
Alma mendorong dada Akio karena sedari tadi Akio terus menerjangnya seperti banteng, Alma hampir kehabisan nafas karena Akio yang tidak mau melepaskan ciuman dan dekapannya.
" Kau membuatku hampir mati A....!".
Akio terkekeh saat Alma mendengus kesal karena dirinya tidak memberi jeda pada ciumannya.
" Maafkan aku sayangku.... aku hanya merasa menjadi semakin hangat setelah mencium dan memelukmu, karena itu aku enggan melepaskannya". Akio kembali mendekatkan wajahnya, namun Alma mengelak.
" Aku masih butuh banyak oksigen, jangan dilanjut, atau aku akan pingsan karena kekurangan oksigen!", Alma kembali meradang.
Akio melompat dan pindah di bangku kemudi kembali, menurunkan senderan bangku agar dia bisa merebahkan diri, mengubah posisi menjadi seperti tiduran. Tangannya menggapai botol air mineral dan menenggaknya hingga habis setengah. Akio juga menyuruh Alma berpindah ke bagian depan mobil, menurunkan senderan jok yang diduduki Alma. Alma pun ikut merebahkan punggungnya ke sandaran.
" Kita bisa sepuasnya menatap bintang- bintang yang bersinar tetap di dalam mobil".
Karena kesalahan kecil dengan tidak membawa jaket, akhirnya Alma dan Akio menatap keindahan cahaya bintang melalui atap mobil Akio yang terbuat dari kaca.
" Seperti ini juga sudah bagus, lain kali kalau mau bepergian kita diskusikan dulu berdua, jadi nggak ada barang yang ketinggalan atau lupa di bawa" , Alma sebenarnya ingin keluar dan melihat bintang-bintang itu secara langsung, melihat di dalam mobil terhalang kaca, seperti sedang menonton televisi saja.
Entah karena merasa lelah, atau alunan musik pop dari speaker di dalam mobil membuat Akio ngantuk dan tertidur sambil menggenggam tangan Alma. Memang Akio sengaja menyalakan audio mobilnya agar tidak terlalu sepi.
Alma pelan-pelan melepas genggaman tangan Akio dan membuka pintu mobil, Alma keluar menuju onggokan pasir yang berada di pinggiran pantai, dengan pencahayaan lampu HP Alma mengarahkan ke pasir itu, tak ada hewan liar maupun sampah di sekitaran, Alma pun duduk di atas pasir, beralaskan sendal yang di kenakannya, dan menengadahkan kepalanya, menatap jutaan bintang yang sangat indah. Kedua telapak tangannya ditarik kebelakang, di gunakan sebagai tumpuan tubuhnya.
" Ayah.... apa kau bisa melihatku dari sana?". Alma rindu pada Ayah".
" Alma cuma ingin menyampaikan, kemarin Alma berhasil meraih medali emas bidang matematika di olimpiade sains Nasional".
" Ayah pasti bangga kan Alma masih bisa berprestasi meski Ayah tidak menemani Alma disini".
" Alma janji, meski Ayah tidak bisa mendampingi Alma, tapi Alma akan terus berusaha yang terbaik, biar ayah bangga sama Alma".
Alma seperti sedang mengajak bicara ayahnya sambil menengadah ke langit, menatap cahaya bintang yang begitu terang.
Hawa dingin yang merasuk ke dalam kulit tidak Alma pedulikan. Mungkin seumur hidupnya hanya akan ada satu kali kesempatan bisa melihat bintang sebanyak itu dengan mata telanjang.
Karena tangannya mulai merasa lelah, akhirnya Alma merebahkan tubuhnya diatas pasir, Alma kemudian menggosok-gosok telapak tangan dan menempelkan ke pipi, agar memberi kehangatan pada wajahnya.
Akio terbangun dan begitu panik saat tidak menemukan Alma di sampingnya, Akio keluar dari mobil dan mencari keberadaan Alma. Ternyata gadis cantik itu sedang menatap langit sambil tiduran diatas pasir.
Tak terasa sudah hampir satu jam Alma menatap langit sambil rebahan. Saat Akio menghampirinya, Alma langsung duduk dan membersihkan punggung dan rambutnya dari pasir yang menempel.
Akio duduk di belakang Alma dan memeluk Alma dari belakang. " Tubuhmu sudah begitu dingin, apa belum puas menatap langit?", Akio mengecup ceruk leher Alma, menghasilkan glenyeran aneh yang membuat darah Alma mengalir lebih cepat.
" Dingin sih, tapi indah, jadi nggak papa, sebentar lagi ya A...".
Akio menatap ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Akio kembali ke mobil, mengambil bekal yang sudah disiapkan oleh pembantunya. Dan membawa ke tempat dimana Alma berada.
" Kita makan malam dulu ya, perut sudah mulai protes nih", ternyata Akio terbangun karena merasa lapar.
Alma membuka tas jinjing yang sudah disiapkan oleh si bibi, di dalam tas jinjing berisi beberapa macam makanan dan minuman, ada alas seperti tikar plastik juga.
" Wah, kalau tahu bibi memasukkan alas ke sini, tadi aku ambil biar nggak tiduran di pasir", Alma langsung merentangkan alas itu, dan mengeluarkan makanan dan minuman dari tas jinjing, meletakkan di atas alas.
Mereka berdua makan malam di tepi pantai berdua, hanya menggunakan senter dari HP saja sebagai penerangan.
