
Malam pun tiba, usai makan malam dengan berbagai menu masakan yang Akio perintahkan pada juru masak. Mereka pun kembali bersantai di ruang tengah. Menyalakan televisi selebar 42 inch yang ada di hadapan mereka.
" A.... lain kali kalau mau minta tolong dimasakin makanan, jangan kebanyakan. Aku tuh jadi bingung mau makan yang mana".
" Kayak tadi aja aku sebenernya bingung, aku cuma ambil nasi sedikit, piring justru penuh dengan lauk, jadi nggak nikmat ngerasain nya".
" Mulai besok aku saja yang pilih menu makanan", ucap Alma sambil meluruskan kakinya di sofa tempatnya duduk.
Akio menuntun Alma bersandar di pangkuannya. " Tiduran disini saja", ucap Akio sambil menepuk-nepuk pahanya.
Alma menggelengkan kepalanya.
" Belum mau tiduran, kalau tiduran sehabis makan nanti jadi buncit perutnya".
Akio tergelak mendengar ucapan Alma. " Kamu kan lagi hamil, nggak tiduran habis makan juga bakalan buncit itu perutnya".
Alma langsung manyun, " nanti kalau aku jadi gendut gara-gara hamil, terus pasti aku tuh jadi jelek".
" Siapa bilang?, kamu malah terlihat semakin cantik dan seksi sayangku.... lihatlah, bagian dada dan b*k*ng kamu semakin berisi, buat aku makin sayaaang banget sama kamu", Akio memeluk perut Alma dari samping, karena mereka duduk bersebelahan.
" Dasar mesum !", gerutu Alma sambil membuang muka.
Akio kembali tergelak sambil tertawa lepas,
" Mesum sama istri itu sah-sah saja sayang..., kalau mesumnya sama orang lain itu baru salah", kali ini Akio semakin mengeratkan pelukannya.
" A.... kalau aku jadi gendut dan teman-teman curiga gimana A...?", Alma kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika teman-temannya mengetahui keadaannya.
" Nggak secepat itu sayang... Kamu dengar baik-baik rencanaku".
" Jika nanti setelah 3 bulan kehamilan, kamu mengeluarkan telur seperti orang hamil di planet Mesier, maka masalah selesai, kita tinggal mengerami telurnya selama 9 bulan, kamu masih bisa melakukan kehidupan normal seperti biasanya".
" Namun jika kehamilanmu seperti manusia di bumi yang menyimpan bayi di perut selama 9 bulan, maka kita gunakan rencana cadangan".
" Saat kita ke Almaty, Kazakhstan bulan Januari, itu berarti usia kandunganmu sekitar 3 bulan, perutmu masih kecil dan belum nampak hamil".
" Kita ajukan studi banding ke sekolah. Kita bisa tinggal disana dan sekolah disana, hingga kamu melahirkan, jika sesuai prediksi kamu melahirkan saat kita kenaikan kelas".
" Kita bisa pulang ke Indonesia dan melanjutkan sekolah di Pelita Jaya sebagai siswa berprestasi usai studi banding disana".
" Aku bisa mengatur semuanya, akan aku suruh pihak yayasan membicarakan ini dengan kepala sekolah, jika memang kamu harus mengandung selama 9 bulan".
Mata Alma yang tadinya sayu, kini bersinar sangat terang. Ada harapan besar yang muncul di hatinya.
" Jadi itu rencana yang kamu pikirkan selama ini, terimakasih A....", Alma balas memeluk Akio dan mengecup pipinya.
" Jadi kamu sudah tidak khawatir kan?, aku akan selalu ada di sampingmu, kita akan melewati ini semua bersama-sama, tidak akan aku biarkan kamu menderita saat mengandung anakku", Akio membalas kecupan Alma dengan ******* bibirnya.
Alma pun membalas lum*t*n itu dengan penuh cinta. " Sudah tidak ada yang harus dijaga, aku sudah terlanjur hamil, karena itu jika Akio mau melakukannya setiap hari pun, aku akan menyambutnya dengan suka cita", batin Alma
Akio ******* bibir Alma dengan gerakan yang semakin menuntut. Bahkan mereka berdua lupa jika masih berada di ruang tengah. Alma sampai hampir kehabisan nafas karena Akio enggan melepaskan pagutannya.
" A.... apa kau mau membunuhku, biarkan aku bernafas sejenak", Alma mundur agar ada jarak dengan Akio, saat melihat layar televisi masih menyala mengabarkan berita seputar olahraga. Alma baru sadar jika mereka masih berada di ruang tengah.
Dengan cepat Alma menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Untung tidak ada pembantu maupun tukang kebun yang lewat dan melihat mereka. Akan sangat memalukan jika sampai ada yang melihat adegan panas mereka. Meski sebenarnya sudah banyak pembantu di rumah Akio yang melihat, namun langsung ngumpet, alias sembunyi, karena takut di pecat jika sampai ketahuan melihat adegan panas majikannya.
Akio kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Alma, namun Alma mundur dan menahan gerakan Akio.
Alma yang membuka pintu dan Akio menutup pintu dengan menendang pintu menggunakan ujung kakinya.
Pelan-pelan Akio merebahkan Alma di atas kasur king size miliknya yang tebal dan empuk itu, serasa melayang di atas awan, Akio mulai melakukan sentuhan-sentuhan lembut pada titik sensitif tubuh Alma.
