
Akio POV
Setelah mendengar jawaban dari salah satu bibi yang bekerja di vila ku, aku mutuskan untuk keluar mencari dimana keberadaan Alma.
Hari ini sikap nya cukup aneh dan tidak seperti biasanya, dia pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu padaku, bahkan tidak mengirimkan pesan, apa mungkin Alma sangat ingin melihat gerombolan hewan-hewan di sabana, padahal kan saat ini masih siang, di sabana siang-siang begini pasti sangat panas.
Saat di dalam mobil kucoba menelepon ponsel Alma, tadi aku sempat mencari ponsel Alma di kamar tidak ada, itu berarti Alma pergi membawa ponsel, tapi kenapa dia tidak mengirim pesan padaku?.
Sampai di sabana aku belum berhasil menghubungi Alma, tapi aku menemukan mobil yang membawanya. Aku juga melihat sang supir sedang berjalan mondar-mandir di depan mobil.
Aku turun dari mobil yang ku kendarai, dan ekspresi pertama yang ku tangkap dari wajah sang supir dia seperti orang yang ketakutan. Kucoba membaca pikirannya, dan ternyata dia sedang cemas karena Alma keluar dari mobil, pergi sudah beberapa jam yang lalu dan belum juga kembali.
Entah karena aku sedang marah karena Alma pergi tanpa pamit, atau aku marah karena menghawatirkan Alma yang belum juga kembali, aku langsung menarik kerah baju pak supir, yang sebenarnya usianya terlihat jauh lebih tua dariku, dan tak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini. Tapi aku marah juga padanya, karena dia lengah tidak becus menjaga Alma.
" Dimana Alma?, kenapa dia tidak terlihat di sini?", aku melepaskan cengkeraman pada kerah bajunya dengan sedikit mendorong kasar. Ku cek ke dalam mobil, ternyata benar kosong.
" Ma...ma...maaf kan saya Tuan muda", suara pak supir bergetar dan ketakutan.
" Memangnya apa yang terjadi?, Alma dimana?, bagaimana bisa dia tidak bersama dengan bapak?". Aku mencoba mengontrol emosi ku, sebenarnya aku ingin sekali menghajar si supir itu sebagai pelampiasan, tapi aku tahan, aku butuh penjelasannya, kemana Alma pergi.
" Maaf kan saya Tuan, sebenarnya tadi saya kira non Alma hanya mau melihat-lihat gerombolan hewan yang lewat, dia menyuruh saya untuk menunggu di mobil".
" Saya menuruti perintah non Alma, hingga saya ketiduran di dalam mobil beberapa menit".
" Saat saya bangun, non Alma sudah tidak kelihatan Tuan, saya coba cari ke sekitar sini, tapi tidak ketemu, sudah saya cari ke sana kemari, tidak ada tanda-tanda keberadaannya".
" Mohon maafkan saya Tuan, saya lalai menjaga Non Alma, saya sangat takut kalau dia tersesat".
Suara si supir masih saja bergetar, ketakutan.
Tersesat ?.
Benar juga, meski pulau ini tidak terlalu besar, tapi sebagian besar pulau ini masih berupa sabana luas, dan jika Alma pergi mengikuti kawanan hewan liar, ada kemungkinan dia lupa jalan pulang.
Tapi Alma gadis yang cerdas, dia pasti tahu jalan pulang, kini rasa khawatirku semakin besar. Apalagi saat aku mencoba menelepon Alma berkali-kali nomornya berada diluar jangkauan. Hal itu membuat hatiku semakin cemas.
" Baiklah, kalau begitu sekarang kita cari keberadaan Alma bersama-sama, aku kearah selatan, bapak ke arah utara, jangan lupa ponselnya dibawa, jadi jika salah satu dari kita menemukan Alma, kita bisa langsung mengabari".
Ku suruh si supir mencari Alma ke utara, dan aku menuju arah selatan.
Setelah berjalan beberapa meter, aku menemukan banyak jejak kaki di antara semak-semak yang tersibak.
Jejak kaki siapa sebanyak itu?, bukankah pulau ini tidak berpenghuni, karena aku pemiliknya. Apa ada orang lain yang tinggal di pulau ini tanpa sepengetahuanku?.
Rasanya pikiranku semakin cemas, takut Alma bertemu orang asing, dan orang asing itu jahat kepadanya. Aku harus segera menemukan Alma.
Setelah berjalan cukup jauh dari posisi mobil, kudengar suara seperti segerombolan orang yang sedang berjalan. Itu pasti mereka orang-orang yang meninggalkan jejak kaki ini. Aku semakin keras meneriakkan nama Alma, berharap Alma akan mendengar dan tahu aku sedang mencarinya.
" A...!", aku mendengar suara Alma dari kejauhan. Alma..., dimana keberadaannya, kenapa cuma suaranya yang terdengar.
