
Akio POV
Aku menyuruh pengacara kepercayaan ku untuk mengurus rencana pembebasan Steven, hanya Steven yang perlu aku bebaskan sebagai balas jasa karena dia sudah menyelamatkan nyawaku. Yang lain aku tidak perduli.
Siang tadi sempat mengobrol lama dengan polisi yang membantuku di lokasi kerusuhan kemarin, sepertinya dia juga sudah tahu jika aku bukan lah manusia. Kini semakin banyak yang tahu jika aku bukan manusia.
Jalan satu-satunya memperoleh ketenangan dalam hidup, aku harus menyelesaikan masa sekolahku di SMA Pelita Jaya bersama Alma, setelah itu akan ku bawa Alma ke tempat yang jauh dari sini.
Jika Alma keberatan karena harus berada jauh dari ibu dan adiknya, maka aku harus membujuk Ibu dan Bara agar mau ikut bersama kami pindah.
Sudah ku susun rencana sedemikian rupa, semoga saja semua berjalan lancar sesuai dengan keinginanku.
_
_
Hari berganti hari, aku dan Alma sudah menyelesaikan sekolah kami, dengan nilai terbaik bukan hanya di tingkat kota, tapi di tingkat nasional, karena nilai kami.berdua sempurna.
Begitu banyak perguruan tinggi yang ingin merekrut kami dan menjadikan kami sebagai mahasiswanya. Namun keputusanku sudah bulat, aku harus pindah sejauh mungkin, ke tempat yang tidak ada seorangpun mengenal aku ataupun Alma.
Tempat dimana hanya ada aku, Alma, dan calon anak-anak kami kelak. Aku tidak perlu berpayah- payah lagi untuk bekerja, sudah banyak usaha yang ku miliki, dan ku percayakan pada orang-orang yang tepat.
Karena kemampuanku yang bisa membaca pikiran dan hati orang lain ternyata sangat menguntungkan, bisa memilih mana orang yang benar-benar bisa di percaya dan yang tidak bisa dipercaya.
Hari dimana semua orang mengira aku dan Alma akan pindah ke luar negeri karena hendak melanjutkan studi kami di universitas ternama di luar negeri, ada yang menebak kami akan sekolah di Harvard university, ada juga yang menebak jika kami akan kuliah ke Oxford university, dan tak pernah ada jawaban pasti yang kuberikan pada mereka semua.
Aku tidak butuh sekolah dan belajar lagi, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama istri yang aku cintai. Hanya akan ada istriku dan anak-anak kami yang tahu jika aku adalah alien, dan lambat mengalami penuaan. Aku yakin beberapa tahun lagi akan terbongkar semua rahasia yang sudah ku simpan selama ini, karena mereka para alien yang beberapa bulan lalu mengacau di mol di masukan tahanan dengan hukuman penjara selama 20 tahun.
Mereka dijerat dengan pasal berlapis, karena selain membuat kekacauan di tempat umum, mereka juga membunuh beberapa petugas keamanan.
Pasti akan segera ketahuan jika mereka lambat mengalami penuaan, 20 tahun mereka di dalam penjara, pasti akan tetap masih dengan wajah dan tubuh seperti saat ini, sedangkan para polisi yang menangkap mereka mungkin sudah mendekati masa pensiun dan semakin menua.
Steven berhasil aku selamatkan, dia hanya ditahan 1 tahun, dan sebentar lagi akan bebas. Steven ditempatkan di tahanan yang berbeda dengan yang lain. Dia nantinya akan menempati vila di pulau pribadi milikku agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Awalnya aku mengajak Steven untuk pergi bersamaku dan Alma, namun sepertinya Steven merasa tidak nyaman tinggal bersama kami berdua.
Rencananya aku dan Alma akan tinggal di pulau kecil yang ku beli di wilayah Amerika serikat, tempatnya di kepulauan Hawai. Alma ternyata setuju dengan keputusanku, semenjak insiden tertembak beberapa waktu lalu, baginya keselamatan ku kini menjadi prioritas. Alma semakin mencintaiku dan takut kehilanganku.
Ibu dan Bara tidak mau ikut pindah bersama kami, mereka tetap ingin tinggal di rumah mereka. Meski sudah ku minta mereka untuk menempati rumahku yang jauh lebih besar. Tapi mereka tidak mau.
Hanya ku tinggalkan surat kepemilikan rumahku yang sudah ku atas namakan menjadi milik Bara. Anggap saja itu hadiah dariku sebelum aku membawa kakaknya pergi jauh, dan entah kapan kami bisa bertemu.
