My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 58 : Surat Cinta untuk Akio



Penerbangan dari Bandara internasional Kazakhstan menuju bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta memakan waktu kurang lebih 16 jam 30 menit.


Semua delegasi dari Indonesia di sambut dengan ratusan wartawan yang ingin meliput berita tentang perjalanan mereka, namun sayangnya beberapa pasukan khusus dan juga satpol PP menjaga ketat hingga mereka semua masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan.


Ke 9 peserta dan 5 team lainnya langsung masuk ke dalam mobil dan dibawa menuju istana negara, karena ada acara penyambutan untuk mereka.


Acara penyambutan berlangsung tertib dan lancar, mungkin karena di istana negara dan ada orang nomer 1 di Indonesia, sehingga suasana terasa begitu khidmat.


Malam harinya kesembilan peserta diantar kembali ke hotel dan dipersilahkan istirahat dan menginap di hotel yang sama seperti saat mereka sampai di Jakarta, dengan kamar yang sama seperti sebelumnya.


Semua merasa lelah dan ingin segera beristirahat, begitu juga dengan Alma dan Akio yang langsung berjalan menuju kamar mereka masing-masing.


" Langsung tidur saja, jangan begadang kamu tadi di pesawat nggak tidur kan? aku melihatmu memikirkan sesuatu, kalau tidak salah tebak, pasti kamu lagi mikirin Steven kan?, kita do'akan saja semoga dia baik-baik saja, dan sampai di Mesier dengan selamat, kita bisa apa ?, dia sudah memutuskan untuk kembali, jadi yang bisa kita lakukan sekarang cuma mendoakan", ucap Alma sambil berdiri di depan pintu kamarnya.


" Iya, aku akan tidur, kamu masuk dulu, baru aku masuk ke dalam kamarku juga", Akio berdiri di depan pintu kamarnya juga, sambil menatap ke Alma yang sedang membuka kunci pintu kamarnya.


" Aku masuk ya, selamat malam dan met istirahat", Alma melambaikan tangan sambil tersenyum dan menutup pintu kamarnya.


Akio pun membalas lambaian tangan Alma, setelah itu membalikkan badan dan mencoba membuka kunci kamarnya. Namun saat Akio menarik hendel pintu, terdengar suara perempuan memanggilnya.


***


Lidia POV


Sudah dua minggu kami melakukan kegiatan bersama-sama, semua memang hanya mengikuti jadwal kegiatan dari panitia. Namun setiap harinya aku jadi merasa lebih bersemangat dan antusias setiap kali melihat wajahnya, meski tanpa senyum ataupun tawa.


Kami sama-sama berusaha untuk menjadi yang terbaik, namun sayangnya aku hanya bisa berada di posisi ke 2, aku hanya memperoleh medali perak, tapi aku masih tetap bersyukur karena lawan ku berasal dari berbagai negara dan mereka juga perwakilan terbaik dari negara mereka masing-masing. Bukankah di posisi ke 2 juga sudah sangat bagus?.


Dan pria tampan itu, ya siapa lagi kalau bukan Akio, dia berhasil menjadi yang terbaik, bagaimana aku bisa menghindar dari pesonanya. Aku semakin jatuh, jatuh dan jatuh hati padanya. Dia belum pernah menunjukkan sisi hitam dari kehidupannya, dan justru selalu memberi kejutan dengan prestasi yang diraihnya. Membuat gadis manapun akan terpesona padanya.


Tapi sayangnya waktu kami bersama tinggal sebentar, malam ini kami kembali menginap di hotel sama yang ada di Jakarta, setelah melakukan perjalanan udara yang sangat melelahkan.


Dan besok acara syukuran serta perpisahan untuk kami semua. Aku harus segera menyampaikan perasaanku padanya, karena waktu yang ku punya tidak banyak.


Aku merasa senang karena berhasil menyimpan banyak foto dirinya saat kemarin melakukan tour selama se hari di Kazakhstan, meski tidak ada foto kami yang hanya berdua saja. Namun setidaknya ada foto kami yang bersama-sama dengan team dari Indonesia. Itu sudah cukup bagiku sebagai kenang-kenangan saat disana bersamanya.


