
" Kak Alma...!", Bara berlari dan memeluk kakaknya yang sedang makan di meja makan. Rasa rindu pada kakak perempuannya itu membuat Bara tidak bisa memperhatikan apa yang sedang Alma lakukan.
Alma buru-buru mengunyah dan menelan nasi dan ayam goreng yang ada di dalam mulutnya. Untung saja itu adalah suapan terakhir, " Kakak juga kangeeen banget sama Bara".
" Kalau kak Alma kangen, kenapa kakak nggak pernah main ke sini?",
Maemunah membereskan piring kotor milik Alma sambil tersenyum melihat kelakuan Bara yang sedang merajuk pada kakaknya.
" Biar Alma yang bersihkan Bu", Alma menahan tangan ibunya.
" Tidak papa, cuma satu piring dan sendok saja, lagian di kios sudah banyak yang membantu".
" Kamu urus itu adikmu yang lagi kangen berat", ucap Maemunah sambil membawa piring kotor bekas makan Alma dan langsung mencucinya.
Bara masih memeluk Alma dan tidak kunjung melepaskan.
" Assalamualaikum !",
Terdengar suara salam dari luar. Namun Alma tentu saja tidak bisa berdiri karena Bara masih menggelayut di tubuhnya.
" Waaaah... nggak dibukain pintu, ternyata ada yang lagi kangen-kangenan di sini. Jadi pengen ikut pelukan juga", goda Akio pada Bara adik iparnya.
Ternyata tamu yang datang adalah Akio yang sengaja datang untuk menjemput Alma.
" Iya itu lagi ada yang kangen-kangenan, si Bara dari kemarin ngajakin ibu ke rumah kalian, katanya kangen sama kakaknya, tapi ibu belum sempet-sempet".
" Eh...kebetulan malah kalian yang kesini. Nak Akio makan dulu ya, Alma nya baru saja selesai makan". Maemunah hendak mengambil piring untuk Akio. Namun segera Akio menghentikannya.
" Tidak usah Bu, tadi pas mau kesini Akio sudah makan dulu, masih kenyang banget", tolak Akio.
" Kenapa kakak baru main kesini, sudah hampir dua bulan nggak ketemu", tanya Bara dengan wajah polosnya meminta penjelasan dari Alma.
Namun Akio lebih dulu memberikan jawaban.
" Bukan disengaja, Kak Alma sibuk ikut les, karena kak Alma sekarang sudah kelas 12, sebentar lagi mau ikut ujian".
" Beberapa hari yang lalu kak Alma juga harus sibuk belajar karena mengikuti lomba cerdas cermat. Jadi kak Alma kecapekan belajar dan nggak bisa main kesini".
Bara menatap Alma, seolah meminta penjelasan benar atau tidak yang disampaikan oleh Akio.
" Iya, yang kak Akio katakan semuanya benar, Kakak juga kangen sama Bara dan Ibu, tapi waktu kakak seharian nggak cukup untuk dibagi-bagi dan datang kesini, maafin kakak ya...". Alma membalas pelukan Bara dengan erat.
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang.
" Sudah sudah, Bara kan harus ke mushola dan belajar ngaji, jadi biarkan kakaknya istirahat dulu", perintah Maemunah.
" Bara nggak mau ngaji, nanti kak Alma pergi lagi, Bara mau sama kak Alma dulu".
Alma tersenyum simpul, " Bara harus ngaji biar bisa doain almarhum ayah, kakak nggak akan pulang sampai bara selesai ngaji. Kakak masih akan disini". Alma sengaja bernegosiasi dengan Bara, agar Bara tetap mengaji, dan dirinya bisa mandi keramas dengan santai.
Mata Bara bersinar cerah, " Baiklah, Bara akan ke mushola dan mengaji, tapi kakak tetap disini ya, janji".
Ternyata Bara begitu mudah menyetujui permintaan Alma.Bara melepaskan pelukannya dari Alma dan berlari ke belakang untuk berwudlu dan berlari setelah mengambil sarung dan peci menuju mushola.
" Ibu juga ke mushola dulu ya Al, kalau mau mandi handuk kamu ada di dalam lemari".
Maemunah sudah lengkap dengan perlengkapan ibadahnya, keluar rumah dan menutup pintu rumah.
" Apa kamu berniat mau nginep disini?", tanya Akio yang terlihat kurang setuju jika harus menginap.
Akio langsung mengikutinya berjalan ke kamar. Alma mengambil handuk dan kembali keluar menuju kamar mandi.
15 menit kemudian Alma keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Kembali masuk ke kamar, di kamar Akio sedang sibuk menatap layar ponselnya.
