
Akio POV
Helikopter mendarat pukul 11 waktu setempat. Sudah ada mobil Alphard hitam yang menjemput kedatangan kami. Pak supir pun membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk kedalam mobil.
Ku lihat Alma berhenti sejenak sebelum masuk ke mobil, dia menatap ke sekitar, sabana, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya sambil masuk kedalam mobil.
Alma membuka jendela kaca mobil lebar-lebar, mungkin dia masih ingin menikmati pemandangan sabana siang itu. Tapi bukan saat ini waktu untuk melihat sabana dan hewan liar yang bergerombol itu, karena matahari akan semakin memuncak, dan suhu di sabana bisa mencapai 40° jika siang hari cerah seperti saat ini.
" Kita ke vila dulu, kamu harus istirahat, pasti capek setelah perjalanan udara cukup lama".
Alma mengangguk dan menuruti ucapanku.
" Selain orang-orang yang bekerja di vila milikmu, apa ada orang lain yang menghuni pulau ini?", entah mengapa Alma tiba-tiba menanyakan hal itu padaku. Dan langsung ku jawab bahwa hanya orang-orang yang bekerja padaku yang menghuni pulau ini. Semuanya tidak lebih dari 7 orang.
5 orang bekerja di vila, yaitu dua pembantu perempuan, satu tukang kebun, satu satpam dan satu supir. Sedangkan 2 orang lainnya bekerja di gudang rahasia yang ku bangun di tengah hutan.
Entah apa maksud dan tujuan Alma bertanya hal itu, mungkin dia hanya memastikan saja jika liburan kami ini benar-benar akan menjadi liburan yang private.
Pak supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Kami memasuki vila dan disambut oleh beberapa orang yang bekerja di sana. Dua pembantu, satu tukang kebun dan seorang satpam.
Saat masuk tercium aroma masakan yang masih mengepul asapnya. Itu tandanya masakan baru saja matang dan baru disajikan.
Mereka memang selalu menyambutku setiap kali aku datang. Dan tentu saja itu harus mereka lakukan, karena akulah yang membayar gaji mereka.
" Mau langsung makan siang atau istirahat dulu?". Ku tatap Alma yang masih terlihat bersemangat meski sudah melakukan perjalanan panjang.
" Kita makan dulu saja, kasihan mereka sudah membuatkan masakan untuk kita, habis itu baru kita istirahat", batin Alma.
Ku ikuti langkah Alma menuju meja makan. Padahal perutku masih terlalu kenyang bekas makan sarapan tadi pagi, tapi untuk menghormati mereka yang sudah susah payah memasakkan makanan untuk kami, terpaksa aku harus makan lagi. Seperti yang Alma katakan tadi, kasihan jika makanan yang sudah disiapkan ini tidak dimakan.
Dan usai makan, aku dan Alma memilih untuk beristirahat dan masuk ke dalam kamar. Aku lelah, benar-benar lelah, lelah setelah joging, berenang dan perjalanan udara selama dua jam. Dan saat ini aku benar-benar ingin istirahat. Tapi aku melihat Alma masih sangat segar, dia tidak terlihat lelah sama sekali. Bahkan saat di kamar aku melihatnya bermain-main ponsel. Tidak tidur atau istirahat sepertiku.
Mungkin kondisi fisik Alma memang sedang fit, dan aku menyia-nyiakan kesempatan bagus untuk bergumul bersama Alma hanya karena aku sudah sangat lelah dan mengantuk. Aku memilih tidur siang untuk mengembalikan tenagaku yang hilang.
Dan saat aku terbangun Alma sudah tidak berada di kamar. Mungkin dia keluar untuk mencari udara segar. Aku pun keluar dan mencari keberadaannya, namun bibi bilang dia keluar dengan pak supir. Apa iya Alma keluar rumah tanpa berpamitan padaku?, kemana dia, apa pergi ke sabana sendiri tanpa diriku.
***
Alma POV
Perjalanan ke vila berjalan dengan lancar, aku senang karena keinginanku untuk kembali ke pulau kecil ini bisa terwujud.
Saat kami sampai dan mendarat di sabana, kami sudah dijemput oleh pak supir. Sebenarnya aku sudah merasa sangat lelah, tapi ada sesuatu yang membuat rasa ngantuk dan lelahku lenyap seketika. Saat hendak masuk ke dalam mobil jemputan, aku melihat segerombol orang di kejauhan.
Karena merasa ada yang janggal aku bertanya langsung pada Akio sebenarnya siapa saja yang tinggal di pulau kecil itu. Akio mengatakan semuanya ada 7 orang.
Dan gerombolan orang yang ada di sabana aku pikir sekitar 6 orang atau lebih. Dan saat sampai di vila, semua yang bekerja di sana menyambut kedatangan kami.
