
Seminggu berlalu, akhirnya rombongan para peserta Olimpiade sains internasional berangkat ke Almaty, Kazakhstan.
Rombongan berangkat pagi-pagi sekali, karena perjalanan udara yang harus ditempuh seharian lebih di dalam pesawat, mereka menggunakan penerbangan dari bandara internasional Soekarno Hatta, mengunakan pesawat Garuda Indonesia, yang tiap peserta hanya perlu duduk dengan manis, karena semua biaya perjalanan yang menghabiskan puluhan juta per kepala semua di tanggung oleh pemerintah.
Di dalam pesawat beruntung mereka menggunakan kelas bisnis, sehingga perjalanan udara selama sehari di udara terasa nyaman. Selain itu Alma juga merasa senang karena makanan yang diberikan oleh pramugari pesawat semuanya terasa enak dengan tampilan yang menarik.
Bahkan Alma berpikir dan merasa kasihan pada para kru pesawat, seperti pilot, pramugari, para operator dll, pasti mereka memiliki resiko kerja yang sangat tinggi. Sepanjang hari mereka harus membawa penumpang menuju tujuan masing-masing, dengan rute penerbangan yang cukup lama. Kemungkinan bisa terjadi kecelakaan sewaktu-waktu sangat besar, dan seandainya itu terjadi mereka akan jatuh entah dimana, dan tentu saja taruhannya adalah nyawa.
Alma akhirnya teringat jika Akio bahkan melakukan perjalanan luar angkasa yang memakan waktu bertahun-tahun. Itu pasti amat sangat melelahkan.
" Bahkan hanya melakukan perjalanan udara puluhan jam saja, aku sudah merasa lelah, aku tidak bisa bayangkan perjalanan kamu dari Mesier ke Bumi", ucap Alma, pada Akio yang duduk di sebelahnya.
Akio tersenyum tipis.
" Karena itulah aku enggan kembali, selain resiko perjalanan yang terlalu tinggi. Aku juga tidak bisa hidup terpisah denganmu". Akio menggenggam tangan Alma dan sedikit meremasnya.
Justru kini Akio jadi teringat dengan Steven, sudah sejauh mana perjalanannya menuju ke Mesier. Mungkinkah dia berhasil kembali, atau bisa jadi justru dia menjemput ajalnya sendiri.
_
_
Perjalanan udara yang menghabiskan waktu seharian lebih, membuat semua merasa sangat lelah saat pesawat sampai di bandara udara internasional di Almaty, Kazakhstan.
Semua peserta bersama dengan team dari Indonesia melakukan reservasi di Kazakhstan hotel. Team dari Indonesia membooking 5 kamar, tiap kamar akan ditempati oleh 3 orang, karena perwakilan dari Indonesia ada 9 peserta, dan 5 orang dari team diluar peserta.
" Sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing, kita butuh istirahat setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. 3 peserta putri menempati satu kamar, dan 6 peserta laki-laki menempati kamar lainnya. Kalian boleh memilih kamar yang mana, karena semua kamar sama saja".
Kali ini Akio terpaksa harus tidur bersama dua peserta lain, karena di dalam pesawat tadi, Alma sudah berpesan pada Akio agar dirinya tidak memesan kamar sendiri lagi seperti dulu.
" Kalau kangen sama aku, kita bisa keluar sebentar dan jalan-jalan berdua usai olimpiade".
" Karena sekarang kita harus fokus pada pertandingan yang akan kita hadapi. Ingatlah, kita membawa nama baik bangsa Indonesia, bukan hanya nama daerah kita atau nama SMA kita, ini sudah mencakup negara, jadi kita harus berjuang dengan sangat keras".
Benar saja, selama menginap di Kazakhstan hotel dan mengikuti jalannya proses olimpiade, semua serius belajar dan belajar. Makan dengan makanan bergizi dan tepat waktu, istirahat yang cukup, juga terus fokus. Semua berharap bisa meraih medali emas, agar bisa membuat bangga Indonesia.
Semangat dan optimisme selalu para peserta lakukan, meski ternyata hasil akhirnya hanya ada 3 orang saja peserta dari Indonesia yang membawa pulang medali emas. Yang lain memperoleh 3 medali perak dan 2 perunggu. Itu sudah sangat membanggakan untuk team tahun ini.
" Sungguh saya sangat bangga pada semua peserta yang ikut olimpiade di tahun ini, mereka semua berjuang dengan bekerja dan belajar sangat keras", ujar salah satu team pembimbing yang menemani peserta di Almaty, Kazakhstan.
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, bagi peraih medali emas berkesempatan untuk melanjutkan kuliah hingga S3 baik di universitas dalam negeri, maupun universitas di luar negeri.
Delegasi Indonesia pada Olimpiade Sains International Zhautykov Olympiad (IzhO) Ke-17 berhasil memperoleh prestasi tertinggi dalam ajang tersebut. Delegasi Indonesia berhasil mendapatkan nilai sempurna dengan merebut 3 medali emas, 3 medali perak dan 2 medali perunggu, perolehan medali emas di kategori matematika, fisika dan astronomi.
Mereka adalah, Almahyra Elshanum di bidang matematika, Banu Mahardika di bidang fisika, dan Akio Toyoda di bidang ilmu astronomi.
IzhO diselenggarakan pada tanggal 7-13 Januari 20xx di kota Almaty, Kazakhstan.
