My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 26 : Keindahan Alam



Alma masih memencet remote televisi, terus mengganti chanel, tanpa melihat acara apa yang sedang di tayangkan.


" Nona, apa nona ingin makan sesuatu, atau membutuhkan sesuatu?, biar bibi buatkan", si bibi tahu jika Alma sedang merasa bosan karena ditinggal Akio usai sarapan tadi.


" Nggak usah bi, lagi nggak pengen apa-apa, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi".


Alma akhirnya mematikan televisi dan berjalan menuju kamar, saat ini jam menunjukkan pukul 1 siang, waktu setempat, itu berarti sudah sekitar 3 jam Akio pergi, namun belum ada tanda-tanda dia akan segera kembali.


Sesampainya di kamar, Alma merebahkan diri dan memeriksa ponselnya, begitu banyak pesan masuk untuknya. Berita tentang Alma dan Akio yang memperoleh medali emas di olimpiade sains Nasional sudah menyebar di SMA Pelita Jaya, bahkan ke seluruh SMA di daerahnya.


Teman SD, SMP, juga teman SMA banyak yang memberi selamat padanya. Karena tidak ada yang dikerjakan, Alma pun membalas pesan itu satu persatu. Mungkin jika dihitung mencapai ratusan pesan.


Kebanyakan pesan balasan Alma hanya mengucapankan terimakasih dan mengirim emoticon tersenyum. Ada beberapa yang memberi pertanyaan lagi dan Alma pun membalas seperlunya.


Tak terasa jam dinding kini menunjukkan pukul 3 sore, sudah dua jam Alma di sibukkan dengan membalas pesan-pesan dari teman-temannya. Namun itu membuatnya merasa jadi lebih baik. Setidaknya kesendiriannya tidak benar-benar sendirian.


Saat ini mata Alma mulai panas karena terlalu lama menatap gawai, Alma pun meletakkan ponselnya di samping bantal dan mengistirahatkan dengan memejamkan matanya.


Posisi tubuh miring dengan wajah mengarah ke pintu kamar.


Kriek....


Pintu kamar ada yang membuka, dan terdengar suara Akio menyapanya.


" Nggak bosen di kamar terus Al?", suara langkah Akio terus mendekat ke arah Alma.


" Owh, tidur ya?", Alma bisa merasakan deru nafas Akio, karena kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Alma. Akio berjongkok, kemudian menekuk lututnya sebagai tumpuan agar bisa menatap Alma dengan leluasa.


" Maaf ya Al, di sini aku malah terus-menerus ninggalin kamu, ada banyak hal yang harus aku urus sebelum kita pulang ke rumah".


Akio berbisik lirih dan mengecup bibir Alma sebelum berdiri kembali dan melepas kancing kemejanya. Akio hendak berganti pakaian menggunakan pakaian santai.


" Nggak papa kok, kalau memang banyak urusan yang harus di selesaikan", Alma membuka mata dan menjawab ucapan Akio.


" Disini ada banyak pelayan, aku nggak sendirian. Cuman aku belum kenal mereka, dan aku juga bingung mau ngobrol apa dengan mereka". Alma bangun dari tidurnya dan berganti posisi, duduk menyandar pada kepala ranjang.


" Ternyata kamu nggak tidur?, aku kira kamu lagi tidur siang", Akio terkekeh dan kembali menghampiri Alma.


" Aku lupa bertanya terlebih dahulu sama kamu , sebenarnya mereka itu, orang-orang yang bekerja di rumah ini, menganggap aku sebagai siapanya kamu".


" Teman, sahabat, pacar, atau istri".


" Aku ingin bertanya lewat chat, tapi takut mengganggu aktivitas kamu".


Mendengar ucapan Alma, Akio yang sudah membuka kancing bajunya kembali duduk di samping Alma.


" Mereka tahu kamu istriku, entah apa yang akan mereka pikirkan dengan pernikahan kita yang masih sangat muda ini, tapi yang jelas tidak ada satupun yang berani bertanya atau membicarakan tentang hubungan kita ".


" Karena jika itu sampai terjadi, mereka akan kehilangan pekerjaan mereka disini".


Akio menggenggam tangan Alma dan mengusap-usap punggung tangannya.


Alma tersenyum, " mungkin tidak masalah karena kita berada di pulau terpencil dan jarang ada orang datang kemari".


" Sama seperti kamu membungkam tetangga rumahku yang tahu tentang pernikahan kita dengan uangmu".


" Kita akan tetap bisa sekolah dan aman".


" Tapi jika sampai ada teman sekolah tahu dan melaporkan pada pihak sekolah, mungkin kita bisa dikeluarkan dari sekolah, apalagi aku siswi penerima beasiswa, tidak membayar uang sekolah sepeserpun. Akan lebih mudah bagi pihak sekolah mengeluarkan aku".


Memang sejak awal alasan itulah yang membuat Alma khawatir dengan pernikahannya.


Akio hanya tersenyum sambil berdiri dan melepaskan kemejanya, melempar ke keranjang tempat baju kotor dan berganti pakaian santai.


" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang sekolah kita".


" Kau dan aku adalah penyumbang piala terbanyak di sekolahan, jika sampai pihak sekolah mengetahui pernikahan kita dan mempermasalahkannya, misal mereka mengeluarkan kita berdua, bukannya sekolahan itu yang akan sangat rugi".


Secara nalar yang di katakan Akio memang benar, namun Alma masih saja khawatir. Padahal alasan Akio tetap tenang karena dialah sang pemilik yayasan yang menaungi SMA Pelita Jaya. Tidak akan ada satu orangpun yang berani dan berhak mengeluarkannya dari sekolahan miliknya sendiri.


" Ayo kita keluar, akan aku tunjukkan sebuah tempat yang sangat indah disini".


