My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 63 : Pesan Terakhir



Lidia POV


Acara di roof top membuatku semakin merasa bersedih, bagaimana aku tidak bersedih, Akio tidak hadir disini, begitu juga dengan Alma, mereka berdua sama-sama tidak hadir di acara perpisahan yang sudah kita agendakan jauh-jauh hari bersama.


Apalagi tadi sebelum menuju ke roof top aku melihat Alma mengetuk kamar Akio sambil membawa nampan di tangannya. Aku tahu mereka sepasang kekasih, tapi aku sedikit keberatan melihat situasi seperti itu. Apa yang akan mereka lakukan didalam kamar Akio?, sepasang kekasih yang saling mencintai dan berada dalam satu ruangan tertutup. Kadang fantasi liar ku membuat otakku berpikir buruk tentang mereka.


Terlalu banyak menonton drama Korea dengan adegan ciuman, adegan bercinta, hingga adegan panas di atas ranjang yang membuat pikiranku menjadi sangat liar.


Stop dengan pikiran kotormu Lidia! , mereka hanya anak SMA, apalagi mereka baru kelas 10, apa yang akan mereka lakukan pasti tidak separah yang aku bayangkan. Pikiranku terlalu jauh untuk anak seusia mereka. Aku tidak boleh berpikir buruk tentang mereka.


Saat aku mencoba mendengarkan percakapan mereka dari luar kamar Akio, sepertinya Akio masih marah, dan dalam keadaan emosi. Aku mendengar Akio menyuruh Alma keluar dari kamarnya. Karena itulah aku berlari jinjit menjauh dari depan pintu kamar Akio menuju lift. Aku tidak mau jika tiba-tiba Alma keluar dan mengetahui bahwa diriku sedang menguping pembicaraan mereka berdua.


Awalnya kutunggu kehadiran mereka berdua, 10 menit, 20 menit dan terus ku tunggu hingga acara perpisahan selesai. Namun tak ada satupun dari mereka yang menampakkan batang hidungnya.


Aku harus bagaimana, padahal sebentar lagi aku harus ke bandara dan ikut penerbangan ke Surabaya jam 15.05 WIB, tapi aku justru belum bertemu dan berbicara dengan Akio secara empat mata. Aku harus menyampaikan salam perpisahan, meski hubungan kami tidak berjalan sesuai dengan yang ku harapkan, tapi setidaknya aku ingin meninggalkan kesan indah dan tak terlupakan sebelum perpisahan.


Usai acara perpisahan di roof top hotel, aku kembali ke kamarku. Setelah ku bereskan semua barang bawaan ku kedalam koper aku berniat menemui Akio dan menghampiri ke kamarnya. Namun saat kubuka pintu kamarku aku melihat Banu sedang mengetuk pintu kamar Alma, beberapa kali.


Tidak ada jawaban, pintu kamar Alma juga masih tertutup rapat. Sepertinya Alma tidak ingin bertemu lagi dengan Banu, kasihan sekali nasib Banu. Tadi dia sempat bercerita jika dia sangat menyukai Alma, pacarnya yang di Bandung sangat posesif dan dia sudah tidak mencintai pacarnya lagi, tapi dia juga tidak bisa memutuskan pacarnya begitu saja, karena hubungan mereka sudah diketahui dan mendapat restu dari kedua keluarga.


Bukankah akan menjadi rumit jika sampai mereka putus, padahal kedua orang tua sudah saling mengenal. Sedangkan Banu adalah tipe pira yang tidak suka hidup ribet, jadi daripada ambil pusing, Banu tetap berpacaran dengan pacarnya, namun dia berubah menjadi sosok pria yang selalu mengikuti kehendak hatinya. Jika dia menyukai gadis lain, maka dia akan mengatakannya mengikuti nalurinya, tidak perduli dengan pemikiran orang lain yang akan berpikir bahwa dirinya adalah playboy.


