
" Bunda....!", teriak seorang anak laki-laki tampan, yang usianya belum genap 3 tahun itu, kaki mungilnya berlari mengejar Alma yang baru saja pulang dari kampus dan masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.
Alma berjongkok dan memeluk erat tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang.
" Bunda... bunda.... Aka udah bisa maem sendili, tadi Nini buatin Aka sup ayam yang enaaak banget, Bunda sama Om Bala juga udah di siapin sama Nini ", Arka terus bicara diatas gendongan Alma yang sedang berjalan menghampiri Maemunah dan mencium punggung tangannya. Alma sengaja salim pada ibunya di depan Arka, agar putranya bisa meniru kebiasaan baik yang diajarkan padanya semenjak kecil.
" Pinter banget putra bunda.... , udah bisa maem sendiri, udah nggak ngrepotin Nini lagi", Alma selalu memuji Arka setiap kali putranya berhasil melakukan sesuatu.
" Arka juga sudah makin jelas bicaranya, ayo cerita sama bunda, Arka habis main apa sama Nini dan Om Bara ?". Alma mendudukkan putranya di kursi makan setelah dirinya mencuci tangan.
Bara mengikuti kakaknya duduk di sebelah Arka dan ikut makan siang bersama Alma.
Sudah ada ayam goreng, sup dan juga sambel terasi kesukaan Alma, Alma pun mulai makan sambil mendengarkan Arka bercerita tentang kegiatannya hari ini. Sesekali Arka mengajak meminta pembenaran dari Bara tentang ceritanya.
" Aka tadi udah gambal cacing panjang dan banyaaaak banget, iya kan Om Bala?".
Bara yang makan pun hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan ponakannya itu.
Bara sudah masuk SMP, kini sudah mulai beranjak remaja, dan tingginya sudah sama dengan Alma, mungkin sebentar lagi Bara akan lebih tinggi dari Alma. Cita-citanya ingin menjadi ahli IT tidak lantas menghilangkan hobi berenangnya. Bara masih rajin berenang, apalagi kini dia bebas keluar masuk rumah Akio yang ada kolam renangnya. Bahkan mungkin dibanding dengan Alma, Bara lebih sering berkunjung ke rumah Akio dan terkadang tidur disana saat akhir pekan.
Sejak Alma tinggal bersama ibunya kembali, Alma jarang pulang ke rumah Akio. Beberapa pembantu di rumah Akio juga dipindah tugaskan karena di rumah itu terlalu banyak pembantu dan kurang efektif. Sebagai gantinya Alma mempekerjakan pembantu pembantu itu di beberapa cabang loundry miliknya.
3 tahun yang lalu, saat Alma tengah mengandung Arka, Alma membuka cabang loundry milik ibunya di beberapa tempat, hampir 11 cabang yang tersebar di berbagai tempat.
Alma harus berfikir maju dan mandiri tanpa keberadaan Akio di sisinya. Yayasan milik Akio kini juga dibawah pengawasannya, orang kepercayaan Akio kebanyakan adalah orang yang baik dan jujur, karena Akio sendiri yang memilih dan mempekerjakan mereka setelah mengetahui isi hati dan pikiran mereka terlebih dahulu tentunya.
Hingga sekarang Alma semakin sibuk, selain sebagai pengawas yayasan yang menaungi beberapa SD, SMP, dan SMA, Alma juga pemilik usaha loundry dan beberapa salon kecantikan yang mempunyai cabang cukup banyak. Belum lagi Alma mulai menjadi mahasiswi.
Tepat usia Arka 4 bulan, Alma memutuskan untuk mendaftar kuliah di kampus terdekat dari rumahnya. Tentu saja dengan dukungan dan dorongan orang-orang terdekatnya, yaitu Ibu dan adiknya yang selalu bersemangat meminta Alma untuk kuliah, juga dukungan kedua sahabatnya Sean dan Feni.
Ketiga bersahabat itu akhirnya kuliah di kampus yang sama, hanya fakultas mereka yang berbeda.
Alma yang terinspirasi saat dirinya mengalami kecelakaan pesawat terbang, muncul keinginan untuk bisa membantu dan menolong orang sakit, memutuskan untuk masuk ke fakultas kedokteran, nilai kelulusannya yang sempurna, ditambah harta peninggalan Akio yang berlimpah, mendukung Alma untuk bisa kuliah di kedokteran. Apalagi Alma sudah mendapatkan jaminan beasiswa pembebasan biaya kuliah dari pemerintah hingga dirinya selesai S3. Meski Alma memilih jurusan yang berbeda dengan cita-cita nya dahulu yang ingin menjadi seorang guru. Karena pada dasarnya kedua profesi itu baik, dan kembali pada keinginan hati masing-masing.
Feni dan Sean masuk ke fakultas ekonomi, karena cita-cita mereka yang ingin bekerja di perusahaan besar dan bisa mengenal CEO muda, atau eksekutif muda yang tampan, terpengaruh dari novel-novel yang akhir-akhir ini sering mereka baca.
Alma sudah selesai makan siang, setelah membereskan piring bekas tempat makannya dan juga Bara, Alma menggendong Arka dan membawanya ke kamar, rutinitas tidur siang untuk putra kecilnya memang selalu di lakukan nya setiap dia pulang siang.
Hari itu seharusnya masih ada satu mata kuliah lagi, namun dosen yang mengajar sedang ada acara keluar sehingga hanya memberi tugas untuk dikerjakan dirumah.
Arka yang aktif terus bermain-main di gendongan Alma saat dibawa menuju kamar, Arka memang tergolong anak yang aktif, penurut dan cerdas, mungkin turunan dari orang tuanya yang sama-sama cerdas, dan Alma yang penurut.
