My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 78 : Kembali Bersatu



Alma POV


Siang ini adalah siang yang ku tunggu-tunggu, hari terakhir di minggu ini kegiatan belajar di sekolah, sudah beberapa hari ini aku jarang ngobrol berdua dengan Akio.


Di sekolahan aku dan Akio sedang diawasi oleh kepala sekolah,sejak insiden yang terjadi beberapa hari yang lalu. Karena itulah aku selalu menjauh dari Akio, dari masuk sampai bel pulang sekolah, aku berusaha menjaga jarak dengannya.


Kami masih tetap berangkat dan pulang sekolah bersama, hanya saja aku akan berjalan dan menunggu di pertigaan dekat sekolah, dan baru naik ke mobil Akio. Tidak seperti biasanya langsung naik di depan sekolah.


Untung Sean dan Feni selalu datang ke kelasku saat istirahat, jadi aku ada teman untuk pergi ke kantin atau sekedar membaca buku di perpustakaan.


Insiden yang terjadi tepat di hari ulang tahunku yang ke 17, yang sering kali disebut dengan sweet seventeen, tapi hari itu bukan manis yang kurasakan, melainkan pahit.


Aku hanya merasakan manisnya di awal, karena setelah insiden yang terjadi justru aku merasa sangat malu, semua memang bisa cepat di tangani, tapi pak kepala sekolah dan beberapa guru dan siswa lain sudah sempat melihat adegan ciuman ku dengan Akio.


Entah apa yang mereka pikirkan tentang kami, tapi yang jelas sejak saat itu aku menjadi sangat malu untuk berada di tempat ramai. Mungkin memang belum banyak yang melihat video itu, tapi aku tetap saja merasa malu.


Dalam pikiranku mungkin saja mereka mengira aku cewe gampangan, cuma di beri hadiah cincin berlian, mau dicium dan disentuh sedemikian rupa.


Padahal kami pasangan suami istri, dan sudah jadi kewajibanku untuk melayani keinginannya untuk bercinta, kapan dan dimana tempatnya aku tetap harus melayaninya. Hanya saja saat itu kami lengah karena kami sama-sama terbawa suasana di dalam mobil, dan ternyata ada cctv yang terpasang di plafon mobil Akio.


Cctv milik salah satu penguntit yang sangat penasaran dengan hubungan asmara kami berdua. Dia adalah siswa baru, dan dia adik kelasku.


Dan seperti sebuah kebetulan, beberapa hari setelah kejadian itu aku datang bulan. Jadi selain di sekolah kami tidak bisa sering bersama. Di rumah pun aku sengaja sedikit menjaga jarak, karena aku datang bulan dan tidak bisa melayaninya.


Namun hari ini datang bulan ku sudah usai, dan besok adalah liburan akhir pekan. Seminggu usai insiden memalukan itu, akhirnya aku bisa berduaan lagi dengan Akio nanti malam.


Seperti biasa aku berjalan keluar sekolahan dan berdiri di pertigaan menunggu mobil jemputan yang membawa Akio juga di dalamnya.


Siang ini langit terlihat sangat mendung,dan angin berhembus dengan cukup kencang, mungkin akan segera turun hujan.


Tidak butuh waktu lama aku berdiri beberapa menit di pinggir jalan, Mobil Akio berhenti di depanku. Dan pintunya terbuka, aku pun masuk kedalam mobil.


Akio sudah berada di dalam mobil, namun kami tidak bisa bermesraan dulu saat ini, kami harus bersabar hingga kami sampai di rumah. Kami khawatir ada yang memasang cctv lagi di mobil kami. Karena seperti waktu itu, cctv itu sangat kecil dan tidak terlihat, karena itulah kami harus tetap waspada.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, aku dan Akio juga tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Namun saat sampai dirumah dan masuk ke dalam kamar. Akio langsung memeluk tubuhku dari belakang.


" Aku sangat merindukanmu sayang" bisik Akio di telingaku, kemudian dia mencium ceruk leherku, dan mengecup tengkuk leherku.


Hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk ku langsung me remang.


" Aku juga merindukanmu", ucapku sambil membalikkan badanku menghadap ke arah Akio.


Setelah aku sedikit mendorong tubuhnya agar aku bisa mengambil nafas, justru dimanfaatkannya untuk bertanya,


" Apa sudah boleh?".


Akio bertanya padaku, karena kemarin- kemarin setiap dia mendekat dan mencumbuku, aku menghentikannya, karena aku sedang datang bulan.


Dan hari ini ku jawab dengan anggukan kepala. Akio pun langsung menariku ke atas kasur dan kembali ******* bibirku dengan sangat rakus, tangannya mulai membuka kancing baju seragamku. Setelah berhasil membuka seluruh kancing baju, Akio melepas ciumannya.


Bibirnya berpindah ke bagian tubuhku yang lain, dari leher, dada, dan juga kedua gunung kembarku. Aku sampai tak bisa menahan rasa geli dan glenyeran aneh namun juga nikmat, yang kurasakan. Tubuhku menggeliat lepas kendali. Dan suara de sa han nikmat keluar begitu saja dari mulutku.


Akio semakin bersemangat untuk membuat aku terbang hingga puncak kenikmatan. Dia kini sudah berhasil melucuti semua pakaian dari tubuhku. Aku melihat miliknya yang sudah membesar sempurna.


Karena aku yang sudah terbawa suasana, Akio langsung mengarahkan miliknya ke milikku. Tidak butuh waktu lama, hanya beberapa kali goyangan tubuh Akio, aku sudah sampai di titik puncak kenikmatan ku, Aku tahu Akio belum merasakan hal yang sama, dan masih berusaha mencapai kenikmatannya juga.


Dengan gerakan yang semakin cepat dan memburu, Akio terus berusaha mencapai kenikmatannya. Bersaman dengan hujan deras yang turun membasahi bumi, tubuh Akio menghentak dengan sangat keras, sambil mengerang, beberapa saat kemudian dia menghentikan gerakannya, dia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku.


Tubuhnya melemas dan terkulai. Dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Dan berpindah posisi, merebahkan diri di sampingku.


" Tuan... makan siang sudah disiapkan!", terdengar suara bibi dari luar kamar.


Memang setiap pulang sekolah, bibi selalu menyiapkan makan siang untuk kami berdua.


" Nanti saja, kami mau tidur siang dulu!", teriak Akio. Setelah mendengar jawaban Akio, kudengar langkah bibi menjauhi pintu kamar kami.


" Apa kamu sudah lapar sayang?, kalau kamu sudah lapar, kita bisa makan siang terlebih dahulu".


Akio memiringkan tubuhnya menghadap ke arah ku.


" Aku nggak laper, nanti saja makan siang nya, aku capek, mau tidur dulu", jawabku, sudah dengan mata mengantuk dan setengah terpejam.


Aku merasa sangat bahagia hari ini, karena setelah sekian hari, akhirnya kami bisa kembali bersatu, usai insiden memalukan beberapa waktu yang lalu. Rasanya hari ini pikiranku kembali tenang dan damai.


Ku pejamkan mataku karena sudah sangat lelah dan mengantuk. Lama kelamaan suara rintik hujan menghilang dari pendengaran ku. Aku terlelap dalam kedamaian.


Mataku sudah tertutup rapat, tapi aku masih bisa merasakan bibir Akio mengecup keningku dan sedikit mengangkat kepalaku, dan disandarkan diatas lengannya. Kemudian kurasakan tangan Akio memeluk bagian perutku. Dan wajahnya berada di atas kepalaku. Dia ikut tidur sambil terus mencium kepalaku.


Hati ini rasanya begitu damai dan tentram berada dalam posisi seperti ini. Semoga tidak akan ada lagi insiden-insiden lain yang akan terjadi di kehidupan kami seterusnya.


Do'aku dalam hati, disaat hujan deras, aku berharap akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.