" Tempat dimana kamu bisa melihat keindahan langit baik di sore maupun malam hari".


Akio sudah menyuruh para bibi untuk memasak makanan untuk mereka, dia juga meminta agar dibuatkan bekal untuk dibawa bepergian.


" Tuan, makanan sudah di hidangkan, dan ini bekal juga sudah siap, saya taruh di bagasi mobil Tuan",


Akio mengangguk dan mengajak Alma makan terlebih dahulu.


" Aku sebenarnya belum lapar, tapi karena kamu belum makan, aku temani, tapi sedikit saja ya", Alma mengambilkan nasi beserta lauk pauk di piring Akio, dan menyajikan di depannya.


Alma sendiri hanya mengambil sesendok nasi dan beberapa lauk.


" Kalau boleh tahu, memangnya kita mau pergi kemana?, pulau ini kan kecil, apa kita akan menyeberang pulau sampai-sampai kau menyuruh bibi membuatkan bekal?".


" Karena kita akan pulang hingga larut malam, kita akan menyaksikan keindahan langit sore dan langit malam yang tidak bisa kita lihat di tempat lain", terang Akio.


Alma dan Akio langsung masuk mobil usai makan, mobil Mitsubishi Pajero sport itu meluncur melewati sabana luas yang Alma lewati saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini.


" Kita sedang mengarah ke ujung barat pulau ini, di sana view nya sangat indah".


Alma sudah mulai bisa melihat semburat kuning di langit sebelah barat, menandakan senja akan segera tiba.


Sampai di tepian pantai, Akio mematikan mesin mobil dan mengajak Alma menuju bibir pantai, saat ini jam menunjukkan pukul 5.30 sore waktu setempat, langit sebelah barat sudah mulai berubah warna menjadi jingga.


" Wah....indah sekali A.....!", Alma langsung mengabadikan keindahan langit senja dihadapannya, deburan ombak yang menerjang karang dan bunyi burung yang sedang kembali ke sarangnya, menjadikan suasana sore itu begitu indah dan menenangkan.


Saat Alma sibuk mengabadikan keindahan alam di hadapannya dan merekam matahari yang mulai tenggelam di batas cakrawala, Akio justru merekam Alma yang tersenyum dengan begitu cantik, melebihi kecantikan langit sore yang ada di hadapannya.


Selain merekam, Akio juga mengambil foto Alma begitu banyak. Hingga akhirnya langit mulai berubah menjadi gelap dan air laut semakin pasang.


" Terimakasih ya A.... kamu sudah mengajakku melihat sunset yang begitu indah".


" Ini pertama kalinya aku melihat matahari tenggelam di pantai, ternyata begitu indah" ujar Alma dengan begitu semangat. Namun hawa dingin yang mulai menerpa tubuhnya membuatnya menggosok-gosokan tangannya agar lebih hangat.


" Mulai dingin ya, kita masuk mobil dulu, sambil menunggu malam tiba dan bintang-bintang menampakkan sinarnya"


Alma masuk ke dalam mobil, begitu juga Akio, udara dingin malam sudah tidak terlalu terasa saat masuk kedalam mobil.


" Masih dingin?",


Alma menggeleng, " disini lebih hangat. Tapi masih terasa dingin juga sih... Aku tidak membawa jaket ataupun baju tebal, aku nggak tahu kalau kita mau ke sini".


Akio keluar dari mobil dan membuka pintu satunya, menyuruh Alma keluar. Kemudian membukakan pintu belakang setir dan menyuruh Alma masuk, Akio pun ikut masuk dan duduk di belakang kursi kemudi.


" Kita disini saja, karena aku juga lupa tidak membawa jaket, biar aku yang menjadi jaket untuk menghangatkan kamu".


Akio memeluk Alma dengan begitu erat, tidak mau Alma semakin kedinginan.


" Maaf ya, aku kurang persiapan tadi, tidak menyangka di pantai malam-malam begini udaranya begitu dingin".


Alma hanya meringis, " sudah nggak dingin kok sama kamu di peluk begini, sudah hangat", Alma menatap keluar kaca mobil. "Lihatlah, bintang-bintang mulai menampakkan cahayanya, berkelap-kelip terlihat sangat cantik".


Akio pun melongok melalui kaca mendekatkan kepalanya dengan kepala Alma untuk melihat jutaan bintang bersinar bersama-sama.


" Bintang-bintang itu muncul dan bersinar menghiasi langit malam, merubuah langit malam yang hitam dan gelap, menjadi begitu cantik dan indah ".


" Seperti kamu yang selalu bersinar dan masuk dalam kehidupanku, mengisi hari-hariku yang kelam, bagaikan malam yang gelap itu menjadi lebih berwarna".


Alma baru tahu jika selain cerdas di bidang astronomi, Akio juga pandai bersyair seperti seorang pujangga.


" Sejak kapan kamu pandai merayu dan menggombal seperti ini?".


" Jika kamu mengatakan hal ini pada seorang gadis, aku yakin hatinya langsung meleleh", Alma terkekeh menutupi hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga mendengar ucapan Akio.


" Aku mengatakan ini cuma sama gadis yang ada di pelukanku ini".


" Jadi apa hatimu sudah meleleh saat ini?", Akio menengok dan mata mereka berdua saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat.


" Terimakasih my hubby, i love you so much".


Alma memejamkan matanya, Akio pun langsung menyambar bibir manis Alma yang sudah berjarak begitu dekat dengan bibirnya.


Lum*t*n lembut, yang semakin lama berubah menjadi lum*t*n penuh ga*r*h. Menghilangkan hawa dingin yang semenjak tadi merasuki tubuh Alma, kini tubuhnya berubah menjadi hangat, karena panas yang dihasilkan dari ciuman yang mereka berdua lakukan.