" Kamu sudah selesai tamu bulanannya?".
Alma mengangguk mendengar pertanyaan Akio. Masih dengan handuk yang di gosokkan di kepala.
Senyum sumringah langsung terukir di wajah Akio." Nanti pulang ke rumah kita saja ya sayang, agak malaman nggak papa, tapi jangan nginep disini", Akio memang kurang nyaman dengan kamar Alma yang sempit dan juga ranjang besi yang jika bergerak sedikit saja menimbulkan bunyi krekeeet.... cukup keras.
Bayangkan bagaimana jika nanti Akio menyerang Alma malam hari yang sunyi, pasti akan menimbulkan bunyi krekeeet krekeeet yang begitu keras.
Alma sudah menduga sebelumnya, Akio pasti akan meminta hal ini kepadanya.
" Aku mau sih pulang ke rumah, tapi dengan syarat", ujar Alma, usai menyisir rambutnya di depan cermin tiolet.
" Syarat apa?".
" Besok aku mau pergi nonton sama Sean dan Feni jam 10, bolehkan?", tanya Alma penuh harap.
Akio terlihat berpikir cukup lama. Namun kemudian terlihat anggukan kepalanya, " Oke, kamu boleh jalan sama mereka besok, tapi nanti malam kita pulang kerumah, dan kamu harus turuti semua kemauan aku".
Akio dan Alma seperti dua orang yang sedang bernegosiasi, dan menemukan sebuah kesepakatan.
" Deal ", ujar Alma.
Selama satu jam sambil menunggu Bara pulang ngaji, Akio sedikit melakukan pendekatan awal dengan Alma. Karena Maemunah harus menyelesaikan pembukuan terlebih dahulu di ruang tengah, sehingga Alma dan Akio tetap dikamar mereka, tidak mau mengganggu konsentrasi Ibunya.
" Sini jangan jauh-jauh tidurannya, nanti kamu bisa jatuh kebawah, ranjang kamu ini kan kecil", Akio menyuruh Alma mendekatkan diri.
Tidak lupa Akio juga menyetel musik dari ponselnya, agar tidak terdengar percakapan mereka dari luar.
Alma pun menuruti kemauan Akio dan meletakkan kepalanya di bahu Akio yang bidang. Akio langsung melingkarkan tangan dan kakinya memeluk Alma. Sungguh posisi yang membuat mereka merasa sangat nyaman.
" Jangan diemin aku lagi kayak kemarin-kemarin ya.... . Aku minta maaf kalau nggak langsung cerita soal Steven dan kawan-kawannya yang kabur sama kamu. Aku juga baru tahu saat jam istirahat sekolah, waktu itu kamu lagi ikut lomba, dan Steven meneleponku, mengatakan hendak datang kerumah".
" Karena itulah aku menyuruhnya untuk pergi ke vila saja yang lebih aman".
" Tidak ku sangka justru aku mengantar mereka ke gerbang kematian. Aku sungguh menyesal saat itu".
Akio menceritakan apa yang sudah di simpannya selama ini pada Alma.
Mendengar cerita Akio, Alma tahu jika Akio pasti merasa sangat tertekan dan merasa bersalah atas kematian teman-temannya.
Alma memasukkan kepalanya lebih dalam ke ceruk leher Akio. " Setelah aku pikir-pikir, kamu tidak sepenuhnya bersalah, jika aku ada di posisi kamu saat itu, mungkin aku akan melakukan tindakan yang sama.
Akio dan Alma kini saling meminta maaf dan saling membuka diri. Waktu sebulan yang mereka habiskan dengan saling berdiam diri membuat mereka sama-sama menyesal dan menyadari kesalahan mereka.
Namun semua itu membuat mereka berdua sama-sama menyadari betapa mereka saling mencintai dan saling membutuhkan. Akio butuh Alma menjadi pendamping hidupnya, dan Alma juga membutuhkan Akio untuk melindungi dirinya.
" Tok....tok...tok...tok....!".
" Kak... buka pintunya, Bara sudah selesai ngajinya!", teriakan Bara membuat Alma dan Akio saling berpandangan dan tersenyum bersamaan.
" Kamu urus dulu adik kecilmu itu, baru nanti malam kamu urus adik kecilku ini", ucap Akio dengan senyum mesumnya. Karena Alma juga sudah merasakan sejak tadi si adik kecil Akio sudah berubah wujud menampakkan wujud yang sesungguhnya. Hanya saja Alma belum ingin melanjutkan kemesraan mereka. Karena Alma harus mengurus Bara terlebih dahulu sebelum pulang kerumah.