My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
1



Bersantai di hari libur memanglah sangat menyenangkan untuk semua orang. Tapi tidak untuk gadis ini, Yuna. Seorang gadis remaja yang baru menginjak 17 tahun di awal bulan ini, bulan Oktober.


Merasa bosan, sunyi, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah ini. Yuna bersiap-siap untuk berlari sore mengelilingi komplek. Untuk menghilangkan rasa jenuh yang ada.


Yuna tinggal seorang diri di rumah sederhana itu. Rumah nya tak mewah, hanya rumah biasa yang berada di komplek. Tak besar dan juga tak kecil.


Yuna di kenal ramah oleh orang sekitar. Menjalin hubungan tetangga yang baik dan tidak pernah mencari masalah. Ibu-ibu di sekitar nya pun senang jika mengobrol dengan Yuna. Terkadang, para tetangga membagi makanan nya kepada Yuna.


Orang tua Yuna sudah meninggal sejak 2020 kemarin. Meninggal akibat kecelakaan pesawat yang menghabiskan semua korban di dalam nya. Semua keluarga nya seolah enggan untuk menerima Yuna untuk sekedar memberi tumpangan sampai dia berusia 17 tahun.


Tetapi, Yuna tak mempermasalahkan hal itu. Dia bisa hidup sendiri dan tinggal di rumah orang tua nya. Tak ingun pindah kemanapun, karena di rumah itu banyak kenangan yang tertinggal.


Yuna bukan orang dari keluarga miskin. Dia terlahir dengan sendok emas. Ayah nya merupakan seorang pengusaha sukses di negara nya. Namun, identitas nya tak diketahui oleh siapapun, bahkan orang terdekat nya. Ibu nya hanya ingin hidup sederhana dan di kenal hanya sebagai warga biasa.


Perusahaan nya kini di jalankan oleh orang kepercayaan ayah nya. Yang sudah membantu nya merintis dari bawah hingga menjadi sukses seperti ini. Perusahaan itu akan di serahkan kepada Yuna saat berumur 17 tahun, sebagai pewaris tunggal keluarga tersebut. Tetapi Yuna menolak nya. Dia ingin belajar terlebih dahulu sampai mendapat gelar sarjana.


"Selamat sore ibu-ibu. Lagi bicarain apa nih? Yuna kepo." Sapa Yuna, saat sampai di taman komplek nya, dan bertemu segerombol tetangga nya yang sedang berkumpul.


"Eh Yuna! Ini lagi bicarain tetangga kamu. Yang rumah di jual itu sudah laku kemarin. Sekarang pemilik nya akan pindah kerumah itu. Kata nya tampan lho kayak oppa-oppa korea." Ucap bu Tini, salah satu tetangga Yuna yang rumah nya tepat di depan rumah Yuna.


"Kok aku gak tau ya? Ibu-ibu nih, nanti ketauan sama suami nya gimana hayo?"


"Biarkan saja, toh memang pemuda itu tampan. Kelihatan kaya ya bu?" Yuna menggelengkan kepala nya saja melihat tingkah ibu-ibu komplek itu.


"Yasudah, kalau begitu Yuna pamit ya. Udah mau maghrib." Semua mengangguk dan Yuna meninggalkan tempat itu dan kembali kedalam rumah. Masih memikirkan siapa orang tersebut, setampan apa dia, sekaya apa?


Biarkanlah pikiran itu berkecamuk di benak nya. Dia akan mengetahui nya saat pemilik baru itu datang.


**********


Kring.....kring....kring


Yuna terbangun akibat alarm pada handpone nya. Mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah nya. Yuna sarapan hanya dengan roti isi selai coklat, karena dia pun tidak bisa memasak.


Yuna berangkat menggunakan angkutan umum, yaitu Transjakarta. Bukan tak bisa naik motor atau mobil, namun dia terlalu malas saja untuk berkendara sendiri. Karena jarak sekolah nya yang lumayan jauh.


Sambil berjalan ke depan komplek, Yuna menyapa tetangga nya yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling di komplek.


