My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 74 : Menyambut Kedatangan Tamu



Akio langsung meminta pada kedua bibi yang bekerja di vila untuk membuat masakan dalam porsi banyak. Karena kedatangan tamu dari jauh, dan Akio menjelaskan bahwa mereka mungkin akan tinggal cukup lama di vila.


Bagi Akio semua yang datang dari planet Mesier sudah dianggap seperti keluarga baginya, meski Akio sebenarnya tidak kenal sama sekali dengan kelima lelaki yang datang bersama Steven itu. Yang Akio tahu mereka sama-sama berasal dari planet Mesier dan mereka butuh pertolongan.


Alma membantu merapikan dua kamar kosong di lantai dua, untuk tempat istirahat Steven dan kawan-kawannya. Karena kamar itu jarang digunakan, memang Akio dan Alma selalu menggunakan kamar yang ada di lantai 1 tiap datang ke vila.


Selain itu Alma juga mengambil beberapa pakaian Akio yang ada di vila untuk diberikan pada para tamu. Alma tahu mereka mungkin sudah cukup lama tidak berganti pakaian, karena saat berjalan di depan mereka tadi, Alma merasa tidak nyaman dengan bau badan mereka.


" A... tidak apa kan baju-baju ini aku kasih ke mereka. Biar mereka mandi dan berganti pakaian, sepertinya mereka sudah lama tidak berganti pakaian". Alma terlebih dahulu meminta ijin pada Akio sebelum memberikan baju-baju itu pada para tamu.


" Tentu saja boleh sayang, berikan saja pada Steven, biar dia yang membagi untuk kelima kawannya".


Akio memang langsung menyuruh mereka berenam untuk beristirahat di kamar atas, yang sudah di bereskan oleh Alma tadi. Karena mereka berenam terlihat sangat letih dan kurang istirahat.


Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang ingin Akio sampaikan, tapi Akio mencoba bersabar dan menahan rasa penasarannya sejenak, membiarkan mereka untuk istirahat, membersihkan badan, dan makan terlebih dahulu, agar mereka semua bisa menjawab dan bercerita tentang kejadian hujan meteor di planet Mesier dengan jelas dan lebih terperinci.


Saat para tamu tengah istirahat, Akio sendiri memilih untuk duduk-duduk di samping kolam, sambil menelepon orang kepercayaannya, untuk mengurus dan membuatkan kartu tanda penduduk untuk kelima tamunya.


Steven memang sempat menyinggung soal kesulitannya tinggal di daerah ramai penduduk, karena mereka tidak mempunyai kartu tanda penduduk.


Akio pun sigap membuatkan mereka berlima kartu tanda penduduk, karena tahu mereka tidak akan mungkin pergi kemana-mana, sudah tidak ada planet Mesier lagi, tempat tinggal awal mereka. Dan Akio harus membantu mereka untuk bisa bertahan di bumi, meski untuk kedepannya mungkin akan sedikit sulit, karena penuaan mereka yang lebih lambat.


" Aku lelah karena belum sempat istirahat setibanya disini, bolehkah aku ke kamar dan beristirahat sejenak?", Alma berdiri di samping kursi santai yang tengah Akio duduki.


Akio justru menarik tangan Alma hingga membuat Alma terjatuh dan duduk di pangkuan Akio. Akio langsung memeluknya.


" Tidurlah disini, nanti akan aku gendong sampai ke kamar setelah tidurmu lelap", namun justru Alma menarik diri dari pelukan Akio.


" Sekarang bukan hanya kita berdua yang tinggal disini, ada banyak tamu, nggak enak kalau mereka melihat kota seperti tadi".


" Aku ke kamar dulu ya, kalau mau istirahat lagi ya ayo".


Alma berjalan cepat menuju kamarnya. Karena merasa sendiri dan tidak ada yang harus dikerjakan, Akio pun beranjak dari duduknya, dan berjalan mengikuti Alma masuk kedalam kamar.


Saat Akio masuk, dia menutup pintu dan tak lupa menguncinya.


" Kenapa dikunci?", Alma yang dalam posisi duduk hendak merebahkan diri, pura-pura bertanya. Padahal dia tahu betul apa maksud dan tujuan Akio mengikutinya ke kamar. Jelas bukan untuk tidur, karena Akio sudah tidur siang tadi.


Dan bukannya menjawab, Akio justru langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Alma yang sudah tiduran dengan posisi miring menghadap ke arah dimana Akio berada.


