
Hingga sore hari ternyata Alma tidak kunjung keluar dari kamarnya, Akio sudah mulai resah dan gelisah karena sejak siang hanya bersantai sendiri di kamarnya. Sebenarnya ada banyak email masuk, laporan administrasi dari beberapa sekolah yang ada di bawah naungan yayasan miliknya. Namun Akio masih malas untuk membaca laporan-laporan itu.
Karena merasa begitu suntuk, Akio keluar kamar dan berjalan-jalan keluar hotel untuk mencari udara segar. Kebetulan hotel tempat mereka menginap berada di kawasan pantai yang indah. Cahaya matahari senja yang berwarna jingga kemerahan, terlihat begitu indah memantul pada permukaan air pantai yang beriak.
Akio duduk dengan tatapan yang jauh ke batas cakrawala, entah apa yang tengah dipikirkannya, yang jelas saat ini ada seorang gadis seusia Alma yang sedang menatap takjub ke arahnya.
***
Lidia POV
Aku sangat beruntung saat tiba di Jakarta, setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan lama dari Surabaya ke Jakarta, ternyata saat aku sampai di lobi hotel, ada pemandangan indah yang aku temui, seorang pemuda yang sangat tampan, berperawakan tinggi, badan kekar dan dia juga membawa koper yang sama denganku, koper yang diberikan hanya kepada para peserta olimpiade yang akan berangkat ke Almaty minggu depan.
Fix.... dugaan ku tepat, setelah berkenalan dengan gadis yang berjalan bersamaan dengannya, gadis cantik bernama Alma yang ternyata satu daerah dengan pria tampan itu, dia memang peserta dari daerah lain yang akan mewakili Indonesia bersama denganku ke Almaty.
Aku senang karena kamar kita juga bersebelahan, itu akan membuatku lebih mudah untuk mendekati nya. Selama ini begitu banyak teman sekolahku yang memperebutkan aku menjadi kekasih mereka, namun tidak ada yang aku terima, bagiku mereka semua tidak sepadan dengan aku sang juara bertahan.
Sedangkan pria asing yang baru bertemu denganku hari ini, dia pantas menjadi kekasihku, selain fisik yang sangat sesuai dengan kriteria cowok idaman, dia juga mempunyai kecerdasan yang sebanding denganku. Kami sama-sama sang juara bertahan.
Entah pria asing ini sudah punya kekasih atau belum , yang jelas yang aku lihat saat ini dia sedang duduk diatas tumpukan batu sendirian di tepi pantai, aku berharap dia masih sendiri. Meski kemungkinan itu sangat kecil, mana mungkin seorang pemuda yang hampir sempurna sepertinya belum memiliki kekasih.
Tapi tidak ada salahnya bagiku untuk berkenalan dan menjadi teman dekatnya terlebih dahulu. Waktu yang ku punya selama seminggu di Jakarta dan dua minggu di Almaty, Kazakhstan, bersama-sama dengannya, membuatku yakin dan percaya diri aku bisa menaklukkan hatinya.
Aku berjalan diatas tumpukan pecahan batu menuju ke arahnya, sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku. Pria itu masih memandang ke laut lepas. Postur tubuh dan pose duduknya begitu menawan.
" Hai...!".
" Aku Lidia, tadi kita ketemu di lobby hotel, apa kau masih mengingatnya?", ku beranikan diri menyapanya terlebih dahulu, karena tatapan matanya masih saja melihat jauh kedepan.
Dia menengok mendengar ucapanku, tapi masih tetap diam dan hanya menatapku dengan begitu dalam dan tajam, aku hampir meleleh dibuatnya.
" Kau yang satu daerah dengan Alma kan?, kenapa kamu disini sendirian?, nggak bareng-bareng sama Alma?, apa aku boleh menemanimu disini?". Bodo amat dia tidak menjawab pertanyaan ku, aku justru semakin penasaran dengan pria yang misterius seperti dirinya.
Namun justru tiba-tiba dia berdiri dan berjalan melewatiku sambil berkata, " ini tempat umum, siapa saja boleh berada disini".
Ya Tuhan... ternyata suaranya manly banget, bener-bener cowok tulen, kenapa Tuhan menciptakan makhluk sesempurna itu, bagaimana bisa aku menolak pesonanya.