Sekarang sudah jaman modern, kami bisa melakukan komunikasi tatap muka melalui ponsel dan internet.
Aku melihat Ibu dan Bara yang menangis melepas kepergian ku dan Alma di bandara. Alma tersenyum dan melambai pada ibu dan Adiknya setelah lama mereka saling berpelukan. Tidak ada air mata di matanya.
Sepertinya Alma tidak terlalu bersedih meninggalkan ibu dan adiknya yang mungkin entah kamii masih bisa bertemu lagi atau tidak.
Biarlah dia meluapkan emosi nya, aku tidak akan mengganggunya kali ini, aku ingin memberinya waktu sebentar untuk bersedih karena perpisahan. Setelah sampai di rumah baru dan kehidupan baru nanti, aku tidak akan pernah lagi membiarkannya menangis dan bersedih.
Akan ku isi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan dan suka cita.
Selamat tinggal kehidupan lama, aku pergi bukan karena aku pengecut dan kabur dari kenyataan. Hanya saja memilih tempat dan kehidupan baru yang lebih damai dan tentram.
Jauh dari jutaan pertanyaan yang pasti akan orang sekitar sampaikan. Dan menghindar dari masalah yang sebenarnya bukan dari kesalahan kita.
***
Alma POV
Setelah insiden mengerikan yang terjadi di mol, hari-hariku kembali berjalan seperti biasa, aku dan Akio masih sekolah dan bersosialisasi dengan teman-teman seperti biasanya.
Hanya saja kulihat Akio sedikit berbeda, karena kini dia mau menyapa dan bertegur sapa dengan orang lain. Awalnya kukira itu sebuah kemajuan, dan tentu saja akan ku dukung perubahan dirinya yang semakin supel dan ramah.
Dan setelah ujian akhir selesai, kami berdua sama-sama mendapatkan nilai sempurna. Surat undangan dari berbagai perguruan tinggi datang melamar kami. Sungguh aku sangat senang saat itu.
Namun usai pergulatan panas malam itu. Akio mengajakku mengobrol serius, dia mengatakan sudah membeli pulau kecil di Amerika serikat, dan ingin kami tinggal disana, dia menjelaskan kenapa ingin tinggal ditempat yang hanya ada kami berdua disana.
Aku memahami alasannya, sebagai istri aku berusaha patuh dan menuruti keinginannya, aku tidak mau mengecewakan dia dengan menolak ajakannya dan tinggal sendiri di sini.
Beberapa hari yang lalu Akio sudah mengajakku pergi ke rumah sakit untuk melepas KB implan yang ada di tubuhku, dia mengatakan ingin segera memiliki anak dariku. Lagi-lagi aku hanya menurut saja. Mungkin karena aku benar-benar mencintainya. Semua keinginannya selalu ku turuti.
Aku sempat bingung beberapa hari karena harus berpisah dengan ibu dan adikku, sebelum berangkat ke Amerika, aku meminta tinggal di rumah ibu selama dua hari dan Akio menuruti.
Sedih, tentu saja aku sangat sedih, tapi tidak ku tunjukkan pada ibu dan Bara, mereka bisa jadi khawatir jika tahu aku bersedih. Kami berpisah di bandara, dan setelah pesawat lepas landas, ku tumpahkan air mata yang sudah ku tahan sejak kemarin, tanpa sepengetahuan siapapun.
Akio memesan penerbangan kelas utama/ first class, jadi tempat duduk kami sangat privasi dengan berbagai macam fasilitas yang tersedia.
Aku berpura-pura pada Akio jika aku mengantuk dan ingin istirahat, ku tutupi wajahku dengan majalah yang tadi ku baca, dan ku tumpahkan air mataku saat itu.
Akan berada di dalam pesawat selama hampir seharian, pasti akan sangat melelahkan, dan Akio percaya jika aku mengatakan aku mengantuk. Sepertinya dia tidak mengetahui aku yang menangis karena merasa sedih harus berpisah dari keluargaku.
Selamat tinggal masa lalu yang penuh berjuta kenangan, dan selamat datang masa depan yang hanya akan ada aku dan Akio nantinya.
...Tamat...
_____________________________________
Terimakasih semua yang tetap setia mengikuti kisah Alma dan Akio 🙏🙏😊
Endingnya mereka memutuskan untuk pergi dan tinggal di tempat yang jauh dan tak berpenghuni.
Apa akan ada bonus episode?, tentu saja ada, di tunggu boncab nya readers tersayang...