My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 72 : Kisah Perjalanan Panjang



Alma langsung tersadar dari keterkejutannya saat Steven melepaskan cengkeraman pada lengannya.


" Benarkan kamu Steven?", Alma berusaha memastikan benar yang ada di hadapannya itu adalah Steven, atau hanya seseorang yang mirip saja.


" Ya benar, aku Steven, teman Akio".


" Kapan kamu kembali ke sini?, atau apa kau tidak jadi kembali ke Mesier?". Alma semakin penasaran dengan alasan Steven berada di gua itu.


" Ceritanya panjang, sebaiknya kita duduk dulu, biar kamu lebih nyaman saat mendengarkan nya".


Alma menurut saja, berjalan mengikuti Steven menuju sebuah batu besar yang agak pipih, Steven duduk di atas batu itu, dan Alma mengikutinya.


" Dari mana sebaiknya aku bercerita?", tanya Steven, karena merasa bingung mau memulai cerita dari mana.


" Ceritakan dari saat kamu pulang ke Mesier. Tidak papa jika lama, Akio sedang tidur saat ini, dia pasti tidak akan mencariku".


Alma duduk menghadap Steven, tatapan dan pikirannya fokus pada Steven.


***


Steven POV


6 bulan yang lalu aku memulai perjalanan menuju ke planet Mesier seorang diri, aku berharap perjalanan ku kali ini tidak mengalami kendala, karena semuanya sudah ku persiapkan dengan sangat matang.


Saat melewati atmosfer bumi memang terjadi gesekan cukup keras dengan UFO yang ku naiki, tapi tidak menimbulkan kerusakan pada UFO.


Mungkin dari badan peneliti antariksa mengetahui keberadaan UFO milikku saat itu, tapi kecepatan UFO yang ku naikkan saat sampai diluar angkasa, membuatku tidak terkejar oleh polisi luar angkasa.


Aku selamat dan terus terbang meninggalkan bumi. Semakin hari semakin jauh dan semakin jauh. Jika dihitung dalam hitungan hari di Bumi, mungkin aku sudah melakukan perjalanan selama dua minggu di luar angkasa.


Saat Bumi sudah tidak lagi terlihat dan hanya nampak seperti sebuah titik kecil aku bertemu dengan UFO lain yang tidak asing untukku. Aku masih berada di galaksi Bimasakti saat itu, dan aku bertemu dengan beberapa penduduk planet Mesier.


Kami yang bisa mendengar suara hati dan pikiran, membuat kami bisa berkomunikasi meski berada di UFO yang berbeda.


Dan aku mendengar kabar dari mereka, jika planet Mesier mengalami hujan meteor beberapa bulan yang lalu. Banyak sekali hewan dan makhluk hidup yang mati terbakar hidup-hidup. Tumbuh-tumbuhan pun hangus terbakar, sungai menyala api dan kehidupan di sana rusak parah.


Beberapa yang masih hidup akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan diri, menaiki UFO dan melakukan perjalanan luar angkasa, hanya berserah pada nasib, akan membawa mereka kemana.


Dan aku yang awalnya berniat untuk kembali ke Mesier pun akhirnya merubah rencana, aku memutar balik UFO, mereka yang ada di UFO satunya berpindah ke UFO milikku, karena UFO milik mereka hampir kehabisan bahan bakar setelah berkeliling luar angkasa berbulan-bulan.


Aku dan ke lima kawanku berhasil sampai ke bumi setelah melakukan perjalanan selama 15 hari, jika dihitung dalam ukuran waktu di bumi. Sebenarnya kami tidak langsung sampai di pulau ini. UFO milikku jatuh di lautan lepas. Tepatnya diperairan samudera Hindia.


Tapi kami mempunyai kemampuan untuk berenang cepat, dan kami melewati lautan luas hingga sampai di perairan Bali.


Kami sempat tinggal di Denpasar selama beberapa hari, disana kami tinggal untuk beristirahat setelah berenang hampir seharian menuju daratan, kami menyambung hidup dengan berpura-pura menjadi peramal, kemampuan kami yang bisa membaca pikiran orang lain memang sangat menguntungkan.


Apalagi di Bali banyak sekali turis yang berkunjung dan mereka sangat percaya dengan hal tentang ramal meramal seperti itu.


Kami tinggal disana hingga kami punya cukup uang dan juga tenaga kami semua sudah pulih, kami memutuskan menuju kemari. Tempat yang bisa kami tinggali, karena baru aku saja yang mempunyai kartu tanda penduduk, yang lain belum ada, dan itu membuat kami sedikit kesulitan untuk tinggal di tempat-tempat umum dan yang banyak berpenghuni.


