My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 61: Siang Terakhir di Jakarta



Alma POV


Aku tidak menyangka Banu akan nekat mendekat saat kami sedang sarapan pagi bersama. Aku sudah panik terlebih dahulu saat Banu tiba-tiba menarik kursi kosong yang ada di sebelahku. Saat itu aku sedang membaca surat cinta yang di berikan Lidia pada Akio.


Ternyata Lidia benar-benar menyukai Akio. Akio sangat terbuka, tidak ada yang di rahasiakan padaku, berbeda denganku yang takut untuk memberi tahu kebenaran jika Banu mengungkapkan perasaannya padaku pagi tadi.


Bukan karena aku ingin merahasiakannya dari Akio, aku tahu Akio pasti bisa membaca isi hati Banu yang menyukaiku, sejak kami bertemu di lorong hotel, aku bisa melihat Akio sudah berbeda sikapnya . Tapi aku masih takut mengatakannya. Hingga akhirnya terbukalah rahasia di depan semua orang.


Banu nekat menghampiriku dan mengatakan hal yang membuat kesabaran Akio habis. Emosi Akio seketika memuncak dan memberi pukulan tepat di wajah Banu yang saat itu sedang menatap ke arahku begitu lekat.


Semua orang yang ada di restoran langsung terkejut, terutama Lidia, dia berada persis di sampingku, Lidia sampai menjerit karena melihat Akio memukul Banu.


Meski Lidia dan semua orang jarang melihat Akio tersenyum, tapi mereka juga tidak pernah melihat ekspresi Akio yang sangat marah seperti saat ini. Matanya memerah menahan amarah yang sudah memuncak. Aku tahu Akio sangat cemburu. Dan aku tahu jika aku melakukan kesalahan dengan bersikap biasa-biasa saja pada Banu. Padahal aku tahu dia menyukaiku. Seharusnya aku sedikit membuat jarak.


Aku melihat darah segar mengalir dari hidung Banu, karena merasa kasihan aku ingin membersihkannya, tapi justru Akio semakin emosi dan hampir menghajar wajah Banu lagi. Akhirnya ku urungkan niatku membantu Banu dan ku dekap tubuh Akio agar dia tidak terus marah-marah.


Petugas keamanan datang, dan membawa kami ke ruang keamanan. Di sanalah akhirnya semua tahu kebenaran jika aku dan Akio adalah sepasang kekasih. Termasuk Lidia yang ternyata mengikuti kami hingga di ruang keamanan.


" Dia mendekati kekasih saya Pak, didepan mata saya, bagaimana saya tidak emosi!", Ucapan Akio otomatis menjadi sebuah pengumuman besar tentang hubungan kami kepada semua orang.


Ku lihat Banu tersenyum sinis saat itu, dan Lidia pergi dari ruang keamanan. Entah kemana, aku tidak mengikutinya, karena setelah ini aku, Akio dan Banu harus menghadiri pertemuan dengan pihak pers.


Untung saja wajah Banu tidak babak belur karena saat Akio menghajarnya dia reflek menghindar, meski masih tetap kena dibagikan hidung. Tapi itu tidak meninggalkan luka luar yang nampak serius.


Kami berjalan bersama dengan koordinator team ke ruang pertemuan, disana sudah banyak wartawan dari surat kabar , maupun dari televisi nasional, ada juga kameraman dan juga reporter. Aku sedikit grogi, mungkin efek kerusuhan di restoran tadi, masih membuat jantungku berdegup kencang.


Kami bertiga, peraih medali emas menjadi narasumber utama, tentu saja dibantu koordinator team dalam menjawab beberapa pertanyaan. Agenda 30 menit sedikit mulur menjadi 50 menit sesi tanya jawab.


Dan aku sangat bersyukur karena Akio dan Banu bisa sama-sama bersikap wajar dan normal, mereka berdua sama-sama menjawab pertanyaan wartawan dengan tenang dan santai, bahkan Banu masih bisa menjawab dengan sedikit bercanda.


Padahal baru saja wajahnya menerima bogem mentah dari Akio. Sang koordinasi team memang sengaja duduk di tengah-tengah kami. Banu paling ujung, koordinator team, aku dan Akio, posisi yang sengaja dirancang sedemikian rupa oleh koordinator team agar suasana kondusif dan tidak ada adu jotos kembali.


Hingga acara wawancara selesai, Akio langsung kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pasti dia masih marah sehingga mendiamkan aku seperti ini. Aku harus minta maaf dan segera menyembuhkan kemarahannya.


***


Akio POV


Aku sudah tahu perasaan pemuda yang bernama Banu itu pada Alma bagaimana, karena sejak dia keluar dari kamarnya pagi tadi, aku membaca semua isi hati dan pikirannya. Aku juga tahu apa yang Alma pikirkan, dia takut mengatakan yang sebenarnya padaku, karena dia takut aku marah dan emosi.


Karena itulah aku berusaha menahan emosiku hingga di acara perjamuan sarapan bersama. Aku terus memperhatikan gerak gerik Banu yang terus menatap Alma, dan akhirnya dia mendekat, dan duduk di samping Alma.


Dia begitu menyebalkan karena terus mendekati Alma, padahal dia tahu Alma sudah mempunyai kekasih, meski Alma belum memberi tahu jika aku kekasihnya.