Tadinya aku pikir mungkin orang-orang tadi adalah mereka para pekerja di vila, namun bagaimana mereka bisa sampai secepat ini menempuh jarak hampir 2 km dari sabana hingga ke rumah.
Dan lebih tidak mungkin lagi karena dua pembantu baru saja selesai memasak. Jadi bisa dipastikan orang-orang yang berada di sabana tadi, bukan orang-orang yang bekerja di vila milik Akio.
Aku dan Akio memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum tidur siang. Saat masuk ke kamar untuk istirahat, pikiranku sudah melanglang buana jauh ke sabana. Aku ingin tahu siapa orang-orang yang tadi kulihat. Mungkinkah mereka penghuni pulau lain yang sedang mencari hewan buruan untuk mereka makan sampai ke pulau ini?. Atau mereka orang-orang yang terdampar di pulau ini. Berbagai spekulasi pun bermunculan dalam otakku.
Tak lama setelah berada di dalam kamar, kulihat Akio langsung tidur hingga pulas, dia pasti sudah sangat lelah karena tadi pagi joging, renang dan juga melakukan perjalanan udara menuju ke sini selama dua jam. Sebenarnya tadi aku pun merasa lelah, tapi semua rasa lelah sudah lenyap dan kalah oleh rasa penasaranku tentang siapa orang-orang yang kulihat di sabana tadi.
Aku keluar kamar saat Akio sedang tidur dengan pulas, aku tidak berpamitan terlebih dahulu, karena ku kira aku hanya akan keluar rumah sebentar saja. Menuju sabana hanya butuh waktu beberapa 15 menit menggunakan mobil. Karena hanya ada satu jalan utama, dan tidak ada kendaraan lain yang berlalu lalang membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Saat aku sampai di sabana, kulihat beberapa hewan liar yang berkerumun. Aku sengaja turun dari mobil dan menyuruh pak supir untuk tetap di mobil. Pak supir menuruti keinginanku dan duduk di bangku setir menungguku.
Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju lokasi dimana tadi aku melihat segerombolan orang asing. Benar sekali, saat kulihat semak belukar, memang banyak bekas jejak kaki yang tertinggal disana, tapi orang-orang asing itu sudah tidak ada. Kemana gerangan mereka pergi?.
Ku ikuti bekas jejak kaki yang membelah semak belukar. Entah keberanian dari mana yang tiba-tiba merasuki pikiran ku, aku hanya merasa penasaran, benar yang kulihat tadi adalah manusia atau bukan.
Dan tak jauh dari tempat itu kutemukan semacam gua alam yang pintunya tertutup rimbunnya daun-daun menjalar. Tapi jelas terlihat bahwa itu sudah dilewati seseorang, karena bekas tebasan daun-daun yang menjalar itu jelas terlihat.
Aku mulai merasa takut, antara memasuki gua yang gelap itu sendiri, atau kembali ke mobil mengajak pak supir untuk bergabung menemaniku.
Kudengar samar-samar memang ada suara yang terdengar berasal dari dalam gua. Aku yakin orang-orang yang kulihat tadi berada di dalam gua ini.
Ku coba mendengar dengan lebih seksama apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa yang mereka gunakan sedikit asing bagiku. Bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah, bukan juga bahasa Inggris atau korea yang bisa ku mengerti. Tapi aku yakin pernah mendengar seseorang bercakap menggunakan bahasa seperti itu, siapa dan dimana?.
Aku masih mencoba mengingat-ingat, tapi belum juga berhasil. Dan ada satu suara yang terdengar tidak asing di telingaku. Aku yakin aku pernah mendengarnya, suara itu mirip dengan..... suara Steven, ya benar.
Tapi bukankah Steven sudah meninggalkan Bumi enam bulan yang lalu, dia berpamitan saat aku dan Akio berada di Jakarta sebelum kami berangkat ke Kazakhtan waktu itu.
Atau mungkinkah suara itu hanya mirip saja, bukan suara Steven?. Saat aku memutuskan untuk kembali ke mobil karena tidak berani masuk sendiri ke gua itu. Seseorang menahan lenganku.
" Alma !".
Bagaimana dia bisa tahu namaku?, dan suaranya benar-benar sama dengan suara Steven, aku pun menengok kearah asal suara, dan benar, dia memang Steven.
" Steven !", mataku membelalak karena merasa tak percaya dengan apa yang kulihat.
Steven hanya meringis sambil melepas lenganku. Seketika itu aku langsung teringat jika aku pernah mendengar percakapan dengan bahasa asing itu saat Akio dan Steven sedang bercakap-cakap berdua. Ya... itu adalah bahasa dari planet Mesier, aku sudah bisa mengingat sekarang. Dan jika orang-orang yang berada di dalam gua tadi berbicara dengan bahasa planet Mesier, bukankah itu berarti mereka semua adalah alien, seperti Akio.