Dan kedua insan yang saat ini tengah terbakar panasnya gejolak hasrat yang meluap-luap, seolah tubuh mereka tak bisa dikendalikan dengan otak waras mereka, melakukan berbagai macam gaya yang selama ini belum pernah mereka lakukan, dari samping, pindah ke depan, pindah lagi lewat belakang, berputar saling berhadapan, dan berbagai macam gaya membuat Alma semakin kewalahan mengimbangi permainan Akio.
Alma kini sudah berada di atas Akio dengan posisi woman on top, merasakan sesuatu akan meledak dari dalam tubuhnya.
Dan Akio yang mengetahui istrinya hampir meledak menaikkan kepalanya mengh*s*p ujung p*y*d*ra Alma yang masih berwarna merah muda. Membuat Alma semakin menggelinjang hebat, tangannya meremas rambut Akio, seolah mendorongnya untuk lebih mendekat ke dadanya, Alma mempercepat gerakannya, tangannya terus meremas rambut Akio saat dirinya mencapai puncak.
Akio tersenyum lebar saat merasakan milik Alma yang berkedut, dengan cekatan membalik posisi mereka, Alma sudah terkulai lemas, dan keringat mengucur di pelipis nya.
Dirinya juga hampir mencapai puncak, setelah mengatur nafasnya, Akio dengan begitu cepat melakukan gerakan maju-mundur di atas tubuh Alma. Tidak butuh waktu lama hingga Akio akhirnya mengerang hebat melakukan pelepasan di dalam tubuh Alma. Akio pun langsung mengecup kening Alma dan terkulai lemas di samping tubuh Alma sambil mengatur nafas yang masih terengah-engah.
***
Alma POv
Hari ini aku terbangun lebih pagi karena merasakan ada sesuatu yang berat menindih tubuhku. Saat ku lihat ke samping ternyata Akio tengah menatap wajahku sambil memeluk tubuhku, kakinya menyilang menindih kakiku.
" Selamat pagi sayangku "
Senyum Akio begitu lebar saat menyapaku yang baru bangun tidur.
Aku menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Akio yang membuatku sesak nafas.
" Pagi juga sayang", aku berhasil melepas pelukannya, namun kini kakiku yang ku angkat dan mengait di pinggang Akio. Aku bisa merasakan bagian bawah miliknya yang juga terbangun dan menunjukkan wujud aslinya . Padahal aku hanya mengubah posisi saja, tapi miliknya bisa ikutan bangun,
" pasti bakalan minta jatah lagi", batinku.
Tentu saja Akio bisa tahu apa yang aku pikirkan saat itu, bahkan ia terkekeh geli dengan wajah mes*m sengaja menggesek-gesekkan miliknya di pahaku.
" Sekali lagi ya sayang...", dia berbisik dengan suara yang sudah sangat berat, menahan h*srat nya yang kian menggebu. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya, meski rasa lelah sisa aktivitas semalam belum sepenuhnya hilang.
Kami berdua mengulang aktivitas seperti semalam, hanya durasinya saja yang lebih pendek, dan aku lebih banyak menerima dan pasrah tidak seperti semalam yang bergerak cukup aktif.
Bangun pagi dan kembali melakukan aktifitas panas di atas kasur, mungkin akan menjadi rutinitas kami yang baru, selama Akio masih menggebu-gebu dan begitu terlihat menginginkan diriku, selama itu juga tiada pagi tanpa bercinta.
Aku merasa menjadi seorang istri yang sangat beruntung, karena merasa sangat diinginkan oleh suamiku.
_
_
Tak terasa sudah seminggu kami tinggal bersama, pagi ini hari sabtu, sekolah libur dan aku masih bermalas-malasan di kamar. Akio tidak pernah membiarkan aku ke dapur dan masak. Setiap hari aku diperlakukan seperti seorang putri, tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, hanya fokus sekolah dan melayani sang pangeran.
Pangeran Akio, benar sekali, aku seperti menjadi istri seorang penguasa. Kepribadiannya suka sekali mengatur, sejak dulu, bukan hanya mengaturku, tapi juga semua penghuni rumah ini. Dan caranya mengatur selalu harus dipatuhi. Semua takut padanya, takut di pecat dari pekerjaan jika tidak menurut.
Di rumah ini mungkin hanya aku yang kadang berani mengabaikan perintahnya , karena tidak mungkin dia memecat ku sebagai seorang istri kan?.
Dia sangat mencintaiku, dan beruntungnya hanya aku wanita yang ditatapnya. Keadaan ini membuatku merasa tenang menjadi istrinya.
Bahkan meski aku masih sekolah dan tengah hamil anaknya, rasanya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Hampir semua masalah dan ketakutan yang ku alami selalu dibantu dan diselesaikan olehnya dengan mudah. Suamiku bagaikan malaikat tak bersayap yang selalu membantuku. Selalu ada di saat aku membutuhkannya.
Namun kadang rasa takut tetap datang tiba-tiba, saat aku berpikir dia tiba-tiba menghilang dari Bumi ini untuk kembali ke planetnya. Bahkan rasa takut itu kadang sampai terbawa mimpi . Membuatku bermimpi buruk kehilangan dirinya. Dan saat aku terbangun dari mimpi buruk itu, aku hanya bisa berdoa dan berharap jika itu hanya mimpi belaka, tidak akan pernah menjadi nyata.