" Siang-siang malah minta pelukan, AC nya di besarkan, udara lagi panas A...."


Alma menggeliat karena kepanasan, namun gerakannya yang tak sengaja mengenai benda pusaka milik Akio membuat si junior itu berubah wujud.


Alma langsung menutup wajahnya, karena paha nya tidak sengaja menyenggol benda pusaka milik Akio yang sudah berubah wujud.


" Aku sudah bilang aku lelah dan ngantuk".


Akio hanya menyeringai dan terkekeh mendengar Alma merengek, karena sudah mengantuk.


Akio pun mulai melakukan sentuhan- sentuhan lembut di tubuh Alma, tentu saja membuat Alma yang awalnya sudah sangat ngantuk menjadi ter*angs*ng, hilang sudah rasa ngantuk dan muncullah rasa nikmat dan glenyeran aneh akibat sentuhan yang Akio lakukan. Akio semakin menyeringai lebar karena Alma yang tadinya bicara sambil memejamkan matanya, karena mengantuk, justru kini membuka mata dan merem melek menikmati sentuhan lembut yang Akio lakukan.


******* nikmat pun tak bisa ditahan, keluar begitu saja dari mulut Alma, Akio paham jika Alma sudah dibuatnya berada di atas awan. Saat ini Akio sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, dan melucuti pakaian Alma, hingga tubuhnya polos, hanya tertutup selimut tebal, Akio pun melakukan penyatuan dengan Alma.


Usahanya menahan diri sejak kemarin sudah tidak tertahankan, Akio pun begitu bersemangat hingga gerakannya membuat tubuh Alma terguncang hebat diatas ranjang.


Tangan Alma sampai berpegangan pada kepala ranjang, agar kepalanya tidak terdorong dan membentur kayu.


Cukup lama Akio melakukan hentakan dahsyat diatas tubuh Alma, hingga beberapa menit kemudian dia mengerang hebat karena mencapai puncak kenikmatannya.


Alma sendiri sudah terkulai lemas dan langsung tertidur lelap saat Akio melepaskan penyatuan dan terkapar di samping Alma.


Namun tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang diketuk. Akio pun menutup tubuh Alma dengan selimut, sedangkan dirinya beranjak dari kasur dan sedikit membuka pintu kamar.


" Maaf Tuan, para tamu sudah menunggu untuk makan siang di ruang makan, makanan sudah kami siapkan, kami sudah mempersilahkan mereka untuk makan, tapi mereka mengatakan menunggu tuan keluar", lapor salah satu bibi yang bekerja di vila Akio.


" Apa mereka sudah tidur siang?", tanya Akio.


" Belum Tuan, mereka bilang ingin makan terlebih dahulu sebelum tidur siang, mungkin mereka sangat lapar setelah melakukan perjalanan jauh", terang si bibi sambil pamit undur diri kembali ke dapur.


Akio masuk kembali ke kamar, mencuci muka terlebih dahulu baru kemudian keluar dari kamar dan menuju meja makan.


" Silahkan-silahkan di nikmati makan siangnya, maaf karena makanannya hanya seperti ini, kami tidak tahu akan kedatangan tamu jauh, dan cukup banyak"


" Nanti akan ku suruh memotong sapi atau kambing, untuk menu makan malam hari ini".


Akio mengambil nasi dan diikuti oleh yang lain.


" Apa Alma tidak ikut makan siang?".


Steven menatap Akio dan berbicara dengan hatinya. Akio hanya menggelengkan kepalanya.


" Dia sudah tidur nyenyak, biarkan dia beristirahat jangan diganggu!", Akio menyeringai lebar.


" Kau ini sempat-sempatnya enak-enakan dulu, padahal kami disini sudah sangat lapar". Steven tahu karena bisa mengerti apa yang dipikirkan Akio yang sedang menatapnya.


Bukannya marah atau tersinggung, justru Akio terkekeh sendiri. Akio baru berhenti tertawa saat dirinya hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Akio kembali menatap Steven.


" Harus seimbang antara santapan rohani dan jasmani, sebelum melakukan santapan jasmani, harus melakukan santapan rohani terlebih dahulu, itu baru yang dimakan seimbang".


" Biar tubuh, otak dan hati jadi seimbang dan tidak oleng".


Steven hanya menggelengkan kepalanya mengetahui apa yang Akio sampaikan.