" Bibi seharusnya memasukkan lilin di dalam sini, biar kesannya kita jadi kaya lagi candle light dinner di tepi pantai", Alma mengandai-andai, namun bagi Akio itu seperti sebuah kode. Dalam hatinya Akio berjanji akan mengajak Alma candle light dinner yang sesungguhnya, yang sangat romantis saat mereka kembali ke rumah nanti.
" Semakin malam, ternyata air laut semakin naik ke permukaan, lihatlah, tadi mobil kamu berada jauh dari bibir pantai, tapi sekarang sudah sangat dekat jaraknya".
" Ternyata ilmu pelajaran yang kita terima di sekolah ada benarnya juga"
" Tentang pasangan surut air laut, tentang angin darat dan angin laut...." , Alma terus berbicara di sela makannya.
Sedangkan Akio terus mendengarkan Alma yang sedang membahas tentang realita dan teori dari pelajaran yang diperoleh di kelas.
Usai makan Alma membereskan semua peralatan bekas makan dan memasukkannya ke dalam tas jinjing kembali, dia duduk dan menengadah kembali menatap ke langit yang masih di penuhi bintang.
" Saat kita liburan sekolah nanti, bagaimana kalau kita kembali kemari?, aku suka tempat ini", ucap Alma masih tetap menatap bintang.
Alma mengangguk, " Kamu benar A.... , aku sangat suka melihat bintang, entah itu banyak ataupun hanya sedikit".
" Dulu mendiang ayah sering mengajakku pergi malam hari, kami melihat bintang yang bersinar di angkasa".
" Saat menatap bintang, ayah sering menjelaskan tentang planet, meteorit, alien, dan benda-benda langit lain".
" Maklum, ayah kan seorang astronom, jadi beliau sangat suka bercerita tentang kehidupan luar angkasa".
" Dan suatu malam saat aku dan ayah melihat bintang-bintang di lapangan yang berada disebelah SD tempatku sekolah, kami melihat seperti ada bintang jatuh".
" Ayah bilang aku boleh mengajukan permohonan saat melihat bintang jatuh".
" Saat itu aku pun meminta sesuatu di dalam hati, dan esok harinya permintaan ku terkabul".
" Mungkin karena itu, aku jadi begitu suka melihat bintang, mengingatkanku pada mendiang ayah".
Akio pun langsung terbayang wajah pak Sobari saat Alma menceritakan kisah masa lalunya.
" Sepertinya waktu sudah semakin larut, kita kembali ke vila yuk A...".
" Sudah cukup waktu yang dihabiskan untuk mengenang Ayah".
" Bahkan tadi aku sudah memberi tahu nya jika aku sudah menjadi juara olimpiade sains tingkat Nasional".
" Aku percaya ayah sedang tersenyum di sana"
Akio hanya bisa merangkul Alma sambil mengusap lengannya .
" Baiklah kita ke vila sekarang". Akio berdiri dan menggenggam tangan Alma menuju ke mobilnya.
***
Pagi pun tiba, Alma dan Akio berjoging hanya berkeliling vila saja, sedangkan di dalam kamar mereka, para bibi sedang merapikan semua barang-barang Alma dan dimasukkan kedalam koper .
Jam 10 nanti helikopter milik Akio akan tiba, untuk mengantar Alma dan Akio pulang ke rumahnya.
Hari Senin besok Alma dan Akio sudah harus kembali ke rutinitas mereka sebagai pelajar, dan berangkat ke sekolah.
Sudah satu minggu juga kegiatan les di rumah Alma diliburkan, tentu saja karena Alma harus ke Jakarta untuk tanding.
Namun mulai senin besok semua kegiatan kembali pada rutinitas semula.
" Apa kamu nggak capek harus ngeles anak-anak kecil sepulang sekolah?", Akio bertanya sambil terus berlari di samping Alma.
" Capek sudah pasti, tapi aku sangat menyukai kegiatan itu, selain membuatku tetap mengingat pelajaran yang lalu, juga bisa membantu anak-anak itu semakin pintar".
" Dulu awalnya tujuanku adalah uang tambahan dari hasil mengeles mereka, buat beli HP sendiri".
" Tapi sekarang HP sudah kamu belikan, jadi uang sudah bukan menjadi tujuan utama aku ngajar anak-anak les. Sekarang lebih seperti sebuah hiburan baru, melihat anak-anak kecil itu datang ke rumah setiap hari".
Akio berhenti dan duduk di teras rumah setelah berputar-putar bersama Alma hingga puluhan kali. Keringat sudah mengucur di pelipis mereka berdua.
" Apa kamu bercita-cita ingin menjadi seorang guru?", Akio menyimpulkan dari ucapan Alma tadi.
" Mungkin.... bisa jadi...., sebenarnya dulu aku tidak berani punya cita-cita, menyadari keadaanku saat itu"
" Cita-cita hanya untuk mereka yang mampu".
" Dan saat itu aku hanya seorang anak gadis dari seorang janda miskin".
" Tapi setelah mendapatkan beasiswa bahkan sampai sarjana, aku jadi mulai berfikir ulang, sebenarnya apa yang menjadi cita-cita ku, aku ingin jadi apa, aku sendiri belum tahu".
" Tapi selama mengajar les anak-anak, aku merasa bahagia dan nyaman".
Alma mengungkap isi hatinya yang selama ini tidak pernah di ceritakan kepada siapapun.