
Alma merasa begitu terharu sekaligus bahagia dengan kejutan ulang tahunnya yang ke 17 ini. Meski sedikit terlambat karena tidak tepat di tanggal kelahirannya, namun Alma masih tetap bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Selain roti ulang tahun yang dibawa oleh ibunya, ternyata masih ada hadiah lain yang disiapkan oleh Akio. Alma mengira hadiah cincin berlian di hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu adalah satu-satunya kado dari Akio. Namun ternyata Akio memberikan sebuah kotak kecil dengan bungkus hitam dan pita merah di atas tutupnya.
Pelan-pelan Alma membuka tutup kotak itu, Alma pikir awalnya mungkin Akio memberinya perhiasan lagi, semacam gelang atau kalung. Namun saat dibuka Alma melihat sebuah kunci mobil.
" Apa ini ?", tanya Alma masih merasa bingung.
Akio membantu memberi arahan pada Alma agar memencet salah satu tombol pada kotak kecil yang menggantung di kunci mobil itu.
" Tiiit...tiiit....tiiit....".
Terdengar bunyi mobil dari ujung garasi. Alma pun mencari sumber suara. Dan saat sampai di depan mobil yang bersuara, Pak satpam membukakan kain yang mengerubungi mobil itu.
" Ini hadiah buat kamu sayang", ucap Akio yang berdiri di belakang Alma. Alma tidak percaya dengan yang dilihatnya.
" Mobil?, ini berlebihan A...., aku nggak perlu mobil, kan kita kemana-mana selalu berdua. Lagian aku nggak bisa nyetir". Alma merasa hadiah dari Akio sudah sangat berlebihan.
Mobil dihadapannya adalah Mercedes Benz, dan Alma yakin harganya sampai ratusan juta. Menurutnya Akio terlalu menghambur- hamburkan uang hanya untuk sebuah kejutan ulang tahun.
" Sudah diterima saja, semua surat-surat sudah atas nama kamu, kalau nggak bisa nyetir nanti kita bisa belajar, atau aku bisa carikan supir buat kamu, aku sudah siapkan ini jauh-jauh hari sebelum tanggal ulang tahun kamu, tapi rencana kejutan yang akan aku berikan saat itu gagal gara-gara kejadian tak menyenangkan di sekolah. Maaf untuk kesalahan saat itu", ucap Akio mencoba menjelaskan.
Kemudian Akio menarik tangan Alma membukakan pintu mobil dan memintanya masuk ke mobil yang sekarang sudah sah menjadi miliknya.
Saat Alma berhasil masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Alma dikejutkan dengan buket uang yang sangat banyak. Mungkin belasan juta. Dan saat Alma bertanya pada Akio ternyata benar, buket uang itu sejumlah 17 juta, sesuai dengan usia Alma saat ini.
" Makasih banyak A... ini sih aku sudah nggak tahu harus ngomong apa lagi, apa selain ini kamu masih menyimpan hadiah lagi". Alma yang diberikan kejutan hadiah bertubi-tubi akhirnya berfikir jika Akio masih menyimpan sesuatu untuknya.
Akio dan Alma pun turun dari mobil baru, karena yang lain sudah menunggu di meja makan.
" Kejutan selanjutnya aku berikan nanti malam di kamar", bisik Akio sambil merangkul Alma berjalan menuju ruang makan.
Alma langsung melirik tajam, sambil tersenyum simpul, karena paham dengan maksud ucapan Akio.
" Kuat berapa ronde memangnya?" , goda Alma sambil melepas rangkulan Akio karena mereka sudah sampai di meja makan.
" Semampunya kamu melayaniku di atas ranjang nanti malam", bisik Akio di telinga Alma, karena saat ini mereka sudah duduk di kursi makan, bersama dengan ibu dan Bara, juga bersama para pembantu di rumah Akio.
Maemunah yang sengaja menyuruh mereka semua makan bersama, karena ini hari spesial, dan tidak ada yang boleh menolak.
