My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 88 : Juara Bertahan



Masih POV Alma.....


Jam setengah 1 siang, lomba cerdas cermat sesi ke dua selesai . Tinggal menunggu juri mengakumulasi kan nilai sesi ke satu dan sesi ke dua. Maka akan di umumkan siapa pemenang lomba cerdas cermat tingkat kabupaten tahun ini.


Semua peserta dipersilahkan keluar dari ruangan, dan menunggu pengumuman selama setengah jam. Karena pengumuman pemenang akan di bacakan pukul 1 siang nanti.


Pak Bayu mengajak kami berlima untuk melaksanakan shalat berjamaah, dari pada menunggu tanpa melakukan kegiatan apapun. Hanya aku dan Bagas yang ikut pak Bayu masuk ke mushola, karena Ronal dan dua peserta lain non muslim.


Tapi mereka menunggu kami di beranda mushola. Mereka bersantai sambil berselancar di dunia maya, meng upload foto-foto yang kami ambil bersama saat makan siang dan saat berada di mobil tadi pagi.


Aku sengaja tidak membuat status apapun di sosmed ku, bukan karena apa, aku hanya menjaga agar tidak ada hati yang tersakiti, siapa lagi kalau bukan menjaga hati suamiku, Akio. Dia bisa sangat cemburu jika melihat aku berfoto dengan laki-laki lain, apalagi jika aku tersenyum di foto itu.


Karena itulah setiap kali ada yang mengambil foto, aku sengaja tidak tersenyum, bahkan kadang ngumpet di belakang yang lain, hanya menunjukkan sebagian dari wajahku saja. Berharap Akio tidak marah dan baik-baik saja.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.....", Pak Bayu mengucap salam, tanda kami sudah selesai melaksanakan kewajiban kami.


Segera ku lipat mukena parasut yang sengaja selalu aku bawa didalam tasku kemanapun aku bepergian, karena mengantisipasi jika harus beribadah saat melakukan perjalanan.


" Nggak ngabari pacar kamu kalau acara sudah selesai?", Bagas mundur dari posisinya, sengaja duduk di sebelahku saat aku selesai melipat mukena.


Entah apa maksudnya, tapi buat apa mengabari Akio, toh nanti pulang dari sini juga bakal ketemu di sekolah, belum lagi nanti di rumah bakal bareng-bareng terus. Lagian kalau ngabarin Akio yang ada dia jadi nggak fokus mengikuti pelajaran di kelas.


Si Bagas emang suka mancing perkara, makanya Akio nggak suka kalau aku deket-deket sama dia.


" Nanti juga ketemu di sekolah", jawabku singkat sambil berdiri dan keluar dari mushola. Kulihat Ronal duduk seorang diri di beranda. " Yang lain kemana?", aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan yang lain.


" Lagi ke warung depan, itu sebrang jalan, katanya mau beli es krim".


Aku mencoba menatap jauh ke warung yang dimaksud.


" Kenapa Al?, kamu mau es krim juga?, biar aku belikan", Bagas keluar-keluar langsung sok perhatian mau membelikan ku ice cream.


" Nggak usah Gas, aku sudah nitip sekalian ke mereka, buat kamu sama Pak Bayu juga".


Aku langsung tersenyum senang karena ternyata Ronal lebih dulu membelikan aku es krim, bahkan buat semuanya. Dia memang masih sama seperti Ronal yang dulu, suka traktir teman-temannya.


Setidaknya saat Akio nanti bertanya, aku tidak perlu membawa-bawa nama Bagas dalam jawaban dan penjelasanku.


" Thanks ya Nal, kamu memang pengertian banget jadi teman", ucapku sambil menepuk lengan Ronal.


" Eist..... jangan tepuk-tepuk begitu, gue khawatir tiba-tiba Akio muncul, hehehe.... Kita kan temenan, dan gue nggak suka dikira sok akrabin pacar temen gue, oke ?".


Aku langsung tertawa lepas sambil menutup mulut mendengar gaya bicara Ronal yang dibuat-buat kaya anak Jakarta, sok lu gue.


" Akio itu nggak segitunya juga Nal, dia bisa tahu kok, mana temen yang tulus dan mana yang enggak, nggak perlu di jelaskan dia sudah tahu, cukup memahami saja", ucapku sambil melirik Bagas, sengaja menggunakan kalimat sindiran.


" Widih.... lagi ngobrolin apa nih?, dalem banget kalimatnya?", Pak Bayu batu keluar dari mushola usai berdoa cukup lama di dalam.


" Nggak kok pak, obrolan biasa saja", terangku.


