My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 77 : Insiden 1



Akio POV


Kegiatan di sekolah tidak ada yang spesial, semua berjalan mengalir seperti biasanya. Dan waktuku bersama-sama dengan Alma menjadi lebih sedikit, karena setiap istirahat pasti Sean datang ke kelas kami dan mengajak Alma untuk ke kantin bersama, bahkan kadang sepulang sekolah mereka juga jalan bersama, bertiga dengan Feni.


Feni kini tidak sekelas denganku dan Alma, tapi dia sekelas dengan Sean, dan mereka berdua seperti bayangan yang selalu mengikuti Alma kemanapun Alma pergi.


Terpaksa aku mengijinkan mereka, tentu saja sebenarnya aku tidak rela, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau dicap sebagai cowok yang posesif dan mengekang kebebasan Alma. Juga karena beberapa kejadian yang terjadi beberapa minggu yang lalu.


Tahun ajaran ini ada banyak sekali murid baru, mungkin karena kemenangan yang ku raih bersama dengan Alma, yang membuat nama sekolah kami menjadi semakin dikenal. Banyak sekali anak pejabat, dokter, pengusaha, dan anak dari para kalangan ekonomi menengah ke atas bersekolah disini. Kepala sekolah sengaja menambah dua kelas lagi, sehingga tahun ini bisa menerima lebih banyak peserta didik baru.


Sebenarnya itu juga menguntungkan untuk yayasan ku, kami akan memperoleh profit yang lebih besar di tahun ini.


Namun ada satu hal yang membuatku merasa kurang nyaman karena mereka para murid baru selalu penasaran dengan kehidupan pribadi ku dengan Alma, mungkin awalnya mereka penasaran karena aku dan Alma yang menjadi alasan orang tua mereka menyekolahkan mereka disini. Namun semakin lama, rasa penasaran mereka semakin menjadi.


Bahkan pernah sekali aku menemukan cctv yang dipasang di mobilku, kapan, siapa dan bagaimana cara mereka melakukan itu, sudah diketahui, tapi yang jelas sejak saat itu Alma memintaku untuk sedikit membuat jarak saat di sekolah. Saat itu aku ingat betul, aku menemukan cctv dengan kamera sangat kecil yang menempel di plafon mobilku. Menurutku itu sudah sangat melewati batas.


Sekarang aku tidak bisa bebas menyentuh Alma di mobil, karena kami harus waspada jika sewaktu-waktu ada cctv lainnya yang menempel di mobil.


Kejadiannya terjadi beberapa hari yang lalu, sekitar tiga minggu setelah kami mulai berangkat sekolah, saat itu hari ulang tahun Alma, ulang tahun yang ke 17, tentu saja sebagai pasangannya aku ingin sekali membuat kejutan yang tak terlupakan.


Hari itu aku sengaja membawa mobil sendiri ke sekolah, itu hal yang di perbolehkan di sekolahan kami, karena aku sudah punya SIM tentunya. Aku mengendarai mobil sendiri karena ingin membuat kejutan untuk Alma sepulang sekolah.


Dari pagi sudah ku sampaikan pada Alma untuk tidak pergi bersama Sean dan Feni siang harinya, karena ibu menelepon dan meminta kami datang kerumah, itu hanya alasanku saja. Karena sebenarnya ibu tidak menyuruh kami datang kerumah beliau, dia hanya menelepon menanyakan kabar saja tadi pagi, dan mengucapkan selamat ulang tahun tentunya buat Alma.


Siang harinya usai sekolah, aku berjalan berdampingan dengan Alma, dan setelah kami masuk ke mobil, ku berikan kado pertama, yaitu cincin berlian yang sangat indah. Saat itu Alma nampak sangat bahagia, dan diapun memelukku erat, itu hal yang wajar dan biasa kami lakukan. Kami sepasang suami istri dan berpelukan hampir setiap hari kami lakukan di kamar.


Namun saat itu sedikit berbeda.....


Mobilku menggunakan kaca yang hitam dan gelap, dan tidak akan mungkin terlihat dari luar jika kami berpelukan. Tapi jika di dalam mobil, kami bisa melihat dengan jelas keadaan di luar mobil.


Dan saat itu aku ******* bibir Alma cukup lama, saking terbawa suasana hampir aku melakukan hubungan intim di dalam mobilku bersama Alma, aku kira tidak akan ada yang tahu dengan apa yang kami berdua lakukan. Karena suasana parkiran sekolah sudah sepi.


Tapi betapa kagetnya saat tiba-tiba bapak kepala sekolah menggedor kaca mobilku bersama pak satpam penjaga sekolah dan juga beberapa murid baru. Untung saat itu aku dan Alma masih berpakaian lengkap, hanya kancing baju kami yang terbuka, tentu saja aku sudah menyingkap rok Alma, dan sudah membuka resleting celana yang ku kenakan.


Aku dan Alma langsung merapikan pakaian kami dan membuka pintu mobil, beberapa saat kemudian. Pak kepala sekolah langsung menyuruh kami ke ruangannya. Dan menunjukkan video yang membuat aku dan Alma tercengang. Alma bahkan langsung menunduk karena merasa sangat malu saat itu.