Saat di Denpasar kami pernah mengalami kesulitan karena di mintai KTP dan paspor oleh seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai polisi pantai. Untung saja aku bisa berkelit, dan sedikit memberi sogokan sehingga kami tidak ditangkap.


Untungnya saat ini mereka berlima sudah mengenal cukup banyak kosa kata bahasa manusia. Makhluk dari Mesier seperti kami memang cepat belajar, dan mudah memahami hal-hal baru. Itu cukup menguntungkan bagi kami.


***


Author POV


Alma terus mendengarkan Steven bercerita tanpa berbicara sepatah katapun, tujuannya agar Alma mendengar cerita Steven dari awal hingga akhir, dan akhirnya Alma tahu bagaimana perjalanan mereka yang cukup panjang dan penuh perjuangan.


" Kalau begitu bolehkah aku melihat kelima temanmu?".


" Apa hanya lima saja yang berhasil selamat dari sekian ribu jumlah penduduk planet Mesier?", Alma yang dari tadi sangat penasaran akhirnya menanyakan apa yang membuatnya penasaran.


" Aku memang hanya bertemu dengan mereka berlima saja, entah bagaimana yang lain, termasuk keluarga besar ku juga tidak ada yang tahu bagaimana keadaan mereka saat ini".


Steven memanggil kelima kawannya yang kemudian keluar dari dalam gua. Ternyata mereka semua laki-laki. Alma menatap mereka satu persatu.


" Apa tidak ada makhluk Mesier yang berjenis kelamin perempuan yang selamat?", tanya Alma. Sebenarnya Alma penasaran juga seperti apa makhluk berjenis kelamin perempuan dari planet Mesier.


" Kebanyakan dari mereka memang mati, dari cerita mereka berlima, hujan meteor itu membuat semua rumah, ladang, dan hutan terbakar, bahkan sungai saja mengalirkan air yang sangat panas dan semua tumbuhan dan hewan mati, semuanya rusak parah". Steven kembali menjelaskan.


" Selama ini kalian makan apa tinggal disini?", Alma penasaran dan memasuki gua, ternyata gua yang dari luar terlihat gelap, didalamnya terang karena ada api unggun kecil didalamnya. Ada lubang cukup besar yang tembus hingga permukaan tanah di tebing, sehingga tidak masalah membuat api unggun di dalam gua.


" Kami makan daging buruan, sedapatnya apa, kalau dapat kambing, kami makan kambing, kalau dapatnya sapi, kami makan daging sapi".


" Apa kamu mau coba Al... ini daging sapi, hanya dibakar saja, karena kami tidak punya bumbu apa-apa".


Alma menggelengkan kepala sambil mendorong potongan besar daging sapi yang disodorkan kepadanya.


" Aku sudah makan bersama Akio tadi". Alma langsung teringat jika dia sudah cukup lama keluar dan meninggalkan Akio tanpa berpamitan. Alma langsung mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Akio bahwa dirinya baik-baik saja. Namun di dalam gua ternyata tidak ada sinyal sama sekali.


" Steven aku sudah pergi dari rumah cukup lama, dan tadi aku tidak berpamitan pada Akio karena dia sedang tidur nyenyak, tapi sekarang aku sudah terlalu lama keluar rumah dan belum kembali, aku mau menelepon Akio tapi disini tidak ada sinyal sama sekali".


" Aku takut Akio sudah bangun dan menghawatirkan aku, sebaiknya aku kembali ke tempat dimana mobil berada".


" Apa kau akan ikut denganku ke vila?, disana kalian bisa makan dan istirahat dengan tenang dan nyaman".


Alma memang merasa kasihan pada mereka ber enam, seperti seorang gelandangan yang tidak tau tujuan pulang.


Steven mengajak bicara kelima kawannya menggunakan bahasa planet Mesier, dan mereka mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya mereka setuju untuk ikut ke vila.


Alma bersama keenam makhluk Mesier itu keluar dari gua, berjalan menyusuri semak belukar menuju dimana mobil dan supir yang tadi mengantar Alma berada.


Masih dalam perjalanan menuju mobil, belum sampai di tempat mobil parkir, Alma sudah mendengar teriakan Akio memanggil-manggil namanya berkali-kali dari kejauhan.


" Benar kan dugaan ku, Akio pasti sangat cemas karena aku pergi tanpa pamit, dan tidak pulang-pulang kerumah".


" Dia langsung menyusul dan mencariku kemari", ucap Alma sambil meringis.


Steven ikut tersenyum, dia memang sudah paham sekali dengan sifat Akio yang sangat takut kehilangan Alma.