"Pagi ibu-ibu," Sapa nya,


"Pagi Yuna, hati-hati di jalan." Yuna mengangguk dan melanjutkan jalan nya dengan sedikit cepat. Takut ketinggalan bus nya.


Duduk di samping jendela sambil melihat kepadatan kota Jakarta saat pagi hari. Itu sudah biasa terjadi di kota-kota besar. Bosan dengan musik nya, Yuna mulai mencari-cari hal baru di sosial media nya. Tak sengaja, mata nya melirik kepada seorang wanita yang sudah berumur dengan membawa lumayan banyak barang yang di pegang nya.


Yuna menepuk pundak nya pelan dan mulai berbicara.


"Ibu, silahkan duduk bu. Saya sedikit lagi sampai."


"Terima kasih dek." Yuna mengangguk sambil tersenyum.


Yuna turun saat sudah sampai di tempat tujuan nya. Rute pemberhentian nya tepat di depan sekolah nya. Hanya perlu menyebrang sedikit dan sudah sampai.


Yuna mulai melangkah memasuki sekolah nya. Berjalan melewati koridor yang penuh orang berlalu lalang karena kesibukan nya. Kelas nya berada di lantai 3. Memasuki jurusan Akuntansi, karena memang kesukaan nya pada bidang Matematika. Tak pandai namun juga tak bodoh. Hanya sekedar bisa dan pernah 1 kali memenangkan juara tingkat Nasional.


Yuna juga di kenal ramah di lingkungan sekolah nya. Bukan ramah saja, namun juga di kenal cantik dan juga pandai. Dia tidak akan memilih dalam berteman, semua di anggap sama oleh nya. Dia juga tak pelit akan ilmu yang dapat di kuasai oleh nya. Akan menolong teman nya yang meminta bantuan nya dengan senang hati, tanpa unsur keterpaksaan.


"Pagi teman-teman, ada berita apa nih? Tumben sekali ramai." Semua menoleh dan memberitahu Yuna akan berita yang sedang menggemparkab satu sekolah.


"Lo tau gak? Ada guru magang. Ganteng banget, gila!" Yuna mengernyit dan bertanya.


"Nama nya siapa? Ngajar di kelas mana?" Teman nya Tierra memberitahu nya.


"Nama nya pak Aldo. Akan ngajar di kelas kita." Yuna mengangguk dan berjalan ke arah tempat duduk nya.


Semua masih sibuk akan berita ini. Setampan apa sih sampai membuat heboh satu sekolah? Yuna bersikap acuh dan membaca buku pelajaran yang akan di pelajari di jam pertama.


**********


"Selamat pagi anak-anak. Bapak akan memperkenalkan guru yang akan magang dan membantu bapak dalam mengajar." Guru magang itu masuk dan semua hanya memmperhatikan wajah nya yang tampan itu.


"Halo semua nya. Perkenalkan nama saya Yendra Aldo Winarta Rigel. Saya akan membantu pak Hendra dalam mengajar dalam Matematika. Tolong bantuan nya semua!" Aldo memperkenalkan diri nya secara singkat dan pelajaran pun dimulai.


Yuna memandang aneh ke arah Aldo. Yuna berpikir kalau guru magang ini memiliki gelagat yang tidak biasa. Seperti ada yang disembunyikan dan enggan untuk di ketahui orang lain.


Yuna membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dan mulai fokus akan pelajaran yang di terangkan. Namun Yuna susah fokus dan masih memikirkan hal yang mengganjal di benak nya. Yuna merasa pusing dan izin untuk ke UKS.


"Maaf pak, saya sedang tidak enak badan. Saya izin ke UKS pak." Pak Hendra mengizinkan dan Yuna melangkah keluar ke lantai 2.


Koridor yang masih sepi karena semua sedang mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung dan guru yang sibuk mengajar. Membuka pintu UKS, seperti biasa kosong dan tidak ada siapapun di dalam sana. Yuna berbaring di brankar paling ujung dan terlelap memasuki alam mimpi.