Dia memang tidak pernah terlihat tersenyum, ataupun bercanda seperti peserta lainnya, bawaannya pendiam dan dingin. Namun berbeda untuk dua hari terakhir di Kazakhstan, saat kami tour bersama, dia ternyata sangat tampan saat tersenyum, aku melihatnya tersenyum dan bercanda dengan Alma saat di menara Alma Ata, entah apa yang mereka bicarakan, namun mereka terlihat begitu akrab dan sama-sama tertawa riang.


Saat kami sampai di hotel, usai upacara penyambutan di istana negara, kulihat Akio langsung menuju kamarnya, dia berjalan bersama dengan Alma, mereka berdua memang terlihat sangat asik jika sedang ngobrol berdua, aku berjalan di belakang mereka, dan sedikit sempat mendengar percakapan mereka.


Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang teman mereka yang pergi ke suatu tempat, aku pun melihat mereka saling mengucapkan selamat malam, saat hendak masuk ke kamar masing-masing.


Kulihat Banu juga sedang membuka kunci kamarnya, hendak masuk kedalam kamarnya, tadi kami berjalan bersama karena kamar kami saling berdekatan.


Aku tetap berdiri di depan pintu kamarku, kulihat Alma masuk ke kamar terlebih dahulu, dan saat Akio hendak membuka pintu kamarnya aku berjalan menghampirinya.


" Akio...!", ku panggil namanya, dan diapun menengok.


" Boleh minta waktunya sebentar?", Ku beranikan diri untuk berbicara terlebih dahulu, aku harus bergerak lebih cepat karena waktuku tidak banyak.


Kulihat dia menatap jam dipergelangan tangannya.


" Sudah malam, dan aku ngantuk, ada perlu apa?", tatapan matanya lagi-lagi membuat jantungku berdegup begitu kencang.


" Aku hanya mau mengatakan sesuatu", jawabku.


" Katakanlah, aku akan mendengarkan, kuberi waktu 5 menit", ucapnya.


What?


5 menit?


Itu terlalu singkat, tapi tak apa lah, lumayan dia sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan aku, meski hanya sedikit.


Untung sudah ku perkirakan sebelumnya. Ku ambil sesuatu yang aku simpan di saku celanaku, itu adalah surat yang sudah aku tulis beberapa hari yang lalu saat masih berada di Kazakhstan. Aku selalu membawanya di saku celanaku, berharap akan ada moment untuk bisa memberikannya pada Akio seperti saat ini.


" Bacalah, setelah kau membacanya, kau bisa memberi jawabannya padaku", ku serahkan secarik kertas bertuliskan coretan tentang curahan isi hatiku padanya, dan ku harap dia segera membalas dengan kabar baik.


Dia menerima surat itu dan mbawanya masuk ke dalam kamar. Aku pun membalikkan badan dan masuk ke kamarku.


Awalnya aku ingin mengatakan secara langsung tentang perasaanku padanya, tapi karena jadwal kami yang sama-sama sibuk, dan kupikir waktu luang untuk bisa ngobrol santai dengannya tidak akan pernah ada, aku berinisiatif menulis surat cinta, bukankah itu sangat romantis.


Dari pada menyatakan lewat pesan singkat atau telepon, menyatakan dengan surat menurutku lebih mengena di hati. Dan akhirnya ku tulislah sebuah surat cinta untuk Akio.



***Dear Akio***



*Sejak awal aku melihatmu di lobi hotel, aku sudah menebak kau berbeda dari laki-laki lain*.


*Sikapmu yang pendiam dan tertutup membuatku merasa sangat penasaran untuk lebih mengenal tentangmu, bahkan saat di tepian pantai ku perkenalkan diriku, kau tetap diam tak menyambut ku*.



*Entah apa yang akan kau pikirkan tentang aku setelah ini, tapi aku akan merasa tenang dan nyaman jika apa yang aku rasakan diketahui oleh orang yang ku tuju*.



*Benar sekali Akio, aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu, jangan tanya kenapa, karena aku menyukai semua yang ada pada dirimu, baru kali ini aku pernah menyukai seorang laki-laki sedalam ini. Dan perlu kau tahu, kamu adalah laki-laki pertama yang menempati hatiku yang selama ini masih kosong*.