" Wah kebetulan es krimnya pas dateng, makasih gadis-gadis cantik, udah mau panas-panasan beliin es krim buat Aa...",


Ronal menerima es krim dan membagi kepada kami satu-satu.


" Iya, makasih, bapak juga ikut kebagian, bapak jadi malu, disini bapak yang sudah berpenghasilan, tapi justru kamu yang traktir bapak dan yang lain", Pak Bayu membuka bungkus es krim dan menikmatinya sambil duduk di beranda mushola. Begitu juga dengan aku dan yang lain.


Masih mending duduk-duduk disini, tempatnya bersih, dari pada nunggu pengumuman di depan ruangan tadi, panas dan banyak orang.


Saat kami sedang menikmati es krim, pemuda bernama Leonardo yang tadi pagi menyapaku menghampiri keberadaan kami. Padahal aku belum ingat dia teman aku di mana.


" Hai Al... aku cariin sejak tadi, ternyata disini".


" Kenapa memangnya?", tanyaku penasaran.


" Pengumuman sebentar lagi akan di bacakan, semua peserta di suruh kumpul di ruang aula sekarang", terang Leonardo.


" Oh... iya, makasih informasinya", aku pun mengambil sepatuku dan menggunakannya, begitu juga dengan Bagas dan Pak Bayu.


Leonardo masih berdiri menunggu kami untuk berjalan bersama ke aula. Saat berjalan Leonardo mengucap selamat atas kemenangan yang ku raih tahun lalu sebagai juara 1 tingkat nasional olimpiade matematika, bahkan juga juara tingkat internasional.


" Dulu aku merasa malu saat dikalahkan oleh seorang gadis cantik di tingkat kabupaten, tapi ternyata kamu memang benar jenius, bahkan menang hingga titik akhir. Seandainya peserta yang tadi tanding denganmu tahu siapa kamu, dan apa yang sudah kau raih tahun lalu, aku yakin peserta lainnya akan minder sebelum lomba".


Leonardo terus berbicara sepanjang perjalanan menuju aula, aku jadi ingat, ternyata dia siswa perwakilan SMA Budi Utomo yang pernah seleksi bareng tahun lalu di kampus biru. Lumayan juga aku jadi tahu siapa pemuda ini, meski tadi sempat lupa.


Leo, dia dulu memperkenalkan diri dengan nama Leo. Aku sudah ingat sekarang.


Kami telah sampai di aula, semua di persilahkan untuk duduk dan tenang, karena pengumuman siapa saja yang menjadi pemenang akan dibacakan.


Kulihat Pak Bayu langsung mengambil ponselnya untuk merekam video pengumuman dari panitia nanti. Apa beliau sepercaya diri itu, bahwa kami anak muridnya akan membawa pulang medali.


Dan saat pengumuman dibacakan, suasana begitu hening dan khidmat. Semua mendengarkan dengan seksama.


" Juara 1 lomba cerdas cermat mapel matematika tingkat kabupaten tahun 20xx adalah.....".


" Almahyra Elshanum dari SMA Pelita Jaya, selamat !", ucap sang juri yang berdiri di atas podium dengan begitu bersemangat.


Aku langsung dipeluk oleh kedua teman wanita yang duduk mengapitku sambil mengucapkan selamat saat namaku di panggil, mereka memberi dua jempol di depanku.


" Alma memang the best", ucap mereka berdua kompak.


" Makasih ya, semoga kalian berdua juga mendapat juara", do'aku panjatkan.


Namun sayangnya hal yang diharapkan tidak selalu terjadi, yang lain tidak memenangkan lomba, bahasa Inggris dapat juara 2 dan bahasa Indonesia juara 3, lumayan membawa kembali tiga piala untuk sekolahan kami.


Dua teman wanita yang juga menjadi peserta sepertiku memohon maaf berulang kali pada Pak Bayu karena tidak mendapatkan juara sama sekali.


Pak Bayu berusaha memberi pengertian pada dua gadis itu, bahwasanya dalam perlombaan pasti ada menang dan ada juga kalah, memberi saran agar yang lain tidak berkecil hati, karena Pak Bayu tahu seperti apa perjuangan yang sudah dilakukan.


" Kamu memang benar-benar hebat Alma, selamat ya atas kemenangan mu", Leo mengulurkan tangannya menyalamiku saat aku dan yang lain hendak keluar dari aula sambil membawa medali dan piala yang ku peroleh.


" Makasih banyak Leo", ku tarik tanganku, karena Leo cukup lama menggenggam tanganku.


" Semoga masih ada lain kesempatan untuk kita bertemu lagi ya Al", ucap Leo saat aku berhasil menarik tangan.


Aku hanya tersenyum simpul tanpa meng Amini harapannya.