Sean, Alma masih tinggal bersama ibunya.


" Oke kalau begitu kalau nanti dapat ijin ibu, kita jemput ke rumah kamu".


" Nggak usah dijemput, kita ketemu di parkiran mol saja, aku nggak mau ngrepotin kalian, nanti kalian jadi nggak muter-muter", Alma menolak tawaran kedua sahabatnya untuk dijemput, dengan alasan karena posisi rumahnya berlawan arah dari tujuan mereka.


" Ya sudah, kalau jadi kita kumpul jam 10 di parkiran mol ya".


Mereka bertiga pun keluar dari taman hijau setelah cukup lama ngobrol disana. Dengan agenda pertemuan kembali esok hari untuk nonton bersama jam 10.


Sean mengantarkan Alma kerumah ibunya. Dan langsung pamit pulang karena waktu sudah cukup sore.


" Sampai jumpa lagi besok ya Al, bye...!", teriak Sean sambil melajukan motor matic miliknya menuju pulang.


" Jadi sudah pergi sama Sean?, Akio tahu?".


" Tahu Bu, nanti Akio jemput Alma habis maghrib. Ibu sehat?".


Alma masuk kerumah, diikuti Maemunah yang berjalan cepat mengejar langkah Alma.


" Bara lagi main, biar ibu panggil dia, pasti dia senang melihat kamu main kerumah, dari kemarin dia bilang kangen sama kamu".


" Makan dulu, pasti kamu belum makan kan?, biar ibu panggil Bara sebentar".


Maemunah menyerahkan piring pada Alma agar Alma mengambil nasi dari magicom, dan berjalan keluar untuk memanggil Bara.