***
Usai makan Alma dan Akio langsung pergi ke salon sesuai rencana mereka kemarin. Sedangkan Bara dan ibunya memilih untuk pulang ke rumah. Karena biasanya tiap weekend banyak sekali orang datang ke kios loundry. Karena itulah Maemunah memilih untuk pulang kerumah, ketimbang mengikuti Alma dan Akio ke salon untuk potong rambut dan perawatan.
Pukul 9 pagi, usai mengantar Bara dan ibunya, Akio dan Alma langsung menuju salon langganan mereka. Salon itu juga salah satu usaha milik Akio yang dikelola oleh orang kepercayaannya.
" Pak Bos, udah lama banget nggak datang kemari, mau eke kasih perawatan apose ni?", sapa seorang laki-laki bertulang lunak dengan logat melambai.
Akio menunjuk ke arah Alma, " berikan semua perawatan dari ujung kaki sampai ujung rambut".
" Tika...!, Yuli...!, Cepat ke Sindang, ini ada tamu agung, lakukan semua perawatan ya, dari ujung kaki, sampai ujung rambut, you understand?", perintah si Tini lelaki tulang lunak yang nama aslinya adalah Tono.
" Siap bos laksanakan". Alma pun ikut masuk ke dalam ruangan bersama mereka berdua, pekerja salon yang tadi di panggil oleh Tini untuk melayaninya.
" Pak bos mau eke servis apa niech?", tanya si Tini dengan genit.
" Aku juga mau potong rambut, tapi kamu yang motong". Akio memang sangat sreg jika di potong rambutnya oleh si Tini, meski dia laki-laki bertulang lunak, dan melambai, namun hasil potongan rambutnya selalu sesuai dengan keinginan. Tidak pernah sekalipun ada pelanggan yang kecewa dengan hasil potongan rambutnya. Tangannya yang melambai mempunyai bakat memotong rambut sangat handal.
" Oke bos, eke pakai perlengkapan dulu ya, bos bisa pilih mau duduk di kursi yang mana", Tini menggunakan apron barbershop yang selalu digunakan sebelum melayani tamu yang datang.
Salon yang dikelola Tini memang baru berumur sekitar satu tahun, tapi sudah banyak langganan orang-orang yang puas dengan hasil potongan rambut Tini, hingga Tini pun mempekerjakan beberapa orang dan membuka servis lain selain potong rambut dan keramas, ada juga pilihan manicure padicure, pijat tubuh, facial, rebonding, smoothing, cat rambut dan berbagai macam servis lainnya.
Omzet tiap bulan pun selalu meningkat, yang berawal dari 800 ribu pendapatan bersih di bulan pertama. Dan naik-naik terus di bulan-bulan selanjutnya.
" Oke, eke mulai ya bos, kepalanya santuy ya...".
Tini mulai memotong rambut Akio, dia selalu fokus setiap kali sedang bekerja, Akio kembali teringat diawal bertemu Tini. Dulu dia menjadi tukang cukur keliling yang selalu membawa kursi dan kaca memutari komplek, namun saat hendak masuk kawasan perumahan elit komplek rumah Akio, satpam mengusirnya, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke komplek perumahan elit itu.
Saat itu Akio hanya melihatnya saja dari dalam mobil, dan tidak berniat untuk ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi orang asing yang tidak dikenalnya.
Namun beberapa hari kemudian, saat berhenti di perempatan lampu merah, Akio kembali melihat Tini sedang melewati zebra cross, hendak menyeberang sambil membawa kaca dan kursi seperti beberapa waktu lalu. Hal itu dilihatnya beberapa kali, setiap dia berhenti di lampu merah yang berbeda.
Usaha dan kerja keras Tini membuat Akio berpikir, mungkin Tini adalah orang yang pantas untuk dibantu, karena itulah suatu ketika Akio turun dari mobil dan menawarkan tempat untuk Tini membuka tempat cukurnya.