*Andai ada banyak waktu yang masih tersisa untuk kita habiskan bersama, pasti aku akan menyatakan cintaku padamu didepan semua orang. Akan aku beritahu dunia bahwa seorang gadis bernama Lidia jatuh cinta pada laki-laki yang bernama Akio*.



*Namun sayang waktu kita sangat singkat. Dan besok kita sudah harus kembali ke tempat asal kita masing-masing. Jadi aku hanya bisa menyatakan perasaanku melalui secarik kertas ini*.



*Seandainya kau merasakan hal yang sama, kau hanya perlu tersenyum padaku saat kita sarapan bersama esok pagi, saat itu aku akan menghampirimu dan mengatakan pada semuanya jika kita adalah sepasang kekasih*.



*Namun jika tidak, maka abaikan surat ini, anggap kau tidak pernah membaca surat ini. Meski demikian .... perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Karena aku sangat mencintaimu*.



^^^***Lidia***^^^



***


Akio POV


Setelah perjalanan jauh, badan ini rasanya sangat lelah dan butuh tidur yang nyenyak dan lama, untung saja sekamar hanya untuk satu orang. Tidak seperti saat di Kazakhstan, sekamar untuk tiga orang, sehingga aku tidak bisa tidur nyaman, karena kedua teman sekamarku belajar terus menerus, siang dan malam.


Padahal kan untuk bisa berkonsentrasi dan fokus saat pertandingan harus dengan tubuh yang fit dan kondisi fisik yang kuat, butuh tidur dan istirahat juga biar tidak oleng. Tapi mereka terus saja belajar, bukankah itu justru tidak baik untuk fisik mereka, jika terus diforsir untuk belajar, badan mereka pasti akan drop, dan mereka akan sulit untuk fokus saat pertandingan.


Tapi memberi tahu mereka tidak ada gunanya, seperti sedang ngomong sendiri dan tidak didengarkan, jadi kadang aku lebih memilih untuk menutup telinga dan tidur terlebih dahulu.


Tapi bisa dilihat hasilnya kan?, siapa yang meraih medali emas, tetap yang cukup tidur dan istirahat, karena saat pertandingan bisa fokus dan tidak oleng.


Dan ada satu hal yang membuatku merasa kurang nyaman, ternyata pemuda yang kamarnya berada di sebelah kamar Alma, dia juga berhasil meraih medali emas. Ternyata cerdas juga anak itu. Aku harus terus waspada, jangan sampai Alma merasa penasaran terhadapnya. Alma milikku, dan tidak boleh terlintas sedikit saja untuk memikirkan laki-laki lain. Aku tidak izinkan itu.


Dan saat kami sudah menyelesaikan semua acara demi acara hari ini, kami pun dipersilahkan untuk tidur dan beristirahat. Ku pepet terus Alma, tidak akan kubiarkan Banu mempunyai kesempatan untuk berbicara dengannya. Hingga didepan kamar, aku menyuruh Alma untuk masuk terlebih dahulu, karena aku lihat Banu juga sedang berdiri di depan pintu kamar, hendak masuk ke kamar nya.


Setelah kulihat Alma masuk, ternyata Banu juga langsung masuk kedalam kamarnya. Baguslah, aku pun sudah lelah dan ingin segera masuk ke dalam kamar.


Namun saat ku tarik hendel pintu, gadis itu lagi-lagi menahan langkah ku, dia memanggilku saat aku hendak masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Dia meminta waktu untuk berbicara, dan kuberi waktu 5 menit padanya, dia menyerahkan secarik kertas padaku, ku terima dan kubawa masuk ke dalam kamar. Ku tutup pintu kamar dan ku kunci.


Setelah meletakkan semua barang bawaan, aku juga meletakkan secarik kertas pemberian gadis itu di atas nakas. Rasa lelah dan mengantuk sudah tidak bisa di tahan lagi. Besok saja ku baca surat darinya, rasanya mata ini sudah terlalu berat untuk bisa terbuka. Aku pun langsung merebahkan diri di atas kasur dan langsung tidur dengan pulas.