
Mengikuti pelajaran tambahan di siang hari bagi Akio sangatlah membosankan, selain karena pagi tadi dia terbangun lebih awal, di jam-jam ini juga biasanya digunakan oleh dirinya dan Alma untuk tidur siang.
" Huaaaaahmmm.....".
Akio menutup mulutnya dengan telapak tangan, rasa kantuk sudah tidak bisa di tahan lagi, apalagi tambahan pelajaran hari ini adalah mapel bahasa Indonesia, Akio justru seolah mendengar sang guru seperti sedang mendongeng. Sehingga membuatnya semakin berat membuka mata, dan begitu berat menahan agar kelopak matanya tidak menutup sempurna.
" Jadi apa kalian tahu apa yang dimaksud dengan karangan bebas?".
" Karangan bebas biasa disebut juga dengan prosa", Pak Indra mencoba berinteraksi dengan para muridnya, namun semua murid diam tak menanggapi pertanyaan nya, bahkan beberapa dari muridnya nampak ngantuk dan menutup mulut karena menguap.
" Karangan bebas adalah karangan yang di dalamnya tertuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran tanpa harus terikat oleh aturan tertentu....... ", lagi-lagi Pak Indra menjawab sendiri pertanyaan yang ia berikan.
Suara Pak Indra semakin lama terdengar semakin samar, dan lama kelamaan suara itu menghilang dari pendengaran Akio. Akio benar-benar tertidur di hari pertama mengikuti jam tambahan di sekolah.
***
Alma POV
Hari ini aku tidak tahu jika ada jam tambahan sepulang sekolah, tidak ada persiapan bekal juga tak kubawa buku mapel yang akan di ajarkan nanti. Tapi tak mungkin juga untuk membolos di hari pertama menjadi murid kelas 12.
Terpaksa harus ikut jam tambahan. Setelah bel masuk berbunyi, semua duduk rapi di bangku masing-masing, aku sudah mengisi perutku dengan roti dan juga minuman isotonik yang ku beli di kantin sekolah tadi.
Aku juga membelikan untuk Akio, dia tadi mengatakan sangat ngantuk dan akan tidur siang sebentar, namun saat aku kembali dari kantin, dia tidak jadi tidur siang karena katanya ada telepon iseng dari nomer yang tadi pagi mengganggu istirahat kami. Karena lagi-lagi merasa terganggu, akhirnya Akio memblokir nomer tersebut saat itu juga, dan mematikan ponselnya.
Aku tahu saat ini Akio sudah sangat mengantuk. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur semalam.
Saat pelajaran dimulai, guru di depan menjelaskan tentang teknik membuat sebuah karangan bebas. Semua fokus dan serius mendengarkan penjelasan dari sang guru. Tapi hal lucu terjadi disini, kulihat beberapa murid terus menguap dan seperti sedang menahan kantuk, begitu juga dengan Akio yang terus menerus menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya, karena tangan kanan digunakannya menyangga kepala yang nampak sangat berat.
Dan di menit selanjutnya aku melihat Akio menyandarkan kepalanya diatas dua lengan tangannya yang menumpu pada meja, ku dengar nafas Akio sudah berhembus dengan teratur, dia sudah tertidur dengan pulasnya. Ternyata dia benar-benar merasa ngantuk, untung saja kami duduk di bangku paling belakang, dan yang duduk di depan Akio adalah Riki yang berperawakan gembul, sehingga bisa melindungi Akio dari pandangan guru di depan.
Aku baru tahu seperti ini kegiatan belajar mengajar di siang hari, tidak se efektif saat pagi hari yang semuanya masih fresh dan segar. Ternyata memang ada benarnya juga peraturan pembatasan jam belajar, karena jika terlalu lama seperti ini, sungguh tidak efektif, karena tubuh sudah merasa lelah dan butuh istirahat.
Pak Indra terus menerangkan di depan kelas, aku rasa beliau tahu jika beberapa muridnya tidur di kelas saat ini, tapi dia membiarkan begitu saja, mungkin beliau sendiri juga merasa ngantuk dan memaklumi apa yang murid-muridnya perbuat di jam pelajaran nya.
Semakin lama ku perhatikan semakin banyak yang memejamkan matanya, hingga jam pelajaran usai, tinggal beberapa anak saja yang masih dalam mode on. Kebanyakan yang lainnya tertidur pulas di kelas.
" Saya akhiri pelajaran siang ini, karena bel pulang sudah berbunyi, selamat siang menjelang sore anak-anak!", ucap Pak Indra mengakhiri sesi belajar mengajar di jam tambahan siang ini.
Beberapa langsung berkemas pulang, dan sebagian harus dibangunkan terlebih dahulu oleh yang tidak tidur. Termasuk Akio yang ku bangunkan, dan saat sadar, dia langsung celingukan seperti orang linglung. Pasti nyawanya belum terkumpul, hingga dia terlihat linglung begitu.
" Apa sudah selesai pelajarannya ?", Akio mengangkat kepalanya dan menatap ke meja guru di depan kelas sambil menutup mulutnya yang menguap. Pak Indra sudah tidak nampak.
