
Jam menunjukkan pukul setengah 2, bel pulang sekolah pun berbunyi, karena ini adalah hari selasa, otomatis Alma dan Akio harus mengikuti les tambahan di sekolah. Kegiatan les tambahan dimulai jam 2 hingga jam setengah 4. Ada waktu setengah jam untuk para siswa beristirahat dan makan siang.
Sebelumnya Alma dan Akio belum mengetahui tentang kegiatan les tambahan itu, sehingga Alma tidak menyiapkan bekal makan siang untuk mereka berdua.
" Cuma ada waktu setengah jam, apa mau makan siang di kantin?, nggak mungkin juga kan makan siang di luar, waktunya terlalu mepet", tanya Alma pada Akio yang masih duduk dengan menyandarkan kepalanya di meja.
" Aku ngantuk, males makan siang, kalau kamu lapar, beli biskuit atau roti saja ke kantin, terus di bawa ke sini. Aku mau memejamkan mataku sebentar", Akio berbicara sambil memejamkan matanya. Tentu saja dirinya masih merasa ngantuk, tadi pagi harus bangun lebih awal.
" Baiklah kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, nanti aku belikan kamu roti sama minuman dingin juga".
Alma beranjak dari bangkunya menuju kantin sekolah. Suasana kantin jika di jam siang sepulang sekolah seperti saat ini memang tidak terlalu ramai seperti saat jam istirahat sekolah tadi pagi, karena hanya ada beberapa anak kelas 12 yang sedang makan di kantin. Sedangkan anak-anak kelas 10 dan 11 mereka sudah keluar dari sekolahan, dan hanya menyisakan beberapa anak yang masih menunggu jemputan ataupun angkutan umum.
" Alma, apa kamu mau ke kantin?", Marko yang berjalan dari arah ruang guru memanggil Alma yang sedang berjalan sendirian menuju arah kantin.
Alma mengangguk, " Kenapa?".
" Bareng ya, aku juga mau ke kantin, tapi ada yang harus aku bicarakan dengan kamu".
Alma kembali mengangguk mendengar ajakan Marko untuk berjalan ke kantin bersama.
" Mau bicara apa?".
" Sebenarnya tadi aku dari ruang guru karena di panggil oleh Bu Henny, dan Bu Henny bercerita padaku jika beliau di panggil kepala sekolah siang tadi, Bu Henny meminta aku menyampaikan padamu kalau minggu depan ada kegiatan lomba cerdas cermat, tingkat kabupaten. Hanya beberapa mapel saja, dan kamu harus mewakili sekolah di mapel matematika".
" Pak kepala sekolah memilihmu yang sudah jelas mampu meski pemberitahuannya mendadak, karena jika memilih yang lain, pasti hasilnya kurang maksimal, itu pak kepala sekolah yang bicara begitu pada Bu Henny".
Alma berhenti dan memilih beberapa roti di rak kantin, juga mengambil beberapa minuman dingin untuknya dan juga Akio dari dalam showcase.
Marko duduk, dan mengambil lontong dari nampan yang tergeletak di meja kantin di tangan kanannya dan juga mengambil bakwan di tangan kirinya, dan mulai menggigit lontong dan bakwan secara bergantian.
" Kenapa Bu Henny tidak bicara langsung kepadaku?, kenapa malah ngomongnya sama kamu?", Alma duduk di kursi kantin yang berada di depan meja tempat Marko duduk, dia sengaja menyelesaikan obrolannya dengan Marko, dibukanya tutup seal minuman isotonik dingin yang digenggamnya.
Alma meminum beberapa teguk minuman isotonik dingin yang terasa sangat segar saat melewati kerongkongan nya, apalagi pas sekali meneguk minuman dingin dikala dirinya tengah merasa kehausan. Alma memutuskan tetap di kantin karena buru-buru kembali ke kelas juga pasti Akio sekarang sudah tidur.
" Bu Henny belum punya nomer HP kamu, di grup chat kelas juga nomer kamu dan Akio belum masuk, makanya Bu Henny mengirim pesan padaku, sebenarnya tadi minta aku bilang sama kamu untuk menghadap beliau di kantor".
" Tapi aku baca pesan pas lagi di toilet cowok, nanggung udah Deket kantor, dari pada bolak-balik ke kelas lagi, jadi aku putuskan aku sendiri yang kesana, hehe", Marko mengatakan alasan sebenarnya, membuat Alma menggelengkan kepalanya.
" Ya sudah masukan saja nomerku dan Akio di grup kelas, berapa nomer HP kamu?", Alma mengambil ponsel miliknya dari dalam saku bajunya.
" 081xxxxxxxxx ".
Alma langsung melakukan panggilan dari ponselnya. Juga menyimpan nomer Marko di ponselnya. Alma juga mengirim nomer Akio pada Marko.