Dan sayangnya dia menyukai gadis yang salah, karena gadis yang disukainya sudah memiliki kekasih. Dan kekasih gadis itu adalah pria yang aku sukai. Jika dipikir-pikir, rumit sekali kisah cinta ini, untung semuanya akan berakhir hari ini, di hotel ini. Jadi tidak akan ada kerumitan yang akan terjadi. Yang ada Akio adalah milik Alma, dan Alma adalah milik Akio. Sejak awal hanya seperti itu.


Ibarat sinetron atau film, aku dan Banu hanyalah karakter yang dijadikan sebagai pihak ketiga, atau jika di drakor biasa disebut second lead. Kehadiran kami hanya untuk menambah konflik pada hubungan Akio dan Alma. Dan setelah kami pergi dan kembali pada kehidupan masing-masing, entah cerita cinta mereka akan berakhir bahagia ( happy ending), atau akhir yang sedih ( sad ending).


Tapi sebagai seorang second lead aku berharap kisah cinta mereka berakhir dengan sad ending, mereka berpisah, dan cerita terakhirnya Akio menjadi milikku. Karena akulah yang begitu tulus mencintai nya.


Sekitar sepuluh menit aku melihat Banu berdiri didepan pintu kamar Alma, sepertinya dia sudah kehabisan waktu, karena kudengar dia pulang naik kereta dengan jadwal keberangkatan jam 14.30 WIB, itu berarti 20 menit lagi. Aku melihat Banu berjalan menuju lift dengan wajah lesu. Kasihan dia tidak sempat bertemu, dan mengucapkan salam perpisahan pada Alma.


Alma jahat sekali tidak keluar dari kamarnya, padahal Banu sudah mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Atau apa mungkin Alma tidak di kamarnya?, jadi dimana Alma?.


Tak lama kemudian aku keluar dari kamarku, dan ternyata keberuntungan masih berpihak padaku, karena saat aku keluar, kulihat seorang pelayan hotel membawa troli berisi makanan sedang mengetuk pintu kamar Akio.


Itu berarti Akio ada di kamarnya, dan hendak makan siang. Tapi situasi nya menjadi sedikit aneh, Akio menahan pelayan tetap di depan pintu, dan dia mendorong sendiri troli berisi penuh makanan itu kedalam kamarnya.


Aku buru-buru menghampirinya dan memanggilnya. Akio pun keluar menemui ku, dan menutup pintu kamarnya. Benar-benar mencurigakan. Apa mungkin sejak dua jam yang lalu Alma berada dikamar Akio berduaan dengannya?. Oh tidak, pikiran liar ku mulai muncul lagi. Aku harus segera kembali ke pikiran waras ku.


Ku ucapkan cukup panjang pesan terakhir dan juga salam perpisahan yang sudah aku persiapkan sebelumnya, seperti biasa Akio hanya berdiri dan diam mendengarkan aku yang terus bicara. Dan saat aku mengatakan pada Akio bahwa dia adalah cinta pertamaku, kulihat pintu kamar Akio terbuka sedikit, dan kulihat mata seseorang menatap kearah kami.


Sepertinya memang benar dugaan ku bahwa Alma ada di dalam kamar Akio. Bagus lah jika Alma melihat kami bicara berdua, dan akan aku buat mereka bertengkar sebelum aku kembali ke Surabaya.


Secara spontan ku peluk Akio dan ku kecup bibirnya sebagai salam perpisahan kami. Beruntungnya aku karena Akio sedang tidak fokus padaku dan entah apa yang sedang dipikirkannya, sehingga dia tidak bisa menghindar saat tiba-tiba ku peluk dan ku kecup bibirnya.


Aku pergi sambil tersenyum dan melambaikan tangan padanya, aku yakin seratus persen, mereka berdua akan bertengkar setelah ini. Aku terus berjalan menuju pelataran hotel, sudah ada taksi online yang menunggu ku untuk mengantarku ke bandara.


Aku duduk di kursi belakang sambil tersenyum mengingat kejadian terakhir tadi bersama Akio, pasti akan ku simpan baik-baik moment tadi dalam hati dan pikiranku.


" Bapak nyalain radio ya Neng, dari pada sepi, bakal bosen Enengnya ", pak sopir minta ijin untuk menyalakan radio, aku hanya mengangguk memperbolehkan.


