
Sore hari Alma terbangun dari tidurnya, menatap wajah Akio yang menghadap ke arahnya dengan mata masih terpejam.
" Seandainya saja kita sudah lulus SMA dan bisa mempublikasikan hubungan kita sebagai suami istri pada semua orang, tentu aku akan merasa lebih tenang dan nyaman selalu bersama-sama denganmu....".
" Sayang sekali di sekolah ada peraturan yang melarang siswa siswinya menikah".
Jari-jari Alma mengusap bibir Akio yang berwarna merah alami, hasil karya Tuhan yang sangat menawan. Tentu saja bukan hanya Alma yang menyatakan hal itu, banyak gadis lain yang juga memuji ketampanan Akio, dari bentuk alisnya yang sempurna, matanya yang tajam tapi sangat berkharisma, bibirnya yang merah merona, bahkan bentuk tubuh Akio yang proposional di usia anak SMA.
Seandainya Akio sedikit saja lebih ramah pada orang lain, sudah dijamin akan sangat banyak gadis yang klepek-klepek dan mengejar-ngejarnya. Akio bersikap dingin saja, masih banyak yang menyukainya, apalagi jika ramah.
Alma menggeser jari jemarinya mengusap pipi Akio, kemudian merapikan rambut depan Akio yang menutupi mata Akio yang masih tertutup rapat ke belakang telinga.
" Waktu terasa berjalan begitu pelan, seperti sengaja menguji kesabaran kita untuk merahasiakan hubungan kita pada dunia".
" Meski mereka semua tahu jika kita berpacaran, tapi aku masih merasa ada yang kurang, karena masih ada rahasia dari status hubungan kita yang sesungguhnya".
" Aku sangat mencintaimu Akio, kuharap kita akan terus bersama, hingga maut yang akan memisahkan".
Tiba-tiba saja kelopak mata Akio terbuka, dan Akio menatap wajah Alma yang saat ini berada tepat dihadapan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.
Akio mengecup kening Alma dengan penuh perasaan dan begitu lembut.
" Aku juga sangat mencintai kamu sayang. Bahkan jika maut memisahkan, di kehidupan selanjutnya aku berharap kita akan dipersatukan kembali sebagai sepasang kekasih seperti saat ini".
Entah mengapa, mendengar ucapan Akio Alma jadi terharu, membuat mata Alma merasa panas dan air mata meleleh begitu saja membasahi pipinya.
" Kita pasti akan bersatu kembali jika benar ada kehidupan selanjutnya, karena kita sudah di takdir kan untuk bersatu, buktinya Tuhan mengirim kamu dari tempat yang sangat jauh yang entah dimana keberadaannya, hingga kamu sampai disini".
" Coba jika dipikir dengan logika, semua itu akan sulit untuk dijelaskan", ucap Alma.
" Kita berasal dari belahan dunia yang berbeda. Namun kita bisa bertemu dan saling mencintai, bukankah itu berarti kita berjodoh?".
Benar, memang sangat benar apa yang Alma katakan, Akio melakukan penerbangan luar angkasa dengan beberapa penerbang yang lain. Namun hanya dirinya yang selamat dan sampai di bumi ini.
Padahal ada begitu banyak planet di dunia ini, bukan hanya di galaksi Bimasakti, tapi di galaksi-galaksi lain juga ada banyak planet. Tapi Tuhan menuntun UFO milik Akio mendekat ke Bumi. Itulah yang disebut takdir Tuhan.
" Baiklah sayangku, ayo kita mandi dan setelah itu keluar kamar, aku sudah sangat lapar, karena tadi siang kita tidak sempat makan". Akio bangkit dari posisinya dan menarik tangan Alma agar mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.
Alma yang tubuhnya masih polos, akhirnya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya hingga di depan kamar mandi. Lalu dia melempar selimut itu ke lantai kamar, sebelum menutup pintu kamar mandi.
Sore itu mereka berdua mengulang aktivitas panas di kamar mandi. Akio yang tadi mengatakan bahwa dirinya sudah lapar, namun dia juga yang tidak tahan melihat tubuh polos Alma yang seksi dan sangat menggoda, Akio pun mengajak Alma untuk kembali bercinta.
Awalnya Alma menolak, karena dirinya sudah merasa sangat lapar. Namun jari jemari Akio terus melakukan sentuhan-sentuhan lembut di beberapa titik kelemahan Alma, yang sudah sangat Akio hafal tentunya, karena bagian- bagian tubuh itu adalah titik favorit Akio.
Akhirnya Alma pun pasrah dan menikmati permainan panas bersama Akio, dibawah guyuran air shower yang menyegarkan kembali tubuhnya. Kemudian Akio menggendong Alma dan mereka berdua masuk kedalam bathtub.
Kurang lebih selama setengah jam mereka berdua terus bergumul di dalam bathtub, dengan berbagai macam posisi. Alma hanya menurut saja dengan semua perlakuan Akio. Bagaimana Akio membolak-balikkan tubuhnya seperti adonan roti.
Hingga akhirnya mereka berdua kembali mencapai puncak kenikmatan, dan melakukan pelepasan secara bersamaan.
Senyum sumringah langsung terukir di wajah Akio yang sangat menawan. Alma pun tersenyum bahagia karena berhasil membuat Akio terlihat bahagia seperti saat ini.
Lima belas menit kemudian, mereka berdua menyelesaikan acara mandi mereka yang molor hingga satu jam lebih.
" Biar aku bantu sisir kan rambutmu", Akio yang sudah lebih dulu selesai berpakaian mengambil sisir dari tangan Alma, dan membantu Alma menyisir rambut Alma yang kini sudah semakin panjang.