IZhO diselenggarakan oleh The National School of Physics & Math (NSPhM) dan The Republican Scientific-Practical Center “Daryn", serta didukung oleh Ministry of Education and Science of the Republic of Kazakhstan.
***
Sebelum kembali ke Indonesia, para peserta diberikan waktu 2 hari untuk jalan-jalan dan juga belanja untuk oleh-oleh. Tentu saja dengan senang hati mereka semua mengikuti seorang tour guide yang memimpin perjalanan seru mereka di Almaty, hari pertama mereka di ajak ke Kok Tobe.
Kok Tobe merupakan salah satu bukit yang berada di bagian paling tinggi di kota Almaty, dimana tinggi dari bukit ini mencapai 110 m. Untuk mencapai bukit ini juga tidak sulit, sebab bisa menggunakan bantuan dari mobil kabel. Tempat ini sendiri merupakan landmark dari kota Almaty, dimana tidak heran tempat ini selalu dipadati oleh pada wisatawan baik lokal maupun luar. Di bukit ini juga bisa menemukan patung The Beatles yang diresmikan pada tahun 2007, bagi penggemar band ini maka wajib mengunjunginya.
Setelah itu para peserta diajak untuk melihat Menara Alma Ata
Menara yang satu ini merupakan salah satu tempat wisata di Kazakhstan yang wajib dikunjungi, dimana menara ini sendiri dibangun pada tahun 1975 hingga 1983. Menara ini sendiri berdiri pada daerah pegunungan Kok Tobe dimana memiliki tinggi mencapai 371,5 m dan merupakan salah satu menara baja pemancar televisi tertinggi yang ada di dunia. Karena menara yang satu ini sangat rawan akan gempa maka tidak heran jika menara ini mampu bertahan di tengah guncangan gempa mencapai 10 skala richter.
" Kelak aku juga ingin membangun menara, dan itu akan aku namai menara Alma Akio, keren kan?", Alma langsung terkekeh mendengar ucapan Akio yang dianggapnya hanya sebuah lelucon. Padahal Akio serius dan ingin membuat sesuatu dengan menyatukan nama mereka berdua.
Usai melihat menara Alma Ata rombongan menuju ke Medeu.
Medeu merupakan salah satu arena skating tertinggi yang ada di dunia, dimana tempat ini berlokasi di kota Almaty. Tempat ini sendiri berada di ketinggian 1.691 m dimana pertama sekali di buka pada tahun 1949. Bahkan tempat ini sendiri merupakan menjadi tempat kompetisi ice skating pertama di dunia yaitu pada tahun 4 Februari 1951, tidak heran jika tempat ini merupakan saksi sejarah dari banyaknya rekor ice skating yang dipecahkan di tempat ini.
Namun Alma dan Akio hanya bisa melihat-lihat tempat itu saja, karena mereka berdua tidak bisa bermain ice skating. Sedangkan teman-teman yang lain mencobanya. Alma sempat di ajak oleh Lidia dan mengatakan akan membimbingnya, namun Alma tidak mau, karena suhunya terlalu dingin.
Tempat tujuan yang terakhir adalah ke Kebun Tulip.
Jika ingin melihat keindahan dari bunga tulip maka tidak perlu jauh-jauh ke Belanda, sebab banyak sekali hamparan bunga tulip di negara ini. Tentunya bunganya memiliki beragam warna, selain itu hal ini bisa di temukan pada saat Festival Tulip yang berlokasi di Almaty. Akan tetapi tempat bunga tulip ini tidaklah sebesar yang ada di Belanda namun tidak kalah indah dari tempat yang ada di Belanda. Jadi jika ingin mencuci mata maupun berfoto di kebun ini dijamin akan sangat cantik. Oleh sebab itu tidak ada salahnya jika berkunjung ke tempat wisata di Kazakhstan ini dimana tidak kalah indah.
Alma dan Akio mengambil beberapa foto berdua, dan beberapa foto bersama semua team dari Indonesia. Banyak juga foto Alma di galeri ponsel Akio, yang diambil secara diam-diam oleh Akio, sejak awal tadi masih berada di Kok Tobe, ada juga yang di Menara Alma Ata, dan juga di Medeu.
Dan ternyata bukan hanya Akio saja yang diam-diam mengambil foto Alma, ada Banu yang dari awal sudah tertarik pada Alma, memanfaatkan jalan-jalan ini untuk mengoleksi foto Alma.
Begitu juga dengan Lidia yang diam-diam mengambil foto Akio, dengan jumlah yang cukup banyak.
Tidak ada satupun dari mereka yang curiga dengan kedekatan Akio dan Alma, karena mereka mengira itu terjadi karena mereka berasal dari daerah yang sama.
Bahkan Alma dan Akio sama-sama berhasil menjadi peraih medali emas di bidangnya masing-masing. Sungguh sebuah prestasi yang sangat spektakuler.
Hari semakin malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing, dan diminta berkumpul lagi untuk makan malam bersama, makan malam terakhir di Kazakhstan, karena besok sore mereka harus kembali ke Indonesia.
Mereka hanya punya waktu di Kazakhstan besok siang, itu pun dijadwalkan untuk berbelanja oleh-oleh, karena sore harinya pesawat mereka akan lepas landas. Kembali ke Indonesia.