" Nyariin siapa?, sudah bel pulang, jadi Pak Indra juga sudah pulang sejak tadi!, hebat banget bisa tidur di kelas begitu", ucapku seraya menyindir.
" Aku benar-benar ngantuk Al, apa tadi Pak Indra tahu kalau aku ketiduran ya?". Akio merasa tidak enak hati karena selama ini baru kali ini dia tidur dikelas saat jam pelajaran berlangsung.
Memang saat pelajaran tadi kulihat Marko begitu memperhatikan Pak Indra yang sedang menjelaskan didepan kelas. Dia juga memberi tahu jika Pak Indra adalah guru yang jarang menegur murid-murid nya yang tidur di kelas. Tapi dengan otomatis akan mencatat siapa saja anak-anak yang tidur dan mengurangi points nilai di pelajaran yang diajarkannya.
" Biarin lah, cuma di mapel bahasa Indonesia ini nilai ku rendah, kalau nilai di pelajaran lain masih sempurna, nggak akan jadi masalah besar".
" Kita pulang yuk Al, aku mau lanjutin tidur siang ku di rumah". Akio menggandeng tangan ku, mengajakku keluar kelas, meninggalkan Marko yang masih berdiri di depan meja Akio.
" Kalian berdua ini selalu kemana-mana bersama, apa kalian juga tinggal bersama?", pertanyaan Marko menghentikan langkah ku yang belum terlalu jauh dari posisi Marko berdiri.
Pertanyaan Marko seperti sebuah sindiran yang langsung mengena di hati ku. Seolah Marko tahu kalau kami tinggal bersama. Padahal selama ini tidak ada yang tahu tentang hal itu.
" Sudah jangan di ladeni, orang yang suka kepo dan ikut campur urusan orang lain itu adalah orang yang nggak punya kerjaan". Akio kembali menarik tangan ku agar kembali berjalan dan mengikuti langkahnya.
" Benar-benar anak baru yang menyebalkan. Apa kalian tidak tahu kalau aku ketua kelas disini !. Bisa-bisanya kalian anak baru main selonong tanpa menjawab pertanyaan ku !".
Marko kembali memancing emosi Akio. Aku tahu Akio tidak suka di teriaki oleh siapapun itu.
Karena merasa di teriaki, Akio menengok dan membalas dengan berteriak juga pada Marko.
" Pulang saja sana !, dari pada sibuk ngurusin urusan orang lain, mending bantu ibumu jualan gado-gado di kiosnya, kasihan udah tua, kecapekan jualan seharian cuma buat biayai hidup kamu yang nggak mutu !".
Akio kembali melenggang dan kali ini merangkul pundak ku, agar aku tidak menoleh kearah Marko lagi.
" Sudah, jangan di ladeni terus, jadi bukan seperti Akio si dingin yang irit bicara".
" Aku pikir dia hanya ingin ngobrol dengan kamu, dan sayangnya caranya tidak baik, karena dengan berteriak-teriak, dan ucapannya seperti sebuah sindiran".
Kami sampai di parkiran mobil, aku pun langsung masuk ke dalam mobil saat Akio membukakan pintunya untukku. Kami berniat langsung pulang kerumah.
Suasana parkiran sudah sangat sepi, semua siswa pasti sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sekarang sudah jam empat sore, hanya karena meladeni ucapan Marko, kami berdua justru jadi telat sampai rumah. Ironis sekali memang.
Aku melihat Akio langsung melempar tasnya dan melepas sepatu serta baju seragamnya saat sampai di kamar. Dia langsung merebahkan diri di atas kasur dengan bertelanjang dada. Sepertinya dia benar-benar masih mengantuk dan hendak melanjutkan tidur siangnya.
Untung saja jarak sekolah ke rumah tidak terlalu jauh, jadi meski Akio menyetir dalam keadaan mengantuk, kami masih bisa sampai rumah dengan selamat. Ku rapikan baju dan tas Akio yang tadi dia lempar. Sebenarnya aku juga mengantuk, tapi sudah jam 4 sore, itu adalah waktu yang selalu ibu katakan dilarang untuk tidur.
Akhirnya ku putuskan untuk mandi terlebih dahulu, agar tubuh terasa segar dan rasa ngantuk pun menghilang. Setelah mandi aku keluar kamar melihat makanan yang sudah tersaji di meja makan, aku lapar.
" Apa mau bibi angetin dulu Non?", Bibi keluar dari dapur dan menghampiriku.
" Tidak usah bi, aku makan seperti ini saja, lagian aku makan sendiri, Akio lagi istirahat dan tidur siang", jawabku, sambil mengambil nasi dan sup yang sudah dingin.
" Mulai sekarang, kalau hari Senin sampai Rabu, aku dan Akio pulang jam setengah 4 bi, karena harus ikut les tambahan, jadi bibi nyiapin makanannya di jam-jam itu saja", terangk ku.
Bibi mengangguk tanda mengerti dengan ucapanku, lalu dia kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.