Dia masih terus berjalan menuju ke arah hotel. Baru kali ini ada seorang laki-laki yang tidak melirik sedikitpun ke arahku. Padahal suaraku yang seksi seharusnya membuatnya penasaran dan menatap ke arahku barang sejenak, dan setelah menatapku dia pasti akan terpesona dengan kecantikan wajahku, dan setelah mengetahui seberapa cerdas diriku, dia tidak akan bisa berpaling dariku. Biasanya begitulah urutannya, tapi dia berbeda, apa karena dia juga istimewa sepertiku, sehingga begitu jual mahal.
Aku ikuti langkahnya menuju ke hotel, pria misterius yang membuatku semakin penasaran dan ingin membuatnya menjadi milikku.
Kubuka buku panduan yang diberikan oleh dinas pendidikan, disana ku cari nama-nama peserta yang akan ikut olimpiade, dan kulihat darimana Alma berasal, setelah kutemukan kucari nama peserta lain dari daerah yang sama, dan... akhirnya ketemu juga. Namanya Akio Toyoda, dia murid kelas 10 SMA Pelita Jaya.
Apa?, kelas 10. Ternyata dia adik kelasku, aku menyukai seorang adik kelas, baru pertama kali tertarik dengan laki-laki, dan ternyata dia adalah seorang adik kelas. Itu sangat mengejutkan.
Tapi saat kulihat data pribadinya, entah mengapa ada yang sedikit aneh, tidak ada nama ayah dan ibu, tidak ada juga nama saudara, apa dia anak presiden, atau anak pejabat, sehingga data dirinya dirahasiakan.
Aku semakin dibuat penasaran.
_
_
Malam pun tiba, di acara makan malam bersama aku kembali melihatnya, laki-laki misterius yang sangat mempesona, ya benar dia adalah Akio. Ku lihat dia berjalan berdampingan dengan Alma, mereka terlihat mengobrol dengan sangat akrab,bahkan sesekali terdengar tawa mereka berdua bersamaan. Akio terus menatap Alma, mungkin karena mereka berasal dari sekolah dan daerah yang sama, mereka berjuang dari nol bersama-sama, sehingga mereka menjadi akrab seperti itu.
Kuberanian diri mendekati Alma, dia gadis yang sangat supel dan ceria. Dia juga asyik diajak ngobrol, namun lagi-lagi si Akio tetap diam dan tak bersuara saat aku mendekat ke arah mereka, bahkan Akio sengaja pindah ke tempat duduk lain saat aku mendekat. Begitu berbeda dengan ekspresi wajahnya tadi saat hanya berdua dengan Alma. Apa dia menjaga jarak denganku karena dia sudah punya kekasih?, mungkin saja.
" Al, boleh tahu nggak, apa Akio sudah punya kekasih?", tanyaku sambil berbisik.
Alma langsung menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku tebak.
" Setahuku sudah", jawaban Alma begitu singkat, namun jelas langsung pada intinya.
" Wajar sih, cowok sekeren dia sudah punya pacar, apa kamu kenal sama ceweknya?", aku begitu penasaran dengan pacar Akio. Gadis mana yang sangat beruntung menjadi kekasihnya. Aku ingin merasakan berada di posisi gadis itu.
" Tentu saja kenal".
Lagi-lagi Alma menjawab dengan singkat.
" Baru pacaran kan?, sebelum janur kuning melengkung, itu berarti masih bisa ditikung", kalimat yang sering aku dengar dari teman-teman sekolahku, akhirnya aku ucapkan untuk seseorang. Sungguh pertama kalinya aku melakukan hal yang konyol.
Ku lihat Alma kini terdiam sambil mengunyah makanan dalam mulutnya. Tapi masih saja aku tidak bisa mengartikan ekspresi wajahnya.
Setelah menghabiskan makan malamnya, kulihat dia menatap Akio dengan seksama, mereka saling menatap dengan lekat. Seperti sedang saling bicara, namun tidak ada yang bicara, mereka sama-sama terdiam, dan itu hal aneh yang pertama kali aku lihat diantara mereka berdua.
" Aku kembali ke kamar dulu ya Lid, maaf duluan, aku sudah selesai makannya".
Alma berdiri dan berjalan menuju kamarnya, dan aku juga melihat Akio selesai makan dan meninggalkan tempat duduknya. Tapi dia berjalan keluar hotel, entah mau kemana pria misterius itu di malam hari seperti saat ini.