" A.... boleh ngga aku potong rambut sampai sebahu?, rasanya ribet punya rambut panjang".
Alma memang baru pernah mempunyai rambut hingga sepanjang pinggang, sebelumnya Alma hanya mempunyai rambut paling panjang sebahu, karena selain tidak ribet, juga untuk menghemat penggunaan shampo, jaman dulu Alma memang harus berhemat dalam segala aspek.
" Tentu saja boleh dong sayang, kamu itu akan tetap cantik mau rambutnya panjang, ataupun pendek".
" Besok kita bisa pergi ke salon bareng, sekalian aku juga mau potong rambut mumpung liburan, kamu juga bisa sekalian treatment ".
Alma mendongakkan kepalanya menatap Akio yang berdiri dibelakangnya sambil menyisir rambutnya dengan pelan-pelan.
" Makasih ya sayang, habis sarapan besok kita langsung ke salon", ucap Alma dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia.
Akio memang tidak pernah mengatur-atur penampilan Alma, karena itu lah Alma merasa sangat nyaman menjadi pasangannya. Bagi Akio... Alma selalu cantik setiap saat, memakai pakaian mahal ataupun murah, itu sama saja, karena pada dasarnya Alma cantik dari dalam hatinya.
***
Alma POV
Sabtu pagi aku terbangun dari tidurku, dan Akio sudah tidak ada di sampingku. Kurasa dia sedang joging saat ini, itu memang rutinitasnya setiap hari libur.
Aku memilih mandi dan saat keluar kamar, aku merasa suasana rumah yang sangat sepi, dimana para pembantu berada?, aku pun mengecek ke dapur apa para bibi sudah selesai masak untuk sarapan kami. Dan ternyata semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Bahkan hari ini si bibi masak cukup banyak pilihan menunya.
Apakah ada yang perlu di rayakan hari ini?, kenapa masak begitu banyak?, otakku sedang tidak mengingat dengan baik.
" Selamat pagi non Alma!", sapa salah satu bibi padaku, sambil tersenyum ramah. Dari tadi baru satu bibi ini saja yang aku temui, entah pada kemana bibi-bibi yang lain.
" Pagi juga Bi, makasih ya sudah dibantu siapin sarapan, hari ini ada apa?, kok masaknya banyak banget?, akhirnya aku putuskan bertanya pada bibi yang menyapaku.
" Tuan akio yang request menu hari ini Non, kami hanya menjalankan perintah Tuan saja".
Aku hanya mengangguk kepala,
" Apa Akio masih joging?", tanyaku masih berdiri menyandar ke kursi makan.
" Tuan Akio sudah selesai joging sejak tadi Non, sekarang lagi sibuk di garasi", ucap si bibi dengan gelagat yang aneh dan mencurigakan.
Jawaban dari si bibi membuat aku penasaran, apa yang sedang Akio lakukan pagi-pagi sekali di garasi mobil, apa dia sedang mengutak-atik mesin?. Akhirnya ku putuskan untuk menyusul nya ke garasi.
Jika benar Akio ada di garasi, kenapa pintu menuju ke garasi di tutup rapat?, biasanya kalau dia mengutak-atik mesin pasti pintu garasi tetap dibuka lebar agar mudah keluar masuk ke gudang untuk mengambil peralatan.
Kubuka pintu menuju garasi mobil, anehnya suasana di dalam garasi sangat gelap, lampu di garasi mati, dan pintu menuju keluar garasi juga masih di tutup rapat.
" Akio... apa kamu di dalam?", karena di dalam garasi sepi, aku hanya bertanya sambil memanggil namanya, sedangkan aku tetap berdiri di pintu. Garasi mobil yang cukup luas dan gelap membuatku takut untuk masuk lebih jauh lagi.
" Kejutan....!!!".
Suara dari semua penghuni rumah bersamaan dengan lampu garasi yang dinyalakan mengejutkanku. Ternyata Akio dan semua pembantu, tukang kebun, supir dan satpam berkumpul di garasi mobil. Ada Ibuku dan Bara juga disana.
" Selamat ulang tahun kami ucapkan. Selamat panjang umur kita kan do'a kan, selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia..."
Lagu selamat ulang tahun mengiringi langkah Akio yang menarik tanganku agar mendekat ke ibuku yang sedang membawa kue ulang tahun di tangannya.
Kue ulang tahun yang selalu aku impikan sejak kecil, tidak terlalu besar, tapi dilumuri lelehan coklat dan juga coklat batangan dibagikan pinggirnya. Ada toping buah ceri di atas kue itu.
Ibu yang paling tahu jika aku sangat menginginkan kue itu, dulu saat ulang tahunku yang ke 15 tahun, kami hanya bisa melihat kue itu di etalase toko roti, karena Ibu hanya mampu membelikan dua buah donat, untukku dan Bara, sedangkan ibu sendiri tidak membeli untuk dirinya, hingga akhirnya aku makan setengah donat dan setengah lagi untuk ibu.
Aku ingat kata-kata ibu waktu itu,
" Alma, ibu janji, saat ibu sudah punya uang banyak, ibu akan membelikan kue yang seperti itu di hari ulang tahunmu".
Dan ternyata ibu mewujudkannya saat ini, meski bukan tepat di hari ulang tahunku, karena ini sudah mundur seminggu lebih dari tanggal lahirku yang sebenarnya.
" Terimakasih Ibu, terimakasih Akio, terimakasih semua", ucapku sambil menitikkan air mata kebahagiaan.