Ternyata ada seorang yang memasang cctv di plafon mobilku, tepatnya di atas dashboard mobil, bagaiman caranya, aku tidak tahu dengan hal itu.


Kami adalah sepasang kekasih, dan di rekaman video itu kami baru berciuman, belum sampai melakukan hubungan intim, jadi aku masih bisa membela diri.


Saat itu juga aku menyuruh pada orang kepercayaan ku untuk mencari ahli IT untuk menghapus seluruh video yang sudah tersebar, dimana ada adegan intim antara aku dengan Alma di dalamnya. Hanya dalam hitungan menit video itu sudah berhasil dibersihkan.


Dan bahkan pelakunya pun sudah ditemukan, dan lebih mengejutkan, ternyata pelakunya adalah murid baru, adik kelas kami, sayangnya dia adalah putra dari salah satu pejabat penting di daerah kami, dan pak kepala sekolah hanya menegur perbuatannya, memberi surat peringatan, namun anak itu masih diijinkan mengikuti kegiatan belajar di sekolah seperti biasa.


Awalnya aku ingin menuntut perbuatan anak itu, namun pak kepala sekolah menjelaskan padaku, jika tidak ingin kasus ini menjadi rumit dan semakin panjang, sebaiknya aku tidak melapor. Sebagai gantinya pak kepala sekolah membebaskan aku dan Alma dari hukuman. Tentu saja seharusnya kami berdua dihukum karena berpacaran dan berciuman di lingkungan sekolah.


Karena itu aku menerima saran pak kepala sekolah, untuk tidak memperpanjang masalah ini. Aku juga sangat malas untuk berurusan dengan pihak berwajib. Tapi tentu saja, akan kuberikan hadiah tak terlupakan untuk anak itu, dia harus menerima ganjaran dari perbuatannya padaku dan Alma.


Dan sejak saat itu, aku dan Alma harus membuat jarak setiap kali di sekolah, demi kebaikan Alma, aku membiarkannya untuk sering bersama Sean dan Feni. Mereka berdua memang sahabat Alma yang baik dan dapat dipercaya.


Tapi setiap hari Alma masih berangkat dan pulang bersamaku, kecuali jika dia pergi jalan sepulang sekolah bersama Feni dan Sean, Alma akan pulang ke rumah ibunya diantar Sean, dan sore atau malam harinya aku jemput, untuk pulang ke rumahku.


Sejak insiden yang terjadi hari itu, Alma memang sedikit berbeda, sepertinya dia sangat malu dan terus menjaga jarak denganku saat di sekolah. Kini di sekolah Alma lebih dekat dan akrab dengan Feni dan Sean. Mereka bertiga seperti soulmate yang tak terpisahkan.


Kadang aku sedikit khawatir jika mereka sedang jalan bertiga, tanpa pengawasanku. Tentu akan banyak mata lelaki yang tertuju pada mereka. Terutama pada Alma ku. Dia paling cantik, paling bersinar dan paling menonjol diantara yang lain. Gadis yang akan dengan sangat mudah menarik perhatian lawan jenis.


Meski aku yakin 100% pada Alma, dia gadis yang setia, jujur dan dapat dipercaya. Namun kadang rasa khawatir tetap saja ada.


Pernah sekali dia pulang telat, saat itu aku sudah menjemputnya ke rumah ibu, tapi dia belum pulang, sampai senja baru dia sampai di rumah ibunya. Dan tidak perlu aku bertanya, Alma menjelaskan kemana saja dia pergi, juga meminta maaf karena telat pulang.


Pernah juga suatu hari aku mengetahui bahwa ada beberapa laki-laki yang diam-diam mengikuti nya, mungkin untuk mencari tahu alamat rumahnya. Atau mungkin lelaki itu menawarkan tumpangan, sebagai modus agar tahu dimana tempat tinggal Alma, namun Alma tolak. Sehingga mereka diam-diam mengikuti Alma, sampai rumah ibu.


Seandainya dulu aku tidak bergerak cepat menikahi Alma meski itu adalah hal yang absurd, karena kami belum cukup umur. Aku yakin, bisa jadi ada laki-laki lain yang bertindak konyol sepertiku. Saking sukanya pada Alma.


Dan membahas tentang absurd, ada hal lain yang lebih konyol saat ini, karena sampai hari ini hadiah kedua dan ketiga dariku belum sempat ku berikan pada Alma.


Sebuah mobil Mercedes Benz warna putih, yang sudah ada di garasi mobil sejak sehari sebelum hari ulang tahun Alma. Bahkan pita dan rangkaian bunga plastik masih terpasang menghiasi mobil itu.


Aku belum sempat menunjukkan kepada Alma, dan juga hadiah ketiga yang ada di dalam mobil itu. Buket uang yang aku simpan di dalam mobil itu, sejumlah 17 juta, sesuai dengan usianya.


Mungkin weekend besok baru akan aku tunjukkan hadiah-hadiah itu pada Alma. Semoga Alma tidak terus menjaga jarak dariku. Aku sudah sangat merindukan dirinya.