Akhirnya aku berinisiatif melakukan sedikit keributan, agar semua perhatian tertuju pada kami. Sengaja ku beri pelajaran pada Banu, sekalian untuk memberi tahu juga pada semua orang, termasuk Lidia, jika Aku dan Alma sepasang kekasih.


Aku sengaja menghajar Banu pelan, karena aku hanya berniat memberi peringatan, tapi dasar pemuda payah, dipukul seperti itu saja membuat hidungnya berdarah.


Kami keluar dari ruang keamanan dan langsung menuju ruang pertemuan dengan pihak pers. Teman-teman peserta olimpiade lainnya sudah lebih dahulu sampai di ruangan itu. Sesi wawancara berjalan lancar selama 50 menit, setelah itu kami dipersilahkan untuk kembali


Aku masih diam dan malas untuk berbicara dengan siapapun itu. Jadi aku langsung masuk kamarku untuk menetralisir emosi jiwaku sebelum pulang ke rumah.


Alma terlihat khawatir, dia mengira aku masih marah padanya karena dia tidak terbuka padaku. Memang ada sedikit kecewa, tapi aku memaklumi kenapa Alma melakukan hal itu. Dia takut aku marah. Dan pada akhirnya aku tetap dikira marah olehnya.


Setelah 30 menit beristirahat di kamar, Alma mengirim pesan padaku agar aku membukakan kunci pintu kamarku. Selang beberapa menit, Alma masuk dengan membawa nampan berisi es krim dan juga beberapa macam buah-buahan untukku.


" Aku minta maaf karena tidak langsung berterus terang padamu tentang Banu, tapi bisakah kau tidak mendiamkan ku seperti ini?".


" Nanti... dua jam lagi kita sudah harus pulang ke rumah, apa kamu tidak ingin bergabung dengan yang lain untuk terakhir kalinya".


" Mereka sedang mengadakan acara perpisahan di roof top hotel, minta maaflah pada Banu karena sudah melukai wajahnya".


" Memang dia salah, tapi kamu juga salah karena melukai wajahnya".


Alma tiba-tiba masuk dan menyuruhku untuk meminta maaf pada Banu. Hal yang tidak akan mungkin aku lakukan.


" Kalau kamu masuk kesini hanya untuk mengatakan hal itu, maka keluar saja dan bergabung dengan teman-teman seperjuangan mu itu di atas".


" Dan perlu kamu tahu, aku tidak akan menghajar Banu jika dia tidak bersikap kurang ajar padamu!, mengerti?".


Aku berjalan ke dinding kaca sambil bersedekap , menatap kemacetan Jakarta disiang hari.


Alma langsung kembali meminta maaf dan memeluk tubuhku dari arah belakang. Sepertinya dia takut aku kembali marah.


" Kalau kau ingin tetap disini maka aku juga akan tetap disini bersamamu".


Sentuhan lembut tangan Alma yang meremas tanganku, sambil memeluk tubuhku dari belakang membuat aku ingin menghabiskan siang terakhir di hotel ini beradu kasih diatas ranjang bersamanya. Sudah hampir dua minggu aku tidak melakukan penyatuan dengan Alma.


Ku balikkan badan dan ku balas pelukan Alma dengan lebih erat. Aroma tubuh Alma yang sangat wangi membuat gairah kelelakianku bangun. Ku kecup bibir Alma cukup lama, rasanya sangat manis dan lembut, membuatku enggan untuk melepaskan.


Alma menyambut lum*tan bibirku dengan suka cita, aku tahu dia juga pasti merindukan sentuhan ku. Aku membimbingnya menuju ke atas ranjang, dan mulai ku sentuh dan kukecup tiap inci sudut dari tubuhnya.


Sebuah suara ******* lolos dari bibir manis Alma, aku tahu dia menikmatinya, sama sepertiku yang sangat menikmati keindahan tubuh Alma yang meliak-liuk saat aku sentuh.


Ku buka satu persatu pakaian Alma hingga tak menyisakan sehelai benangpun. Begitu juga dengan semua pakaian yang aku kenakan. Ku lempar ke sembarang tempat. Ku tutupi tubuh polos kami berdua dengan selimut tebal milik hotel.


Aku terus mengeksplor tubuh Alma dengan kedua tanganku, ku sentuh bagian inti miliknya yang sudah mulai basah. Ku kecup sejenak bagian bawah tubuhnya yang sudah basah, wangi dan memabukkan. Membuat aku tidak bisa lagi menahan untuk melakukan penyatuan.


Dan hanya dengan beberapa kali hentakan, kami berhasil melakukan penyatuan. Alma menggigit pundaku, saat gerakanku semakin cepat. Deru nafas kami saling memburu, hingga beberapa menit kemudian kurasakan milik Alma yang berkedut dan kedua kaki Alma yang menekan kuat pinggangku. Ternyata Alma lebih dulu mencapai puncak.


Ku lanjutkan permainan dengan merubah posisiku, ku lakukan berbagai macam gaya hingga kami berdua mencapai puncak kenikmatan bersamaan, dalam satu kali permainan ranjang, aku berhasil membuat Alma mencapai puncaknya hingga dua kali berturut-turut.


Rasanya sangat lelah dan ngantuk, kami berdua tidur bersama di bawah selimut yang sama.