" Itu nomer HP ku, dan yang ku kirim lewat pesan adalah nomer Akio, masukkan saja di grup kelas. Nanti kirimi aku nomer Bu Henny, biar aku bisa ngobrol langsung sama beliau".
Alma berdiri dan meninggalkan Marko yang masih menikmati lontong dan bakwan di kantin, Alma membawa roti dan minuman yang dibelinya ke kelas.
" Nggak jadi tidur siang?", Alma meletakkan roti dan minuman di meja Akio. Dia sendiri mengambil satu roti untuk dimakannya.
" Sudah mau tidur sih tadi, tapi nomer baru yang tadi pagi, lagi-lagi nelpon dan ganggu tidur siang ku. Jadi aku matikan ponselnya". Akio menunjukkan layar ponselnya yang sudah mati.
" Sebenarnya siapa sih orang iseng itu?, aku jadi penasaran, kenapa dia melakukan keisengan seperti itu". Alma lagi-lagi terlihat berpikir.
" Nanti kalau sudah pulang sekolah, aku suruh orang kepercayaanku untuk melacak itu nomer siapa, nggak usah dipikirin". Akio memakan roti yang dibelikan Alma.
" Tadi kok lama di kantinnya, apa makan dulu disana?", tanya Akio yang tadi hampir menyusul Alma karena Alma tidak kunjung kembali dari kantin.
" Nggak , aku cuma makan sepotong roti, tadi Bu Henny titip pesen sama Marko, aku disuruh ikut lomba cerdas cermat mewakili sekolahan minggu depan".
" Sama kasih nomer kita ke Marko biar dimasukkan grup kelas", terang Alma jujur.
" Jadi kamu ngobrol sama anak tukang gado-gado itu. Hebat juga dia di sini jadi ketua kelas", gumam Akio sambil tersenyum sinis.
" Anak tukang gado-gado?", Alma langsung menutup mulutnya, " benar saja aku merasa seperti pernah melihatnya, tapi dimana, aku belum ingat. Ternyata dia anak tukang gado-gado yang di deket kantor polisi itu".
Akio kembali meringis, " Dasar...!, otak kamu itu cuma dipenuhi materi pelajaran, makanya dengan hal lainnya agak lemot". Akio memasukkan bungkus roti ke dalam saku tasnya, karena lagi merasa males untuk berjalan ke tempat sampah di luar kelas.
" Siapa bilang ?, cuma kamu yang bilang aku lemot!, mending lemot karena otak dipenuhi materi pelajaran, dari pada penuh dengan hal mesum kayak otak kamu, lebih parah!", balas Alma tidak mau di sebut lemot.
" Tapi kamu suka kan?", kali ini Akio nyengir kuda, membuat Alma membuang muka.
" Kamu suka kaaan....?", Akio mengulang kalimatnya sambil menyentuh dagu Alma lembut.
" Siapa bilang?, biasa aja tuh !", ujar Alma ketus, tanpa menoleh.
" Nanti di rumah kita buktikan, pasti kamu suka aku yang mesum kaaan?", Akio sengaja menggoda Alma.
" Nggak lucu becandaan kalian berdua, kalau ada orang lain yang dengar pasti membuat salah paham". Tiba-tiba suara Marko membuat senyuman di bibir Akio lenyap seketika.
" Di larang ikut campur urusan asmara orang lain!", ucap Akio sambil menatap mata Marko sengaja ingin mengetahui isi hati dan pikirannya. Marko yang dari pagi tadi bersikap sok akrab dengan mereka, dan Akio tidak suka dengan sikapnya itu.
" Kenapa menatapku seperti itu?, apa belum puas dengan pacar wanita mu ini, hingga jatuh cinta juga pada laki-laki sepertiku ?", ucapan Marko seketika membuat Akio membuang muka dan mengalihkan pandangannya.
" Dasar ketua kelas gila !, sana sana... jangan deket-deket kita berdua, takut ikut tercemar pikiran kami, kalau dekat-dekat dengan pikiran kotor mu itu!" , selama ini Alma baru pernah bertemu dengan seorang pria yang meragukan kejantanan Akio.
" Aku cuma becanda kok, kamu malah takut tersaingi sama aku si Al, aku sama Akio kan sejenis, kamu pikir aku jeruk makan jeruk apa?, sori ya, gue cowok normal, yang bercita-cita jadi polisi hebat saat dewasa nanti". Marko memutar badannya dan berjalan menuju tempat duduknya di depan.
Alma dan Akio hanya menatap kepergian Marko tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bel masuk berbunyi, jam menunjukkan pukul 2 siang, dan kegiatan les tambahan pun akan segera dimulai.