Aku terus berjalan menuju arah suara, agar aku segera menemukan Alma. Dan ternyata benar, itu suara Alma, Alma berlari menuju ke arahku, aku pun berlari dan langsung memeluknya dengan sangat erat. Aku sangat bersyukur karena bisa menemukannya. Ku ciumi kening, pipi, bahkan ku lum*t bibirnya cukup lama dihadapan mereka semua. Alma sedikit mendorong badanku, mungkin karena dia merasa malu, aku menciumnya di depan banyak orang. Aku tidak peduli dengan orang-orang itu, dan terserah mereka mau menilai ku apa, entah siapa orang-orang yang bersama Alma.
Ku lepas pagutanku dan ku tatap orang-orang yang berjalan di belakang Alma. Kulihat Alma menunduk, dia pasti malu karena adegan ciuman tadi.
Ternyata yang bersama Alma adalah Steven dan ada beberapa laki-laki yang berjalan dibelakang nya.
Steven?, bagaimana dia bisa berada disini?. Aku berjalan cepat menghampiri mereka, sambil mengirim pesan pada pak supir agar kembali ke mobil, karena aku sudah menemukan Alma.
Ku tatap mata Steven, dan kami saling bercakap tanpa harus bicara, kami hanya saling menatap agar aku bisa mendengar cerita singkat dari Steven yang menjelaskan tentang alasan keberadaannya di sini.
Dia menceritakan jika planet Mesier hancur, dan kelima lelaki yang berada dibelakang mereka adalah orang-orang dari planet Mesier yang berhasil selamat. Penjelasan singkat dari Steven membuatku langsung syok. Meski aku tak berniat untuk kembali ke planet itu, tapi mendengar kabar jika planet itu hancur, membuat perasaanku campur aduk, antara sedih, kaget, tidak percaya, terkejut, semua bercampur menjadi satu, membuatku tidak bisa berkata-kata.
Mungkin aku memang tidak berniat kembali, bukan karena aku tak merindukan keluargaku, hanya saja, aku tidak bisa meninggalkan Alma, aku sangat mencintainya, aku membutuhkannya, dan aku tidak bisa hidup tanpanya.
Kini semua kenangan bersama keluarga saat di planet Mesier tiba-tiba terlintas begitu saja. Bagaimana kedua orang tuaku membesarkan aku, juga seorang kakakku. Kami bahagia, hingga tiba pada saat aku harus mengikuti uji UFO yang dibuat dengan masal karena ada kabar angin yang mengatakan bahwa ada meteor besar sebesar planet Mesier yang bergerak menuju planet kami. Pergerakannya memang pelan, dan semua ilmuwan berusaha memecahkan meteor itu di luar angkasa, dan kabarnya masih ada sisa meteor yang cukup besar yang tidak bisa dihancurkan.
Tidak aku sangka meteor itu benar-benar menabrak planet Mesier. Para ilmuwan sengaja membuat banyak UFO agar bisa memboyong makhluk dari planet Mesier ke planet lain yang bisa ditempati. Namun ternyata banyak dari mereka yang melakukan perjalanan dengan UFO dan tidak kembali ke planet Mesier lagi.
Entah mereka mati di luar angkasa, atau sama sepertiku yang terdampar di planet lain dan tidak ingin kembali lagi ke sana. Kebanyakan dari mereka yang melakukan ujicoba penerbangan UFO tidak kembali ke planet Mesier.
" A... bolehkah kita mengajak mereka semua ikut ke vila?", Pertanyaan Alma membuyarkan lamunanku. Aku langsung mengangguk setuju.
" Tentu saja boleh, ayo kita ke vila, kalian juga boleh tinggal disana", aku berjalan mendahului yang lain menuju mobil.
Pak supir sudah menunggu di sana, dan kudengar berkali-kali dia mengucapkan syukur, karena Alma sudah ditemukan.
Namun dia juga nampak sedikit heran karena aku datang beramai-ramai, namun ku jelaskan pada Pak supir bahwa mereka adalah tamuku.
Aku, dan Alma masuk ke mobilku, sedangkan Steven dan yang lain masuk ke mobil satunya bersama pak supir. Kami langsung melajukan mobilnya menuju ke vila. Ku genggam tangan Alma sepanjang perjalanan.
" Maafkan aku A... aku pergi tanpa pamit, dan tadi aku berusaha mengabarimu, tapi di sana tidak ada signal sama sekali". Alma mencoba meminta maaf dan memberi penjelasan atas kesalahannya.
Sebenarnya memang tadi aku marah. Tapi kemarahan ku telah berubah menjadi rasa takut, karena Alma pergi tanpa pamit, aku awalnya marah, namun setelah Alma hilang, aku menjadi takut kehilangan dirinya. Aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk marah-marah pada Alma karena hal sepele.
" Tidak apa sayang.... yang penting jangan di ulangi lagi, apa kamu tahu seberapa khawatirnya aku saat kamu menghilang".
Alma mengangguk mengerti dengan ucapanku.
" Aku janji tidak akan mengulanginya lagi", Alma menyandarkan kepalanya di lengan tanganku, hingga kami sampai di vila, dan ku persilahkan para tamuku untuk masuk ke dalam vila.