Siapa yang tahu ternyata itu menjadi jalan rejeki Tini dan beberapa orang yang akhirnya menjadi karyawannya. Dan Akio tidak pernah meminta bagian dari hasil yang Tini peroleh. Namun tiap bulan Tini tetap menyisihkan sebagian hasil yang menjadi hak Akio.
Tini masih menyimpan sampai sekarang, meski belum juga diserahkan. suatu hari nanti Tini berharap Akio mau menerima bagi hasil darinya.
Sabtu itu salon cukup ramai, karena Akio hanya potong rambut dan keramas saja, Akio dipersilahkan untuk bersantai di ruangan khusus, menunggu Alma selesai melakukan perawatan. Akio pun membuka-buka laporan administrasi dari beberapa sekolah yang berada di bawah naungan yayasan miliknya.
Semua semakin membaik, bahkan tahun ini mungkin Akio akan untung banyak hanya dari hasil beberapa sekolahan saja. Akik sudah tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk bermain judi lagi. Pendapatan dari yayasan sudah sangat cukup, bahkan sudah lebih hanya untuk mencukupi kebutuhannya.
" Aku tak tahu akan sampai kapan aku bisa merahasiakan identitas diriku yang sebenarnya pada semua orang. Mungkin aku harus mencari obat yang membuatku bisa terlihat menua lebih cepat".
"Jika memang usiaku hanya sampai beberapa puluh tahun lagi menyamai manusia di bumi, tidak apa, aku terima,, yang penting selama sisa hidupku aku terus bersama dengan Alma. Aku sudah hidup lebih lama dari semua manusia yang ada di bumi ini"
" Menua bersama Alma, hingga ajal menjemput, seperti layaknya manusia-manusia lainnya mungkin menjadi pilihan yang paling tepat".
Jam 11 siang, Alma baru saja selesai melakukan perawatan tubuhnya, semua perawatan di ikuti tanpa terkecuali. Saat Alma selesai dan menemui Akio di ruangan khusus, ternyata Akio tertidur di sofa tunggu.
" Kamu pasti lelah menungguku selama dua jam", Alma duduk di sebelah Akio namun tidak membangunkannya, sepertinya Akio masih sangat pulas. Sedangkan Alma memesan beberapa makanan melalui aplikasi, agar ketika Akio bangun badan merasa lapar, sudah ada makan yang tersedia.
" Mau eke pesenin makanan Cin?", tanya Tini, sambil berbisik, Akio memang tidak suka jika tidurnya di ganggu, namun dia sendiri senang sekali mengganggu tidur Alma hampir setiap malam.
Alma menggeleng, " nggak usah, aku sudah pesen tadi, sekalian buat kamu dan yang lain juga, nanti kalau makanannya sampai, tolong bawain masuk ya Mbak", Alma memang memutuskan memanggil Tini dengan sebutan "Mbak", meski awalnya dia bingung mau panggil apa, dan akhirnya memutuskan panggil 'Mbak' saja.
Bahkan Tini sangat senang dengan panggilan yang Alma berikan padanya itu.
Namun bunyi telepon Akio yang berulang-ulang membangunkan Akio dari tidurnya.
" Sayang sudah selesai?, kok nggak bangunin aku?", Akio membuka matanya perlahan, karena masih menyesuaikan dengan cahaya lampu di ruangan itu yang cukup terang.
" Baru saja selesai, coba di cek siapa yang telepon, siapa tahu penting", ucap Alma.
Dan benar saja telepon itu kembali berdering dari nomer yang sama. Akio pun mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
" Halo".
"................".
" Benar saya Akio Toyoda, ini siapa?".
Akio merasa aneh, karena hanya orang-orang tertentu yang tahu nomer ponselnya, tidak ke ih dari 10 orang.
" ..............".
" Kantor polisi?, baiklah Pak, saya segera kesana".
Mendengar Akio menyebut kantor polisi membuat Alma langsung khawatir.
" Kita ke kantor polisi sekarang sayang, Steven dan yang lain sedang ditahan disana".
Alma pun langsung mengikuti Akio menuju kantor polisi.