Tepat saat lagu dari juara 1 jebolan ajang pencarian bakat yang hendak diputar oleh si pembawa acara yang suaranya sedang cuap-cuap di dalam radio.


_


_


" Buat elo-elo yang lagi jatuh cinta sama seseorang dan perasaan lo itu udah terlanjur dalem banget, tapi tuh orang nggak bales perasaan cinta lo ke dia, so... lebih baik kita pergi tinggalin dia yang nggak jelas, lagu ini cocok banget buat kalian yang lagi di posisi itu, listen this music ! ",



*Telah kucoba terus bertahan*


*Tentang cinta yang kurasa*


*Ku mencinta, kau tak cinta*


*Tak sanggup ku terus bertahan*



*Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu*


*Memaksamu mencintaiku sepenuh hati*


*Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu*


*Tapi terimalah permintaan terakhirku*



*Genggam tanganku, sayang*


*Dekat denganku, peluk diriku*


*Berdiri tegak di depan aku*


*Cium keningku 'tuk yang terakhir*



*Ku 'kan menghilang jauh darimu*


*Tak terlihat sehelai rambut pun*


*Cari aku, ku ada untukmu, ho-oh*



*Ku tak membencimu*


*Kuharap kau pun begitu, ha-ah (kuharap begitu), yeah, yeay*


*Tak ingin kau jauh*


*Tapi takdir menginginkan kita 'tuk berpisah*



*Genggam tanganku, sayang*


*Dekat denganku, peluk diriku*


*Berdiri tegak di depan aku*


*Cium keningku 'tuk yang terakhir*



*Ku 'kan menghilang jauh darimu*


*Tak terlihat sehelai rambut pun*


*Cari aku, ku ada untukmu*



*Ho-oh*


(*Dekat denganku, peluk diriku) Oh-oh*


(*Berdiri tegak di depan aku*)


(*Cium keningku 'tuk) yang terakhir*



*Ku 'kan menghilang jauh darimu*


*Tak terlihat sehelai rambut pun*


*Cari aku, ku ada untukmu*



*Cari aku, ku ada untukmu*



Radio oh radio, kau menyindirku dengan sebuah lagu, bener-bener langsung ngena di hati.


***


Author POV


Alma masih tetap terdiam dan tidak mau berbicara pada Akio, dia juga tidak menyentuh secuilpun makan siang yang sudah dipesan oleh Akio. Alma keluar dari kamar Akio dan masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Akio juga masih tetap diam dan duduk di sofa kamarnya dengan bingung. Sebentar lagi mobil yang menjemput mereka akan sampai. Akio memang memesan mobil online untuk mengantar mereka pulang.


Tidak memilih pesawat atau kereta seperti yang lain, karena Akio berdua dengan Alma, dan banyak barang yang harus mereka bawa. Karena itulah Akio lebih memilih menggunakan mobil online.


Alma keluar dari kamarnya setelah Akio mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, cukup lama Alma keluar, mungkin tadi dia sedang mandi, terlihat dari rambutnya yang digerai dan masih basah.


" Yang tadi itu kamu salah paham, aku tidak akan minta maaf karena aku tidak bersalah dalam hal ini". Akio masuk ke kamar Alma, mengambil koper Alma dan membawakannya keluar.


" Sekarang kita keluar, karena mobil yang akan mengantarkan kita pulang sudah menunggu dibawah".


Alma berjalan ke bawah hanya membawa tas selempang miliknya, karena koper dan ransel dibawakan oleh pelayan hotel suruhan Akio.


Sampai masuk di mobil dan duduk berdampingan pun Alma masih tetap diam tanpa berkata-kata.


" Tujuan sesuai aplikasi Bang", ucap Akio saat si supir melajukan mobilnya. Supir mobil online yang masih muda itu melirik ke arah Alma melalui kaca spion. Menebak-nebak jika dua muda-mudi yang menyewa mobilnya sedang bertengkar. Terlihat dari ekspresi Alma yang terus manyun sepanjang perjalanan.