Hanya dibacakan satu kisah dongeng, Arka sudah tertidur pulas dalam buaian Alma.
Arka memang masih kecil, tapi dia paham saat beberapa kali dia menanyakan sosok ayahnya, Alma hanya menunjukkan foto Akio yang begitu banyak di galeri ponselnya.
Alma menjelaskan pada putranya, jika ayahnya sudah berada di surga, dan mengatakan pada Arka, jika ingin bertemu dengan ayahnya, Arka harus menjadi anak yang baik dan penurut, karena surga adalah tempat dimana orang-orang baik berkumpul.
Setelah Arka tidur dengan pulas, Alma meletakkan buku dongeng yang tadi dibacakannya di atas nakas. Ditatap wajah putranya dengan seksama, hampir seluruh bagian wajahnya sangat mirip dengan Akio, bulu matanya, bentuk bibirnya, mancung hidungnya, alisnya, semua yang tahu dan pernah melihat Akio pasti akan mengatakan jika Arka sangat mirip dengan mendiang ayahnya.
Alma sangat bersyukur karena dengan adanya Arka membuat rasa rindunya pada Akio jadi teralihkan. Alma seperti bisa melihat keberadaan Akio di dalam diri Arka. Tentu saja seperti sebuah mentari yang bersinar, begitu juga rasa sayang seorang Alma kepada putranya, tak terhingga sepanjang masa.
Segelintir air bening menetes dari kelopak matanya, berbagai doa Alma panjatkan pada Yang Maha Kuasa, memohon kesehatan, keselamatan, dan juga umur panjang untuk putranya, dengan pelan Alma mengecup kening Arka dan mengusap rambutnya.
" Seandainya saat itu ayahmu tahu tentang keberadaan dirimu dalam perut bunda, pasti dia akan sangat bahagia hingga akhir hidupnya", batin Alma sambil memejamkan mata di samping Arka dan memeluk tubuh mungil itu.
" Maaf karena selama ini telah lebih dulu pergi meninggalkan kamu, dan membiarkan kamu sendirian merawat anak kita".
Alma terperanjat mendapati sosok Akio yang tiba-tiba sudah berdiri di samping ranjang tempat tidurnya.
" Akio.... kamu....", Alma tidak bisa berkata-kata, Alma bangkit dan menatap wajah yang selama ini begitu dirindukannya, wujud Akio terlihat begitu nyata di hadapannya.
" Ya Allah apa aku sedang bermimpi?, jika benar ini mimpi, biarkan aku tetap berada di dalam mimpi ini" , Alma menitikkan air matanya, Akio mendekat dan mengusap air mata Alma yang terus mengalir tiada henti.
" Jangan terus menangis karena aku, kamu adalah wanita yang kuat, aku yakin kamu pasti mampu membesarkan anak kita sendiri, maafkan aku yang tak bisa berjuang bersama membesarkan anak kita".
Akio terus tersenyum teduh menatap Alma, suara Akio lama kelamaan berganti menjadi suara anak kecil yang sedang mengusap air mata di pipinya sambil memanggil-manggil namanya.
" Bunda.... bunda.... apa bunda mimpi buluk?", tangan mungil Arka mengusap-usap pipi Alma. Pelan-pelan Alma membuka mata dan memeluk putra kecilnya yang nampak bingung melihatnya tidur sambil menangis.
Alma menatap kamarnya, hanya ada dirinya dan Arka di kamar itu.
" Sayang...", Alma langsung mempererat pelukannya, menyadari jika pertemuannya dengan Akio tadi hanyalah sebuah mimpi.
" Kenapa Bunda tidul sambil nangis?, apa bunda mimpi ayah?".
Alma langsung mengangguk saat Arka bertanya padanya.
" Bunda tadi mimpi ayah datang sayang", ucap Alma lirih menahan isakan nya.
Tangan kecil Arka menangkup kedua pipi Alma.
" Bunda..., bunda jangan nangis lagi ya...., Aka janji akan jadi anak baik dan penulut, bial kelak Aka masuk sulga belsama bunda, dan kita ketemu ayah disana".
Alma tak bisa lagi berkata-kata, tenggorokannya serasa tercekat mendengar putra kecilnya berusaha menghiburnya.
" Bagaimana bisa aku membesarkan Arka dengan seperti ini, aku harus tegar dan bahagia, seperti yang Akio katakan dalam mimpi tadi, aku wanita kuat, aku pasti bisa mendidik dan membesarkan Arka menjadi manusia yang bermanfaat", batin Alma.
" Maafkan bunda sayang, bunda janji nggak akan nangis lagi, bunda juga ingin jadi bunda yang baik untuk Arka, biar kelak kita bisa sama-sama masuk surga dan bertemu dengan ayah disana".
Alma berusaha tersenyum dan mengajak Arka keluar kamar. Ternyata sudah jam 3, sudah waktunya Arka untuk mandi.
Alma menggandeng tangan Arka dan mengajaknya masuk kedalam kamar mandi.
" Aku tahu Yang Maha Kuasa sudah sangat baik padaku dengan menghadirkan Arka dalam hidupku. Aku tidak akan berlarut dalam kesedihan, aku harus bangkit, dan terus berusaha memberikan kebahagiaan untuk Arka".
...The End...
_________________________________________
Terimakasih untuk semua pembaca yang baik, sudah meluangkan waktu untuk membaca coretan-coretan author yang nggak jelas ini...
Semoga kita semua diberi kesehatan dan keselamatan, sehingga kita bisa terus berkarya.
Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam author menulis cerita ini, semoga berkenan memaafkan.
See you next time..... 🤗🤗🙏